12/05/16

7 Wasiat Pembersih Hati

Berikut ini ada tujuh nasehat indah dari para ulama agar kita terhindar dari sifat sombong, suka meremehkan orang lain, dan sifat ujub, bangga diri serta merasa lebih baik dari orang lain.
1. Apabila kita berjumpa anak-anak, kita katakan dalam diri kita, anak ini lebih mulia dari saya karena ia belum dibebani dosa.
2. Apabila kita berjumpa orang yang usianya lebih muda dari kita, kita katakan dalam diri kita, orang ini lebih mulia dari saya karena tentu dosanya lebih sedikit dari saya.
3. Apabila kita berjumpa orang yang usianya lebih tua dari kita, kita katakan dalam diri kita, orang ini lebih mulia dari saya karena telah beribadah kepada Allah lebih lama dari saya.
4. Apabila kita berjumpa orang jahil, kita katakan dalam diri kita, orang ini lebih mulia dari saya karena ia berbuat dosa atas dasar kejahilan dan ketidakmengertiannya, sedangkan saya berbuat dosa dalam keadaan memiliki ilmu dan mengerti.
5. Apabila kita berjumpa orang alim, kita katakan dalam diri kita, orang ini lebih mulia dari saya karena didalam dadanya penuh ilmu.
6. Apabila kita berjumpa orang jahat, janganlah kita merasa lebih mulia darinya, akan tetapi kita katakan dalam diri kita, boleh jadi orang ini akan bertaubat di kemudian hari sehingga menjadi orang yang baik, sedangkan saya belum tahu bagaimana akhir kehidupan saya nanti.
7. Apabila kita bertemu orang kafir, kita katakan dalam diri kita, belum tentu orang ini kafir selamanya, boleh jadi ia mendapat hidayah dan kemudian masuk Islam.
Demikianlah tujuh nasehat indah dari para ulama, semoga Allah hindarkan kita dari sifat sombong, suka meremehkan orang lain, dan sifat ujub, bangga diri serta merasa lebih baik dari orang lain, aamiin.
Semoga bermanfaat.
Hamba Allah yang selalu berharap petunjuk, ampunan dan kasih sayangNya, juga selalu berdoa dan berharap mati husnul khotimah diatas Islam dan Sunnah
Abdullah Sholeh Hadrami
@AbdullahHadrami

# Habis dapat postingan bagus dari Al Ustad di Facebook beliau

23/04/16

Memahami Peranan Ekspektasi Masyarakat

Dalam banyak literatur ilmu ekonomi khususnya yang berhubungan dengan ekonomi moneter, faktor ekspektasi masyarakat (rational expectation) punya peran penting dalam mendukung kebijakan.

Mudahnya begini, misalnya pada suatu Minggu, ada pasutri yang ingin berlibur ke sebuah tempat wisata terkenal dengan wahana-wahana permainannya. Namun, sang Suami bilang "Besok aja deh yank, kan besok aku masih cuti, kalau hari ini pasti ramai deh, ntar jadi panjang ngantri wahananya". Dengan alasan itu mereka tidak jadi pergi berwisata, dan menundanya esok hari, yaitu hari Senin.

