25/02/12

Enam alasan melepas Earphone/Headset


Mungkin sudah menjadi gaya hidup kaum urban, kemana-kemana melekatkan headset di kedua telinga. Mengusir kebosanan menjadi alasan utama. Ketika masih di Jakarta, aku melihat fenomena ini hampir setiap hari. Di dalam busway atau di haltenya, dalam angkot, di jalanan, pusat perbelanjaan, bahkan juga di lingkungan kerja. Maka, mp3 player baik yang kelasnya abal-abal maupun Ipod yang harganya jutaan menjadi laris manis di jalan. 

Rutinitas kerja di kantor atau di kampus, memang kadang membosankan. Maka, ketika kita sedang di jalan dan bosan bertemu dengan hal-hal rutin itu, mendengarkan musik dengan earphone/headset menjadi pilihan. Apalagi kalau di jalanan cuma mendengar kebisingan kendaraan lengkap dengan klaksonnya seperti di Jakarta. Eh, sah-sah saja kan.., toh itu telinga-telinga sendiri, gadget-nya pun milik sendiri, so what? Yup.. itu hak anda kok. Namun, kali ini saya cuma ingin berpendapat, hak saya juga kan..

Ada beberapa alasan yang membuat saya tidak lagi mengenakan earphone/headset dalam perjalanan, yaitu:

1.       Mengganggu pendengaran

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa mendengarkan musik melalui earphone/headset setiap hari dan selama berjam-jam lama kelamaan akan mengganggu pendengaran. Sirkulasi udara yang kurang, suhu dalam telinga yang panas, dan intensitas bunyi yang tinggi menjadi masalah bagi telinga. Apalagi apabila bentuk dari headset yang ditempelkan di daun telinga tidak cocok dengan lekukan-lekukan telinga, tentunya semakin lama membuat telinga menjadi sakit.

Seperti dikutip dari beberapa situs, Terlalu sering menggunakan atau terlalu memaksa pemakaian headset akan menyebabkan kerusakan gangguan pendengaran atau penurunan fungsi pendengaran [tuli, budeg dll.]. Awal-awalnya telinga yang sering menggunakan earphone tidak terasa apa-apa, tapi ketika hendak mencabut earphone, telinga terasa panas dan berdengung hebat. Itu terjadi akibat kelelahan koklea [rumah siput], yang berperan penting dalam proses pendengaran. Kelelahan koklea yang terjadi terus-menerus dan tak segera ditangani dapat menyebabkan gangguan pendengaran menetap. Badan Kesehatan Dunia [WHO], Sound Hearing 2030 juga sudah memprogram untuk mengurangi kasus gangguan pendengaran dan ketulian hingga 50 persen pada 2015, dan 90 persen dalam 15 tahun berikutnya. Masalah utamanya adalah gaya hidup yang salah seperti kebiasaan penggunaan earphone (sumber: kaskus)

2.       Menghilangkan kebosanan sekaligus proses berpikir

Ketika bekerja di kantor, belum tentu kita berpikir. Kebiasaan yang sudah dilakukan setiap hari direkam oleh tubuh sehingga tanpa berpikirpun tangan, mata dan anggota tubuh lain sudah bisa melaksanakan tugasnya dengan baik. Maka, ketika sedang berangkat kerja, makan siang, berjalan dengan tangga, naik lift, maupun pulang kerja adalah saat-saat yang tepat untuk berpikir. Entah itu mengenai masalah yang sedang kita pikirkan, tugas-tugas harian, ide-ide dan impian lain, atau bisa juga  fenomena alam di sekitar kita. Otak yang selalu dilatih untuk berpikir akan semakin bagus, yaitu akan memperbanyak cabang-cabang (neuronnya) dan menghambat pikun lebih cepat. Bisa jadi, saat melakukan aktifitas rutin itu anda bisa mendapatkan ide brilian alias wangsit yang bisa memberikan perubahan masa depan. Sebagai pecinta desain, ketika berada di dalam busway dan berdiri, aku suka mengamati baliho-baliho iklan ataupun spanduk di jalanan. Barangkali bisa memunculkan inspirasi dalam mengolah gambar. Jika mengenakan earphone tentu susah untuk berpikir jernih karena musik dengan segala kemampuannya mampu menghanyutkan hati dan pikiran untuk larut ke dalam melodi dan irama.

3.       Membuang kesempatan pertemanan

Ketika sedang di dalam pesawat, angkot, kereta, bus, busway, dan sebagainya tentu kita akan menemui banyak orang yang membersamai kita menuju tujuan. Tua muda, cewek cowok, kecil besar, dengan beraneka aktifitas atau profesi yang mereka tekuni. Sebagai orang yang suka berteman, jika kondisinya cocok dan sedang mood aku ingin berkenalan dengan mereka, wajah-wajah baru yang mungkin bisa memberi perubahan dalam hidupku. Apalagi jika berulang kali bertemu dia setiap harinya, tentu akan lebih mudah menjalin pertemanan dengan mereka. Tentunya juga ada orang yang punya prinsip sama denganku. Bayangkan jika aku memakai earphone, maka tidak akan ada orang yang ingin berbicara denganku atau ingin berkenalan denganku. Ada pepatah mengatakan “seribu teman itu masih sedikit, satu musuh itu sudah banyak”, dan aku menyutujuinya. Jadi, menurutku menyingkirkan kebosanan dengan cara berbicara dengan orang lain lebih membawa manfaat daripada masuk ke dunia sendiri dengan earphone di telinga.

4.       Acuh pada lingkungan

Kalau untuk yang ini, sepertinya tergantung juga pada kepribadian orang masing-masing. Kalau memang sudah dari sananya acuh dan egois, maka mau pakai earphone ataupun tidak tetap sama saja. Akan tetapi, dengan memakai earphone maka kita takbisa mendengar apapun. Mungkin saja saat di dalam angkot menuju suatu tempat baru, ada orang yang sudah lama tinggal di sana bercerita pada temannya tentang maraknya kejahatan atau wabah penyakit di daerah itu. Tentunya informasi seperti itu takbisa kita dengar jika mendengar earphone. Atau ketika ada seorang yang berteriak meminta tolong, tetapi pas kita sedang terhipnotis dengan lagu-lagu Linkin Park, tentu kita tak semudah merespon ketika sedang tidak memakai earphone.

