30/04/12

Selamat jalan teman..


Innalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un..

Salah satu teman terbaikku telah berpulang ke haribaan Ilahi. Fiqhi DiyaulHaq, sosok bersahabat itu telah meninggalkan teman dan keluarga yang mencintainya pada Ahad, 29 April 2012, pukul 14.00 WIB di sebuah rumah sakit di Semarang. Usianya masih muda, ia teman seangkatanku di STAN, tetapi tumor paru-paru yang menjangkiti tubuhnya dan baru diobati pasca lulus dari kampus telah membuatnya tak berdaya selama setahun belakangan, hingga Allah mengangkat sakitnya sekaligus jiwanya.

Terakhir kali kubertemu dengannya adalah ketika kami, rombongan saudara seiman sesama aktifis kampus menjenguknya di kediamannya di Kudus. Kami ke sana bukan hanya untuk menjenguknya, tetapi juga untuk menghadiri akad dan walimahan pernikahan seorang teman di Pati, kota tetangga Kudus. Saat itu dia terlihat sudah kurus, matanya sayu, dan rambutnya mulai menipis. Dia dan ibunya menjelaskan mengenai sakit yang dideritanya juga pengobatan yang harus dijalani dan tampaknya begitu menyakitkan. Pengobatan itu bernama Kemoterapi. Pasien harus menerima kenyataan tubuhnya diasupi zat yang digunakan untuk menghancurkan daging tumor yang tumbuh. Efeknya tentu begitu dahsyat bagi tubuhnya, kerontokan rambut terjadi, dan fisik juga semakin melemah. Apalagi ia bukan hanya melaksanakan kemo sekali, tetapi beberapa kali, kalau tidak salah sampai tiga kali. Namun, ia masih sempat bercanda pada kami saat itu, masih bisa tertawa, bahkan berfoto bersama di depan rumahnya. Tak kusangka itu merupakan pertemuanku terakhir dengannya.

Lima bulan lebih, ia tidak menjalani magang di instansinya, yang kebetulan sama denganku. Kami seangkatan pun telah melaksanakan kewajiban untuk mengumpulkan dana untuk membantu biaya pengobatan yang tak sedikit. Doa pun InsyaAllah terus mengalir kepadanya agar segera diberi kesembuhan. Hingga ketika kami penempatan, ia diberikan toleransi oleh Kepegawaian. Ketika sebagian besar dari kami harus rela menuju perantauan di luar Jawa, Fiqhi ditempatkan di Kanwil DJPB Provinsi Jawa Tengah di Semarang. Tentu demi mempermudah ia menuntaskan pengobatannya. Beberapa bulan yang lalu, mungkin di akhir tahun 2011, aku juga mendapat kabar lagi bahwa ia telah sembuh dan bisa beraktifitas lagi. Jarak rumah dengan kantor cukup jauh, hingga ia pun tinggal di kediaman tantenya di Semarang. Aku pun sempat meneleponnya dari Wamena, menanyakan kabar dan bercanda selama beberapa menit.

Tak kusangka, 28/01/12 adalah kontak terakhirku dgnnya
Tanggal 28 Januari 2012, saat itu aku hampir saja bertemu dia lagi setelah menjenguknya di Kudus. Waktu itu aku sedang cuti di Jawa, dan pulang dari rumah temanku di Purwodadi. Karena bus Purwodadi ke Demak sudah habis sore itu, akhirnya kuputuskan untuk ke Semarang dulu. Ini baru pertama kali aku menuju Semarang dari Purwodadi, dan ternyata lama juga perjalanannya. Pemberhentian bus ini pun ternyata bukan di Terboyo yang ada bus jurusan Demak, tetapi hanya sampai terminal Penggaron. Sementara jarum jam tanganku sudah menunjukkan pukul 19.30. Waktu itu aku bingung mau kemana, meski akhirnya kuputuskan tetap menuju terminal terboyo via angkot. Dalam perjalanan hujan turun begitu derasnya, sampai-sampai jarang pandang dari dalam angkot pun terbatas, rasa-rasanya air langit ditumpahkan begitu saja di Semarang malam hari itu. Aku berpikir, sepertinya tidak ada harapan pulang malam itu, pasti bus Semarang-Demak-Jepara sudah habis. Bus tujuan Semarang-Demak-Kudus pun pasti sudah jarang. Ketika pikiran sudah buntu, akhirnya kulayangkan SMS pada Fiqhi, dan dari situlah aku tahu bahwa ia tinggal di rumah tantenya. Ia menelepon ku selama empat kali, tetapi belum juga aku angkat. Baru kelima kalinya aku bicara dengannya. Ia menjelaskan dengan rinci alamatnya, sayang aku lupa kali ini. Yang jelas ia menyuruhku naik taksi dan menyebutkan pada sopir sesuai alamat yang ia berikan waktu itu lewat sms. Sayang, sms terakhir darinya pun sudah hilang dari hapeku. Namun, hujan itu membuat aku ingin segera pulang ke rumah, maklum ini adalah masa cuti dimana inilah kesempatanku bercengkerama dengan keluarga. Ibu pun sudah menelepon menanyakan kemungkinan pulang atau tidak, tentu beliau pun khawatir. Hujan masih begitu deras, hingga meskipun ku berteduh di warung dekat terminal, sebagian badanku masih basah kuyup karenanya. Namun, akhirnya teriakan seseorang kondektur bus jurusan Semarang-Demak-Kudus memaksaku berlarian untuk segera masuk ke dalam bus. Kesempatan bertemu dengan Fiqhi kembali pun pupus malam itu juga. Kulayangkan SMS kembali memohon maaf padanya tidak jadi menginap, dan kusampaikan semoga suatu saat kita akan bertemu. Ternyata, Sang Khalik berkehendak lain.

