14/08/12

Di Akhir Ramadhan

Ramadhan telah tiba
Tapi amalan-amalan hamba tak seberapa
Lailatul Qadar yang engkau beritakan telah hinggap di depan mata
Tapi, diri ini masih saja menyia-nyiakannya

Seandainya hamba tahu,
Bagaimana koleksi pahala hamba
Pun bagaimana koleksi dosa-dosa hamba
Tentu hamba bisa menakar, berapa banyak hamba bisa menebusnya
Namun, ternyata Engkau lebih memilih merahasiakannya
Agar hamba Mu tak cepat puas atas amalan-amalannya
Agar mereka tak cepat putus asa atas dosa-dosanya
Dan Engkau pun mewahyukan pada Rasul-Mu yang mulia
bahwa keselamatan di sana bukan karena itu semua
Melainkan cinta

Maka, ampunilah hamba
Maka, selamatkanlah hamba
Maka, ridhoilah hamba
Karena tanpa semua itu, alangkah ruginya segala upaya

Ya Allah, pemilik bumi dan seisinya
penguasa jagad raya dan seluruh jiwa
Betapa malunya hamba pada Rasulullah
Yang membengkak kakinya karena beribadah kepada-Mu
Yang sedikit tidur dan sedikit makan
Yang memenangkan agamamu di siang hari bulan Ramadhan
Sedangkan hamba....
MasyaAllah..
Astaghfirullah..
begitu terlenanya kami oleh duniamu
begitu mudahnya kami dibuai oleh nafsu dan syahwat
begitu lemahnya kami melawan rayuan makhluk api yang engkau laknati
Begitu pedenya kami merasa dekat pada-Mu
Ternyata begitu jauh amal dari iman

Mata ini sering berbuat zina,
Telinga ini tak pernah absen mendengar yang tak semestinya
Mulut ini tiada berhenti berkata ghibah, kasar dan dusta
Tangan ini justru asyik melakukan hal-hal sia-sia
Kaki ini justru ringan menuju tempat-tempat maksiat
Lalu, masihkah kami layak menyebut hamba dari-Mu?
Masihkah kami pantas meminta belas kasih-Mu?

Ya Azis, Ya Gaffar, Ya Rahiim
Begitu hinanya hamba
Yang mungkin lebih hina dari hewan-hewan ternak
Karena mereka tak berakal, sedangkan hamba bisa menentukan pilihan
Maka, sesungguhnya hamba begitu berharap
Angkatlah derajat hamba, tinggikanlah status hamba
Agar lebih mulia dari malaikat
Kuatkan hamba menghadapi rintangan dan cobaan
dan hebatkan hamba agar tak pernah mundur jalankan perintah
Karena tanpa-Mu, tiada sanggup hamba bertahan

Ya Alim, Ya Sama’, Ya Bashir
Yang mengetahui segala isi hati
Yang mendengar segala denyutan saraf di otak kami
Yang melihat apapun yang tersembunyi
Teguhkan hati kami dijalan-Mu
Bersihkanlah dia agar kembali ke fitrahnya
Beningkanlah dia dari segala noda-noda hitam bekas kemaksiatan
Dengan air cinta dan pelembut kasih dari-Mu
Terimalah tobat kami, meski begitu sering kami mengingkarinya
Namun, sesungguhnya Engkau sang Maha Penerima Tobat
Yang memiliki luas ampunan tak terhingga
dan rahmat yang tak terhitung jumlahnya
Di akhir Ramadhan ini, Terimalah taubat kami Ya Allah.
Terimalah kami kembali kepada-Mu Ya Adhim

Jika harusnya puasa itu menjadikan kami berubah
dari sekedar beriman menjadi bertaqwa
Lalu, apakah kami sanggup tetap setia di bulan yang lain?
Maka, tuntunlah kami agar tak menyimpang lagi dari jalan ini
Bimbinglah kami agar tetap istiqamah beribadah kepada-Mu
Agar mencintai Engkau dan Rasul-Mu lebih daripada sebelumnya
Agar ikhlas beramal kepada-Mu meski semakin sedikit yang membersamai

Ya Allah, tiadalah apa-apa yang paling kami harapkan
Selain ridho dan maghfirah-Mu
Perkenankan doa kami
Kabulkanlah Ya Allah
Amin..

03/08/12

Hal-hal yang sering mereka lakukan, dan ane enggak suka!

Wew,

Udah lama sekali nggak ngisi blog ini lagi. Maapin ya, kalo ada yang menanti-nanti (kepedean). Ane tuh beberapa waktu ini kepikiran terus ngerombak situs KPPN, trus mikirin desain kaos usaha sampingan, dll. Jadi ya, terlantar deh..

Setelah sekian lama enggak nulis, kayaknya kepengen nulis yang ringan-ringan dulu. Apa ya? anu aja deh, tentang hal-hal yang sering dilakuin orang-orang sekitar tapi kadang bikin ane jengkel dan harus menahan emosi. Bagusnya sih dilengkapi gambar, tapi karena masih sedikit ngerasa males, ya udah deh apa adanya aja.. hohoho..

1) Ngerokok di tempat umum, buang puntungnya sembarangan
Sebagai orang yang benci dengan produk tembakau itu, tentunya ane jengkel kalau ada orang yang ngerokok di tempat umum. Selain baunya yang bikin batuk-batuk, udara yang tercemar nikotin dan racun2 itu juga mau tak mau masuk ke paru-paru ane juga. Cuiihh... kalau mau mati, ya mati sendiri aja sono, gak usah ngajak-ngajak orang!
Selain itu, setelah rokoknya abis, eh dibuang puntungnya dimana-mana. Kalau ngerokoknya di dalam ruangan, kadang dilempar begitu aja ke luar. Tapi, terkadang cuma diinjek aja dan dibiarin begitu aja, "Ah paling ntar ada yang nyapu", mungkin seperti itu yang ia pikirkan. Jijik, jorok, blablabla...

2) Bawa sajadah gedhe ke masjid atau ngebiarin saf kosong (lebar) saat sholat berjamaah
Rasanya tuh nggrundhel di dalam hati, kalau ada yang pas sholat Jumat atau pas tarawih, ada yang bawa sajadah lebar. Tentunya sajadah lebar kurang tepat dibawa ke masjid, karena anjuran untuk merapatkan saf dengan menyentuhkan pundak dan kaki satu sama lain jadi terhambat karenanya. Tentunya orang yang ingin merapat juga pikir-pikir kalau harus nginjek-nginjek sajadahnya yang gedhe itu.
Kemudian, ketika sholat mau dimulai, saf-saf biasanya diminta dirapatkan oleh Sang Imam. Sayangnya, yang membawa sajadah itu, dan sudah dihamparkan sebelum sholat dimulai, tidak mau mengisi kekosongan saf di depannya yang sudah ditinggalkan oleh pengisi sebelumnya. Ia lebih suka menyuruh orang lain, yang enggak bawa sajadah, untuk maju ke depan. Parahnya, ketika di kanan dan kirinya ada sajadah, maka ketiga orang itu akan saling tunjuk-tunjukkan satu sama lain. Ckckckck.

3)
Nyalain musik kenceng-kenceng dalam satu ruangan, dan ane enggak suka musiknya. Kemudian ada yang nyalain musik lagi, dan sama-sama enggak mau mengalah
Kebetulan tempat kerja ane yang dulunya bersekat-sekat sekarang jadi satu tempat, karena ruang-ruang sebelumnya sedang direnov. Nah, di tempat baru ini, yang berukuran sekitar 11 x 8,5 m dan diisi oleh sekitar 13 orang, salah seorang pegawai sering membunyikan musik dengan speaker yang suaranya bisa didengar oleh seisi ruangan. Ada lagu-lagu nya yang ane suka, ada juga yang enggak ane suka. Biasanya yang ane lakukan ya tutup kuping dengan headset sambil nyalain lagu-lagu yang sesuai selera. Namun, pas kuping udah panas terpaksa ane lepas juga.
Parahnya, kalau ada yang punya speaker juga dan tak mau kalah. Orang itu membunyikan musik juga dengan intensitas suara yang sama besarnya dengan orang pertama. Parah enggak tuh? Polusi suara banget lah..

4) Serumah atau sekost dengan ane, tiap malem nonton TV sampai ditonton TV

Biasanya, yang bayar biaya listrik satu kost kan ditanggung bersama-sama kan.. Nah, kalau ada temen atau siapapun yang satu rumah dengan ane tidur di depan TV setiap malam, dan TV nya masih nyala (ditonton TV), tentunya jengkel. Apalagi jika sampe tidur ane enggak nyenyak gara-gara TV, beuh.. Gimana ya cara mengatasi teman yang seperti ini..

5) Temen punya alarm, tiap hari alarm nya di set pada jam tertentu, tapi ketika alarm dah berbunyi kenceng, dia nggak pernah bangun. Alarm pun berbunyi berulang-ulang meminta tangan ini mematikan alarmnya.
Tolong deh, kalau emang nggak pernah bangun tepat waktu sesuai jam alarm berdering, jangan di set pada jam itu lah. Ane juga punya alarm sendiri, so jangan saling mengganggu gitu dong.. Rasanya tuh, pengen nyemplungin hapenya ke dalam kolam :ganas, wkwkwkw

Udah ah, sementara itu dulu.. daripada amarah makin menjadi-jadi, hehe..

