Aku dan Sepakbola


Il Diavolo Rosso | t2.gstatic.com
Mengenali sepakbola, apalagi cukup fanatik pada sebuah klub tentu tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku mengenal serba-serbi tentang olahraga ini baru sejak musim 2003-2004. Saat itu umurku baru 13 tahun, baru mengenyam pendidikan di kelas dua SMA. Semua berawal dari cerita kakakku. Berbeda denganku, dia sekolah bukan di Demak, melainkan di Cirebon. Pada suatu momen dia pulang mudik ke Demak, dia bercerita banyak tentang bola. Apalagi kami masih tidur seranjang, dia selalu bercerita tentang kehebatan dari para pemain yang berlaga di piala dunia 2002 dan klubnya masing-masing. Hal itu ia lakukan hampir setiap kali mau tidur. Saat itulah secara sengaja dia juga bercerita tentang AC Milan.
Cerita berlanjut ketika aku menyaksikan langsung pertandingan bola Liga Italia pertama kali. Aku lupa lawan Milan waktu itu, yang jelas Milan mampu mendominasi pertandingan dan bermain sangat baik. Mulai dari situlah, selera kakak sudah mempengaruhiku. Ternyata Milan layak didukung. Hehe. Bukan hanya Milan, dia juga mengenalkan MU yang saat itu begitu tenar dengan Beckhamnya. Jadilah aku secara tidak langsung menjadi seorang fans Milan dan MU.

Juara Champion League musim 2002/2003 | http://stat.ks.kidsklik.com
Mendukung Milan menjadi sangat menyenangkan pada musim itu. Di kelas, ternyata bola bisa jadi bahan perbincangan. Klise memang, membicarakan sesuatu yang sudah terjadi, mendiskusikannya, bahkan sampai-sampai ada yang bertaruh karenanya. Namun, mungkin inilah letak kehebatan sepakbola. Ia mampu ‘menyatukan’ orang-orang di seluruh dunia. Temen sebangkuku juga ternyata fans Milan pula, namanya Aris. Sedangkan yang menjadi teman beradu mulut kami adalah Wahyudi dan Nizar yang merupakan Juventini. Hebatnya, Milan dan Juve bertemu dalam Final Liga Champion musim itu, dan Milan akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Juve melalui adu pinalti. Beberapa hari sebelumnya, Milan juga berhasil menggondol Piala Copa Italia setelah mengalahkan AS Roma di Final. Prestasi Milan berlanjut di musim selanjutnya. Il Rossoneri melakukan pembelian hebat dengan mendatangkan Kaka dari Sao Paolo. Milan akhirnya mampu merengkuh gelar Serie-A. Tiga gelar di dua musim awal aku mengenal Milan, dan membuat aku semakin bangga menjadi Milanisti.

Il Tsar She7a | t3.gstatic.com
Saat itu aku kenal Milan sebagai tim raksasa Italia. Ball possession menjadi ciri khasnya, lewat kombinasi bola-bola panjang dan pendek. Era itu dibangun oleh pelatih berkebangsaan Italia, Carlo Ancelotti. Pemain inti saat itu dari belakang ke depan aku ingat betul, mereka adalah Dida, Nesta, Maldini, Cafu, Serginho, Pirlo, Gattuso, Seedorf, Kaka, Shevcenko (Sheva), dan Inzaghi. Sedangkan untuk para pemain cadangan yang aku ingat adalah Ambrossini, Abbiati, Helveg, Costacurta, Boriello, Tomasson, Kaladze, Rui Costa, Rivaldo, dan Brocchi. Aku mengidolakan Sheva waktu itu. Ia striker dari Ukraina, dribblingnya bagus, mau merebut bola, badannya atletis, insting mencetak golnya tinggi, sepakannya keras terukur, sundulannya juga menggelegar. Pantas jika ia dijuluki I Tsar (Sang Kaisar) waktu itu. Bersama Inzaghi mereka bahu membahu membobol gawang lawan, hingga menjadi duet striker paling ditakuti masa itu.