Kematian memang datang tak disangka-sangka, siapa yang bisa mempercepat atau menundanya? ini adalah kali ketiga aku mendengar kabar duka bahwa teman seangkatanku meninggal. Sebelumnya sudah ada teman sekelas ku waktu di SMA, Heni, sudah dipanggil-Nya dengan perantara Leukimia. Lalu, ada teman se-SMP, se-SMA, dan se-organisasi, Lia, juga telah menuju kedamaian karena kanker kelenjar getah bening. Kali ini, Fiqhi, juga telah menyusul di usia yang masih muda, 22 tahun. Selanjutnya siapa? mungkin aku, mungkin keluargaku, mungkin orang-orang yang kucintai lainnya, atau mungkin juga kamu, tiada yang tahu. Kita hanyalah menunggu antrian yang tidak urut berdasar usia atau kekayaan, tetapi antrian yang random, acak, dan tak berpola. Maka, kita semua selalu dan selayaknya berharap agar sisa usia kita dapat kita manfaatkan dengan baik untuk beribadah kepada-Nya dan bermanfaat bagi sesama. Hingga akhirnya ketika kita dijemput malaikat maut, kita berada dalam keimanan yang fit, saat raga beribadah kepada-Nya dan pikiran mengingat-Nya pula.

Akhir kata, saat ini aku jauh dari Jawa, tak mampu raga mengantarkan jenazahnya ke pembaringan terakhir. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuknya dalam keheningan. Kumohon, doakan ia juga, jika anda temannya atau bersimpati kepadanya. Semoga kita dapat berjumpa dengan orang-orang tercinta di Surga-Nya yang damai dan menenteramkan. Amin.

21/04/12

Ide Kartini disalah artikan?


Lukisan Kartini (http://en.wikipedia.org/wiki/Kartini)
“Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah.” (Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902)

Setiap tanggal 21 April, masyarakat Indonesia, khususnya kaum ibu dan remaja puteri, memperingari Hari Kartini. R.A. Kartini yang dikenal sebagai perintis pergerakan wanita Indonesia lahir 21 April 1879 bertepatan tanggal 28 Rabiul Akhir tahun Jawa 1808 di Mayong Jepara. Ayahnya, Raden Sosroningrat, Bupati Jepara. Sedang ibunya, M.A. Ngasirah, puteri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Ada banyak hal yang bisa diteladani dari Hari Kartini. Salah satunya adalah pentingnya kaum wanita dan anak-anak gadis masa kini teguh menjaga prinsip kemuslimahan diri.

Di samping ayu dan keturunan mulia (ningrat), R.A. Kartini merupakan anak gadis yang cerdas dan berpikiran jauh ke depan. Atas dasar ini, penjajah Belanda berkepentingan mendekatinya. Orang-orang Belanda yang berteman dengan Kartini, pada umumnya mereka adalah “musuh dalam selimut” atau setidak-tidaknya ingin memperalat Kartini, seperti Abendanon (utusan pemerintah tinggi Belanda dan teman politik dari Snouck Hurgronye), Nyonya Abendanon, Dr. Adriani (pendeta penyebar agama Kristen di suku Toraja), Annie Glassier (guru privat bahasa Kartini yang dikirim oleh Abendanon untuk memata-matai dan mengikuti perkembangan pemikiran Kartini), Stella (wanita Yahudi, anggota pergerakan feminis di Belanda), dan Ir. H. Van Kol (insinyur dan ahli masalah kolonial).


Namun, di tengah lingkungan yang penuh tantangan dan bujuk-rayu, serta di tengah dinamika keremajaan yang kritis, dia tetap teguh dan selamat membawa identitas keislamannya. Hal ini tidak lepas merupakan berkah persentuhannya dengan Al-Qur’an dan Ulama.

Suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang bupati di Demak. Waktu itu, sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut bersama para Raden Ayu yang lain dari balik hijab. Kartini merasa tertarik dengan materi pengajian yang disampaikan saat itu, tafsir Surat Al-Fatihah, oleh Kyai Haji Sholeh Darat Semarang. Beliau sering memberikan pengajian di berbagai kabupaten di sepanjang pesisir utara.

Selesai acara pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemaninya untuk menemui Kyai Sholeh Darat. Ia mengutarakan, “Saya merasa perlu menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Romo Kyai dan kesyukuran yang sebesar-besarnya kepada Allah, atas keberanian Romo Kyai menerjemahkan Surat Al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa sehingga mudah dipahami dan dihayati oleh masyarakat awam, seperti saya…” Lanjutnya, “Selama ini surat Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tidak mengerti sedikit pun akan maknanya, tetapi sejak hari ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna yang tersirat sekali pun, karena Romo Kyai menjelaskannya dalam bahasa Jawa yang saya pahami. Isinya begitu indah menggetarkan sanubari saya…”

Selanjutnya pertemuan ini menggugah Kyai Sholeh Darat untuk menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Pada hari pernikahan Kartini, Kyai yang merupakan guru dari KH. Hasyim Asy’ari (pendiri NU) dan KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) ini menghadiahkan kepadanya kitab karyanya tersebut, berjudul “Faidur Rahman fi Tafsir Al-Qur’an” jilid pertama yang terdiri dari 13 juz. Kitab ini sekarang dicetak dan diperjualbelikan di Singapura. Mulailah Kartini kemudian berinteraksi dengan Al-Qur’an secara inten, Kitab Suci yang penuh berkah.