24/06/12

1 Tamparan untuk 3 Pertanyaan

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air. Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai. 

Pemuda : "Anda siapa dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanya an saya?"
Kiyai : "Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab  pertanyaan anda." 
Pemuda : "Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tidak mampu menjawab pertanyaan saya. 
Kiyai : "Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya."
Pemuda : "Saya ada 3 pertanyaan 
1.Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukan wujud Tuhan  kepada saya             
2.Apakah yang dinamakan takdir              
3.Kalau syetan diciptakan dari api kenapa dimasukan  ke neraka yang dibuat dari api, tentu tidak menyakitkan buat syetan. Sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?"

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.
Pemuda : (sambil menahan sakit) "Kenapa anda marah kepada saya?"
Kiyai : "Saya tidak marah...Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 pertanyaan yang anda ajukan  kepada saya."
Pemuda : "Saya sungguh-sungguh tidak mengerti."
Kiyai : "Bagaimana rasanya tamparan saya?"
Pemuda : "Tentu saja saya merasakan sakit."
Kiyai : "Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?"
Pemuda : "Ya!"
Kiyai : "Tunjukan pada saya wujud sakit itu!"
Pemuda : "Saya tidak bisa".
Kiyai : "Itulah jawaban pertanyaan pertama...kita semua merasakan kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya. Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?"
Pemuda : "Tidak."
Kiyai : "Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari saya hari ini?"
Pemuda : "Tidak. 
Kiyai : "Itulah yang dinamakan takdir. Lalu... terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
Pemuda : "Kulit."
Kiyai : "Terbuat dari apa pipi anda?"
Pemuda : "Kulit."
Kiyai : "Bagaimana rasanya tamparan saya?"
Pemuda : "Sakit."
Kiyai : Walaupun setan dijadikan dari api dan  neraka juga terbuat dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang  menyakitkan untuk syetan. 

***
Ternyata menjawab logika dangkal harus dijawab dengan 'kedangkalan' pula. Karena bukan ilmu yang mereka inginkan, tetapi kemenangan logika di atas keyakinan
sumber : koleksi artikel di laptop

Setahun sudah..

19 Juni 2011, pertama kali menginjakkan kaki di Wamena
Hmmm....
Alhamdulillah, sudah setahun aku tinggal di Wamena, tepat pada 19 Juni 2012 kemarin. Pada tanggal yang sama di tahun lalu, aku dan dua orang temanku menginjakkan kaki pertama kali di Papua dan Wamena. Betapa awetnya kenangan itu tersimpan di pikiranku hingga sampai sekarang aku masih ingat apa-apa saja yang kami lakukan –juga keluguan- kami saat itu. Lalu, melalui tulisan ini, aku ingin melakukan kontemplasi atas apa yang sudah kulakukan selama ini disini. Pastinya, kita di masa depan adalah apa yang kita pikirkan saat ini. Jika aku ingin hidupku lebih berarti disini, maka aku menganggap mutasiku ke sini adalah anugerah dan misi-Nya. Sebaliknya, jika aku menganggap ini sebagai cobaan, maka aku akan berpikir untuk segera pindah tak peduli apa yang aku lakukan disini. Dua-duanya takdir, tinggal diriku yang memilih.

Memang tak genap setahun sebenarnya aku disini. Cukup sering aku melaksanakan tugas di kota lain dalam rangka dinas luar (DL). Sejak itu pula, aku berkesempatan mengunjungi beberapa kota lain di Indonesia, yakni Jakarta, Bogor, Bandung, Makassar, Jayapura, Biak dan Denpasar. Dua kota terakhir hanya kuinjak bandar udaranya saja alias transit. Hehe. Yah, banyak hal-hal dan kejadian yang bisa kudapat sejak aku ditempatkan di sini, yang tentunya akan menambah khasanah wawasan dan pengalaman hidupku nanti. Seperti kata orang bijak, satu ilmu penting yang tidak ada mata kuliahnya, yakni ilmu hidup. Di bawah ini adalah beberapa hal penting yang berkesan dan yang ada di pikiran setelah setahun berkarir di sini. Monggo disimak..

1.       Menjadi ‘ibu’ rumah tangga itu nggak gampang
Pernah aku bercerita, bahwa aku sering memasak di awal-awal penempatan. Aku dan dua orangtemanku waktu itu tinggal serumah, dan kami bergantian melaksanakan kewajiban sebagai ‘ibu’ rumah tangga. Lagipula saat itu, status kami di kantor masih magang, belum ada tupoksi jelas. Namun, sejak September 2011, angin perubahan bertiup. Wusshhh....^^. Kami bertiga berpencar, masing-masing menempati satu rumah sendiri-sendiri. Sejak saat itulah aku mulai jarang memasak, bahkan memasak nasi pun kadang ogah-ogahan. “Ngapain juga masak kalau harus dinikmati sendiri, toh harus repot-repot belanja bahan, perkakas sehabis masak harus dicuci dll, ah repot!!”, begitulah yang ada di benakku.

Bukan hanya memasak, merawat rumah sendirian pun tidak gampang. Aku harus menyapu, mengepel, mencuci piring, mencuci baju, setrika, kuras bak mandi, rapikan taman, bersihkan meja-meja, dan rotasi lokasi barang, semuanya sudah aku lakukan. Beberapa diantaranya harus kulakukan minimal seminggu sekali. Aku kemudian berpikir dan melihat realitas, Oh my God..., ternyata perempuan yang mau menjadi ibu rumah tangga adalah perempuan yang hebat dan tangguh. Meskipun dijaman ini kita mengenal pembantu rumah tangga. Namun, peran ibu rumah tangga toh masih ada, harus belanja kebutuhan-kebutuhan dan mengatur keuangan. Apalagi tingkat kesulitan akan bertambah ketika mereka harus merawat dan mendidik anak-anaknya. Sungguh, ini bukanlah pekerjaan main-main. Bagi ibu/istri atau calon ibu/istri yang membaca tulisan ini, jika memang berniat stay di rumah saja, tolong jangan katakan : Saya “hanya” ibu rumah tangga.

2.       Pengen banget buka warteg
Semenjak aku jarang masak, aku makan ‘sembarangan’. Pola makanku juga jadi tidak teratur. Kadang pagi nggak sarapan, hanya minum susu. Kadang malamnya yang nggak makan, langsung tidur aja. Maklum saja, harga makanan di sini sangat mahal. Kalau harus makan di warung terus lengkap dengan nasinya, sehari bisa minimal Rp60.000 (tiga kali makan). Jadi daripada demikian, maka aku memasak nasi sendiri, lauk dan sayurnya baru beli di warung. Sehari bisa 35-40rb.

Namanya juga laki-laki, terkadang karena posisi warungnya yang jauh, aku jadi ogah-ogahan pula. Otomatis, mie instan yang dulu pernah satu setengah tahun tidak kumakan, akhirnya kumakan juga. Tapi nggak rutin juga, kujatah, seminggu maksimal dua kali makan mie instan. Camilan juga jarang tersedia, camilan paling murah adalah gorengan, itupun sebiji ada yang Rp1000 (kecil) dan ada yang Rp2000 (standar). Cadangan telur satu rak (50 biji) juga harus selalu siap sedia di dapur. Kalau pagi malas keluar, bisa goreng telur saja. Hehe

Dulu saat aku masih kuliah aku berpikir, “wah kalau aku dah kerja nanti, aku nggak bakalan kepikiran harga makanan, apa yang kumau tinggal santap”. Namun, di Wamena ternyata aku takbisa mewujudkannya. Hiks....

Salah satu temenku sudah mempunyai usaha sampingan, yakni jasa angkutan orang dan barang ke luar kota. Modalnya sampai ratusan juta, aku sempet diajak tetapi aku tak punya modal saat itu. Aku juga ingin sekali buka usaha, yakni warteg. Salah satu alasannya adalah agar bisa makan gratis. Hehehe. Lagi nyari-nyari orang yang bisa masak nih..

3.       Rindu dunia pendidikan
Aku akan selalu antusias menuntut ilmu, ningkatin potensi diri, bahkan mencoba keahlian-keahlian tertentu. Namun, ternyata di Wamena, hal ini susah –kalau nggak boleh dikatakan tidak bisa- diwujudkan. Aku ingin bisa bahasa inggris dan arab, tetapi di sini tidak ada kursus tersebut. Aku ingin juga membaca indah dan menghafal Qur’an dengan serius, tetapi sayang disini tidak ada liqo’ tahfidz maupun tahsin. Di masjid-masjidnya pun tidak ada kajian rutin seperti di STAN dulu. Aku ingin melanjutkan pendidikan ke S1, tetapi syaratnya harus kerja dua tahun dulu. Maka, saat ini aku hanya bisa belajar otodidak. Inipun tidak mudah, karena tidak ada Gramed atau toko buku yang selalu update. Jadi aku harus ningkatin semangat diri ditengah lingkungan yang boleh dibilang kurang mendukung. Selama ada keinginan, aku yakin Dia memberi kemudahan. Namun, gak bisa dipungkiri lagi, aku jadi pengen banget balik ke kampus lagi. Oiya, temen-temen ada yang punya link situs belajar otodidak nggak? apa aja boleh deh... share ya.. Trims.