5.       Perlindungan diri kurang

Menggunakan musik dari earphone keras-keras, apalagi jika sedang berkendara tentunya membahayakan, mengurangi kewaspadaan kita karena sulit mendengar klakson mobil lain atau aba-aba lainnya. Mendengarkan musik melalui speaker mobil tentunya lebih baik.

6.       Ribet

Memang sekarang sudah banyak earphone yang nirkabel. Namun, apabila kita baru mempunyai yang kabel, tentu agak ribet. Hal ini akan menyulitkan kita jika harus spontan menghadapi situasi yang berbahaya, seperti lari, melompat, dsb.

OK, cukup sekian pendapatku. Ini hanya pendapat ya, tak berniat memberi saran atau kritik. Setuju terserah, tidak juga tak apa-apa. Hehe..
Mari selalu bergerak, selalu semangat. OK!!

Guru-guru Fisika Aneka Rasa


Apa yang terbayang di pikiran anda ketika mendengar kata FISIKA?

Sebagai salah satu mata pelajaran ilmu eksak, Fisika memang mengharuskan orang yang mempelajarinya untuk larut dalam hitungan dan angka. Sulitkah?? Menurut aku tidak juga, yang membuat sulit adalah metode mempelajari Fisika. Rumus-rumus fisika yang kita temui selama ini sebenarnya merupakan hasil dari riset para penemunya, dan objeknya merupakan benda-benda di sekitar kita. Jadi, mempelajari Fisika bersama alam dengan penyederhanaan materi sepertinya akan memudahkan tiap orang yang mempelajarinya. Hm.. gaya ngomongku sedikit lebay ya.. padahal nilai Fisikaku juga gak bagus-bagus amat.. Hehe.. 

OK, tulisanku kali ini tak berkutat pada rumus-rumus dan hitungan. Aku hanya ingin bercerita tentang beberapa guru Fisika yang pernah mengajariku dari SMP-SMA. Mereka memang bukan Prof. Yohannes Surya yang mampu menerjemahkan rumus dengan baik, tetapi cara mengajar mereka telah mampu memberi kesan positif bagi saya tentang Fisika, hingga akhirnya aku mencintai ilmu ini, meski untuk urusan hitungan, aku tidak terlalu hebat.

SMP

1.       Fisika itu Menggambar (kelas 7)

Setelah lulus dari SD, aku melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Demak. Lokasinya cukup strategis, yaitu di sekitar alun-alun kota Demak, dapat dilihat dari gerbang Masjid Agung Demak. Tiap pagi jam 6.10 aku harus sudah berangkat karena memang jarak tempuh dari rumahku menuju kota sekitar 30-45 menit. Di SMP ini, ilmu Fisika kukenal pertama kali. Dikenalkan oleh seorang guru berinisial “I” yang dari fisiknya, kutebak ia berusia sekitar lebih dari 45 tahun. Meski sudah cukup tua, tetapi guru yang tiap hari menempuh perjalanan PP Demak-Pati ini punya semangat luar biasa. Gaya mengajarnya unik. Beliau tidak mengambil materi dari buku-buku paket/cetak, tetapi dari buku catatannya sendiri. Tiap masuk kelas, ia tak membawa apa-apa kecuali sebuah buku batik berukuran folio yang ditentengnya. Beliau menyalin tulisan ‘dokter’ yang ada di bukunya dan di-paste-kan di papan tulis, setelah sebelumnya membagi papan tulis menjadi dua atau tiga kolom. Baru setelah itu, beliau menjelaskan yang ditulisnya.

Meski yang dituliskan di papan tulis juga bermotif ‘dokter’, tetapi aku cukup mampu membacanya. Yang unik dari setiap yang ditulisnya di papan tuls adalah gambar-gambarnya, beliau sangat hebat dalam urusan ini. Paling kuingat adalah ketika beliau menggambar Pompa Hidrolik ala Pascal. Sebagai orang yang masih cupu dan karena kami tak diharuskan membeli buku paket, maka yang kami lakukan tiap pelajaran dimulai adalah menulis apa yang dituliskan beliau di papan tulis. Karena aku juga suka menggambar, maka Fisika adalah mapel paling kusukai waktu itu. Haha... alasan yang aneh... Apalagi pas awal-awal SMP, kan Fisikanya memang tidak terlalu susah. :)

2.       Guru Fisika sekaligus Penegak Kedisiplinan (kelas 8)

Masa kelas 2 SMP, adalah masa dimana guru-gurunya menyenangkan. Guru Fisikaku berinisial “JS”. Beliau orangnya supel, pintar, item, dan tegas. Pak JS ini saat itu bertindak sebagai Polisi Sekolah, meskipun bukan Guru BP. “He... itu-itu-itu!!!”, sering ia ucapkan kala melihat siswa/siswi yang menyalahi aturan sekolah, seperti dalam berpakaian, jam belajar, rambut gondrong, dll. Jika sudah berulang kali ia temui tetap berperilaku buruk atau jika pelanggarannya sudah berat, maka ia tak segan-segan ‘menyeret’ siswa/siswi itu ke Ruang BP untuk diadili. Berbeda dengan di luar kelas, ketika mengajar kami, beliau cukup santai. Dia masuk kelas tak membawa apa-apa. Cuma membawa dirinya saja, lengkap dengan kacamata tak ber-frame yang dibor di tepinya. Lalu ia menjelaskan sambil berdiri di tengah dan sering juga memberikan joke. Meski suasana cukup cair, tentu saja kami harus memastikan rambut kami tidak gondrong dan sepatu berwarna hitam ketika diajar beliau. 