Hidayah yang menyertainya ini digambarkan Kartini dalam surat-suratnya. Ia melukiskan kesannya kepada Abendanon, “Nyuwun sekar melati, ingkang mekar ing jering ati.” Ia juga menulis, “Alangkah bebalnya, bodohnya kami, kami tiada melihat, tiada tahu, bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan di samping kami.” (15 Agustus 1902) Dua hari kemudian, dia menulis, “Sekarang ini, kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang teguh-teguh pada tangan-Nya. Maka hari gelap-gulita pun menjadi terang, dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.” (17 Agustus 1902) Kata-kata ini adalah sentuhan cahaya Al-Qur’an yang menerangi lubuk-hatinya: “Minazh zhulumati ilan nur,” (dari gelap menuju cahaya), petikan dari surat Al-Baqarah ayat 257. Dan puncaknya adalah, “Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu: hamba Allah (Abdullah).” (Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 1 Agustus 1903)
Berikut ini beberapa petikan lain dari surat-surat R.A. Kartini, isinya bergelora semangat keislaman, yang kiranya patut direnungkan oleh kaum ibu dan remaja puteri di momen mereka memperingati 21 April:
“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.” (Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, Agustus 1900)

“Orang memang menaruh perhatian yang sungguh-sungguh kepada perkembangan otak mereka, tetapi apa yang dilakukan untuk pembentukan watak mereka?.” (Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, Agustus 1900)

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?.” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902)

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak perempuan, bukan sekali-sekali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam (sunnatullah) sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” (Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902)

“Usahakanlah zending itu, tetapi tidak dengan menasranikan orang!.” (Surat Kartini kepada Abendanon, 31 Januari 1903)

“Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini. Serta dengan Nyonya kami berharap, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama kami (Islam), patut disukai.” (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902)

Pepatah menyatakan, siapa mendekati Al-Qur’an, maka Al-Qur’an akan menunjukinya. Dan siapa mendekati ulama, niscaya terperciki keharumannya. Anak-anak bangsaku, bila kalian menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini, maka ingatlah hal ini. Bacalah tinta sejarah R.A. Kartini dan teladani cita-citanya tidak dengan terbata-bata. Wallahu a’lam.

Oleh: AHMAD SYARIFUDDIN*
kopas dari sini

17/04/12

Pilu di Pagi Hari

Pagi itu, Bayu masih terpuruk. Kabar musibah yang ia terima sepuluh menit yang lalu seakan mencabik-cabik daging dan memutuskan persendian tulang-tulangnya. Selama ini, ia dikenal sebagai lelaki penyabar dan tangguh, setidaknya seperti itu tetangga memandangnya. Tetapi tampaknya tidak untuk kali ini. Baginya, musibah ini begitu berat. Sejak tadi, ingin rasanya ia menuruti kata hati untuk menangis sejadi-jadinya, tetapi pikiran memaksanya menemui kesadaran bahwa ia adalah lelaki. Maka, ia hanya terduduk lesu di atas bangku putih panjang sendirian. Kepalanya menunduk, menyembunyikan kesedihan mendalam. Matanya jelas merah, karena sejak dini hari suasana kalut telah memaksanya terjaga. Namun, pandangannya yang dari tadi tertuju ke lantai, tiba-tiba menjadi sedikit samar seiring munculnya butiran air di sudut-sudut matanya. Sejurus kemudian, akhirnya kesedihan itu meluap juga. Air jujur itu keluar meninggalkan mata, mengalir perlahan tetapi semakin deras, hingga menetes dari dagu tegas seorang lelaki berparas tampan ini.
Bayu tak hanya menangis, sesaat ia merengek-rengek seperti anak yang tak diberi uang orangtuanya. Sesaat kemudian menggeleng-gelengkan kepala, seolah tak yakin dengan apa yang baru dialami. Juga kadang semakin menunduk sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Di dalam pikirnya, ia membayangkan masa-masa indah beberapa tahun belakangan, saat ia dan wanita cantik itu berkenalan, menikah, dan membesarkan bayi mereka. Bercanda mesra, berteriak bersama, bercerita sepanjang hari, bahkan saling menjahili. Sungguh satu windu yang tak mungkin hilang dari ingatannya.

Belum berapa lama ia melamun dalam tangis, sebuah teriakan polos membangunkannya dari dunia kalut, “Ayah!!!”. Seseorang memanggilnya dari arah kiri. Hanya siluetnya yang tampak saat itu, tapi ia kenali suaranya. Seorang anak kecil berseragam playgroup menampakkan diri dan berlari kencang ke arahnya. Itu Aldi, anak empat tahun buah hati ia dan istrinya. Dibelakang anaknya, tampak mbak Minah berjalan santai dan membawakan tas anaknya. Bayu sontak berdiri, menyeka air mata dengan punggung dan jari tangganya, lalu membungkuk, dan membuka tangan menyambut Aldi. Tangkapannya berhasil,
“Wah.. jagoan ayah sudah siap ke sekolah nih!, udah makan belum?”, sambil kemudian meletakkan Aldi di sisi kiri tubuhnya dan menyangga Adi dengan tangan kiri yang dilipat sejajar dengan dada.
“Udah Yah.. tadi mbak Minah udah nyuapin bubur kok”, jawab Aldi polos sambil melirik mbak Minah yang berdiri menyandar di tembok.

Bayu tersenyum simpul, lalu bertanya “Lhoh, lalu Aldi kok nggak langsung berangkat, nanti bisa terlambat lho..”

“Nggak papa Yah, Aldi kan mau lihat dedek dulu. Ibu guru di sekolah juga nggak pernah marah sama Dito yang sering terlambat kok Yah” jawab Aldi polos.

“Lalu, sekarang dedek sama ibu dimana Yah?”.