4.       Tuntutan kerja semakin banyak
Aku di kantor berposisi sebagai Supervisor, istilah ini digunakan karena aku bertanggungjawab atas kelangsungan operasional kantor dari sisi hardware, software, dan jaringannya. Selain itu juga harus menangani sofkopi (ADK) Pagu dan Revisi dari stakeholder. Sayangnya, aku tak punya basic komputer. Namun, kepercayaan dari atasan harus kujawab dengan baik, tentu dengan belajar sendiri serba-serbi komputer ini. Masalah-masalah sering datang menghampiri, hampir setiap hari kerja aku tak bisa tenang. Apalagi aku merangkap sebagai Petugas Pembuat Administrasi Belanja Pegawai (PPABP) alias yang bikin daftar Gaji dan Tunjangan untuk para pegawai di kantor. Aku juga –masih- sebagai pengelola aplikasi barang (SIMAK), mengelola aplikasi kepegawaian, membuat SPM DBH PBB, membuat laporan-laporan bulanan, triwulanan, dan semesteran. Jadi setiap awal bulan, maksimal tanggal 10 aku harus memastikan semua laporan jadi dan terkirim ke Kantor Wilayah.

Bukan Bambang namanya kalau tak tertarik mempelajari ilmu-ilmu lain. Ciye... Di kantor aku juga berinisiatif menjadi fotografer, desainer, dan pengelola web. Desain grafis jelas, karena aku suka dan menggemarinya. Fotografi, aku juga suka dan penasaran, ini bisa dipelajari dengan otodidak. Yang terakhir ini aku bener-bener bingung. Web www.kppnwamena.net sudah ditinggalkan pengelolanya yang dimutasi sejak September 2011 lalu, dan sekarang belum ada pegawai yang mau mengelolanya. Karena aku penasaran dengan desain web ini aku mengajukan diri sebagai pengelolanya. Sayangnya, ternyata susah juga mengotak-atik desainnya, meski aku sudah membaca berkali-kali buku tentang itu. Kalau nulis isinya sih InsyaAllah bisa. Akan tetapi, sepertinya desain web nya sepertinya terlalu ribet. Trus gimana dong sekarang... ^^

5.       DL adalah refreshing
Selama setahun di sini, aku sebenarnya sudah cukup sering melakukan perjalanan ke kota-kota lain yang sudah aku sebutin di atas. Bagiku, selain untuk menunaikan tugas dan berimbas bertambahnya tanggungjawab pekerjaan, kesempatan melaksanakan dinas luar adalah sebenar-benarnya refreshing. Bagaimana tidak, aku bisa ke Jawa gratis, bisa makan gratis dan enak, tidur di tempat yang nyaman, dan bertemu dengan banyak teman seangkatan. Terlebih lagi, aku bisa jalan-jalan dan tentunya pulang kampung. Ongkos Wamena ke Jawa yang terhitung mahal (PP minimal 6 juta) membuat aku sulit bolak-balik ke Jawa tanpa persiapan matang. Maka, ketika ada kesempatan ke Jawa dan dibiayai penuh oleh negara -ke tempat lokasi acaranya saja biasanya di Jakarta, aku putuskan untuk mampir di rumah –dengan biaya sendiri-.

Aku juga pernah ke Makassar, kuputuskan untuk jalan-jalan dan refreshing saat akhir pekan setelah dinas luar. Kukunjungi Trans Studio, Pantai Losari, dan Mall Panakukang bersama Fani Pramuditha Nugraha –temenku di DJP, dan tentunya mencicipi kuliner setempat

Lebih dari dua bulan terakhir ini aku nggak dipanggil dinas luar. Jadi kangen... ^^

6.       Kantor adalah rumah kedua
Pada hari-hari kerja, ternyata aku lebih lama berada di kantor daripada di rumah dinas. Jam kerja sebenarnya adalah pukul 07.30 – 17.00 WIT, dengan waktu istirahat. Namun, seringnya aku pulang minimal jam 20.00 WIT, mengapa? Pertama, setelah jam absen pulang, aku bisa berbincang-bincang dengan temen-temen pegawai. Kedua, jam 17.40 sudah adzan Magrib, kalau harus pulang ke rumah dinas yang berjarak 300 meter dari kantor, ya tidak efektif. Ketiga, aku harus melakukan pekerjaan yang hanya bisa dilakukan setelah operasional kantor sudah selesai, yaitu mem-backup database dan mengirim data transaksi hari itu. Keempat, di rumah aku nggak punya kerjaan lain, sedangkan di kantor aku bisa berinteraksi dengan sahabat dan teman-teman via internet. Soalnya, waktu istirahat banyak temanku di WIB adalah bertepatan pukul 19.00 di sini (WIT).

Lama di kantor dan menghadap komputer, bukannya tanpa efek. Punggungku sering pegal-pegal, mata juga sering tetep pedes setelah bangun pagi. Aku sadar, pola hidup ini harus diperbaiki.
Betahnya aku di kantor, tak lepas dari suasana kantor yang akrab dan cair. Para atasan bersikap egaliter terhadap bawahan, sesama bawahan saling bercanda dan berbagi. Dengan hanya 15 pegawai di kantor (termasuk kepala kantor dan kepala seksi), membuat kami cukup mengenal satu sama lain.

Masih banyak yang ingin aku ceritakan, tetapi tampaknya segini saja sudah cukup memberi gambaran pada kalian semua. Sebenarnya aku masih punya semangat, tak layak aku mengeluh. Jika kulihat para pahlawan kita yang dibuang di kota-kota terkecil, mereka tetap berkarya. Kuamati para pendatang dari Jawa ke Wamena hanya berjualan sate penthol, jajanan, dan mainan keliling, bahkan jasa perbaikan sol sepatu, mereka masih punya semangat.  Kupandang beberapa orang alim, rela datang ke distrik yang sepi, demi mengajar santriwan dan santriwati tentang Islam, mereka sungguh punya semangat. Lalu, mengapa diriku harus menyerah?

Setahun di Wamena, kadang aku berpikir, “wah, sudah setahun, tinggal berapa tahun lagi ya....”. Namun, yang jelas kurasakan adalah apa yang sudah kulakukan sejauh ini. Apa andilku bagi perkembangan agama dan pendidikan di tanah Papua ini. Sebenarnya aku punya model. Ada seorang anak muda yang di awal era milenium berada pula di sini, di kantor yang sama denganku saat ini. Namanya Arif Hermanu. Oleh beberapa orang di sini, ia dikenal sebagai sosok yang alim, sering berdiam diri (iktikaf) di masjid dan aktif di beberapa kegiatan. Aku hanya bisa bilang bahwa sosok beliau menyisakan harapan sekaligus beban bagiku. Layaknya Umar bin Khattab r.a yang menerima tampuk khalifah dari Abu Bakar As Shiddiq r.a, ia lantas berkata: “Semoga Allah merahmati Abu Bakar. Sungguh dia benar-benar membuat lelah orang setelahnya.” Aku berbeda dengan pak Arif, tetapi aku juga ingin berbuat banyak di sini, meninggalkan kenangan indah bagiku dan bagi yang kutinggalkan nanti. Semoga aku bisa menjadi Umar yang memberi sesuatu lebih baik dari Abu Bakar. Amin. Cerita bersambung dua minggu kemudian, saat sang Abu Bakar akan datang lagi ke Wamena.

13/05/12

Calon Mahasiswa STAN biasanya tak punya cita-cita?


illustrasi | berita.bdkmks.web.id
 Yang kualami sih memang seperti itu. Namun untuk memastikan kebenarannya secara massal, dibutuhkan sebuah survey dan penelitian. 

Sejak kecil, aku sudah punya cita-cita, mau jadi apa aku ketika dewasa. Pernah kuingin menjadi astronot, saat ayah bercerita tentang manusia bisa melayang di sana. Aku juga pernah berkeinginan menjadi dokter, yang bisa menolong orang lain, apalagi ketika aku menyukai sepakbola, inginku menjadi tim dokter sebuah klub besar di Eropa. Namun, yang lebih sering dipikiranku justru cita-cita yang tidak jelas dan sangat pasaran, yakni ingin berguna bagi nusa dan bangsa atau ingin masuk Surga. Maka, wajar saja ketika aku sudah berada di kelas pamungkas SMA, aku benar-benar bingung memutuskan masa depan. Melanjutkan ke perguruan tinggi sih hampir pasti terlaksana, mengingat kondisi perekonomian keluarga saat itu masih bisa diharapkan. Tapi, mau kuliah di mana? kampus mana? jurusan apa? kalau lulus entar bisa jadi apa? Berbagai pertanyaan itu membuatku yakin bahwa sebenarnya aku memilih STAN bukan karena cita-cita. 

