24/06/12

1 Tamparan untuk 3 Pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai. 

Pemuda : "Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanya an saya?"
Kiyai : "Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab  pertanyaan anda." 
Pemuda : "Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya. 
Kiyai : "Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya."
Pemuda : "Saya ada 3 pertanyaan 
1.Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan  kepada saya             
2.Apakah yang dinamakan takdir              
3.Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan  ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?"

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) "Kenapa anda marah kepada saya?"
Kiyai : "Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan  kepada saya."
Pemuda : "Saya sungguh-sungguh tidak mengerti."
Kiyai : "Bagaimana rasanya tamparan saya?"
Pemuda : "Tentu saja saya merasakan sakit."
Kiyai : "Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?"
Pemuda : "Ya!"
Kiyai : "Tunjukan pada saya wujud sakit itu!"
Pemuda : "Saya tidak bisa".
Kiyai : "Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya. Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?"
Pemuda : "Tidak."
Kiyai : "Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?"
Pemuda : "Tidak. 
Kiyai : "Itulah yang dinamakan takdir. Lalu... terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : "Kulit."
Kiyai : "Terbuat dari apa pipi anda?"
Pemuda : "Kulit."
Kiyai : "Bagaimana rasanya tamparan saya?"
Pemuda : "Sakit."
Kiyai : Walaupun setan dijadikan dari api dan  neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang  menyakitkan untuk syetan. 

***
Ternyata menjawab logika dangkal harus dijawab dengan 'kedangkalan' pula. Karena bukan ilmu yang mereka inginkan, tetapi kemenangan logika di atas keyakinan
sumber : koleksi artikel di laptop

Setahun sudah..

19 Juni 2011, pertama kali menginjakkan kaki di Wamena
Hmmm....
Alhamdulillah, sudah setahun aku tinggal di Wamena, tepat pada 19 Juni 2012 kemarin. Pada tanggal yang sama di tahun lalu, aku dan dua orang temanku menginjakkan kaki pertama kali di Papua dan Wamena. Betapa awetnya kenangan itu tersimpan di pikiranku hingga sampai sekarang aku masih ingat apa-apa saja yang kami lakukan –juga keluguan- kami saat itu. Lalu, melalui tulisan ini, aku ingin melakukan kontemplasi atas apa yang sudah kulakukan selama ini disini. Pastinya, kita di masa depan adalah apa yang kita pikirkan saat ini. Jika aku ingin hidupku lebih berarti disini, maka aku menganggap mutasiku ke sini adalah anugerah dan misi-Nya. Sebaliknya, jika aku menganggap ini sebagai cobaan, maka aku akan berpikir untuk segera pindah tak peduli apa yang aku lakukan disini. Dua-duanya takdir, tinggal diriku yang memilih.

Memang tak genap setahun sebenarnya aku disini. Cukup sering aku melaksanakan tugas di kota lain dalam rangka dinas luar (DL). Sejak itu pula, aku berkesempatan mengunjungi beberapa kota lain di Indonesia, yakni Jakarta, Bogor, Bandung, Makassar, Jayapura, Biak dan Denpasar. Dua kota terakhir hanya kuinjak bandar udaranya saja alias transit. Hehe. Yah, banyak hal-hal dan kejadian yang bisa kudapat sejak aku ditempatkan di sini, yang tentunya akan menambah khasanah wawasan dan pengalaman hidupku nanti. Seperti kata orang bijak, satu ilmu penting yang tidak ada mata kuliahnya, yakni ilmu hidup. Di bawah ini adalah beberapa hal penting yang berkesan dan yang ada di pikiran setelah setahun berkarir di sini. Monggo disimak..