“Ehm….”, ia berpikir cepat-cepat, tetapi belum ia mengucapkan apapun Aldi dengan cepatnya menimpali pertanyaan lagi.

“Kok mata ayah merah sih, habis nangis ya Yah?”

“Enggak nak, ini sih karena Ayah kurang tidur aja. Kan pagi-pagi sekali, Ayah mengantar Ibu kemari. Mau ajak Aldi sih, tapi kasihan entar Aldi ketiduran di sekolahnya. Ehm… Ibu sih sekarang masih istirahat nak, mendingan kita lihat dedek dulu yuk.., gimana? setuju?”,

“Setuju Yah, dimana?”

“Oke-oke.. ayo kita segera kesana, tapi Aldi jalan ya.. duuh berat banget nih ayah nggendongnya, habis sarapan sih!”, lalu menurunkan Aldi yang seketika itu langsung tertawa cekikikan. Bayu menuntun anaknya ke ruang khusus untuk bayi prematur tak jauh dari ruang bedah istrinya tadi. Minah yang polos masih belum curiga apa yang terjadi, ia hanya mengikuti mereka selangkah demi selangkah.

Jalan menuju ruang inkubator berkanopi hijau, bersandingkan halaman luas yang sedang disapu oleh para petugas. Sang surya pun sudah mulai terlihat, tampak begitu cemerlang, setelah sebelumnya kehadirannya terganggu oleh bangunan depan rumah sakit. Burung-burung pun terdengar bersemangat bercericit dari pohon-pohon cemara di tepi kanopi. Begitu juga suara mobil dan motor, mulai terdengar bising melewati jalan raya di arah timur mengantarkan siapa saja yang akan menjalankan aktifitasnya pagi itu. Sementara itu, Aldi masih tersenyum lebar dan bernyanyi-nyanyi kegirangan, digandeng oleh Ayahnya yang hatinya campur aduk. Ia sedih, begitu sedih. Namun, ia juga bersyukur dititipi anak lagi oleh sang pencipta, yang kali ini perempuan. Dalam hati ia berdoa, “Ya Allah, hamba hanyalah manusia biasa, Engkau tahu itu. Mengapa begitu cepat aku bersamanya. Namun, terimakasih ya Allah, engkau selamatkan anakku dari rahim ibunya. Beri hamba kekuatan menjalani cobaan dan amanah ini. Amin”.

Sesaat kemudian, sampai di pertigaan jalan, ia menengok ke kiri. Tak jauh dari pertigaan itu, tampak seorang laki-laki yang sedang menampar perempuan yang wajahnya tak asing bagi Bayu. Sepertinya itu adalah Dokter Ani, Dokter yang menangani persalinan istrinya semalam. Bayu melambatkan langkahnya, sambil mencoba mengetahui apa yang terjadi. Ia urungkan untuk ikut campur ketika hatinya pun sedang kacau balau. Beruntung, Aldi yang ia gandeng di sebelah kanan masih asyik bernyanyi, tak memperhatikan peristiwa itu.

“Dasar wanita mandul!”, teriak lelaki berpakaian necis itu. “Aku ini anak tunggal, kau tentu tahu aku harus punya keturunan untuk mewarisi perusahaan. Aku nggak tahan dengan desakan mama dan papa”

“Siapa sih yang ingin mandul, aku juga tak ingin ini semua, kamu ngerti dikit dong!”, sang wanita membantah sambil memegang pipinya yang memerah.

“Ahhhh… banyak omong, besok aku ceraikan kau!”, teriak lelaki kurus itu setelah membuang wajahnya ke arah pertigaan. Pandangannya sejenak bertemu dengan Bayu. Maka, Bayu pun mengalihkan kembali mata dan kepalanya ke arah depan.

Perasaan Bayu semakin tenang. Ia berpikir saat itu juga, menyadari bahwa manusia lawan jenisnya ternyata selalu berada dalam masa sulit. Ketika mandul pasti dikambinghitamkan dan ketika akan melahirkan mau takmau berhadapan dengan dua kemungkinan, hidup atau mati. Spontan, ia kembali berbisik, “Alhamdulillah”, bersyukur atas sepasang buah hati putra dan putri

Langkah Bayu semakin tegap. Aldi yang tadi hanya digandeng, kini sudah berada dalam gendongannya. Marni pun terheran-heran atas perubahan sikap ini, tetapi malu bertanya. Dalam benak Bayu, ia akan berusaha menghadapi ini semua dengan menjadi Bayu yang biasanya, sabar dan tangguh. Ia merasa Allah mungkin lebih sayang pada istrinya daripada ia sendiri, maka Allah memanggil istrinya dini hari tadi. Kini ia diamanahi dua anak, putra dan putri, dalam hati ia berjanji untuk mendidik dan merawat mereka dengan sebaik-baiknya meski tanpa ibu. Ia pun memutar otak untuk memberikan penjelasan pada Aldi atas musibah yang terjadi. Tiba-tiba sampailah ia di depan ruangan yang dituju. Aldi yang sudah tidak sabar diangkatnya hingga mampu melihat dari jendela kaca.

“Nah.. itu Di. Lihat nak, itu dedekmu”.

“Alhamdulillah. Kok ditinggal di dalam situ Yah.. kan kasihan..”, air muka Aldi berubah dari senang menjadi hampir merengek.

Bayu pun hanya bisa tersenyum lebar, begitupun Marni.

***

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Orang yang terbunuh fi sabilillah adalah syahid, orang yang mati karena penyakit perut adalah syahid, orang yang mati tenggelam adalah syahid, wanita yang mati karena melahirkan adalah syahid dan orang yang mati karena wabah kolera adalah syahid.”