Melanjutkan cerita di atas. Yang kulakukan kemudian adalah mendaftar PMDK, saat itu informasi yang kuterima cukup sedikit. Awal-awal di kelas tiga, ada informasi tentang TRY OUT STAN. Aku masih ingat betul, saat itu aku masuk ke kelas, ternyata di tiap meja sudah ada di atasnya sebuah brosur TRYOUT STAN yang akan diselenggarakan di Semarang. Saat itulah aku baru mengenal STAN, kubaca perlahan brosurnya dengan saksama. Langsung tergiur juga dengan keistimewaannya, biaya gratis dan langsung kerja, Wow!! Maka, kuputuskan untuk ikut TRYOUT itu. Bukan hanya aku yang tertarik, banyak temen SMA-ku yang juga penasaran. Maka kami pun mendaftar di sebuah tempat pendaftaran di kota Demak. Berapa ya harganya? sepertinya 20 atau 25 ribu rupiah. Nah, ketika sudah hari pelaksanaan, pagi harinya aku dan beberapa teman berangkat bersama di mobil ayah. Yang kubawa cuma pensil 2B dan penghapus. Kupikir panitia akan menyediakan meja di sana. Ternyata tidak. Jumlah peserta yang daftar benar-benar membludak. Tidak mungkin di sebuah GOR disediakan meja, maka akhirnya kubeli papan tatakan pada para penjual dadakan. Di dalam GOR suasananya bener-bener nggak nyaman. Masuknya saja sudah berdesak-desakan. Kondisi semakin parah saat mengerjakan. Kami cuma duduk di sebuah kursi lipat yang sering dipakai saat walimahan, tidak ada kursi bermeja seperti di kampus-kampus. Maka mengerjakannya pun aku dibuat kerepotan, harus nunduk-nunduk mengisikan jawaban. Apalagi saat itu suhu ruangan panas, hingga tetesan keringat pun membuat kertas jawaban kotor dan lecek. Eh, dua orang dibelakangku malah asyik-asyikan ngomong dan bekerja sama. Untung aku cinta damai, kalau enggak udah aku gampar!! (padahal takut berantem, ^^)

Setelah merasakan susahnya mengerjakan soal-soal di TRYOUT ecek-ecek itu, aku jadi tak yakin bisa masuk STAN. Maka kujalani tingkat tiga bagaikan air mengalir. Sampai tiba-tiba ada tawaran PMDK D3 Teknik di UNDIP, aku putuskan coba-coba daftar D3 Teknik Sipil. Namun beberapa bulan kemudian, kutahu bahwa coba-cobaku gagal. Iri juga waktu itu ngeliat temen-temen lain ada yang lolos juga. Kemudian, ketika UNES (Univ, Negeri Semarang) yang kualitas jurusan kependidikannya tidak diragukan sedang buka pendaftaran, rame-rame temen se-SMA mendaftar, bahkan sekelasku 50% lebih yang mendaftar. Busyet dah!! Aku tak punya kepikiran jadi guru, maka aku tak jadi orang latah waktu itu. Namun di dalam hati aku masih cemas, mau kemana nanti setelah lulus. Kemudian, ada juga brosur Ujian Masuk UGM diedarkan. Beberapa teman juga ikut, padahal tesnya di Jogja dan butuh modal mendaftar yang nggak main-main. Aku saat itu sungguh minder dan kuper. Nggak berani ambil keputusan ikut tes ini. Mahal men!! ke Jogja pula!! 

Setelah tes UAS dan UAN selesai, aku masih terkatung-katung. Sepertinya harus ikut UMPTN ini. Memang sih saingannya banyak. Tapi, dengan bekal sebuah buku soal, kupelajari soal-soal UMPTN jauh-jauh hari. Kemudian akhirnya pendaftaran di buka. Kubeli formulir di Ruang Bimbingan dan Konseling (BK), kutanyakan dengan jelas persyaratannya dan akhirnya ku minta dukungan orang tua. Kegalauan muncul lagi saat harus mengisi jurusan dan kampus yang ingin kutuju. Karena dari jurusan IPA, aku punya kesempatan memilih yang campuran, yaitu dua jurusan IPA dan satu jurusan IPS. Inilah keuntungan yang  dimiliki jurusan IPA. Waktu itu aku berdiskusi dengan ayah, mau ambil apa. Kelihatan butanya aku atas masa depanku sendiri. Saat itu aku tertarik ke DKV (Desain Komunikasi Visual), tapi ayah berpendapat bahwa DKV kurang berprospek. Maka dipilihkannya aku Teknik Sipil UNDIP sebagai pilihan pertama, kemudian Teknik Geologi UNDIP, dan yang IPS-nya Akuntansi UNS. Teknik Sipil menjadi pilihan karena ayahku juga seorang Sarjana Teknik Sipil dan bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, jadi minimal aku dah tahu kerjanya kayak apa. Dia bisa jadi tentorku nantinya. Kemudian Teknik Geologi karena ilmunya beda-beda tipis dengan Sipil. Kemudian Akuntansi UNS, karena kakakku sudah di sana. Kelihatan banget aku gak punya preferensi sendiri.

Mengerjakan soal UMPTN gak mudah. Aku dibekali semangat dan tips trik oleh seorang guruku SMA, namanya Waluyo Sudarmo. Pak Wal mengajari untuk mengisi yang mudah terlebih dahulu, ia juga membekali aku dengan ilmu gambling. Misalnya ketika ada soal yang pilihan jawabannya -1, 0, 1, 2, dan 3 maka jawabannya kemunginan besar adalah 1, karena angka itu dua kali muncul, dan merupakan satu dari tiga angka positif yang muncul. Gambling bisa dipakai ketika mengalami kebuntuan dalam mengisi jawaban. Malam hari sebelum tes, aku tidak bisa tidur. Baru bisa tidur sejak pukul 02.00. Bukan karena belajar, tetapi karena cemas dan gelisah. 

Hari-H akhirnya datang juga. Jam setengah lima aku sudah dibangunkan Ibu. Meski masih ngantuk-ngantuk kupaksakan untuk tetap berkonsentrasi dan terjaga. Tes diadakan di kampus Undip bawah (Pleburan). Kukerjakan Soal Bahasa Indonesia, Inggris, dan Matematika dengan susah payah, meski begitu aku masih yakin bisa benar 60%. Hari ke dua, soalnya susah banget. Banyak gambling yang kupraktikkan disini. Mungkin aku cuma dapet 30-40% saja. Udah bikin pesimis aja. Hari kedua siangnya, aku juga kesusahan menjawab IPS. Sama sekali nggak yakin. Namun, yang penting ini semua dah selesai. Aku tinggal berdoa dan tawakkal pada Allah.

Selain UMPTN, aku juga disarankan ayah daftar di Kedokteran UNISSULA. Maka kudatangi UNISSULA beberapa hari kemudian. Kutanya dan kuminta brosurnya dari seorang humasnya. Meski demikian aku nggak jadi daftar, masih ragu dengan kemampuan finansial orangtua, karena kedokteran itu luar biasa mahalnya apalagi kampus swasta. 

Pengumuman UMPTN sudah tiba. Pagi-pagi sekali aku membeli koran Kedaulatan Rakyat di kecamatan sebelah. Kutelusuri nama-nama di pengumuman yang ada di koran itu. Alhamdulillah wallahu akbar! BAMBANG SUHARTO, tertulis di situ, di sebelah nama ada kode jurusan yang lulus. Kucari referensi kode-kode itu dan ternyata adalah.... TEKNIK SIPIL UNDIP. Sujud syukur seketika kulakukan. Lalu kusampaikan kabar gembira itu pada ayah, ibu, dan kakakku. Hatiku benar-benar berbunga. Akhirnya aku tahu kemana aku akan berlabuh.

Akhirnya tibalah aku pada seminggu sebelum USM STAN. Aku hanya berbekal buku soal fotokopian. Kupelajari selembar demi selembar, lalu kurumuskan jurus-jurus dari tiap tipe soal. Hanya saja karena aku sudah lulus ke UNDIP aku tak begitu semangat. Aku hanya melaksanakan tes untuk melampiaskan seluruh potensiku. Soal-soal STAN sungguh membuatku penasaran. 

Hari USM sudah datang dan aku harus berangkat pagi-pagi, masih diantarkan oleh ayah. Sampai di gedung AKPERISSA UNISSULA sesaat sebelum waktu tes dimulai. Aku duduk dua baris dari belakang, di belakangku ada teman se-SMA, namanya Azmi. Aku kerjakan sesuai dengan kemampuanku, nothing to lose. Saat berdoa kemarin saja, aku justru mendoakan temanku yang tidak mampu. Untuk diriku sendiri aku hanya meminta yang terbaik dari-Nya. Kuasa Allah benar-benar kurasakan, setengah sampai satu jam sebelum waktu tes berakhir, kubuka lagi nomor-nomor soal yang  belum kuisi. Namun, anehnya, setiap kali kubaca, aku malah bisa mengisinya. Maka aku bisa mengisi banyak sekali soal di akhir-akhir waktu itu. Aku keluar dengan perasaan lega. TKU dan Bahasa Indonesia aku yakin bisa dapat nilai besar, hanya Bahasa Inggris yang kurang yakin. 