Inzaghi berbeda dengan Sheva, dia pemain yang kurus dan suka diving. Selain terkenal dari tingkahnya berpura-pura jatuh di kotak penalti, Inzaghi juga terkenal sebagai raja offside. Sepertinya dia selalu ingin mengalahkan jebakan offside dari bek lawan. Yang paling membuatku sulit melupakannya adalah penempatan posisinya yang sungguh cemerlang. Tahu-tahu ada peluang, dia berada di posisi yang tepat. Enggak ada kontribusi sepanjang pertandingan, tahu-tahu membobol gawang. Sebagian besar gol Pippo (sapaan akrabnya) sepertinya bukan dikategorikan sebagai gol cantik, kalau gol beruntung mungkin. Haha. Yang aku herankan, faktor luck­-nya sepertinya besar. Dapat peluang sekali atau dua kali, tetapi langsung bisa dikonversi jadi gol. Apalagi ia sering menjadi penyelamat di pertandingan-pertandingan krusial. Seperti saat mengalahkan Ajax di second­-leg perempat final Liga Champion juga saat mempecundangi Juventus lewat sebuah gol yang masuk melalui kolong kaki Buffon di Liga Italia. Ia pemain yang selebrasi golnya meledak-ledak. Kadang dia memeluk pelatih, tetapi lebih sering berlari-larian menuju tribun penonton sambil berteriak-teriak. Haha. You’re so special Pippo


Aku benar-benar maniak bola waktu itu, padahal jika disuruh bermain bola aku tidak lincah. Uang sakuku selama seminggu, kukumpulkan 500 demi 500 hingga mampu membeli tabloid Soccer seharga 3500. Ibu pernah marah-marah, Ibu bilang ngapain tiap minggu beli tabloid, mendingan buat jajan aja. Namun aku bergeming. Menikmati berita dan ulasan di tabloid sepakbola itu sangat menyenangkan, kadang aku baca berulang-ulang. Bahkan poster-poster bonus dari tabloid itu kutempel memenuhi dinding kamarku. Kalau itu gambar pemain yang gak aku idolakan, ya aku simpan saja. Ketika aku harus mengikuti Pramuka setiap hari Jumat sore, maka pulang sekolah sebelum Jumatan aku beli dulu Soccer di terminal. Lalu menunggu Jumatan dan menunggu sore hari di masjid Agung Demak sambil mbaca tabloid ini. Maklum, rumahku 10 kilo lebih dari sekolah. Sekali jalan naik bis 45 menit. Jadi kalau harus pulang lalu berangkat lagi ya jadi malas, mending nunggu di deket sekolah aja. Kadang juga sehabis Jumatan di sana aku mencari suasana lain yang tenang seperti di mushola sekolah atau di belakang kelas, sendirian. Dari tabloid itulah wawasan ku tentang serba-serbi sepakbola bertambah. Mulai dari logo klub, para pemainnya, pelatih, negara, dan catatan statistik lain sangat aku kuasai. Bahkan sempat terpikir ingin menjadi dokter, yang bekerja sebagai tim dokter dari sebuah klub sepakbola di Eropa. wkwkwk. Sejak SMA kebiasaanku membeli tabloid aku kurangi. Entah kenapa udah males mbacanya. Paling hanya ke perpus daerah jika memang pengen.

Tahun ke tahun silih berganti. Ancelotti memberikan berbagai gelar prestisius bagi klub ini. Terutama keberhasilannya membawa Milan tiga kali ke putaran Liga Champion dalam lima musim, meski hanya dua kali menjadi kampiun. Musim 2002-2003 mampu mengalahkan Juventus lewat adu penalti, musim 2004-2005 kalah melalui adu penalti dari Liverpool, dan terakhir 2006-2007 dapat membalaskan dendam melawan The Reds 2-1. Saat bermain di Old Trafford melawan Juve di Final, sebenarnya Sheva bisa mencetak  gol di babak extra time, tetapi dianulir oleh wasit. Maka kemenangan dari penalti begitu menggembirakanku, Dua musim kemudian, bertemu Liverpool di Istanbul. Malam itu menjadi mimpi buruk bagi para milanisti. Gol Maldini di menit pertama, ditambah dua gol lagi dari Hernan Crespo di babak pertama ternyata berhasil disamakan oleh Alonso, Smicer, dan Gerrard di babak kedua. Milan seperti kehilangan taji di babak kedua. Hingga akhirnya kemenangan di depan mati tadi harus pupus tatkala Sheva tidak berhasil membobol gawang Jerzy Dudek yang ‘joget-joget’ di babak penalti. Sayang sekali.. T_T.