15/04/12

Fitnah terkini..

Tahu nggak..

Apa bedanya umat di era dulu dengan sekarang?

Mungkin jawabannya adalah
FITNAHNYA..

Mari lihat hiburannya
Nggak bisa dipungkiri, jaman dulu tentu juga belum ada facebook, tweeter, skype, YM, Gtalk dsb
Apalagi mall, tempat hiburan, studio, pub, cafe, dan teman-temannya
Adanya cuma alat musik pukul dan boneka-bonekaan sederhana


Fasilitas pun sama,
Jangankan televisi, lampu pun belum ada
Apalagi komputer, laptop, kamera, handycam, atau internet


Profesinya pun berbeda,
di seluruh kitab sirah, kita bisa menyimpulkan,
bahwa profesi saat itu tidak jauh-jauh dari petani, peternak, pedagang, hakim, pejabat negara (khalifah), dsb
sedangkan sekarang, begitu banyak profesi berkembang, ada PNS, pilot, artis, penyanyi, pesepakbola, sopir, dsb

Lalu, transportasinya gimana?

Dulu, adanya kuda atau unta
Sekarang ada motor, mobil, kapal, ataupun pesawat
jarak bukan lagi hambatan, yang dulu berbulan-bulan sekarang hanya dalam hitungan jam

Modern memang,
Canggih memang,
tapi bagai pedang, siap menghunus siapapun yang tak waspada,
mambantai orang-orang yang terlena dimanjakannya

Lihat saja,
Umat-umat dahulu ingatannya luar biasa..
Seorang periwayat hadits bisa mengingat ratusan hingga ribuan hadits
Seorang ulama yang pesakitan di balik penjara bisa menghasilkan kitab tafsir yang menegakkan agama
Anak-anak kecil pun sudah hafal Quran di luar kepala.
Bahkan selemah-lemahnya iman disana adalah mengkhatamkan Quran tiga hari sekali

Sedangkan kita, umat sekarang
mengaku sibuk pada pekerjaan, hingga lupa akan kewajiban
padahal sehari 24 jam, dan lebih dari 30%nya hanya untuk mencari hiburan atau nongkrong di jejaring sosial
mengaku jalan ke masjid jauh, padahal untuk ke warung pun ditempuh
mengaku kurang waktu untuk mengaji, menghapal Quran, atau mengikuti kajian, tetapi siap kapanpun jika ada teman ngajakin muter-muter di dalam mall, atau nonton film terbaru di layar lebar

Begitulah yang terjadi,
Aku bukan munafik, itu semua terjadi pada diriku sendiri
memang kuakui, semakin modern, kita begitu mudah menjauh dari-Nya
Namun, ternyata..
di atas bumi yang sama dengan kemajuan yang sama
masih ada orang-orang yang serius menggeluti wawasan keislamannya
masih ada sekelompok orang mempertaruhkan harta dan jiwanya untuk kejayaan agama
masih ada anak-anak yang gemar mengaji, menghafal, dan memahami Al Quran
dan seharusnya kita tidak heran, ketika kita tanya ke mereka,
"Sering nggak nonton TV?"
"Sering nggak ke bioskop?"
"Pernah nggak ke mall?"
"Punya akun facebook nggak?"
jawaban mereka adalah "Nggak"




***
Cukuplah keimanan seseorang apabila ia meninggalkan 
apa-apa yang tidak berguna bagi dirinya..

Seandainya saja..

Seandainya saja, Ia berhenti mencurahkan rahmat-Nya, mungkin aku sudah sekarat, mampus, tak bernyawa..
Seandainya saja, Ia menurunkan azab-Nya saat ini juga, sungguh aku akan hancur, hilang, pecah berkeping-keping..
Seandainya saja, aku tak pernah mendapat hidayah-Nya, pasti aku sudah menjadi sampah, terombang-ambing dalam lautan kenistaan yang tanpa batas..

Apalah aku ini, hanya setitik di hamparan jagad raya
Apalah aku ini, yang tak berdaya dibandingkan kuasa-Nya
Alhamdulillah, hanya itu yang bisa kuucapkan
Ketika nafas, indera, hati, dan pikiran masih beraksi sebagaimana mestinya

Seandainya saja, idealisme itu tidak ada, mungkin yang pantas memakan daging badan ini hanyalah neraka..
Seandainya saja, hati nurani ini sudah begitu kotor, tentu maksiat akan menjadi kebutuhan bukan pilihan..
Seandainya saja, aib menjadi bukan sebuah rahasia karena-Nya, maka malu akan membayangiku sepanjang usia..

Dunia, mengapa engkau begitu mempesona
Harta, tahta, dan wanita selalu saja menyilaukan mata,
Kenikmatan yang nyata padahal hanya sementara,
Hingga ku dilupakan akan tujuan yang sebenarnya..
Astaga..

Maka,
Kembali ku mengenang
Sosok garang tetapi berhati tenang
Amirul Mukminin yang begitu zuhud karena bimbang
Apakah selamat di hari akhir mendatang
dengan mudahnya kalimat itu berkumandang
"Seandainya ibuku tak melahirkan diriku
"Seandainya saja, aku adalah sebuah tongkat kayu"
Pertanda begitu hebatnya ketakutan yang bergelora dalam dada
Mengingat usia akan dipertanggungjawabkan pada waktunya

Ya Allah,
Ampuni hamba, yang sering lalai dan berdosa
Ampuni hamba, yang sering terlena pada nikmat dunia
Ampuni hamba, yang sering menganggap Engkau tidak akan murka
ketika hamba mengingkarimu dengan nyata
Ampuni hamba Ya Rabb..
Ampuni hamba..

08/04/12

Lagu cengeng kok dinyanyiin..

Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa untuk selamanya
Namaku cinta ketika kita bersama
Berbagi rasa sepanjang usia
Hingga tiba saatnya aku pun melihat
Cintaku yang khianat, cintaku berkhianat ooh
Menepi menepilah menjauh
Semua yang terjadi di antara kita ooh
Aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu

(aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan) dalam luka dalam
Aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu
Aku tanpamu butiran debu, aku tanpamu butiran debu

_____


tahu lagu itu?? kenal yang nyanyiin?
jujur aja.. aku ngerasa kasihan, lihat cowok gagah tegap menyanyikan lagu secengeng ini..
suaranya bagus, bagus banget malah..
tapi dia pantas menyanyikan lagu yang lebih hidup, lebih bersemangat, lebih hebat

beberapa motivator sudah mengajarkan agar kita menjauhi mengucapkan kata-kata yang melemahkan, karena pesan dalam kata-kata itu akan masuk juga ke pikiran bawah sadar kita,
maka ujung-ujungnya justru malah melemahkan kita..
bagi yang muslim pun pasti tahu, bahwa kata-kata bisa jadi doa,
kita ngomongnya begitu terus, artinya itu yang kita minta
(kalau ada salah tolong koreksi)

aku sendiri lebih suka lagu yang bersemangat,
apalagi aku cowok, sorry lah, kalau bermelow hanya gara-gara ditinggal cewek.. wkwkwk
Kalau memang harus menyanyikan karena suatu hal, (misal pas karaokean) aku akan berusaha tidak menghayatinya..
karena sejak aku mulai tahu hal ini, aku akan berusaha berhati-hati mengelola pikiran..
kita sedih atau marah, kan sebenarnya bukan karena peristiwanya, tapi karena kita membolehkan pikiran bertindak begitu..

sedikit joke dari seorang motivator:
“Coba lihat yang terjadi dengan Maya, habis nyanyiin Lelaki Buaya Darat!”
“Coba lihat yang terjadi dengan KD, dia begitu menjiwai saat menyanyi Menghitung Hari!”

Percaya gak percaya,
tergantung anda, hehe…
ini hanya opini, no offense :)

Minta sumbangan apa minta hape??


Secara tergesa-gesa Bams berjalan bersama temannya, mereka bergerak menuju pintu keluar perumahan elite di dekat kosannya. Namun, cerahnya hari itu ternyata belum mampu memuluskan langkah mereka menemui sang pencuri. Keheningan masih terasa di kompleks, tapi bukan di hati Bams.
Peristiwa hilangnya ponsel itu terjadi begitu cepatnya, dalam hitungan detik. Sesaat sebelum ponsel digondol maling itu, ia asyik membaca buku di kamarnya, kamar sebelah kiri pertama dari sebuah kos-kosan. Kamar sebelahnya atau sebelah kiri kedua penuh hiruk pikuk teman kosannya yang sedang bercanda sambil menonton dorama (drama Jepang).

“Mbang ini hapenya, trims ya..”, kata Fatqur, penghuni kamar pertama sebelah kanan sambil meletakkan hape itu di meja depan Bams. Ia sempat meminjam barang jadul itu untuk meminta sms.
“Oke qur”, Bams hanya mengiyakan tanpa melihat langsung hape diletakkan. Sekali lagi, ia begitu asyik dengan bacaannya, meski ia menghadap meja itu. Ia hanya sadar bahwa teman kosnya sudah masuk ke kamarnya dan meletakkan sesuatu di hadapannya.

Sedang asyik membaca, ia terusik dengan suara kaset sholawat diputar dari sebuah speaker, ditebaknya kira-kira cuma tiga rumah dari kosnya itu. Meski ia muslim, tapi kali itu ia langsung ilfeel, “Ah, pasti orang yang suka minta sumbangan”, hati kotornya bersuara. Memang bukan kali ini ia mendengar suara yang sama, hampir setiap hari dua orang berkopyah, berbaju koko, dan salah satunya membawa speaker kecil berkeliling di sekitar kosnya, dan selalu menghampiri kosnya juga. Sebagai penghuni kamar pertama, ia begitu sering menjawab salam dan menyambut para peminta sumbangan dan sedekah, sering ia beri seadanya, sering juga ia menolak. Entah setan apa yang membuatnya tak berdaya saat itu, hingga ia memutuskan untuk menolak dengan cara halus. Ia bergegas pindah ke kamar sebelah yang sedang ramai dan memutuskan akan menjawab salam dengan pelan-pelan. Langsung saja buku ia letakkan di meja, lalu ‘bersembunyi’ di kamar sebelah yang tak mungkin terlihat oleh orang tak diundang itu.

“Assalamualaykum...”, suara yang hampir tiap hari ia dengar menyapa
“Walaykumsalam....”, Bams menunaikan kewajibannya, tetapi dengan sangat lirih, hampir tak bersuara
Dua kali salam diucapkan, dua kali pula Bams menjawab dengan volume suara yang sama, sementara  ia pun tak tahu apakah tiga temannya melakukan hal yang sama atau tidak, yang jelas kegaduhan tadi seperti hilang tak berbekas.

Cuma sekitar dua menit ia berada di kamar temannya, mendengar tak ada salam lagi yang harus dijawab, Bams langsung keluar dari tempat ngumpul sekosan itu, untuk kembali ke dunianya. Namun, ia langsung teringat benda mungil yang tadi dipinjam temannya. “Qur..qur.. kamu tahu hapeku?”. “Lho.. kan tadi dah kutaruh dimejamu toh.., bukannya tadi kamu juga sadar dan menjawab”. jawab Fatqur hampir tidak yakin. “Iya sih, tapi tadi aku lagi mbaca buku, gak lihat hapenya”. “Barangkali kamu lupa naruh kali..”, Fatqur mengingatkan sambil ikut membantu mencari seisi kamar Bams. 

