10/11/10

Sutomo 10.11.45

bung Tomo 10 November 1945
Tanpa bermaksud mengecilkan peran dari pahlawan-pahlawan bangsa yang ikut andil dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia, kali ini saya menampilkan orasi Bung Tomo 10 November 1945, kata-kata yang keluar dari mulut pribadi kurus nan sederhana itu telah mampu menyulut semangat ratusan arek-arek Surabaya kala itu demi mempertahankan kemerdekaan bangsa ini dari Inggris dan pemboncengnya (Belanda), saya pun merasakan kedahsyatan semangat yang dikorbankannya, meski saya tidak bersamanya kala itu, semoga anda pun merasakannya..

Berikut pidato Bung Tomo pada Peristiwa 10 November 1945

Bismillahirrahmanirrahim… Merdeka!!!Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia, terutama, saudara-saudara penduduk kota SurabayaKita semuanya telah mengetahui bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua. Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan, menyerahkan senjata-senjata yang kita rebut dari tentara jepang.Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.Mereka telah minta supaya kita semua datang kepada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda menyerah kepada mereka.

Saudara-saudara, didalam pertempuran-pertempuran yang lampau, kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku, pemuda-pemuda yang berasal dari Sulawesi, pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali, pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan, pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera, pemuda Aceh, pemuda Tapanuli & seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini,
didalam pasukan-pasukan mereka masing-masing dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung, telah menunyukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol, telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu, saudara-saudara Dengan mendatangkan presiden & pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini, maka kita tunduk untuk menghentikan pertempuran. Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri, dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara, kita semuanya, kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini akan menerima tantangan tentara Inggris ini. Dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia, ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini Dengarkanlah ini hai tentara Inggris, ini jawaban rakyat Surabaya ini jawaban pemuda Indonesia kepada kau sekalian

Hai tentara Inggris!, kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih takluk kepadamu, menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu, kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang kita rampas dari jepang untuk diserahkan kepadamu

Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekalian akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan seluruh kekuatan yang ada, Tetapi inilah jawaban kita: Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih menjadi merah & putih, maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga!
Saudara-saudara rakyat Surabaya, siaplah keadaan genting tetapi saya peringatkan sekali lagi, jangan mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka. Dan untuk kita, saudara-saudara, lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka. Semboyan kita tetap: MERDEKA atau MATI.
Dan kita yakin, saudara-saudara, pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita sebab Allah selalu berada di pihak yang benar percayalah saudara-saudara, Tuhan akan melindungi kita sekalian
Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…

*****
Lalu siapa sebenarnya Bung Tomo itu? Dari beberapa referensi yang saya dapatkan, beliau bernama Sutomo, lahir pada 3 Oktober 1920 di Surabaya. Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Ciptowijoyo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerya sebagai polisi di kotapraya, dan pernah pula menyadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menyadi distributor lokal untuk perusahaan mesin yahit Singer. Ibunya berdarah campuran Yawa Tengah, Sunda, dan Madura. Dari bimbingan kedua orang tua inilah kepribadian Bung Tomo yang tegas dan penuh semangat terbentuk

Semasa Muda
Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerya keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekeryaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.
Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menyadi terkenal ketika berhasil menyadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Yepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Peryuangan
Sutomo pernah menyadi seorang yurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan seyumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menyadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Yepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu, keyadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam seyarah Indonesia.

Setelah kemerdekaan
Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat teryun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Sukarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.
Padahal, berbagai yabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menyabat Menteri Negara Urusan Bekas Peyuang Bersenyata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo yuga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.
Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehinga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penyara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.
Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam seyarah peryuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.
Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Makkah, ketika sedang menunaikan ibadah hayi. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para yemaah hayi yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, yenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

Gelar Pahlawan Nasional
Gelar pahlawan nasional akhirnya diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Yakarta.

*****
Dengan semangat Hari Pahlawan 10 November 2010 ini, mari kita lanjutkan perjuangan Bung Tomo dan segenap pahlawan bangsa, jangan biarkan bangsa ini semakin terpuruk tergilas roda zaman, tergerus moral-moral bangsanya dari waktu ke waktu, termakan hartanya oleh tikus-tikus tak bertanggung jawab, terbelenggu pemudanya dari sikap pasrah dan menyerah dengan keadaan, terpicu oleh ego yang mengendap di kepala mereka, dan akhirnya tertinggal beribu-ribu mil dari dahsyatnya kemajuan bangsa tetangga.
Semoga Allah membalas jasa-jasa mereka, dan kita mampu melaksanakan tanggungjawab itu. Amin

*untuk lebih merasakan efek orasi tersebut, unduhlah video orasi bung tomo dari situs-situs kesayanganmu*