1.       Menjadi ‘ibu’ rumah tangga itu nggak gampang
Pernah aku bercerita, bahwa aku sering memasak di awal-awal penempatan. Aku dan dua orangtemanku waktu itu tinggal serumah, dan kami bergantian melaksanakan kewajiban sebagai ‘ibu’ rumah tangga. Lagipula saat itu, status kami di kantor masih magang, belum ada tupoksi jelas. Namun, sejak September 2011, angin perubahan bertiup. Wusshhh....^^. Kami bertiga berpencar, masing-masing menempati satu rumah sendiri-sendiri. Sejak saat itulah aku mulai jarang memasak, bahkan memasak nasi pun kadang ogah-ogahan. “Ngapain juga masak kalau harus dinikmati sendiri, toh harus repot-repot belanja bahan, perkakas sehabis masak harus dicuci dll, ah repot!!”, begitulah yang ada di benakku.

Bukan hanya memasak, merawat rumah sendirian pun tidak gampang. Aku harus menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju, setrika, kuras bak mandi, rapikan taman, bersihkan meja-meja, dan rotasi lokasi barang, semuanya sudah aku lakukan. Beberapa diantaranya harus kulakukan minimal seminggu sekali. Aku kemudian berpikir dan melihat realitas, Oh my God..., ternyata perempuan yang mau menjadi ibu rumah tangga adalah perempuan yang hebat dan tangguh. Meskipun dijaman ini kita mengenal pembantu rumah tangga. Namun, peran ibu rumah tangga toh masih ada, harus belanja kebutuhan-kebutuhan dan mengatur keuangan. Apalagi tingkat kesulitan akan bertambah ketika mereka harus merawat dan mendidik anak-anaknya. Sungguh, ini bukanlah pekerjaan main-main. Bagi ibu/istri atau calon ibu/istri yang membaca tulisan ini, jika memang berniat stay di rumah saja, tolong jangan katakan : Saya “hanya” ibu rumah tangga.

2.       Pengen banget buka warteg
Semenjak aku jarang masak, aku makan ‘sembarangan’. Pola makanku juga jadi tidak teratur. Kadang pagi nggak sarapan, hanya minum susu. Kadang malamnya yang nggak makan, langsung tidur aja. Maklum saja, harga makanan di sini sangat mahal. Kalau harus makan di warung terus lengkap dengan nasinya, sehari bisa minimal Rp60.000 (tiga kali makan). Jadi daripada demikian, maka aku memasak nasi sendiri, lauk dan sayurnya baru beli di warung. Sehari bisa 35-40rb.

Namanya juga laki-laki, terkadang karena posisi warungnya yang jauh, aku jadi ogah-ogahan pula. Otomatis, mie instan yang dulu pernah satu setengah tahun tidak kumakan, akhirnya kumakan juga. Tapi nggak rutin juga, kujatah, seminggu maksimal dua kali makan mie instan. Camilan juga jarang tersedia, camilan paling murah adalah gorengan, itupun sebiji ada yang Rp1000 (kecil) dan ada yang Rp2000 (standar). Cadangan telur satu rak (50 biji) juga harus selalu siap sedia di dapur. Kalau pagi malas keluar, bisa goreng telur saja. Hehe

Dulu saat aku masih kuliah aku berpikir, “wah kalau aku dah kerja nanti, aku nggak bakalan kepikiran harga makanan, apa yang kumau tinggal santap”. Namun, di Wamena ternyata aku takbisa mewujudkannya. Hiks....

Salah satu temenku sudah mempunyai usaha sampingan, yakni jasa angkutan orang dan barang ke luar kota. Modalnya sampai ratusan juta, aku sempet diajak tetapi aku tak punya modal saat itu. Aku juga ingin sekali buka usaha, yakni warteg. Salah satu alasannya adalah agar bisa makan gratis. Hehehe. Lagi nyari-nyari orang yang bisa masak nih..