Dua gol Pippo jungkalkan The Reds | i147.photobucket.com
Tuhan memberi kesempatan bagi Milan untuk membalas kelakuan Liverpool pada dua musim berikutnya di Athena. Satu gol Inzaghi di babak pertama berbau keberuntungan. Dia membelokkan sepakan freekick dari Andrea Pirlo. Pippo juga mencetak gol di babak kedua, ketika dia berhasil lolos dari jebakan offside dan mengakali sergapan Pepe Reyna. Liverpool hanya mampu mengejar melalui gol Kuyt. Maka Pippo adalah pahlawan kami saat itu. 

Untuk Liga Champion, aku benar-benar maniak waktu itu. Aku bukan hanya menyaksikan laga-laga AC Milan, tetapi juga tim-tim lainnya wa bil khusus setelah menginjak fase knock-out (gugur). Dini hari jam 01.00 atau jam 03.00 aku sering bangun hanya untuk menyaksikan pertandingan bola. Agar bisa bangun, maka yang kulakukan sebelum tidur adalah berpesan pada Ibu (karena Ibu sering terbangun malam-malam), pasang alarm hape, dan meminum air sebanyak-banyaknya (agar kantung kemih penuh saat sudah dini hari). Cara ini cukup efektif. Namun, terkadang aku juga terbangun sebelum waktunya, padahal selama ini aku terkenal tidak pernah bangun malam. Meski esoknya ada ulangan di sekolah, aku memaksakan diri nonton. Dari jam setengah tiga sampai pagi aku nggak tidur lagi. Kadang-kadang ibu menegurku, tetapi aku beralasan udah tidur dari jam 20.00 malam harinya. Bangun tiap malam ini membuatku berani waktu itu. Sebelumnya aku masih takut sendirian malam-malam, takut ke kamar mandi, dll. Bukan pada maling, tetapi pada hantu (korban film dan sinetron, haha), tetapi semenjak sering sendirian nonton bola, aku jadi nggak takut lagi.  

Pemain datang dan pergi silih berganti. Namun, ada beberapa dari mereka membuatku sedih saat pergi. Dia adalah Sheva dan Kaka. Sheva pergi duluan di musim 2006-2007 ke Chelsea. Denger-denger karena itu permintaan istrinya Sheva dan krisis keuangan di Milan yang harus segera diatasi dengan menjual aset panasnya. Kemudian kepindahan Kaka ke Madrid juga terlaksana beberapa tahun kemudian, lagi-lagi karena masalah duit. Padahal sejak Sheva pindah ke Chelsea, idolaku saat itu adalah Kaka. Yang berhasil menjadi topskor dan pemain terbaik di Liga Champion 2007-2008. Kaka yang religius dan kalem ini saat itu menjadi playmaker yang hebat. Gerakannya membawa bola benar-benar eksplosif. Tendangannya dari luar kotak penalti juga kencang. Yang paling kuingat dari pria Brasil ini adalah golnya ke gawang Van der Saar saat Milan bertemu MU di Liga Champion. Saat itu Ricky Kaka berhasil membenturkan dua bek MU sebelum menceploskan bola ke gawang dengan tenangnya. Kepergian mereka benar-benar membuat Milan porak-poranda. Saat Sheva pergi, Milan susah mencari gantinya, tetapi ada Kaka yang melejit. Setelah Kaka pergi, sampai sekarang Milan belum menemukan sosok playmaker yang seperti dia. Maka, wajar bila beberapa tahun pertama setelah kepergian Kaka, Milan puasa gelar selama dua atau tiga tahun. Hiks...

Thanks Pippo | sidomi.com
 Musim 2010-2011 menjadi era kebangkitan Milan, datangnya Ibrahimovic dan pelatih baru Massimiliano Allegri mengubah penampilan Milan. Strategi pelatih yang menyukai gelandang enerjik di tengah seperti Nigel de Jong dan Sulley Muntari terbukti ampuh membendung serangan lawan sebelum sampai ke lini belakang. Sentral back Thiago Silva menjadi tembok kokoh barisan pertahanan sehingga si plontos Abbiati tidak terlalu bersusah payah menahan tembakan. Di depan, Ibra menjadi momok yang menakutkan bagi lawan-lawannya dengan kekuatan fisik dan heading-nya. Kehebatan Milan terbukti maksimal kala melawan tim sekota Inter Milan, di laga yang kusaksikan bersama ratusan Milanisti di Hanggar Futsal Pancoran (Markas Milanisti Indonesia Pusat) Milan meraih kemenangan 3-0. Di penghujung musim, performa apik Milan diganjar scudetto ke 18. Selamat buat Mr. Max yang dapat merengkuh gelar di tahun pertamanya. Sayang, dengan skuad yang hampir tidak ada perubahan, di musim 2011-2012 Milan gagal adu lari dengan Juventus di klasemen. Selisih empat poin sudah cukup membuat Milan harus puas duduk di peringkat kedua di akhir musim.