Satu ilmu penting yang kuingat adalah “Jangan bingung dengan persamaan rumus”. Beliau lalu membuat gambar segitiga yang diberi garis horisontal di tengah. Jika ada persamaan W = m.g (berat = massa x gravitasi), maka W diletakkan di sebelah atas garis horisontal (bagian atas segitiga), sedangkan m dan g di bawah garis. Bagian atas dan bawah saling berbanding lurus, artinya jika W makin besar, maka m dan/atau g juga harus makin besar. Lalu, apa-apa yang diletakkan di bawah, nilainya saling berbanding terbalik. Misalnya jika W tetap, maka penambahan g harus diikuti dengan pengurangan m. Dengan metode ini aku juga tidak perlu bingung ketika di dalam soal yang ditanyakan adalah m, maka tinggal membagi W (bagian atas segitiga) dengan g (bagian bawah), begitupun sebaliknya. Trims pak!

3.       Guru muda yang gaul dan humoris (kelas 9)

Guru yang satu ini berbeda lagi. Pria gaul berinisal ‘S’ dan berambut ikal ini cukup gaul dan gokil dalam mengajar. Yang paling kuingat adalah ketika ia menjelaskan bahwa Michael Faraday menemukan bahwa jika magnet dapat menjadi listrik maka listrik juga dapat menjadi magnet (CMIIW). “Kalau kacang bisa menjadi kukul (jerawat), maka kukul juga bisa menjadi kacang”. Haha... Kemudian beliau mampu menyederhanakan rumus dan aturan-aturan menjadi singkatan yang gampang diingat. Misalnya ketika menjelaskan rumus daya listrik: W = VIT maka W = IRIT. Padahal kalau dilihat di buku cetak tertulis W = I2. R. T. Kemudian ada hukum tangan kanan dan hukum pistol tangan kiri. Sayang sekali aku lupa aturan apa itu, yang kuingat adalah mengenai listrik dan magnet. Dengan cara seperti ini, banyak diantara kami yang mendapat nilai bagus tiap ulangan, bahkan nilai sempurna (10) juga tidak jarang. Salut untuk engkau Pak!!.

SMA

1.       Pramuka berlambang Durian (kelas 10)

Sebagai individu, menilai sesuatu tentu sah-sah aja, asalkan tidak memaksakan kehendak dan tetap sesuai norma-norma. Guru fisika ku kelas X ini hobinya berpetualang, maka tak heran jika beliau menggerakkan ekstra Pecinta Alam di SMA ku, SMA Negeri 1 Demak. Namun, secara individu beliau kurang berminat dengan Pramuka, hampir setiap kelas yang diajarnya mengetahui hal ini. Sementara itu, beliau juga suka dengan durian, maka pernah ada joke, bagaimana jika lambang Pramuka bukan Tunas Kelapa tetapi Durian??? Hahahaha... soalnya kata beliau tunas kelapa itu kan belum bisa diapa-apain. Kalau anda suka pramuka Ini hanya sekedar joke  ya.., tak perlu diambil hati, hehe..

Mengenai fisika, aku yakin beliau orangnya pinter banget. Salah satu soal uraian di tes semesteran yang dibuat oleh beliau berbunyi hampir seperti ini, “Apabila ada seorang bunuh diri dari gedung berketinggian XXX, dengan kecepatan XXX, lalu ada Spiderman yang menyusul dengan kecepatan XXX, apakah Spiderman bisa menangkap wanita itu?” sungguh soal yang cerdas bukan?

Tiap kali beliau menjelaskan di kelas, ia menjawab soal-soal di buku paket dengan begitu cepatnya di papan tulis. Kami yang mengikuti tidak punya cukup waktu untuk menulis. Karena setelah ia menulis langsung menjelaskan. Saat itu, kami sangat jelas, tetapi ketika sudah ulangan, maka soal yang diberi sangat variatif, hingga cukup menyulitkan kami semua. Nilai paralel tertinggi di lima kelas yang diajarnya adalah 6 koma, dan itu bukan aku  :(, semua nilai kami ditampilkan di papan pengumuman tiap kelas, tetapi karena banyak temannya kami kok gak punya rasa malu ya.. xixixi. Remidi terus deh!!. Hoho.. Saya menangkap bahwa sepertinya beliau lebih suka siswanya berlatih sendiri tanpa disuruh agar bagaimanapun bentuk soalnya, bisa diselesaikan. Satu kata bijak yang pernah saya dengar dari beliau, “Ujian dari Tuhan itu untuk menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya, maka ketika berdoa pada Tuhan jangan ingin dijauhkan dari ujian, tetapi berdoalah agar Ia memberi kesabaran dan ketabahan bagi kita untuk menghadapinya..”. Beliau juga berjasa bagi saya secara pribadi, karena dengan nasehat-nasehat beliaulah aku bisa lolos SNMPTN dan tembus di pilihan pertama. Maturnuwun Pak!!

2.       Guru paling sabar sedunia.. (kelas 11 & 12)
Guru fisika yang satu ini merupakan suami dari guru Biologiku waktu SMP. Beliau yang berambut tipis dan berinisal AS ini bagi saya merupakan guru paling sabar di dunia. Tiap masuk kelas, dan kondisi kelas masih ramai, beliau berdiri ke tengah dan menasehati kami dengan perlahan. Ketika beliau menulis di papan tulis, tak jarang ada beberapa siswa yang ngomong sendiri, lalu yang dilakukannya adalah terus menulis, menjelaskan, dan sesekali berjalan menuju belakang kelas agar siswa-siswa itu menghargainya. Aku tak pernah melihat beliau marah, yang keluar dari mulut beliau adalah nasehat-nasehat dan kata-kata mutiara. Siapa yang ingin bertanya, meskipun berulang-ulang akan beliau jawab. Mungkin prinsip nya mengajar adalah memberikan yang terbaik yang ia bisa, jika siswa tertarik maka ikutlah belajar, jika tak tertarik yang penting hargailah guru anda. Karena kebaikannya inilah, setiap lebaran, berkunjung ke rumah beliau seperti sudah menjadi kewajiban. “Maafkan kami Pak, yang sering ngobrol sendiri di kelas”, mungkin begitulah isi hati kami saat itu. :)