Singkat cerita, aku lulus USM STAN. Alhamdulillah. Sementara temenku yang kudoakan tadi tidak lulus. Meski begitu aku sudah beberapa hari kuliah di Teknik Sipil Undip. Di sinilah aku dan keluarga mulai bingung. Aku bermimpi mendapatkan undian berhadiah. Mungkin mimpi ini jawaban dari sholat istikharahku bahwa STAN adalah pilihan yang tepat. Aku sudah mengambil jatah temenku untuk lulus, maka sungguh dzolim apabila aku tidak mengambil kesempatan ini. Apalagi aku ingin mencoba merantau, jauh dari keluarga. Ibu menyetujui, tetapi Ayah tidak. Sebagai orang Sipil, tentu Ayah sangat ingin agar aku menjadi penerusnya. Namun, pendirian Ayah akhirnya luluh juga setelah beliau bertanya dan konsultasi dengan saudara-saudaranya dan teman-temannya. Selamat tinggal UNDIP, salam kenal STAN!!

Terbukti aku tidak punya cita-cita saat menjadi calon mahasiswa STAN. Tak pernah kupikirkan aku akan jadi PNS nantinya. Aku ke STAN hanya dengan pertimbangan saat itu juga. Namun, ternyata aku tidak sendirian. Banyak juga sesama Calon Mahasiswa STAN yang saat daftar ulang mengaku sudah diterima di Kedokteran UGM. Luar biasanya, dia sudah dua tahun kuliah di UGM. Agak nggak masuk di akal, melepas kesempatan dokter dan biaya yang tidak tanggung-tanggung untuk masuk ke STAN. Apa ini untuk cita-cita? kurasa tidak. Namun, meskipun aku ke STAN bukan karena cita-cita, tetapi saat ini kubersyukur atas keputusanku melepas UNDIP untuk menuju STAN waktu itu. Karena hidup memang pilihan dan apa yang kita rencanakan belum tentu menjadi kenyataan.
Kalimat terkenal di kampus dulu : "STAN bukan segalanya, tetapi segalanya bisa berawal dari STAN",
Kalimatku : "begitu juga kampus dan jurusan lain^^"

Untitled


deviantart.com

Terkadang
Aku berpikir tentang keadilan
Apakah ini adil bagiku?
Menanggung semua resiko yang tidak aku lakukan
Namun, yang kuyakini Dia Maha Adil

Terkadang
Aku berpikir tentang yang seharusnya
Apakah aku tak boleh mewujudkan impian?
Ternyata rencana-rencana harus disusun ulang
Karena kuyakin rencana-Nya yang terbaik

Terkadang
Aku berpikir tentang kasih sayang
Apakah ini yang disebut membalas budi?
Sedangkan yang kutanggung bukan kemelaratan tapi kekayaan
Namun, Allah berjanji tak menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya

Kemudian
Aku bingung dan termenung spontan
Dulu masih optimis melihat masa depan
Tersusun pula rencana-rencana kehidupan
Namun kini semuanya harus disesuaikan
Mengingat amanah besar yang harus diemban

Kemudian
Aku melihat jauh ke depan
Kurasakan datangnya angin perubahan
Begitu harum dan menenangkan
Kuseka kesedihan lalu berjalan tanpa beban
Menuju kesana, ke alam impian
Menjalani takdir sekarang dengan sepenuh-penuhnya iman
Meski masih juga menjaga keinginan
Karena Tuhan punya kekuasaan

Akhirnya
Hanya pada-Nya Yang Maha Rahman
Kumohon segenap pertolongan
Dalam khusyuknya doa yang kupanjatkan
Agar aku mendapat kekuatan menghadapi ujian
Agar terhindar dari iri dan kedengkian
Dan agar tetap menatap ke depan
Dengan iman dan keikhlasan

10/05/12

Nabung, tapi nggak sadar



 Alhamdulillah.. akhirnya hari ini kekurangan gaji ku cair. Kekurangan gaji? Apaan tuh? Jadi begini, aku kan udah jadi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) terhitung mulai tanggal (TMT) 1 Desember 2010. Maka aku sudah setahun menjadi CPNS pada 2012 ini. Akupun sudah lulus Diklat Prajabatan pada September lalu. Maka, pada akhir Februari kantorku mengusulkan aku menjadi PNS ke Kantor Wilayah di Jayapura, tentunya dengan melengkapi syarat-syarat seperti surat sehat dan DP3 (Daftar Penilaian Pegawai). Oleh kepegawaian di sana, usulanku itu akan diteruskan pada Badan Kepegawaian Nasional Regional Papua di Jayapura sana. Yang akhirnya setelah diproses di sana, surat keputusan pengangkatan menjadi PNS itu bisa kuterima pada pertengahan April. Di surat tersebut aku terdaftar sebagai PNS TMT 1 Maret 2011, artinya seharusnya aku sudah mendapatkan gaji 100% (selama menjadi CPNS hanya 80%) sejak bulan Maret. Padahal, SPM (Surat Perintah Membayar) Gaji bulan Mei sudah diajukan ke KPPN yang di dalam daftar gajinya aku masih CPNS. Maka, 20% gaji ku bulan Maret, April, dan Mei belum dibayarkan oleh negara. Nah, setelah gaji Juni diajukan SPMnya di awal Mei ini (gaji pegawai negeri diajukan SPMnya paling lambat tanggal 10 bulan sebelumnya), maka kekurangan gajiku juga sudah bisa diajukan SPMnya. Akhirnya, telah dikeluarkan SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana) atas SPM kekurangan gaji tadi, sehingga aku mendapatkan uang kas yang cukup lumayan 60% dari gajiku selama ini.

Betapa senangnya mendapat kekurangan gaji. Padahal, aku tahu bahwa itu adalah hakku selama tiga bulan lalu. Namun, rasanya seperti mendapat gaji tambahan gitu deh. Mungkin karena aku nggak terlalu nyadar bahwa secara tidak langsung aku juga menabung selama tiga bulan. Perasaan ini juga muncul ketika dulu aku mendapat rapelan gaji dan tunjangan selama lima bulan ketika masih magang di kantor pusat Jakarta. Bayangkan saja, itu adalah uang pertama yang kudapat, juga penghasilan resmi pertama sebagai pegawai negeri. Aku langsung menghubungi ayah dan ibu bahwa mereka tak perlu menanggung biaya hidupku lagi, aku sudah mandiri, dan akan balik membiayai mereka. Padahal, sebenarnya seandainya saja gaji dan tunjangan itu telah dibayarkan tiap bulan, aku tidak akan sekaget itu. Inilah namanya menabung tanpa sadar.
Aku jadi teringat sebuah hadits nabi. Ada amalan-amalan yang bisa kita lakukan di dunia yang tanpa sadar akan terus mengalir pada kita sampai hari kiamat nanti meskipun kita sudah tiada. Di akhirat nanti, ketika kita disidang di hadapan Allah Azza wa Jalla kita akan terheran-heran betapa luar biasanya amalan kita. Sampai-sampai kita terperanjat dan bertanya dari mana asalnya itu semua? Inilah keistimewaan umat Muhammad, meskipun umurnya pendek-pendek, sebenarnya amalnya yang ia lakukan dulu sewaktu hidup bisa terus mengalir sampai hari kiamat nanti. Hadits ini begitu populer, mungkin temen-temen udah tahu apa aja itu. Mari sebutkan bersama, 1) Amal jariyah, 2) Ilmu yang bermanfaat, dan 3) Doa anak yang sholeh.

Sekedar sharing yang aku pahami aja (kalau salah mohon diluruskan), bahwa amal jariyah artinya ketika kita melakukan sesuatu yang manfaatnya akan terus dirasakan oleh orang-orang sepeninggal kita. Bisa saja berupa wakaf, infaq, property bisnis, dll. Misalnya kita mewakafkan sebidang tanah untuk dibangun masjid atau madrasah, dan ketika bangunan masjid dan madrasah itu sudah berdiri dan digunakan dengan baik, maka selama masih ada orang yang bersujud di masjid itu atau membaca dan mempelajari Qur’an dan Sunnah di situ selama itu pula pahala amal masih mengalir pada kita. Meskipun kita sudah meninggal sesaat setelah peresmian masjid atau madrasah itu. Luar biasa bukan?

Yang kedua adalah ilmu yang bermanfaat. Ketika seorang kiai, alim ulama, ustad, guru, atau kita-kita orang biasa menyampaikan ilmu yang kita punya pada orang lain, maka bisa jadi ada pahala yang mengalir ke kita. Syaratnya adalah, apabila ilmu tersebut diamalkan oleh murid atau orang yang kita ajari tadi. Sama aja dengan bisnis MLM (Multi Level Marketing), ketika kita menyampaikan ilmu bahwa sholat ke masjid itu banyak keistimewaannya dan orang yang kita ajak pun akhirnya mau ke masjid, maka InsyaAllah pahala amal orang tersebut juga akan mengalir ke kita tanpa mengurangi pahalanya dia sendiri. Luar biasa bukan?
Yang terakhir, adalah doa anak yang sholeh. Setiap dari kita pasti punya orang tua. Entah dia masih hidup maupun sudah wafat. Sebagai anak yang berbakti, sikap kita adalah selalu mendoakan mereka. Karena doa kita inilah yang akan menjadi penolong bagi orangtua di hari kiamat nanti. Terlebih lagi, jika kita menjadi hafidz Qur’an, bukan hanya penolong, tetapi kita akan memberikan mahkota bagi mereka di sana nanti. Terus doakan mereka. InsyaAllah jika kita berbakti padanya, maka anak kita pun akan berbakti dan mendoakan kita. Luar biasa bukan?