3.       Rindu dunia pendidikan
Aku akan selalu antusias menuntut ilmu, ningkatin potensi diri, bahkan mencoba keahlian-keahlian tertentu. Namun, ternyata di Wamena, hal ini susah –kalau nggak boleh dikatakan tidak bisa- diwujudkan. Aku ingin bisa bahasa inggris dan arab, tetapi di sini tidak ada kursus tersebut. Aku ingin juga membaca indah dan menghafal Qur’an dengan serius, tetapi sayang disini tidak ada liqo’ tahfidz maupun tahsin. Di masjid-masjidnya pun tidak ada kajian rutin seperti di STAN dulu. Aku ingin melanjutkan pendidikan ke S1, tetapi syaratnya harus kerja dua tahun dulu. Maka, saat ini aku hanya bisa belajar otodidak. Inipun tidak mudah, karena tidak ada Gramed atau toko buku yang selalu update. Jadi aku harus ningkatin semangat diri ditengah lingkungan yang boleh dibilang kurang mendukung. Selama ada keinginan, aku yakin Dia memberi kemudahan. Namun, gak bisa dipungkiri lagi, aku jadi pengen banget balik ke kampus lagi. Oiya, temen-temen ada yang punya link situs belajar otodidak nggak? apa aja boleh deh... share ya.. Trims.

4.       Tuntutan kerja semakin banyak
Aku di kantor berposisi sebagai Supervisor, istilah ini digunakan karena aku bertanggungjawab atas kelangsungan operasional kantor dari sisi hardware, software, dan jaringannya. Selain itu juga harus menangani sofkopi (ADK) Pagu dan Revisi dari stakeholder. Sayangnya, aku tak punya basic komputer. Namun, kepercayaan dari atasan harus kujawab dengan baik, tentu dengan belajar sendiri serba-serbi komputer ini. Masalah-masalah sering datang menghampiri, hampir setiap hari kerja aku tak bisa tenang. Apalagi aku merangkap sebagai Petugas Pembuat Administrasi Belanja Pegawai (PPABP) alias yang bikin daftar Gaji dan Tunjangan untuk para pegawai di kantor. Aku juga –masih- sebagai pengelola aplikasi barang (SIMAK), mengelola aplikasi kepegawaian, membuat SPM DBH PBB, membuat laporan-laporan bulanan, triwulanan, dan semesteran. Jadi setiap awal bulan, maksimal tanggal 10 aku harus memastikan semua laporan jadi dan terkirim ke Kantor Wilayah.

Bukan Bambang namanya kalau tak tertarik mempelajari ilmu-ilmu lain. Ciye... Di kantor aku juga berinisiatif menjadi fotografer, desainer, dan pengelola web. Desain grafis jelas, karena aku suka dan menggemarinya. Fotografi, aku juga suka dan penasaran, ini bisa dipelajari dengan otodidak. Yang terakhir ini aku bener-bener bingung. Web www.kppnwamena.net sudah ditinggalkan pengelolanya yang dimutasi sejak September 2011 lalu, dan sekarang belum ada pegawai yang mau mengelolanya. Karena aku penasaran dengan desain web ini aku mengajukan diri sebagai pengelolanya. Sayangnya, ternyata susah juga mengotak-atik desainnya, meski aku sudah membaca berkali-kali buku tentang itu. Kalau nulis isinya sih InsyaAllah bisa. Akan tetapi, sepertinya desain web nya sepertinya terlalu ribet. Trus gimana dong sekarang... ^^

5.       DL adalah refreshing
Selama setahun di sini, aku sebenarnya sudah cukup sering melakukan perjalanan ke kota-kota lain yang sudah aku sebutin di atas. Bagiku, selain untuk menunaikan tugas dan berimbas bertambahnya tanggungjawab pekerjaan, kesempatan melaksanakan dinas luar adalah sebenar-benarnya refreshing. Bagaimana tidak, aku bisa ke Jawa gratis, bisa makan gratis dan enak, tidur di tempat yang nyaman, dan bertemu dengan banyak teman seangkatan. Terlebih lagi, aku bisa jalan-jalan dan tentunya pulang kampung. Ongkos Wamena ke Jawa yang terhitung mahal (PP minimal 6 juta) membuat aku sulit bolak-balik ke Jawa tanpa persiapan matang. Maka, ketika ada kesempatan ke Jawa dan dibiayai penuh oleh negara -ke tempat lokasi acaranya saja biasanya di Jakarta, aku putuskan untuk mampir di rumah –dengan biaya sendiri-.