Dari cerita di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa:
1. Biasanya hari Minggu ramai, hari selain Minggu tidak terlalu ramai 2. Mereka berekspektasi hari Minggu itu (tanggal kejadian) seperti hari-hari biasanya 3. Mereka melakukan tindakan sesuai ekspektasi, yaitu tidak jadi berangkat 4. Mereka akan berangkat pada hari Senin poin 1 dan 4 adalah fakta, sedang 2 dan 3 adalah ekspektasi. Tapi, poin 4 erat kaitannya dengan ekspektasi 2 dan 3. Apa yang akan terjadi di hari Senin? dan apakah terbukti ekspektasi mereka? Jawabannya adalah: 1. Ekspektasi mereka terbukti. Seperti biasanya, hari Minggu saat itu benar-benar ramai, dan mereka beruntung, karena saat tiba di lokasi pada hari Senin sedikit sekali pengunjung dan mereka puas 2. Ekspektasi mereka sama dengan ekspektasi banyak orang. Karena setiap orang menganggap hari Minggu akan ramai, maka mereka rela menambah cutinya, atau membolos kerja demi untuk berlibur di hari Senin. Karena ekspektasi mereka, yang terjadi adalah, hari Minggu tidak seperti biasanya, pengunjungnya sangat sedikit. Sedangkan pasutri di atas kecewa, karena ternyata ekspektasi mereka keliru, saat tiba di lokasi pada hari Senin, antrian loket saja sudah mengular. Pada kasus kebijakan moneter, barangkali otoritas moneter memperkirakan bulan Juni yang bertepatan dengan bulan Ramadhan, inflasi yang biasanya 1% per bulan melonjak menjadi 3-4%. Maka, segenap kebijakan dirumuskan untuk menekan efek dari inflasi itu. Sayangnya, pada tahun ini, masyarakat muslim sudah lebih cerdas dan beriman semuanya. Daripada belanja kebutuhan di bulan Ramadhan, mending beli sekarang lalu disimpan. Ekspektasi tersebut membuat permintaan bahan-bahan makanan melonjak drastis pada bulan Mei, sebelum Ramadhan. Yang terjadi adalah, kebijakan moneter menjadi tidak tepat sasaran, dan inflasi terjadi tidak seperti yang diharapkan. Ekspektasi masyarakat yang baik adalah yang sesuai dengan target yang diharapkan otoritas moneter. __o0o__ Saat ini, banyak orang yang berekspektasi bahwa harga-harga properti akan terus menanjak dan semakin sulit terbeli, maka semua orang berbondong-bondong membeli properti meski sebenarnya mereka belum butuh. Apa yang terjadi?

Antara Baik dan Mengajak Kebaikan

Seorang ustad mengungkapkan, kurang lebih begini: "Sudah menjadi fitrahnya bahwa saat anda baik, mungkin banyak orang menyukai. Namun, saat anda mulai mengajak orang menjadi baik, orang-orang akan mulai menghindar"

Ungkapan tersebut membuat saya merenung, benarkah demikian? Jika benar, tentunya ini menjadi tantangan atau sebaliknya menjadi hambatan bagi mereka yang mengamalkan Firman Allah Subahanhu wata'ala dalah Surah Al-Ashr. Setiap orang merugi, kecuali yang beriman, beramal sholeh, dan mengajak dalam kebaikan dan mengajak dalam kesabaran. Juga masih banyak ayat Al Quran dan Hadits yang menekankan pentingnya kita menyampaikan kebaikan dan sedikit ilmu agama yang kita punya. Baik untuk diri sendiri saja itu tidak cukup.

Kita bisa kembali menengok ke kitab Sirah / Sejarah Rasul. Karena memang dari sanalah kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah yang luar biasa berharga. Rasulullah sallallahu alaihi wa alaihi wasallam pada mulanya disukai banyak orang, diyakini kemuliaan nasabnya, diakui kebaikan akhlaknya, bahkan digelari Al Amin (yang dapat dipercaya). Namun, saat mulai menyampaikan risalah dakwah, sama seperti Nabi dan Rasul lainnya, ia mulai dijauhi. Bahkan, ujung-ujungnya dicela dan dimusuhi.

Kemudian muncul pertanyaan dalam diri, "Mungkinkah caranya dalam menyampaikan bisa diperbaiki sehingga kita tidak dimusuhi?". Hey... bukankah cara Rasulullah dan para Sahabat adalah cara-cara yang benar-benar sudah unggul. Bukankah cara-cara mereka adalah yang sesuai wahyu Ilahi?

Benar juga sih, setiap orang tentunya mempunyai pertahanan diri, merasa sudah benar atau minimal tidak ingin dianggap remeh. Pun setiap perubahan apapun termasuk menjadi lebih baik lagi itu juga tidak selalu nyaman. Barankali, hanya orang-orang yang selalu mengejar hidayah, yang ketika diingatkan Firman-Nya dan Sunnah Nabi-Nya ia akan kembali merenungi nasihat baik orang lain, dan seketika itu berupaya untuk melaksanakannya.