Nah, seperti itulah yang ingin aku share kali ini. Intinya, menabung tanpa sadar itu bener-bener memikat. Tahu-tahu dapet durian runtuh aja, tahu-tahu selamat dari api neraka. Amin.

07/05/12

Yang Selalu Terulang tiap Jumat


Tahu nggak, ada beberapa hal yang selalu terulang tiap Jumat. Kita kan tahu sendiri, bahwa Jumat itu hari yang paling bagus dalam seminggu buat umat muslim. Banyak keutamaan-keutamaan dari mulai terbenamnya matahari (malam Jumat) sampai terbenam lagi (malam Sabtu). Kalian bisa searching kalo lupa. ^^. Namun, selama ini pola hidup kita kok nggak cucok dengan Sunnah Rasul ya.. ada beberapa hal yang kurang tepat, tetapi selalu kita ulangi tiap hari Jumat. Apa aja? cekidot!

1)    Lupa motong kuku
Nah, kan udah pada tahu tuh bahwa memotong kuku di hari Jumat itu Sunnah, tetapi kebanyakan dari kita malah kelupaan motong kuku. Pas hari yang lain mungkin kita nyadar bahwa kuku kita dah panjang, tapi kemudian pikir-pikir lagi, biar motongnya hari Jumat aja. Kan dapet pahala Sunnah.. Tapi, pas hari Jumatnya, eh.. malah kelupaan deh. Yang ini mungkin cuma saya aja sih, hehe..

2)    Nggak make baju putih
Kebijakan instansi gue tuh ya, kalau hari Jumat tuh pake kemeja batik dan bawahan gelap. Malah hari Senin nya yang dulunya harus make’ baju putih –sekarang udah ganti seragam-. Makanya, hampir jarang banget gue make’ baju putih pas Jumatan. Dulu pas magang di kantor pusat, aku liat ada beberapa temen yang serius mengamalkan sunnah, ia bawa baju putih dari rumah yang akan ia kenakan ketika waktu istirahat tiba. Tapi lama kelamaan, sepertinya nggak banyak lagi yang kayak gitu. Apa mungkin kebijakannya yang perlu diubah kali ye? lagian, masak batik cuma dipake hari Jumat sih, itu kan hari pendek. Kalo ingin membanggakan batik sebagai warisan budaya, kenapa nggak hari Senin sampai Kamis aja ya? Gimana pak Menteri?

3)    Terlalu menyibukkan diri dengan dunia pada hari Jumat
Pertama kali dicanangkan olahraga bersama tiap hari Jumat, sebenarnya aku agak kurang setuju. Dengan alasan untuk menjaga kebugaran pegawai dan untuk mengurangi biaya kesehatan, maka dilaksanakanlah kegiatan tersebut setiap Jumat selama satu jam. Yakin bisa satu jam? Olahraga itu ya voli, tenis meja, senam, futsal, badminton, dll. Praktiknya, ini bisa memakan waktu lebih dari sejam. Taruhlah, dua jam. Artinya kegiatan di luar tupoksi ini bisa berakhir jam 09.30. Nah, setelah itu ngapain? Pasti ada kegiatan terusannya, antara lain mandi dan sarapan. Jadi gampangnya, seharusnya udah siap kerja jam 10.30. Eits.. sejam lagi kan jam istirahat, nanggung banget ya? Emang!! Jumat itu kan Friday (baca: Freeday)^^

Namun, aktifitas itu secara tidak langsung juga menambah aktifitas di hari Jumat. Saya yang tinggal di Wamena aja nih ya.. tiap hari Ahad/Minggu hampir seluruh toko dan ruko tutup pagi hari, entah ada autran tertulis atau tidak, yang jelas dilarang buka oleh Pemda. Alasannya apa? tidak lain dan tidak bukan adalah karena hari tersebut, umat Nasrani melaksanakan ibadahnya. Lha kok, tiap hari Jumat kita malah sibuk sendiri ya? Emang sih, kita boleh beraktifitas, tapi mbok jangan terlalu banyak gitu lho.. Entar efeknya, jadi berangkat sholatnya mepet, dan tidur deh pas khutbah karena kecapekan. Hari Jumat pun gak jadi istimewa lagi deh..

4)    Molor pas khutbah
Ini nih yang paling sering-ring-ring! udah gue singgung dikit di atas, hehe. Sebenarnya sih, gue akuin, yang ini nih paling susah dicegah. Mungkin, karena kita kurang tidur malam Jumatnya, entah beribadah atau karena nonton tipi. Mungkin juga karena kecapekan beraktifitas seperti pada poin ke-3 tadi. Sepertinya emang kerjaannya syetan yang kayak gini nih. Padahal suhu udara nggak sejuk, angin juga nggak berhembus, tapi begitu banyak jamaah yang ketiduran sambil duduk. Jarang banget kan, kita ketiduran sambil duduk! Tragisnya, pas kita pulang dari Jumatan, mata dipejamkan buat tidur kok ya susah amat. Kenapa bisa gini ya? Ada yang nyalahin khotib, “Habisnya, khotibnya suaranya terlalu lembek sih, yang kenceng dong kayak sunnah Nabi”. Namun, kadang khotibnya udah berusaha artikulasinya kenceng pun, tetep aja masih molor. Haha.. Dulu semasa kuliah, salah satu temen gue tiap habis kuliah pagi, langsung buru-buru pulang. Buat ke masjid? bukan, tapi buat tidur. Dia nggak pengen pas momen khutbah, dia malah ketiduran. Katanya ini jurus ampuh biar melek pas ndengerin khutbah. Formula itu udah gue coba pas hari Jumat bertepatan dengan tanggal merah kemarin. Ampuh juga lho ternyata, nggak ngantuk sedikitpun. Haha. Selama ini gue udah keukeuh banget menjaga mata biar nggak tidur. Pake cara apa aja, bisa menggoyang-goyangkan jari-jari kaki, mengubah posisi duduk, dsb. Namun sering merem-melek juga. Ngerasa memperhatikan khutbah, tetapi maksud khutbah nggak bisa nangkep karena kesadaran putus nyambung gitu. Mungkin rahasianya sih, tidur pas malam Jumatnya harus lebih panjang kali ya.. Entah deh, ada resep lain?

5)   Khutbah yang bertele-tele
Kata Nabi, khutbah Jumat tuh nggak usah lama-lama, justru sholat Jumatnya yang harus diperlama. Sepertinya yang lebih ditekankan tuh isinya bisa dipahami jamaah dan menjadi pengingat seminggu ke depan. Khutbah juga harus dengan suara lantang dan berapi-api. Bahkan ini yang paing ditunggu sahabat kala itu. Namun, sekarang kita jarang menemukan khotib yang memegang sunnah ini. Yang lebih banyak adalah khotib-khotib yang menyampaikan khutbah seperti membaca undang-undang, kata-katanya persis kayak buku bacaan, dll. Apalagi, kadang bahasan khutbah bisa melebar kemana-mana, hingga malah bikin jamaah nggak tertarik. Memang khotib juga manusia, gue sadar itu. Namun, justru itu, seharusnya ada pendidikan menjadi khotib, baik formal maupun informal. Menurut gue sih gitu, kalo elo? 

6)   Memilih shaf paling belakang atau berada di luar masjid
Ini mau pada sholat apa ngincer sandal yak? Atau justru njagain sandal sendiri? Atau pengen liat-liat pemandangan sekitar? Heran dah.. Perasaan di dalem masih banyak yang longgar, kok milih di luar. Bukannya di luar tuh nggak bisa ndenger khutbah dengan jelas ya? Apalagi kalau ada angin, bisa lebih gampang merem. Yang di depan mimbar aja bisa tidur, apalagi yang diluar ya? Apa emang itu yang dicari? Ah, nggak masuk di akal ini mah! -___-“ 

7)   Sajadah gede-gede dibawa
Setahu gue, biasanya yang bawa sajadah pas hari Jumat adalah orang yang jarang sholat wajib berjamaah di masjid, bener nggak? Kalau yang sering ke masjid, pasti males kalo lima waktu harus bawa sajadah terus, palagi di masjid-masjid sekarang dah ada tikar selayaknya sajadah. Maka, pas gue liat, ternyata emang yang bawa sajadah pas Jumatan itu jarang atau nggak pernah terlihat di sholat lima waktunya. Trus kenapa sih bawa sajadah yang gedhe? Menurut gue sih yang kayak gitu pantesnya dipake  di rumah aja, pas ngelakuin sholat-sholat sunnah macam tahajud, hajat, istikharah, atau dhuha, biar lebih khusyuk gitu. Kalau dibawa pas Jumatan, malah jadi ngerusak barisan shaf deh. Bikin renggang gitu deh. Bagi yang punya perasaan, kadang sajadahnya diletakkan melintang biar temen sebelahnya juga bisa kebagian. Tapi yang nggak punya perasaan ya dipake sendiri deh, kanan kirinya juga males nginjek sajadahnya yang gedhe, takut disemprot! Hehe, sory kalo ada kata-kata gue yang nylekit ya.. *peace men!!