sumber foto: disini








22/02/12

Menyambut wajah-wajah baru DJPB












Enak kali kalo di DJP, gajinya guedhee!!
Enak kali kalo di BC, kayaknya bisa nambah kegantengan gue..
Enak kali kalo di BPK, auditor kan akuntansi bangett…
Enak kali kalo di Bapepam, bisa ngerti saham-saham gitu.. kenal dengan para profesional juga..
Enak kali kalo di BPPK, jadi dosen intermediate keren gilaa..
Enak kali kalo di BKF, kuliah jalan terus.. ketemu orang-orang pinter pulakk..
Enak kali kalo di Setjen, Itjen, Anggaran, atau DJPK, gak jauh-jauh dari monas.. lagian gue udah eksis disini..
Enak kali kalo di PU.. Enak kali kalo di KN.. Enak kali kalo di BPKP..

Lupakan itu semua, karena Tuhan telah memilih anda untuk mengisi instansi paling jarang diminati, Direktorat Jenderal Perbendaharaan. “Welcome to the ‘jungle’!!”

Selasa, 21 Februari 2012 menjadi hari bersejarah bagi adik-adik kelas, lulusan STAN 2011. Setelah menunggu lebih dari tiga bulan, akhirnya harapan tiga tahun lalu agar bisa menjadi PNS sudah hampir pasti terwujud. Tentu rasa syukur yang tak terhingga menjadi keharusan bagi mereka. Namun, bagaimana perasaan ketika mereka sudah melihat pengumuman penempatan itu dan melihat instansi masing-masing? Akupun tak tahu, karena aku tak disamping mereka.

Sedih, galau, pengen nangis, cemas, syok, bahkan bingung mungkin menjadi hal yang wajar jika ternyata kolom instansi yang sejajar dengan nama kita tertulis empat huruf keramat “DJPB”, terutama bagi lulusan spesialisasi Akuntansi. Maklum saja, kesempatan yang sama untuk menempati seluruh instansi yang tersedia melambungkan mimpi-mimpi indah pasca lulus nanti, tetapi harus pupus karena faktanya Tuhan-lah, melalui petinggi Biro SDM Setjen, yang memutuskan hasil akhirnya. Itu yang saya alami dulu, BPK, BKF, dan BPPK adalah instansi favoritku, selalu kuberdoa agar Tuhan berkenan mengabulkan, dan sudah kutulis pula dalam peta hidupku. Namun, saat melihat pengumumanku dulu, aku bingung banget. “DJPB… ini instansi apa??” Gak kenal…

Barangkali surprise-nya angkatan kami berbeda dengan adik-adik sekarang. Kami dulu gak paham banget tentang DJPB, gimana penempatannya, apa kerjanya, gimana gajinya, kakak-kakak kelas yang sudah disana siapa? I have no idea. Soalnya sudah 3 tahun (sejak lulusan 2007) DJPB tidak meminta lulusan prodip, termasuk yang spes Kebendaharaan Negara pula. Maka, hampir sebagian besar dari kami tak tahu menahu tempat bertanya. Bahkan, aku pun cukup iri ketika teman-teman yang IPKnya (maaf) kurang bagus malah berkesempatan ke BPK, instansi idolaku. Sekali lagi IPK tidak menjamin karir dan masa depan anda. Hehe.. Beda dengan adik-adik sekarang.. yang sudah mengerti pola penempatan yang cenderung acak dan mengetahui penempatan-penempatan kami. Maka, tidak heranlah jika kesedihan melanda bagi adik-adik setelah menyadari bahwa Tuhan memilihkan DJPB bagi mereka. Penempatan jauh-jauh, terpencil, pelosok, jarang pulang, lebaran di perantauan dll tentu terbesit spontan saat itu. Namun, menurutku seharusnya mereka lebih siap mental untuk itu semua karena diberi kesempatan berlama-lama dengan keluarga di rumah tiga bulan kemarin.

Kontras dengan mereka, kami yang sudah setahun lebih menjadi DJPBers justru senangnya bukan main, status-status fesbuk kami sore itu betul-betul ceria, bahkan orang-orang yang jarang apdet status pun tak ketinggalan meramaikan ‘pesta’ menyambut ‘anggota petualang’ yang baru. Statusku yang berbunyi

Congratz..
adik2ku STAN 2011 yang sudah ditempatkan..
dah nunggu lama ya...
Khusus orang-orang terpilih yang ditempatkan di Ditjen Perbendaharaan,
gak usah malu-malu bertanya tentang Wamena.. hahayyy..
udah puas kan lama-lama di rumah.. :D

:senangnyahatikuadajunior2ini”