Kesimpulannya, menjadi baik itu mudah. Namun, saat mulai mengajak kebaikan, bersiaplah atas apa yang terjadi.

11/04/16

Alasan Lugu Jadi Pengusaha

Pada suatu kelas Kewirausahaan di sore yang mendung, terjadi diskusi yang dipancing oleh sang dosen.

"Farah, kamu sebenarnya ingin jadi pengusaha itu kenapa?", tanya sang dosen.

"Gini lho pak, jawab Farah. "Saya sebenarnya menghindari bekerja di pemerintahan, supaya tidak berdekatan dengan hal-hal berbau korupsi gitu".

"Oh jadi gitu, kalau kamu Gun, kamu juga katanya mau jadi pengusaha, sebenarnya apa motivasi kamu?, sang dosen masih tampak belum puas.

"Jadi pengusaha itu menurut saya enak, Pak. Bisa bebas mengatur waktunya". Jawab Gunawan.

_____

Cerita di atas benar terjadi, meski dengan nama samaran dan kata yang mungkin tidak sama persis dengan aslinya. Namun, ada dua catatan penting:

1. Bekerja di Pemerintahan dekat dengan korupsi
2. Menjadi Pengusaha mempunyai banyak waktu.

Mari kita cermati bersama kedua hal di atas.

1. Bekerja di pemerintahan dekat dengan korupsi. Apa benar demikian?
Sudah bukan hal tabu lagi membicarakan birokrasi negeri ini yang masih jauh dari harapan. Pungutan liar, gratifikasi, sogok menyogok, dan KKN menjadi pemberitaan di berbagai media. Hingga sikap generalisasi dan justifikasi menjadi wajar adanya. Namun, apakah tidak ada yang benar-benar suci di birokrasi kita? Ternyata ada. Pada tataran kebijakan pimpinan, pemerintah dalam hal ini pusat maupun daerah tentu berlomba-lomba menyusun sistem anti korupsi bersamaan dengan isu good governance (tata kelola pemerintahan yang baik) yang semakin gencar dihembuskan di seluruh dunia. Namun, di lapangan tentunya tidak semulus yang dikira. Entah itu karena tingkat kesungguhan pimpinan yang masih setengah-setengah (matanya ijo juga), SDM yang sudah berpola pikir KKN, maupun sistem yang banyak kekurangan. Akhirnya hanya instansi yang bersungguh-sungguh melakukan reformasi yang bisa dikatakan mendekati bersih. Salah satunya adalah Kementerian Keuangan, yang meraih penghargaan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi, dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani Unit Kerja Pelayanan di lingkungan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah Tahun 2015.  Ini adalah prestasi yang kesekian kalinya. Meski tak dipungkiri, masih banyak yang harus dibenahi dari instansi bendaharawan negara ini. Logika kedua, semakin licin suatu jalan semakin mudah ia terjatuh. Sebenarnya memang selama ini yang menjadi penyebab utama di berbagai sektor layanan publik adalah sistem layanan yang lemah dan rentan terhadap tindakan koruptif. Jangankan mengutamakan kepuasan yang dilayani, bahkan kalau perlu bisa mendapat sesuatu dari yang dilayani. Kita harus yakin, bahwa ini semua bisa dibenahi asal punya tekad. Masalah semakin rumit, jikalau para penerus justru sudah kalah sebelum bertanding dan menjauhi instansi, padahal ia berpotensi untuk memperbaikinya.