Mungkin cukup tujuh dulu deh ya, kalau ada waktu dan ide lain, mungkin bisa gue tambah. Atau ada temen yang mau nambahin. Monggo, dipersilakan.. Hehe. Kalimat penutup, semoga ibadah Jumat kita makin baik dari minggu ke minggu ya..

03/05/12

Banjir Kejutan



Senin malam, aku mendapat kejutan dari Tuhanku. Akhir-akhir ini aku memang jarang bangun malam untuk berkhalwat dengan-Nya. Alarm  hape dan jam weker yang kupasang memang masih normal, tetapi tekad dan semangat melawan kantuk dan dinginnya cuaca ternyata belum begitu kuat. Hingga ketika dua alat pembangun tersebut berbunyi, secara setengah sadar aku matikan mereka dan melanjutkan petualangan di alam mimpi. Karena ada kewajiban sholat Subuh tepat waktu berjamaah, maka belakangan ini akhirnya aku nyerah tahajud dan kuatur jam agar berbunyi tepat ketika azan Subuh berkumandang. Cara ini cukup efektif, karena ketika jam berbunyi bersamaan dengan azan, aku langsung mendengar panggilan-Nya, dan membuatku bergegas bangun saat itu juga.

Malam itu, sekitar pukul 22.00, mataku sudah terasa berat, maka kuputuskan untuk membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Lain dari biasanya, entah mengapa ada keinginan untuk tidak mengenakan selimut, padahal hujan yang terdengar saat itu masih menandakan bahwa suhu akan semakin dingin. Setelah memastikan semua pintu terkunci, aku mengistirahatkan badanku di selembar kasur busa jumbo.
Pukul 03.00 dini hari, aku dibangunkan-Nya. Normal terjadi, ketika bangun tidur pasti langsung ingin ke belakang untuk mengeluarkan air seni yang telah ditampung semalaman. Ketika aku menginjakkan kaki di lantai, aku langsung tersentak. Basah dan dingin terasa di telapak kaki. Astaghfirullahaladzim, ternyata sebelum aku tidur, aku lupa mematikan pompa air. Beberapa saat sebelum tidur aku memang sempat menyalakan pompa dengan sebab habisnya air di bak mandi. Namun saat mau tidur itu, aku terlupa. Ini juga berkat andil suara hujan yang mampu menyaingi berisiknya suara pompa menyala.

Saluran air di kamar mandi ku memang tidak terlalu lancar. Masalah ini bahkan sudah dialami oleh penghuni rumah dinas ini sebelum aku. Meskipun demikian, sebenarnya tidak menjadi masalah berarti bagiku. Malam itu memang di luar dugaan. Karena bak sudah penuh maka airpun meluap. Mungkin karena debit air yang masuk saluran terlalu besar, jadinya air pun meluap. Terjadilah banjir lokal, yaitu di dekat pintu kamarku dan di ruang tamu. Dua ruangan ini memang lebih beberapa mili lebih rendah dari kamar mandi. Mataku sudah terjaga, pikiranpun sudah tersadar, bahkan menjadi bingung dan salah tingkah. Apa yang harus kulakukan? Setelah mematikan pompa, akhirnya kuputuskan kembali ke atas tempat tidur untuk menunggu air kamar mandi surut kembali. Lima belas menit kemudian, aku menengok kamar mandi. Menahan kencing terlalu lama tentunya tidak baik. Alhamdulillah, kulihat air di lantai kamar mandi sudah tidak menggenang lagi. 

Kamar satu lagi yang kupakai untuk menempatkan pakaian dan melaksanakan sholat munfarid memiliki posisi yang lebih tinggi dari kamar mandi. Artinya, alhamdulillah tidak ada air sedikitpun yang membasahi lantai. Maka, kuputuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melaksanakan ibadah malam di tempat tersebut. Masalah lantai kamar tidur dan ruang tamu basah beberapa mili meter, itu urusan ke dua puluh sembilan. Yang jelas, aku harus memanjatkan syukur terlebih dulu pada Tuhanku. Bersyukur dimudahkan untuk qiyamul lail, dan bersyukur bisa bangun pada jam 03.00 untuk mematikan pompa air. Tentunya banjirnya akan semakin parah jika aku bangun satu setengah jam kemudian. Alhamdulillah..

Disiplin Sholat, InsyaAllah Disiplin Semuanya


Sholat berjamaah melatih kedisiplinan | semuasayangislam.wordpress.com


Kebiasaan sholat berjamaah pada kelima-limanya waktu sholat memang baru kurintis saat sudah kuliah. Banyaknya teman yang bersemangat dan pemahamanku atas ilmu yang kuperoleh dari beberapa sumber kali itu membuatku tersadar untuk menjadikan sholat berjamaah di masjid menjadi kebiasaan positif. Saat memulai pertama memang beratnya bukan main. Wajar, sebelum aku di kampus, aku hanya melaksanakan sholat di masjid ketika Maghrib, sholat Jumat, dan sholat Id. Maka, godaannya waktu itu sungguh besar. Wah kalau aku ke masjid karena banyak teman entar riya. Wah kalau aku ke masjid udah makan waktu dua puluh menit, padahal kalau sendiri cuma lima menit. Begitulah bujukan-bujukan syetan yang membuat galau alias was-was. Namun, seiring berjalannya waktu, hal yang berat itu akhirnya menjadi gampang. Justru sekarang, ketika sudah terdengar panggilan adzan, rasa-rasanya ada yang mengganjal di hati jika aku tidak menggerakkan tubuhku pergi ke masjid. Itulah namanya kebiasaan. Kegiatan apapun akan terasa gampang jika kita telah terbiasa, bahkan rasanya ada yang kurang jika kebiasaan itu tidak dilaksanakan.

Masalah belum berhenti sampai disitu. Sholat berjamaah sih sholat berjamaah, di awal waktu sih di awal waktu, sholat di masjid sih memang sholat di masjid. Akan tetapi, sering masbuk tidak? sering dapat sholat Qabliyah tidak? Nah, inilah masalahnya. Terkadang aku masih kurang disiplin untuk datang tepat atau sebelum waktunya. Resikonya, sering ketinggalan beberapa rekaat dan gagal menempati shaf pertama. Padahal, aku pernah membaca bahwa makmum yang sering ketinggalan alias masbuk, banyak ruginya. Tentunya tidak sama balasan yang diberikan Allah, ketika kita tepat waktu dengan ketika kita masbuk. Ini yang masih harus aku tingkatkan. Kedisiplinan dalam beribadah.

Ngomong-ngomong tentang disiplin, kita hampir selalu ingin disiplin pada urusan-urusan dunia. Coba ingat-ingat, bagi kita yang sering nonton konser ataupun bioskop, pasti rasa-rasanya ingin selalu datang tepat waktu, begitu khawatir jika ada adegan ataupun aksi panggung yang terlewat. Bercampur malu, karena harus melewati orang-orang yang sudah dulu datang di bioskop atau konser. Sama halnya dengan ketika kita sudah ada janjian dengan teman untuk bermain futsal. Rasa-rasanya lima menit saja terlambat, bikin hati nggak enak. Lalu Bams, apa hubungannya dengan kedisiplinan sholat di atas? teman-teman pasti sudah tahu kemana alur cerita yang saya susun berakhir. Hehe

Ngomong-ngomong tentang kedisiplinan sholat berjamaah lagi yuk. Beberapa hari yang lalu aku sempat gondok oleh tingkah seorang imam. Kronologisnya begini, aku datang ke masjid untuk melaksanakan sholat zuhur beberapa menit sebelum waktu sholat dimulai. Jarak waktu antara azan dan iqamah sudah ditentukan dan ditempel pada dinding masjid. Penunjuk waktu sholat hari ini dan jam dinding pun ada. Karena tinggal dua menit lagi, maka setelah berwudhu aku urungkan niat untuk melaksanakan sunnah Qabliyah. Saat itu sudah ada orang yang sedang menjalankan sholat sunnah. Sepertinya mereka akan sudah selesai ketika waktu jeda 15 menit sudah tercapai. Namun, tiba-tiba. Sang imam datang dan tanpa merasa ditunggu langsung melaksanakan sholat sunnah juga, padahal waktunya iqamah telah tiba. Ah, tahu begini, aku sholat sunnah juga dari tadi. Imam kan pemimpin, kok nggak disiplin gitu ya..