mendapat respon positif dari teman-teman, 13 orang yang suka hampir semuanya anak-anak Perbend. Ramai like dan komentar juga ada di status-status teman Perbend yang lain. Bahkan postingan berbunyi “Adek kelas qt uda pengumuman instansi hari ini... ada yang dapet kabar berapa yang "beruntung" masuk djpb???” di forum angkatan kami menjadi HT hari itu. Luar biasa senangnya. Ada yang langsung bicara tentang mutasi mereka (yang baru datang, yang lama pergi), tetapi ada juga yang menyukai kabar itu karena akan ada teman-teman baru yang senasib sepenanggungan dan hampir sebaya. Maklum, saat ini kami adalah yang paling junior di kantor, dan kakak-kakak di atas kami pun udah berumur 25 tahun lebih. Mohon dimaklumi, jika kami bersenang-senang di atas ‘penderitaan’ kalian.. hihi..
Bagaimanapun juga, kalian sudah beruntung bisa kerja. Tidak ada instansi yang sempurna, pasti ada kelebihan dan kekurangan, sama seperti kita. Maka, saran saya carilah sisi-sisi positif DJPB sebanyak-banyaknya, jangan fokus pada kekurangannya. Namun, bagaimanapun juga kita semua punya pilihan, lebih baik tegap melangkah di DJPB atau secara sengaja mengundurkan diri dan memilih pekerjaan lain. Cuma dua pilihan itu idealnya. Karena, DJPB saat ini membutuhkan orang-orang yang ikhlas bekerja (meski di tempat seadanya), produktif dalam berkarya, juga cerdas dalam memainkan peran. Tahun depan, InsyaAllah kami akan menerapkan SPAN (Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara), sistem yang hebat dan powerfull menurut saya, yang memang sudah lama menjadi mimpi-mimpi para pimpinan. Maka, gerakan peremajaan dengan pengusulan pensiun dini mereka yang tidak produktif dan penerimaan +/- 100 lulusan prodip baru tahun 2011 ini benar-benar pas menurut dugaan kami. Well, Selamat Datang di Direktorat Jenderal Paling Bahagia. Agar lebih tenang dan cemasnya berkurang monggo disimak poin-poin positif dari instansi ini..

1.       Banyak Pengalaman                      
Kalau bukan karena penempatan, kapan lagi bisa ‘kabur’ dari Jawa dan berpindah-pindah ke daerah-daerah eksotis di Indonesia? Gratis pula..
Kapan lagi bisa naik pesawat Garuda Indonesia dan terbang selama 6 jam?
Dimana lagi bisa bertemu suku-suku dan budaya-budaya berbeda di Nusantara?


2.       Makin cinta Indonesia                   
Dulu saya tidak kenal dengan Curup, Manna, Kotamobagu, Liwa, Makale, Larantuka, dll, tetapi karena saat itu harus memilih 4 kota impian di luar Jawa (yang tidak menentukan), perlahan saya mulai mengenali daerah-daerah itu. Saya pun sekarang jadi mengenal Wamena, kota eksotis di sebuah lembah. Setiap kali angkatan kami berkumpul, cerita-cerita tentang wilayah masing-masing begitu sering terjadi. Maka budaya nusantara yang dulu dipelajari saat masih di tingkat III bisa dibuktikan kebenarannya. I love Indonesia..

3.       Banyak teman dan solid
Saat ini pegawai DJPB lebih dari 9000 orang. Luar biasa. Maka dijamin, anda punya begitu banyak teman jika anda mau berkenalan. Di bandara atau di tempat umum, jika bertemu orang yang memakai kemeja/kaos/atribut perbend maka ajaklah berkenalan, dijamin anda akan mendapat sambutan menyenangkan, karena saya pernah mengalaminya. Kita cukup solid, maklum senasib dan sepenanggungan, sama-sama meninggalkan orang tercinta di tempat jauh, membuat kami sering berbagi. Apalagi pas bertemu di dinas, makin kelihatan solidnya

4.       Motivasi untuk beramal
Salah satu tugas DJPB adalah mencairkan dana APBN, maka otomatis sebenarya kita mempunyai peran penting dalam pembangunan Indonesia. Kemajuan di Kabupaten terpencil seperti Wamena secara tak langsung anda turut berpatisipasi aktif di dalamnya. Keberadaan kita sangat dibutuhkan kantor, dan tentu saja banyak orang yang kita layani, juga seluruh warga yang merasakan pembangunannya. Ini menjadi motivasi sendiri dalam bekerja. Semoga menjadi amal jariyah kita saat menghadap Tuhan.

5.       DJPB = Ditjen Paling ‘Bersih’
Tidak bermaksud menyindir instansi lain. Saya berani berkata bahwa DJPB sudah terbukti kebersihannya. Terbukti adanya penghargaan PIAK (Penilaian Inisiatif Anti Korupsi) dari KPK tahun 2010, juga pelayanan publik terbaik tahun 2011. Perubahan menuju modernisasi yang selalu disiapkan mampu mengantarkan proses bisnis yang aman dan nyaman dari gangguan gratifikasi dan uang-uang kotor lainnya. Kabar buruk bagi yang berniat menciderai reformasi birokrasi (berniat korupsi –red).

6.       Cukup banyak beasiswa
Peluang ke D4 di Perbend saat ini ditutup. Namun, tak perlu khawatir. Ada kesempatan melanjutkan kuliah gratis (tugas belajar) setara S1 di kampus-kampus hebat seperti UI, UGM, dan UNIBRAW, tentunya jika lolos tes seleksi. Beasiswa S2 juga selalu ada tiap tahunnya.

7.       Silakan cari sendiri ya….

Simak tulisan di blog ini mengenai DJPB:

 Ke situsnya langsung:

19/02/12

Sabtu-Minggu,, aku untukmu...


Sapu, ember, tongkat pel, sikat, sabun, kompor, pisau, magickom, dispenser, panci, ulegan, sendok, piring, sunlight, dan minyak goreng.  Eh, bukannya aku lagi jualan, tapi menjelaskan bahwa barang-barang tersebut selalu bersamaku di akhir pekan. Layaknya sebuah rumah pada umumnya, rumah dinasku juga perlu kuurus.  Dan akhir pekanlah waktu yang paling tepat. Perut pun juga harus kumanjakan, tentunya dengan memasak sendiri agar kantong tak cepat kempis, dan akhir pekan adalah waktu yang tepat. Baju dan piring kotor pun kutumpuk selama lima hari, dan akhir pekan pun juga waktu yang tepat untuk membersihkannya.
Yah, begitulah aktifitas wajibku di akhir pekan. Maklum, menempati rumah dinas yang berukuran 10x6 meter sendirian memang tak mudah. Rumah yang terdiri dari dua kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi ini memang sangat layak ditempati, tetapi sepertinya kurang cocok ditempati sendirian. Repot juga ternyata. “Ha!!... Butuh pendamping??” kok pikiranmu sama denganku sih.. ya iyalah tentu aku ingin nyari pendamping kawan, tapi belum sekarang. Hehe