Lagi dan lagi, Milan ditinggal beberapa pemain pentingnya yaitu Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva. Kedua pemain yang menjadi ruh permainan Milan saat itu harus cabut menuju Paris Saint Germain (PSG) di transfer musim panas. Belum lagi, perginya sejumlah pemain yang usai masa kontraknya dan termasuk para legenda cukup meninggalkan lubang menganga dalam tim. Nyesek juga saat melihat perpisahan mereka di laga kandang terakhir. Super Pippo Inzaghi memberi kado terakhirnya dengan gol kemenangan yang indah. Gianluca Zambrotta, Alessandro Nesta, Gennaro Gattuso, Clarence Seedorf, juga turut meninggalkan San Siro.

Kepergian sebagian besar punggawa Milan, membuat klub ini tertatih-tatih di musim 2012-2013. Hadirnya The Little Pharaoh Stephan El Sharawy seolah menjadi pahlawan di musim ini. Di saat tim terpuruk, dia menjadi sosok yang terus disorot berkat produktivitasnya mencetak gol, padahal ia berposisi sebagai penyerang sayap. Kedatangan Super Mario Balotelli di paruh kedua musim menjadi angin segar untuk mengangkat tim. Tapi terlambat, buruknya penampilan tim sejak awal musim, harus dibayar dengan dicurinya mahkota scudetto oleh tim yang sedang bangkit dari tidur panjangnya, Juventus. Milan sudah harus cukup bersyukur atas suksesnya mereka merengkuh tiket terakhir Liga Champion alias peringkat ketiga klasemen akhir dengan kemenangan di partai terakhir. Sempat cemas juga sih, masak harus masuk Europa League.

Perbaikan demi perbaikan dilakukan di musim 2013-2014 termasuk dengan mendatangkan gelandang kreatif Ricky Kaka yang pernah mengecap manisnya gelar saat pertama kali bergabung, tetapi toh belum cukup ampuh mengangkat tim ini menuju kejayaaannya kembali. Malah, start Milan di awal musim adalah start terburuk sejak 1981/1982, saat mereka terdegradasi ke Seri B. Rossoneri kalah 0-2 di kandang sendiri saat menjamu Fiorentina. Hasil tersebut membuat Milan terlempar ke posisi 11 klasemen, mengumpulkan 12 poin hasil tiga kemenangan, tiga hasil imbang dan lima kali kalah. Pola permainan yang monoton dan sikap para pemain yang tidak bersemangat mengejar bola menjadi sebab. Akhirnya Mr. Max dipecat juga setelah kalah dengan tim promosi Sassuolo 3-4 di pekan ke-19. The Black Panther Clarence Seedorf ditunjuk menjadi suksesornya. Akankah Milan mampu bangkit dan mengejar ketertinggalannya dari Roma dan Juventus di sisa musim ini? mari kita saksikan bersama.
Yang jelas, aku menjadi fans Milan sampai sekarang. Setelah memasuki era jejaring sosial dan internet, berita-berita bola jadi mudah dicari, aku bisa mendapat segala hal tentang Milan bisa kudapat tanpa perlu membeli tabloid lagi. Aku pun bisa mengikuti berita-berita dari Fans Page Milanisti Indonesia. Sampai disini, semua sudah tahu bahwa Milan adalah sebuah klub luar biasa, pemegang titel terbanyak kedua di Liga Champion dan Italia. Tidak hanya itu, suasana kekeluargaan di dalamnya mulai dari pemain, pelatih, official, presiden sampai fans-fansnya pun begitu kental. Maka, aku dengan pede menyatakan bahwa aku bangga menjadi Milanisti. 

Forza Milan!!