2. Menjadi Pengusaha mempunyai banyak waktu. Benarkah demikian?
Sejauh yang saya ketahui, tidak ada bisnis yang sukses dalam waktu semalam. Memangnya Bandung Bondowoso? Gitu aja Bandung bikin candi pakai modal tenaga kerja, yaitu para jin. Lha kita?. Semudah apapun bentuk bisnisnya, pasti tetap akan menguras tenaga dan waktu pada awalnya. Selalu terpikir bagaimana sumber modalnya, memesan suplly dengan lebih murah, memproduksi barang/jasa dengan efisien, memanaj SDM nya, menentukan harga yang terjangkau, mempromosikan yang tepat, dan seabrek hal-hal yang mau tak mau bikin kita kepikiran terus. Lagipula, misalnya kita jualan barang dan lagi gencar-gencarnya dipromosiin, eh ternyata kita main tutup toko karena lagi capek. Kira-kira pelanggannya banyak yang kabur gak? Mereka akan berpikir, "ini toko belum dapet penggemar aja udah mengecewakan". Memang, seharusnya bisnis yang sudah mapan (biasanya setelah melewati dua tahun), founder atau owner nya akan lebih bebas dalam mengatur waktu, karena kereta bisnisnya bisa jalan sendiri di rel yang sudah seharusnya. Namun, ketika berpikir menjadi pengusaha karena alasan itu? tunggu dulu... Meskipun sudah jalan sendiri pun, owner akan berpikir buka cabang baru, melakukan perubahan, mengurangi/menaikkan harga melihat kondisi perekonomian, mengatur strategi menghadapi banyak pesaing baru, dsb. Jadi, benarkah menjadi pengusaha akan mempunyai banyak waktu? Ya, tapi relatif. Kalau ingin jualannya tidak ingin meledak (ya jangan jual mercon), tidak berkembang, bahkan layu sebelum berkembang (judul lagu siapa nih...), atau tergerus dengan zaman (seperti N*kia), mungkin alasan itu banyak benarnya.

____

IMHO (in my humble opinion), mau jadi pengusaha, karyawan swasta, PNS, atau apapun profesinya faktor utama dan pertama yang diinginkan tentunya adalah penghasilan. Ketika kita tidak dapat atau tidak pantas lagi bergantung pada orang tua, maka mendapatkan penghasilan sendiri adalah tuntutan. Ketika kita sudah bisa mandiri untuk menghidupi diri sendiri -dan nantinya pasangan kita- dengan harta yang halal berarti pekerjaan kita sudah baik. Nah, baru setelah kebutuhan pertama kita tercukupi, kita akan memikirkan motif-motif lain yang lebih kita sukai seperti dekat dengan keluarga, bermanfaat bagi orang lain, dsb. Namun, penetapan motif yang kurang tepat bisa jadi boomerang karena menyempitkan pilihan kita.

Sekian dan terima kasih. CMIIW. Saya pun masih belajar jadi pengusaha. :-)



08/04/16

Tugas Belajar atau Belajar Karena Banyak Tugas?

Bismillah, Apa kabar pembaca budiman?

Sudah cukup lama aku tidak menyentuh blog Bambangisme ini ataupun mengulik ulik akun kompasianaku. Sebenarnya, ketika kita sudah mencanangkan diri untuk menulis, seharusnya kita 'istiqamah' untuk melakukannya. Kadang kita masih punya semangat, lalu disibukkan dengan hal lain yang membuat kita tiada tenaga tersisa, itu bisa diterima. Namun, lama-kelamaan tak ada kesibukan pun kita akhirnya terlupa dan semakin sering meninggalkannya. Hiks..

Singkat cerita, posting terakhirku sebelumnya, aku masih berada di zona GMT+9.00. Bukan di Tokyo atau Seoul, tapi di Papua. Dan... taraaaaa!!! atas izin Allah ta'ala aku bisa menulis kembali di GMT+7, bukan untuk sekali ini saja InsyaAllah. Alhamdulillah, perjuangan yang keempat kalinya meraih beasiswa pendidikan akhirnya dibayar tuntas oleh Allah Ta'ala. Berkat doa ibu, istri, mertua, kakak, kakak ipar, dan tentunya teman-teman semuanya. Sekarang aku jadi orang Ngalam ker!! Merantau di kota sejuk di timur pulau Jawa, bukan lagi timur Indonesia.