Hari Sabtu kemarin, aku bangun agak siang memang, rasanya ingin tidur lagi setelah sholat Shubuh. Kapan lagi kalau gak di hari libur ya.. hehe. Habis bangun aku kumpulkan tenaga, lalu mulai memasak. Kali ini menggoreng tahu dan tempe, sambil mulai memasak nasi di magickom. Memasak tahu dan tempe kian nikmat karena ibunda sudah membekaliku dengan bumbu raciknya siap saji. Kemudian, setelah itu aku iris bawang merah dan putih, sebagai persiapan memasak sayur bayam, meskipun bayamnya belum kubeli.  Hehe.. Baru setelah itu aku menyapu lantai dan mengepelnya agar wangi. Habis itu, aku cuci sepatu yang penuh lumpur, ‘oleh-oleh’ dari Ekspedisi Danau Habema minggu lalu. 

Tak berapa lama kemudian, ada teman yang mengajak belanja ke pasar Jibama. Katanya mau membeli buah dan ikan. Karena memang harga-harga di pasar yang berjarak 1,5 kilometer dari kota itu lebih murah, maka aku ikut saja. Di sana aku membeli jeruk, bayam dan kangkung, juga pisang. Jeruk 12 biji 30.000, bayam dan kangkung masing-masing 5000, dan pisangnya satu sisir bisa kubeli seharga 20.000. Temanku, sebut saja Mam, membeli ikan mujair, untuk dibakar nanti malam. Wow..

Sesampainya di rumah, aku langsung memasak sayur bayam. Tahu resepnya nggak?? Gampang... Panaskan air dalam panci sampai mendidih, lalu masukkan bawang merah dan putih yang sudah diiris, kemudian masukkan bayam yang sudah dicuci, baru tambahkan gula putih dan garam secukupnya. Sebenarnya bisa ditambahi daun salam, karena sedang kosong persediaan, ya terpaksa tak ku tambahkan. Hehe..
Aktifitas wajib tiap akhir pekan selanjutnya adalah membaca dan menulis. Hari Sabtu kemarin, aku membaca lanjutan halaman buku Living Islam. Eh, ternyata perut yang kenyang memberatkan kelopak mataku, hingga akhirnya aku pun tertidur. Sorenya aku mengikuti halaqoh pekanan. Kali ini di rumahnya Pak Haji Bambang.
Malam harinya kulanjutkan aktifitas wajib berikutnya, yakni mencuci baju. Eh, ternyata temanku Mam dan Al benar-benar membakar ikan yang dibeli tadi pagi. Aku cuma bisa membantu membuatkan kopi susu dan menyediakan beberapa camilan. Benar-benar luar biasa anak-anak itu.

Begitulah beberapa aktifitas wajibku di hari Sabtu. Kalau pas waktunya bak mandi sedang kotor, ya harus membersihkannya juga. Kalau pas rumput di halaman sudah tinggi ya perlu dipotongi. Hehe.. Kalau dilakukan dengan santai dan dinikmati, semuanya pasti menyenangkan juga. Hehe.. Kalau lagi pengen, aku juga akan melakukan olahraga, bisa lari pagi, bersepeda, ataupun main tenis. Tapi untuk kali ini sepertinya tidak dulu.

***

Udah hari Minggu nih.. Nah, karena beberapa aktifitas penting sudah dilaksanakan kemarin, maka di hari Minggu ini aku hanya memasak dan menulis. Menu masakan kali ini adalah telur balado dan tumis kangkung. Kebetulan cabe, bawang merah, dan bawang putihnya masih ada maka tinggal diiris tipis-tipis. Kemudian masukkan ke penggorengan ketika minyak sudah mendidih, tumis sebentar. Lalu masukkan daun kangkung yang sudah dicuci. Kalau sudah cukup layu tinggal tambahkan kecap manis, gula putih dan garam secukupnya. Jadi deh... Sedangkan untuk telur balado, kali ini bumbunya aku pakai bumbu instan. Memang kurang baik sih.. tapi ya agak malas bikin bumbunya he..:). Oiya lupa, sebelum membuat semua itu, aku sempat memasak nasi goreng telur. Bumbunya gampang kalau yang ini. Cuma bawang merah, putih, dan cabai dihaluskan, lalu tambahkan garam. Nikmat deh!!

Kemudian aku lanjutkan dengan menulis apa aja yang tersimpan di kepala. Jika sudah sore nanti, aku mau ke kantor sebentar, untuk mencicil pembuatan buku dan video profil kantor yang deadlinenya tinggal beberapa hari lagi. Hmm.. pengen BBS (Bobok-bobok siang) tapi gakbisa nih.. :(

Sore hari di hari minggu, ada tontonan wajib bagiku, yakni Kick Andy di MetroTV. Lha kapan lagi kalau gak yang episode tayangan ulang ini. Kalau yang tayang tiap Jumat kan sudah terlalu malam di Waktu Indonesia Timur.. Kemudian, malam harinya, jam 09.00 WIT aku akan menonton Mario Teguh Golden Ways. Lumayan untuk membangkitkan motivasi menghadapi hari Senin. 

Apapun yang kita lakukan, memang harus disyukuri aja ya..

Happy Weekend semua..

Besok kerja lagi!!

Kami emban amanat rakyat, mengawal APBN sampai tamat

Direktorat Jenderal Perbendaharaan, saya tidak yakin semua pembaca mengenalnya. Instansi eselon satu dari Kementerian Keuangan ini memang kurang populer, masih kalah tenar dari Ditjen Pajak (DJP) maupun Bea dan Cukai (DJBC). Namun, bagi anda yang paham Keuangan Negara, pasti takkan meragukan, betapa besar dan pentingnya instansi ini bagi republik. Besar dari segi amanahnya yakni mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang sudah mencapai lebih dari 1100 Trilyun rupiah, dan juga penting karena menentukan jalannya roda perekonomian bangsa dari Sabang sampai Merauke setiap hari.