Hikmah dari peristiwa tersebut harus kuambil. Ternyata, disiplin itu memang tidak mudah. Baik saat mendatangi acara, menunaikan kewajiban, terlebih lagi saat melaksanakan ibadah. Pemimpin pun belum tentu mampu menegakkannya dengan istiqamah. Namun, anehnya pada hal-hal dunia yang ‘asyik-asyik’ kita begitu termotivasi tepat waktu. Untuk nonton bioskop, konser, sepakbola, bermain futsal, dll. Maka, menurutku yang harus kita ubah adalah cara pandang kita dalam menyimpulkan keuntungan dan kerugian dari suatu kegiatan. Semakin benar kita memandang untung dan rugi tersebut, semakin mudahlah kita tergerak untuk disiplin. Seandainya saja kita tahu bahwa sholat berjamaah di masjid, pada awal waktu, shaf pertama, dan terutama saat sholat Shubuh itu lebih berharga dari bumi dan seisinya, lalu kita sadari betapa ruginya kita jika menyia-nyiakan pahala sebesar itu, maka seharusnya kita sangat tergerak untuk melakukannya. Namun, kita selama ini seolah menganggap hadits-hadits dibalik fiqih itu seakan-akan omong kosong dan bualan. Hingga meremehkan itu semua dan tidak merasa rugi sedikitpun ketika tidak berhasil meraihnya. Bahkan, ketika peluang itu di depan mata, misalnya setelah sebelumnya kita nonton pertandingan bola liga eropa -yang kebanyakan dimulai sejak dini hari, kita malah dengan santainya terbuai kembali dalam lelap. Innalillahi.

Semoga Allah membukakan hati-hati kita untuk menemukan ruh kita sebenarnya, untuk kembali bersemangat dalam beribadah, untuk selalu berlomba-lomba mengisi shaf terdepan dan membersamai jamaah sejak takbiratul ihram dilaksanakan, dan untuk membawa kebiasaan disiplin itu semua menjadi kesuksesan. Amin..

30/04/12

Selamat jalan teman..


Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un..

Salah satu teman terbaikku telah berpulang ke haribaan Ilahi. Fiqhi DiyaulHaq, sosok bersahabat itu telah meninggalkan teman dan keluarga yang mencintainya pada Ahad, 29 April 2012, pukul 14.00 WIB di sebuah rumah sakit di Semarang. Usianya masih muda, ia teman seangkatanku di STAN, tetapi tumor paru-paru yang menjangkiti tubuhnya dan baru diobati pasca lulus dari kampus telah membuatnya tak berdaya selama setahun belakangan, hingga Allah mengangkat sakitnya sekaligus jiwanya.

Terakhir kali kubertemu dengannya adalah ketika kami, rombongan saudara seiman sesama aktifis kampus menjenguknya di kediamannya di Kudus. Kami ke sana bukan hanya untuk menjenguknya, tetapi juga untuk menghadiri akad dan walimahan pernikahan seorang teman di Pati, kota tetangga Kudus. Saat itu dia terlihat sudah kurus, matanya sayu, dan rambutnya mulai menipis. Dia dan ibunya menjelaskan mengenai sakit yang dideritanya juga pengobatan yang harus dijalani dan tampaknya begitu menyakitkan. Pengobatan itu bernama Kemoterapi. Pasien harus menerima kenyataan tubuhnya diasupi zat yang digunakan untuk menghancurkan daging tumor yang tumbuh. Efeknya tentu begitu dahsyat bagi tubuhnya, kerontokan rambut terjadi, dan fisik juga semakin melemah. Apalagi ia bukan hanya melaksanakan kemo sekali, tetapi beberapa kali, kalau tidak salah sampai tiga kali. Namun, ia masih sempat bercanda pada kami saat itu, masih bisa tertawa, bahkan berfoto bersama di depan rumahnya. Tak kusangka itu merupakan pertemuanku terakhir dengannya.

Lima bulan lebih, ia tidak menjalani magang di instansinya, yang kebetulan sama denganku. Kami seangkatan pun telah melaksanakan kewajiban untuk mengumpulkan dana untuk membantu biaya pengobatan yang tak sedikit. Doa pun InsyaAllah terus mengalir kepadanya agar segera diberi kesembuhan. Hingga ketika kami penempatan, ia diberikan toleransi oleh Kepegawaian. Ketika sebagian besar dari kami harus rela menuju perantauan di luar Jawa, Fiqhi ditempatkan di Kanwil DJPB Provinsi Jawa Tengah di Semarang. Tentu demi mempermudah ia menuntaskan pengobatannya. Beberapa bulan yang lalu, mungkin di akhir tahun 2011, aku juga mendapat kabar lagi bahwa ia telah sembuh dan bisa beraktifitas lagi. Jarak rumah dengan kantor cukup jauh, hingga ia pun tinggal di kediaman tantenya di Semarang. Aku pun sempat meneleponnya dari Wamena, menanyakan kabar dan bercanda selama beberapa menit.

Tak kusangka, 28/01/12 adalah kontak terakhirku dgnnya
Tanggal 28 Januari 2012, saat itu aku hampir saja bertemu dia lagi setelah menjenguknya di Kudus. Waktu itu aku sedang cuti di Jawa, dan pulang dari rumah temanku di Purwodadi. Karena bus Purwodadi ke Demak sudah habis sore itu, akhirnya kuputuskan untuk ke Semarang dulu. Ini baru pertama kali aku menuju Semarang dari Purwodadi, dan ternyata lama juga perjalanannya. Pemberhentian bus ini pun ternyata bukan di Terboyo yang ada bus jurusan Demak, tetapi hanya sampai terminal Penggaron. Sementara jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.30. Waktu itu aku bingung mau kemana, meski akhirnya kuputuskan tetap menuju terminal terboyo via angkot. Dalam perjalanan hujan turun begitu derasnya, sampai-sampai jarang pandang dari dalam angkot pun terbatas, rasa-rasanya air langit ditumpahkan begitu saja di Semarang malam hari itu. Aku berpikir, sepertinya tidak ada harapan pulang malam itu, pasti bus Semarang-Demak-Jepara sudah habis. Bus tujuan Semarang-Demak-Kudus pun pasti sudah jarang. Ketika pikiran sudah buntu, akhirnya kulayangkan SMS pada Fiqhi, dan dari situlah aku tahu bahwa ia tinggal di rumah tantenya. Ia menelepon ku selama empat kali, tetapi belum juga aku angkat. Baru kelima kalinya aku bicara dengannya. Ia menjelaskan dengan rinci alamatnya, sayang aku lupa kali ini. Yang jelas ia menyuruhku naik taksi dan menyebutkan pada sopir sesuai alamat yang ia berikan waktu itu lewat sms. Sayang, sms terakhir darinya pun sudah hilang dari hapeku. Namun, hujan itu membuat aku ingin segera pulang ke rumah, maklum ini adalah masa cuti dimana inilah kesempatanku bercengkerama dengan keluarga. Ibu pun sudah menelepon menanyakan kemungkinan pulang atau tidak, tentu beliau pun khawatir. Hujan masih begitu deras, hingga meskipun ku berteduh di warung dekat terminal, sebagian badanku masih basah kuyup karenanya. Namun, akhirnya teriakan seseorang kondektur bus jurusan Semarang-Demak-Kudus memaksaku berlarian untuk segera masuk ke dalam bus. Kesempatan bertemu dengan Fiqhi kembali pun pupus malam itu juga. Kulayangkan SMS kembali memohon maaf padanya tidak jadi menginap, dan kusampaikan semoga suatu saat kita akan bertemu. Ternyata, Sang Khalik berkehendak lain.

Kematian memang datang tak disangka-sangka, siapa yang bisa mempercepat atau menundanya? ini adalah kali ketiga aku mendengar kabar duka bahwa teman seangkatanku meninggal. Sebelumnya sudah ada teman sekelas ku waktu di SMA, Heni, sudah dipanggil-Nya dengan perantara Leukimia. Lalu, ada teman se-SMP, se-SMA, dan se-organisasi, Lia, juga telah menuju kedamaian karena kanker kelenjar getah bening. Kali ini, Fiqhi, juga telah menyusul di usia yang masih muda, 22 tahun. Selanjutnya siapa? mungkin aku, mungkin keluargaku, mungkin orang-orang yang kucintai lainnya, atau mungkin juga kamu, tiada yang tahu. Kita hanyalah menunggu antrian yang tidak urut berdasar usia atau kekayaan, tetapi antrian yang random, acak, dan tak berpola. Maka, kita semua selalu dan selayaknya berharap agar sisa usia kita dapat kita manfaatkan dengan baik untuk beribadah kepada-Nya dan bermanfaat bagi sesama. Hingga akhirnya ketika kita dijemput malaikat maut, kita berada dalam keimanan yang fit, saat raga beribadah kepada-Nya dan pikiran mengingat-Nya pula.

Akhir kata, saat ini aku jauh dari Jawa, tak mampu raga mengantarkan jenazahnya ke pembaringan terakhir. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya dalam keheningan. Kumohon, doakan ia juga, jika anda temannya atau bersimpati kepadanya. Semoga kita dapat berjumpa dengan orang-orang tercinta di Surga-Nya yang damai dan menenteramkan. Amin.