Saat Bams dan Fatqur sedang kebingungan mencari hape, seorang wanita yang biasa mencuci dan menyetrika pakaian beberapa anak kos menuju lantai dua, mereka tahu kedatangannya. “Bentar.. aku tanya mbak Marni aja ya, barangkali dia tahu apakah ada orang yang masuk ke kamarku”, “Oke deh.., aku juga heran masak bisa hilang toh”, Fatqur menyetujui..

Sejurus kemudian, Bams sudah sampai di lantai dua dan melihat mbak Marni sedang menyetrika di ujung lorong. “Mbak..mbak, pas tadi mau kesini, mbak lihat ada orang yang keluar dari dalam rumah nggak?”, tanya Bams sedikit terburu-buru. “Iya mas, ada”. “Siapa mbak?”, “Itu lho yang pakai kopyah dan baju koko yang biasa minta sumbangan”. “Aduh!!, hapeku dicuri mbak” air muka Bams turut berubah seketika menunjukkan rasa sedih dan gelisah. “Aduh mas, saya kira tadi ada yang ngasih di dalam, jadi gak tahu apa-apa!”, mbak Marni seolah merasa bersalah.

Penghuni lantai dua yang mendengar Bams ribut-ribut dan mengaduh langsung bertanya kepadanya tentang apa yang terjadi. Buru-buru lelaki dua puluh tahun yang baru kehilangan beserta teman-temannya langsung bergegas menuju lantai dasar dan mengajak seisi penghuni kos berpencar mencari si pelaku. Namun penipu itu sudah hilang ditelan bumi.

Mereka kembali ke kosan dengan muka lesu, terutama Bams. Ia tak menyangka, gara-gara enggan menerima tamu ia menjadi korban. Saat itu memang kamarnya terbuka jendela dan pintunya, hampir terlihat seisi kamar dari pintu masuk kos. Ia dan seluruh temannya juga yakin, bahwa dua pria peminta sumbangan itu penipu. Salah satunya membawa salon kecil yang menyenandungkan lagu-lagu sholawat, satunya lagi yang mendatangi pintu ke pintu sambil mengulurkan sebuah surat sumbangan yang meragukan, hanya selembar dan dimasukkan di plastik kecil tebal transparan. Namun, kali itu ia tak habis pikir, bahwa suara speaker yang hilang tiba-tiba ketika salam selesai diucapkan, ternyata menyiratkan mereka sedang melakukan aksi dosa. Menipu orang dan menipu Tuhannya.

Beberapa hari selanjutnya mereka datang ke sekitar kos lagi, seperti biasa, seolah tak ada yang terjadi. Namun bedanya, saat itu dan selanjutnya tak sekalipun mampir ke kos kami seperti hari-hari yang lalu. Karena tidak ada barang bukti, Bams dan kawan-kawannya tak punya nyali menanyai mereka tentang hilangnya hape itu. Kejadian itu, membuat Bams sedikit berhati-hati dalam memberikan sumbangan.

Gara-gara sunat-sunatan, tiga nyawa melayang


Anda pasti kenal khitan, atau oleh masyarakat Jawa disebut Sunat. Ritual yang merupakan salah satu Sunnah Rasul ini biasanya dilaksanakan di Tempat Praktik Dokter atau Ahli Khitan. Prosesi khitan digunakan untuk menghilangkan kulit yang menutupi ujung kemaluan anak laki-laki, agar menghindarkan dirinya dari najis yang menyebabkan tidak sahnya sholat dan menjauhkan diri dari kuman penyakit. Biasanya ketika khitan sedang dilaksanakan, pasien tidak merasakan apa-apa karena sebelumnya sudah diberi suntikan mati rasa. Rasa sakit ringan baru muncul ketika lewat hari pertama dimana efek biusnya sudah hilang. Namun tidak sampai menyebabkan kematian.

Namun di suatu daerah di Jepara, saya pernah mendapatkan kabar burung bahwa ada anak kecil yang meninggal karena sunat. Bukan hanya dia yang jadi korban, tetapi juga kedua adiknya.
Ceritanya seperti di bawah ini, saya tambah dengan percakapan agar anda lebih nyaman membaca,
Suatu hari, ada dua orang kakak beradik yang berumur sekitar 7-10 tahun sedang bermain di suatu tempat. Saat itu mereka membawa gunting yang cukup tajam. Bicaralah sang adik pada kakaknya (dalam bahasa Jawa) “Kak, main sunat-sunatan yuk!!”. Sang kakak yang belum pernah tahu rasanya disunat langsung mengiyakan, “Ayuk!”. Saat itu tidak ada orang yang melihat mereka. Karena mereka masih anak-anak, dan tidak ada orang disekitar, maka mulailah sang kakak membuka pakaian bawahnya. Sejurus kemudian, si adik yang bertindak sebagai dokter sunat gadungan langsung memotong kemaluan kakaknya. Karena tidak pernah menjadi dokter dan dianggap hanya sebagai permainan yang dipotong bukan hanya kulitnya, tetapi badan kemaluannya. Maka mengucurlah darah keluar dengan derasnya, dan sang kakak menjerit sekencang-kencangnya. “Aduuuhhhh!!!”

Mendengar teriakan anak kecil, ada beberapa orang yang datang ke TKP. Si adik masih terpaku melihat kakaknya, sementara muncul danau kecil di pelupuk matanya. Tak mau disalahkan oleh orang-orang yang datang, si adik langsung melarikan diri. Usaha orang-orang untuk menyelamatkan sang kakak tidak menemui hasil, malaikat maut datang tepat waktu dalam melaksanakan tugasnya.