Peran Ditjen Perbendaharaan yang besar dan penting tersebut diwujudkan dalam beberapa unit eselon II di kantor pusatnya, yaitu: 1) Direktorat Pelaksanaan Anggaran, 2) Direktorat Sistem Manajemen Investasi, 3) Direktorat SIstem Perbendaharaan, 4) Direktorat Pembinaan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, 5) Direktorat Transformasi Perbendaharaan, 6) Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan, 7) Direktorat Pengelolaan Kas Negara, dan 8) Sekretaris Ditjen Perbendaharaan. Tidak hanya di kantor pusat saja, Ditjen Perbendaharaan juga dapat ditemui dalam wujud Kantor Wilayah (Kanwil) yang saat ini telah berjumlah 30 unit dan tersebar di 30 Provinsi di Indonesia. Tidak hanya sampai disitu, dalam menjalankan perannya menyentuh para stakeholder di tiap kota, Ditjen Perbendaharaan juga mempunyai unit-unit vertikal eselon III, yakni Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN), sebuah kantor yang menjadi palang pintu APBN RI dan telah tersebar di 177 kabupaten/kotamadya di Indonesia.

13296388551142290797

suasana salah satu KPPN ketika menerima satker
KPPN bisa dikatakan sebagai kipernya APBN, karena melalui kantor inilah, tagihan-tagihan terhadap negara disahkan. Selanjutnya setelah disahkan, KPPN akan menerbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) yang akan disampaikan ke bank operasional (baik negeri atau swasta) sebagai perintah agar bank memindahkan/mentransfer sejumlah uang dari kas negara kepada rekening bendahara instansi pemerintah (misalnya berupa gaji) atau rekening pihak ketiga (misalnya pembayaran kontrak pembangunan). Stakeholder dari KPPN adalah unit-unit instansi pemerintah dan beberapa unit instansi daerah yang lebih sering disebut dengan satuan kerja (satker). Di tahun 2012 ini jumlah satker di Indonesia telah mencapai lebih dari 22.000 unit. Meski jumlah satker yang dilayani tiap KPPN berbeda, tetapi bisa dipastikan kecermatan tiap pegawai KPPN haruslah sama besarnya. Bayangkan saja setiap hari, mata dan fikiran para pegawai KPPN, khususnya yang duduk di balik meja pelayanan (Front Office) harus fokus untuk memeriksa dokumen-dokumen tagihan pada negara, agar benar-benar dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara administratif. Pemeriksaan itu terdiri dari aspek formal dan aspek substansial. Aspek-aspek formalnya adalah:
1. 1. mencocokkan tanda tangan pejabat penandatangan SPM dengan spesimen tandatangan; 
2.  memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah uang dalam angka dan huruf;
3.  memeriksa kebenaran dalam penulisan, termasuk tidak boleh terdapat cacat dalam penulisan.

Sedangkan pengujian dari aspek substansialnya meliputi:
1. menguji kebenaran perhitungan tagihan yang tercantum dalam SPM;
2. menguji ketersediaan dana pada kegiatan/sub kegiatan/MAK dalam DIPA yang ditunjuk dalam SPM tersebut;
3. menguji dokumen sebagai dasar penagihan (Ringkasan Kontrak/SPK, Surat Keputusan, Daftar Nominatif Perjalanan Dinas);
4. menguji surat pernyataan tanggung jawab (SPTB) dari kepala kantor/satker atau pejabat lain yang ditunjuk mengenai tanggungjawab terhadap kebenaran pelaksanaan pembayaran;
5. menguji faktur pajak beserta SSP-nya;

Pembatasan wewenang pemeriksaan yang hanya meliputi dua aspek tersebut barulah ada sejak 2005, setahun setelah UU Perbendaharaan dirilis. Sebelum itu, selain memeriksa kebenaran secara administratif (dokumen-dokumen), KPPN juga berkewajiban memeriksa benar atau tidaknya proyek pembangunan tersebut secara fisik, sungguh suatu pekerjaan yang berat mengingat banyaknya satuan kerja yang harus dilayani. Saat ini, kewajiban memastikan bahwa proyek pembangunan dapat dibuktikan secara fisik dilimpahkan pada satker masing-masing, dalam hal ini adalah Kepala Kantor masing-masing, sedangkan KPPN kini hanya bertindak sebagai ATM-nya. Jika semua dokumen telah benar dan lengkap dilihat dari dua aspek di atas, maka KPPN berkewajiban mengesahkan tagihan tersebut dan langsung menerbitkan SP2D sebagai tagihan pada negara.

Namun tidak semudah itu, nafas reformasi birokrasi di Kementerian Keuangan khususnya DJPB ini ternyata tidak diikuti dengan pola pikir para satuan kerja. Proyek fiktif dan tagihan-tagihan lain yang tidak ada wujudnya disinyalir masih tetap ada. Buktinya, APBN yang sebesar itu sampai sekarang belum dirasakan manfaatnya oleh beberapa lapisan masyarakat. Akan tetapi, pegawai KPPN tidak dapat berbuat banyak, jika berkas administratif telah benar dan lengkap maka kami wajib membayarnya. Sungguh pekerjaan yang strategis tetapi juga dilematis. Beberapa tahun yang lalu, kestrategisan ini sering dimanfaatkan beberapa oknum bendahara satker untuk menyuap kami dengan amplop-amplop tebal, hadiah-hadiah gratifikasi, dan bentuk-bentuk suap yang lain. Tentu saja dengan harapan, agar kami memudahkan pengesahan dokumen-dokumen tagihan mereka. Alhamduillah, semua itu sudah secara formal diberangus sejak diluncurkannya format Layanan Percontohan tahun 2007. Mulai saat itu para pegawai KPPN sudah dengan tegas dilarang menerima apapun dari para satker. Pola pikir para pegawainya dalam melayani pun telah diubah 180 derajat, yang asalnya merasa bahwa satker yang membutuhkan, menjadi KPPN yang membutuhkan para satker, semata agar pelaksanaan APBN dapat berjalan dengan lancar, dan anggaran yang fantastis itu dapat dicairkan sebesar-besar untuk kesejahteraan rakyat. Layout kantor pun dirombak menjadi tiga ruangan layanan, Front Office, Middle Office, dan Back Office