Gedung Rektorat Univ. Brawijaya (foto sendiri)
Saat ini aku tercatat sebagai mahasiswa undergraduate Univ. Brawijaya Malang, lengkapnya Jurusan Ilmu Ekonomi Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Melanjutkan studi dari D3 Akuntansi Pemerintah ke S1 Ekonomi Pembangunan itu suatu yang hmm..... nanonona guys.. dibilang asyik, ada gak asyiknya, dibilang susyah, tapi ada gampangnya. Hehe.. yang jelas, jurusan ini memang aku yang memilih dan memikirkan sejak lama. Pertama karena aku suka dengan ilmu ekonomi, kedua karena aku agak bosan dengan hitungan currency di Akuntansi, dan ketiga aku mencari yang lebih banyak teorinya. Astaghfirullah, untuk yang ketiga ini dugaanku salah kaprah, ternyata di EP (Ekonomi Pembangunan) juga banyak hitungannya, mata kuliahnya ada Matematika Dasar, Matematika Lanjutan, Statistika, Ekonometrika, dll. hihi... tapi aku suka aku suka!! berbeda dengan akuntansi, hitungannya jarang yang menggunakan banyak angka nol, tetapi lebih banyak di aljabar dan fungsi. Kemudian, ada gambar-gambar kurvanya lho. Tapi ya, karena alih jurusan aku direncanakan menempuh studi selama tiga tahun di sini (6 semester), lebih lama setahun daripada yang mengambil S1 Akuntansi. Nikmati ajaaaaaa...

Apa mungkin karena S1 ya, kok rasa-rasanya tugasnya banyak ya.... padahal masih S1. Sepertinya dosen-dosen memang diarahkan untuk sekadar menjadi fasilitator. Benar juga sih bila dipikir sambil minum kopi. Jam kuliah tiap pertemuan cuma 2,5 jam. Total satu mata kuliah ditempuh 16 kali termasuk UTS dan UAS. Apalagi mahasiswa sekelasnya banyak. Tampaknya susah untuk mengerti substansi dari mata kuliah yang diambil kalau tidak belajar sendiri. Maka dari itu, yang kualami bersama tiga kawan-kawan seangkatan dari DJPB hampir tiap dosen tipenya sama. Tugas! Paper! Review! Persentasi!. Mau gak mau sebagai mahasiswa, kami 'dijerumuskan' untuk belajar mandiri. Josh! Apalagi, riwayat mata kuliah yang sudah kami ambil di kampus STAN sebagian diakui, sehingga kami boleh meloncat ke mata kuliah dengan level lebih tinggi. Semisal, kami tak lagi mengambil Makroekonomi I, tapi langsung Makroekonomi II karena yang I sudah kami tempuh di STAN dulu. Namun, namanya sudah sekitar 6 tahun yang lalu, tentu kami harus membaca-baca lagi. Sabaarr...

Hasilnya, alhamdulillah di Semester ke-1 kemarin, kami berempat bisa melewati dengan hasil memuaskan. Sekarang sudah menginjak semester ke-2 yang tentunya mempunyai tantangan yang lebih lagi. Tarik maaang...



Kota Malang itu nikmat lho guys. Suhu udaranya kalau siang gak terlalu panas. Kalau malam dinginnya pas. Bergeser dikit ke arah barat, akan ketemu kota Batu yang merupakan pemekaran dari Malang. Di sana lebih dingin dari pagi sampai malam. Kota Batu terkenal dengan pariwisatanya, sampai distempel sebagai "Kota Wisata". Ada Jawa Timur Park 1 & 2, Museum Angkut, Museum Tubuh, Ecogreen Park, Selecta, dan Coban-coban (Air Terjun) di mana-mana. Komplit lho. Bahkan, menurut informasi, Batu sudah menggeser Bandung sebagai kota tujuan wisata nomor tiga di Indonesia, pertamanya adalah Bali, keduanya Jogja. Wow! Jadi, sudah bisa ditebak, saya dan keluarga cukup betah di sini, kalau mau bisa sih tiap minggu berwisata, tapi ya kantongnya insan Tugas Belajar gak setebal yang masih kerja kan.. hehe..

Mohon doanya agar aku bisa menyelesaikan tugas belajar ini tepat waktu ya teman-teman, dan semoga ilmu yang kudapatkan di sini bisa bermanfaat wabil khusus untuk diri sendiri, dan umumnya untuk seluruh umat manusia. Thank you..