Orang-orang tak tinggal diam, langsung dikabarkanlah berita menggemparkan ini pada ibunya yang berada di rumah, “Hey!!, itu lho anakmu habis main sunat-sunatan, si anu motong burung si anu!”. Seketika itu, Ibu mereka yang sering terkejut, langsung bergegas mengejar anaknya yang melarikan diri. Tanpa ia sadari, saat itu juga ia melepaskan bayinya yang masih kecil dalam sebuah ember mandi bayi. Tadinya si ibu memang sedang memandikan bayi tersebut. Tak ayal, ajal juga menjemput bayi yang terendam di air itu.
Tanpa menyadari apa yang ia lakukan barusan, si ibu yang panik langsung mencari dan mengejar anaknya yang pernah menjadi dokter khitan itu. Kesana kemari ia mencari tak jua ketemu. Hingga dikabarkan bahwa sang anak yang melarikan diri itu telah tertabrak motor di jalan raya dekat kampungnya. Tragis..

Catatan:
Cerita di atas hanya kabar burung, kebenarannya belum dapat dipastikan. Cerita yang kuperoleh tidak selengkap itu, maka aku menambahinya pada tulisan ini. Semoga ada hikmah dan bermanfaat.

Ternyata bukan hanya di kota..


Sontak aku begitu kaget mendengarnya. Nggak habis pikir bahwa kejadian itu ternyata juga ada di sekitarku. Seorang perempuan kecil dan yatim yang terakhir mengenyam pendidikan di madrasah aliyah itu ternyata sudah berbadan dua, dan faktanya ia belum pernah menikah. Aku tak tahu apakah pemicu kehamilan itu adalah perbuatan yang disengaja atau perkosaan. Meski tak jelas mana yang benar, berita itu begitu mudah menyebar di kampungku, maklum ini desa bukan kota. 

Ia tetanggaku, jarak rumahku dengan rumahnya hanya enam meteran. Ibunya sudah dtinggal pergi oleh Ayahnya lebih dari lima tahun yang lalu. Untuk mencukupi kebutuhan anaknya, sang Ibu rela pulang pergi ke Kecamatan sebelah, menggunakan sisa tenaga mudanya untuk mengabdi menjadi pembantu rumah tangga. Saudaranya ada banyak, tapi sebagian besar sudah berumah tangga dan sudah tidak serumah lagi dengannya. Pun mereka semua sudah bekerja, hanya tinggal si bungsu itu yang sekuat tenaga disekolahkan oleh ibu dan kakaknya.

Sungguh tak bijak jika aku langsung suuzon menuduhnya berzina, toh aku hanya mendengar kabar tersebut dari ibu waktu aku menikmati jeda kerja di kampung halaman. Namun, saat itu aku memilih untuk merombak pemikiranku sendiri, memperbaiki informasi yang salah dan terlanjur membentuk paradigma. Perzinahan, pergaulan bebas, dan sejenisnya ternyata bukan hanya terjadi di kota-kota besar yang selama ini kuyakini, tapi juga sudah mulai menyebar ke desa-desa dan kecamatan. Namun, aku masih tidak yakin jika peristiwa itu dan segala pemicunya terjadi di rumahnya, di desaku. Karena meskipun ini masih desa, tetapi jarak rumah per rumah di sini sudah cukup dekat, norma-norma masih kuat dijaga, dan kepedulian masyarakat pada lingkungannya juga begitu besar. Satu-satunya yang memungkinkan adalah, pergaulan bebas itu terjadi di lingkungan ia belajar.

Lingkungan pendidikan, menurut saya mempunyai andil begitu besar dalam mempengaruhi perkembangan kepribadian dan karakter seseorang. Kalau boleh dibilang, inilah lingkungan paling berpengaruh kedua setelah keluarga. Di tempat itu, ia bertemu banyak teman seumuran, dengan karakter bawaan masing-masing. Orangtua sudah tidak mungkin lagi menjangkau apa-apa yang dilakukan anaknya di sana, sementara guru-guru sebagai orangtua kedua pun tak mungkin mampu mengawasi seluruh anak didiknya, bahkan tak sedikit yang tak mau ambil pusing mengurusi mereka. Maka, meskipun ia berasal dari desa kecil dan secara alamiah membawa aturan-aturan dalam nuraninya, tak menjamin ia selamat dari malapetaka yang membawanya menuju kehancuran. Bukan rahasia lagi, bukan hanya pergaulan bebas yang marak terjadi di sekolah, narkoba, kekerasan, pelecehan seksual, dan perjudian juga begitu mudahnya menjangkiti remaja-remaja yang menghuninya. Ditambah arus informasi kini begitu mudah diakses lewat berbagai media, memungkinkan kelabilan para remaja itu digiring kearah yang jauh lebih buruk dari yang dikira.

Akhirnya yang tersisa hanyalah pertahanan anak itu sendiri, sebab setiap pribadi memiliki tanggungjawab penuh atas dirinya, apakah berbuat atau tidak berbuat. Ia punya hak penuh menentukan informasi yang ia serap, apakah itu menguntungkan atau justru membahayakan. Ia pun mempunyai kesadaran dalam memilih teman bergaul dan menjalin persahabatan. Modal awal untuk mampu mengambil kebijakan itu semua adalah norma-norma yang tertanam di alam bawah sadarnya sejak ia kecil sampai sekarang, dan untuk hal ini keluargalah yang paling bertanggungjawab.

Semoga Allah menyelamatkan kita dan keluarga kita dari api neraka.