Meski peraturan telah diperketat dan spanduk-spanduk yang intinya berbunyi “Layanan kami bebas biaya” atau “Tidak menerima uang atau gratifikasi dalam bentuk apapun” juga telah dipasang, tetap saja ada beberapa oknum satker yang nekat memberikan sesuatu pada petugas. Di situlah integritas kami diuji. Jika memang terbukti menerimanya, baik dilaporkan oleh saksi ataupun terdeteksi dari kamera CCTV, maka hukuman berat dan penjara bisa menanti kami. Bahkan, lebih ironis lagi, meski integritas sudah teruji dengan diberikannya sebuah penghargaan Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK) dari KPK pada DJPB tahun 2010, ternyata masih saja ada pihak yang meragukannya. Bulan Januari lalu, sebuah noda bagi reformasi birokrasi telah ditorehkan oleh tuduhan fitnah dari para penyidik penegak hukum yang beranggapan bahwa dua pegawai KPPN telah bekerjasama untuk meluluskan proyek fiktif dari satker unit vertikal sebuah kementerian di Jakarta, padahal semua prosedur pencairan sudah dilaksanakan dengan benar dan tiada sepeserpun uang yang diterima. Namun, hakim tetap dengan zalim menjatuhi hukuman penjara bagi mereka, meski saksi ahli si pencetus undang-undang reformasi keuangan sudah didatangkan. Informasi selengkapnya bisa dibaca di artikel ini.

Reformasi Keuangan yang sudah dijalani dengan peluh keringat ini tak akan kami biarkan terhenti begitu saja. Bisa saja kami mundur dari tanggungjawab ini karena toh ternyata sebaik apapun kami melaksanakan prosedur, ternyata paradigma lama bahwa KPPN juga harus mengamati wujud dari setiap proyek dan bahwa KPPN bisa saja bermain mata dengan satker, tetap saja masih tersimpan di kepala-kepala penegak hukum. Sungguh terlalu besar resiko yang kami tanggung. Namun, dengan persatuan lebih dari 9000 pegawai di seluruh Indonesia, sepertinya DJPB akan terus melangkah tegak mengawal keuangan negara. Sistem-sistem yang tadinya masih berlubang telah ditutup sedemikian rupa, misalnya melalui pencocokan spesimen tandatangan, identitas pengantar tagihan, sampai dengan sidik jari petugas pengantar tersebut. Surat-surat tagihan itupun kini sudah dilengkapi barcode yang otomatis tercetak ketika surat tagihan -disebut Surat Perintah Membayar (SPM)- dicetak dari aplikasi produk kami (Direktorat Sistem Perbendaharaan). Untuk SPM Gaji pun sama, kami telah melengkapi proteksi dengan sistem dalam aplikasi yang membuat Gaji Induk Pegawai takbisa dicairkan dua kali.

Perubahan menuju ke arah lebih baik begitu penting bagi kami. Sistem-sistem yang semakin memudahkan pencairan tetapi tetap dengan proteksi dari penyimpangan satu demi satu disusun oleh para perumus kebijakan, terutama oleh Direktorat SIstem Perbendaharaan (DSP) dan Transformasi Perbendaharaan (DTP). Kabarnya, sebentar lagi akan di-launching Pin Pejabat Penandatangan SPM (PPSPM). layaknya Pin ATM di bank, Pin PPSM tersebut membuat SPM sebagai surat tagihan APBN, tidak lagi bisa dipalsukan. Kalaupun di belakang hari ada masalah, maka sekali lagi kami tak bertanggungjawab karena sudah menjadi tanggungjawab kantor satker masing-masing. Di tahun 2012 ini juga sudah mulai diuji coba sistem yang terintegrasi bernama Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). SPAN yang dalam perumusannya juga melibatkan pihak swasta seperti LG ini nantinya akan mengintegrasikan database semua hal terkait keuangan negara, mulai dari perencanaan anggaran, pelaksanaan anggaran, sampai dengan pelaporannya, yang tentunya meminimalisasi kesalahan dan penyimpangan. Saya mewakili instansi memohon dukungan dan doa dari segenap bangsa agar sistem yang powerfull ini dapat berjalan dengan baik di tahun depan. Dan marilah kita berdoa pula agar APBN yang semakin gemuk tiap tahun itu, benar-benar digunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan hanya dinikmati oleh segelintir orang-orang bejat. Amin..

situs terkait:

Birokrasi Tanpa Korupsi Adalah Harga Mati


Reformasi birokrasi merupakan karya anak bangsa

Yang dipersembahkan untuk negeri ini.

Manifestasi dari sebuah komitmen integritas dan profesionalitas.

Titik balik dari sebuah pembangunan peradaban yang berbudi pekerti.

Reformasi birokrasi tak sekedar pelayanan prima nan paripurna,

Melainkan juga menjadi sebuah gerakan anti korupsi.

Terima kasih atas dukungan dan kepercayaan semua pihak

Menjadikan Direktorat Jenderal Perbendaharaan sebagai unit eselon 1 terbaik

Dari seluruh Kementerian / Lembaga dalam Penilaian Inisiatif Anti Korupsi (PIAK) 2010

Yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

Prestasi yang tinggi tidak akan pernah membuat kami berhenti

Bantu kami untuk tetap menjaga komitmen Reformasi Birokrasi

Memberikan yang terbaik atas amanah yang diberi

Karena kami memahami harapan bangsa ini.


(dikutip dari buku agenda Ditjen Perbendaharaan)