Paradigma -> Tindakan

Pernahkah kita berpikir bagaimana suatu hal membuat kita bereaksi terhadapnya? Terkadang kita juga sadar bahwa reaksi kita berbeda dengan reaksi orang lain terhadap hal yang sama. Kemudian pada suatu saat kita bereaksi lain pada hal tersebut seiring dengan bertambahnya informasi yang kita terima. Reaksi kita, apakah itu positif atau negatif inilah yang sering menjadi standar ukur “kebijaksanaan” kita dalam menyikapi sesuatu. Saya tidak akan mengajak anda berpikir keras, saya hanya ingin berbicara mengenai sebuah kata nan fenomenal, kata yang sungguh akan berpengaruh besar pada saya, anda, dan sekitar kita. Kata itu adalah “Paradigma”. Mari kita simak sebuah ilustrasi berikut:
***
Suasana cukup sepi. Kereta api bawah tanah itu cukup padat oleh orang-orang yang baru pulang kerja. Namun tiba-tiba, suara hening terganggu oleh ulah dua orang bocah kecil berumur sekitar 3 dan 5 tahun yang berlarian kesana kemari. Mereka berdua mulai mengganggu penumpang lain. Yang kecil mulai menarik-narik koran yang sedang dibaca oleh seorang penumpang, kadang merebut pena ataupun buku penumpang yang lain. Si kakak sengaja berlari dan menabrak kaki beberapa penumpang yang berdiri menggantung karena penuhnya gerbong itu.
Beberapa penumpang mulai terganggu oleh ulah kedua bocah nakal itu, dan beberapa orang mulai menegur bapak dari kedua anak tersebut.
"Pak, tolong dong anaknya dijaga!" pinta salah seorang penumpang. Bapak kedua anak itu memanggil dan menenangkannya.
Suasana kembali hening, dan kedua anak itu duduk diam. Tak lama kemudian, keduanya mulai bertingkah seperti semula, bahkan semakin nakal. Apabila sekali diusilin masih diam saja, kedua anak itu makin berani. Bahkan ada yang korannya sedang dibaca, langsung saja ditarik dan dibawa lari. Bila si empunya koran tidak bereaksi, koran itu mulai dirobek-robek dan diinjak-injak.
Beberapa penumpang mulai menegur sang ayah lagi dengan nada mulai kesal. Mereka benar-benar merasa terganggu, apalagi suasana pulang kerja, mereka masih sangat lelah. Sang ayah memanggil kembali kedua anaknya, dan keduanya mulai diam lagi.
Tapi hal itu tidak berlangsung lama. Si anak mulai membuat ulah yang semakin membuat para penumpang di gerbong bawah tanah itu mulai marah. Beberapa penumpang mulai memarahi sang ayah dan membentak. "Pak, bisa mendidik anak tidak sich!" kata seorang penumpang dengan geram. "Dari tadi anaknya mengganggu semua orang disini, tapi bapak koq diam saja". Sang ayah bangkit dari duduknya, menghampiri kedua anaknya yang masih mungil, menenangkannya, dan dengan sangat sopan berdiri dan berkata kepada para penumpang yang ada di gerbong itu. "Bapak-bapak dan ibu-ibu semua, mohon maaf atas kelakuan kedua anak saya ini. Tidak biasanya mereka berdua bertingkah nakal seperti saat ini. Tadi pagi, kedua anak saya ini baru saja ditinggal oleh ibu mereka yang sangat mereka cintai. Ibu kedua anak saya ini meninggal karena penyakit Leukimia yang dideritanya". Bapak itu diam sejenak, dan sambil mengelus kepala kedua anaknya meneruskan ceritanya. "Mungkin karena kejadian yang menimpa ibu mereka berdua itu begitu mendadak, membuat kedua anak saya ini belum bisa menerima kenyataan dan agak sedikit shock karenanya. Sekali lagi saya mohon maaf".