Aku juga pernah ke Makassar, kuputuskan untuk jalan-jalan dan refreshing saat akhir pekan setelah dinas luar. Kukunjungi Trans Studio, Pantai Losari, dan Mall Panakukang bersama Fani Pramuditha Nugraha –temenku di DJP, dan tentunya mencicipi kuliner setempat

Lebih dari dua bulan terakhir ini aku nggak dipanggil dinas luar. Jadi kangen... ^^

6.       Kantor adalah rumah kedua
Pada hari-hari kerja, ternyata aku lebih lama berada di kantor daripada di rumah dinas. Jam kerja sebenarnya adalah pukul 07.30 – 17.00 WIT, dengan waktu istirahat. Namun, seringnya aku pulang minimal jam 20.00 WIT, mengapa? Pertama, setelah jam absen pulang, aku bisa berbincang-bincang dengan temen-temen pegawai. Kedua, jam 17.40 sudah adzan Magrib, kalau harus pulang ke rumah dinas yang berjarak 300 meter dari kantor, ya tidak efektif. Ketiga, aku harus melakukan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan setelah operasional kantor sudah selesai, yaitu mem-backup database dan mengirim data transaksi hari itu. Keempat, di rumah aku nggak punya kerjaan lain, sedangkan di kantor aku bisa berinteraksi dengan sahabat dan teman-teman via internet. Soalnya, waktu istirahat banyak temanku di WIB adalah bertepatan pukul 19.00 di sini (WIT).

Lama di kantor dan menghadap komputer, bukannya tanpa efek. Punggungku sering pegal-pegal, mata juga sering tetep pedes setelah bangun pagi. Aku sadar, pola hidup ini harus diperbaiki.
Betahnya aku di kantor, tak lepas dari suasana kantor yang akrab dan cair. Para atasan bersikap egaliter terhadap bawahan, sesama bawahan saling bercanda dan berbagi. Dengan hanya 15 pegawai di kantor (termasuk kepala kantor dan kepala seksi), membuat kami cukup mengenal satu sama lain.

Masih banyak yang ingin aku ceritakan, tetapi tampaknya segini saja sudah cukup memberi gambaran pada kalian semua. Sebenarnya aku masih punya semangat, tak layak aku mengeluh. Jika kulihat para pahlawan kita yang dibuang di kota-kota terkecil, mereka tetap berkarya. Kuamati para pendatang dari Jawa ke Wamena hanya berjualan sate penthol, jajanan, dan mainan keliling, bahkan jasa perbaikan sol sepatu, mereka masih punya semangat.  Kupandang beberapa orang alim, rela datang ke distrik yang sepi, demi mengajar santriwan dan santriwati tentang Islam, mereka sungguh punya semangat. Lalu, mengapa diriku harus menyerah?

Setahun di Wamena, kadang aku berpikir, “wah, sudah setahun, tinggal berapa tahun lagi ya....”. Namun, yang jelas kurasakan adalah apa yang sudah kulakukan sejauh ini. Apa andilku bagi perkembangan agama dan pendidikan di tanah Papua ini. Sebenarnya aku punya model. Ada seorang anak muda yang di awal era milenium berada pula di sini, di kantor yang sama denganku saat ini. Namanya Arif Hermanu. Oleh beberapa orang di sini, ia dikenal sebagai sosok yang alim, sering berdiam diri (iktikaf) di masjid dan aktif di beberapa kegiatan. Aku hanya bisa bilang bahwa sosok beliau menyisakan harapan sekaligus beban bagiku. Layaknya Umar bin Khattab r.a yang menerima tampuk khalifah dari Abu Bakar As Shiddiq r.a, ia lantas berkata: “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Sungguh dia benar-benar membuat lelah orang setelahnya.” Aku berbeda dengan pak Arif, tetapi aku juga ingin berbuat banyak di sini, meninggalkan kenangan indah bagiku dan bagi yang kutinggalkan nanti. Semoga aku bisa menjadi Umar yang memberi sesuatu lebih baik dari Abu Bakar. Amin. Cerita bersambung dua minggu kemudian, saat sang Abu Bakar akan datang lagi ke Wamena.