Seluruh orang didalam gerbong kereta api bawah tanah itu seketika terdiam. Mereka dengan tiba-tiba berubah total, dari memandang dengan perasaan kesal karena kenakalannya, berubah menjadi perasaan iba dan sayang.
Kedua anak itu masih tetap nakal, mengganggu seluruh penumpang yang ditemuinya. Tetapi, orang yang diganggu malah kelihatan tambah menampakkan kasih sayangnya. Ada yang memberinya coklat, bahkan ada yang menemaninya bermain.
***
Pasti anda sudah dapat menangkap maksud ilustrasi di atas. Mari kita perhatikan kondisi subway itu. penumpangnya masih sama dan kedua anak itu pun masih nakal-nakal sejak pertama kali mereka berada di subway tersebut. Namun, ada suatu perubahan drastis dalam subway tersebut yang patut kita cermati. suasana di dalam subway itu menjadi berubah 180 derajat, kenapa? karena sebuah informasi. Informasi dari sang ayah kepada penumpang bahwa anak-anak tersebut sedang mengalami musibah hingga akhirnya para penumpang menjadi sayang dan iba pada anak-anak nakal tersebut. Kita tidak dapat membayangkan hal ini dapat terjadi jika sang ayah tetap diam dengan kesedihannya. Ternyata, batas antara setuju dan menolak itu sangat tipis sekali. Dan akhirnya kita tahu, bahwa yang menyebabkan semua itu adalah perubahan Paradigma mereka.
Paradigma adalah cara pandang, pola pikir, cara berpikir, kerangka berpikir atau cara kita melihat suatu fenomena dan fakta-fakta di sekitar kita. Selain terbentuk karena informasi yang sering ditangkap indera, paradigma juga terbentuk karena beberapa hal diantaranya paradigma orang tua yang sejak kecil sudah ditanamkan orang tua pada kita, paradigma Pendidikan di sekolah, teman maupun gurunya, dan juga lingkungan sosial. Semakin lama paradigma itu tertanam pada diri kita, semakin sulit ia diubah.

Karena paradigma itu sudah ada dalam diri kita dan mempengaruhi pikiran, ucapan dan tindakan kita, maka kita akan sangat diuntungkan kalau kita memahaminya. Paham akan paradigma dan pengaruhnya akan memudahkan kita melakukan komunikasi dan membuat kerjasama dengan orang lain, karena kita akan mampu memahami orang lain, membuat pikiran kita terbuka dan kreatif. Kita tidak akan mudah menvonis seseorang bersalah total akan perilakunya, kemudian akhirnya kita bisa memilih langkah bijak untuk menyadarkannya.

Misalnya dalam hal pendidikan. Orang pedesaan lebih memilih untuk mempekerjakan anaknya sejak dini dan menganggap bahwa pendidikan tidaklah harus tinggi-tinggi, pekerjaan yang jadi jaminan hidup bukan pendidikan. Sebagai insan pembelajar tentu kita menyadari bahwa tidak sepenuhnya hal ini benar. Semua orang mempunyai kewajiban untuk menuntut ilmu dari lahir sampai akhir hayat, meski ilmu dapat diperoleh di mana-mana, tetapi ilmu yang diperoleh di bangku sekolah dan kuliah menurut saya patut diperlukan untuk mengubah wajah bangsa, jika ditunjang dengan dukungan yang positif dari berbagai pihak bukan tidak mungkin anak-anak desa bisa menciptakan sesuatu yang mampu merubah peradaban. Namun, dalam kasus ini, kita tidak bisa menyalahkan mereka secara langsung, karena sebenarnya mereka sudah mempunyai paradigma yang tertanam sangat kuat dalam kepala mereka, apalagi dengan ditambah informasi-informasi miring mengenai lulusan sarjana yang hanya menjadi penganggur. Kita bisa menyadarkan mereka secara perlahan dengan memberikan informasi dan pandangan yang baru bagi mereka. Misalnya dengan adanya sekolah-sekolah tanpa biaya dan langsung ditempatkan di instansi pemerintah. ;)

Paradigma begitu penting karena orang yang mampu menguasai paradigma orang lain akan menjadi driver mereka, dan driver akan dengan mudah mengarahkan penumpangnya kemanapun ia suka. Lihat sajalah bagaimana bangsa-bangsa tertindas selama berpuluh-puluh tahun seperti Palestina masih saja menderita karena bangsa lain telah disesatkan oleh sang penjajah, lihat saja bagaimana anak-anak bangsa dijejali dengan tontonan-tontonan negatif sarat kekejaman dan seksualitas, sesuatu yang diletakkan di tempat yang salah, dan lihat saja bagaimana buku-buku sejarah menceritakan dahsyatnya seorang Karl Marx dengan Das Capitalnya mampu mempengaruhi jutaan manusia Uni Sovyet dan beberapa pemberontak PKI dengan ideologi sosialis komunisnya.

Akhirnya, hal terpenting yang dapat kita lakukan adalah menyaring segala informasi yang lalu lalang di sekitar kita, jangan biarkan informasi sampah berkarakter menjijikkan seperti tendensius, membicarakan orang lain, sarat kebohongan, berlebihan, konfrontatif, diskriminatif, subjektif, provokatif, dan hanya menguntungkan si pembuat informasi. Mari kita bersikap bijak untuk mengambil informasi yang benar-benar kita perlukan. Otak ini hanyalah satu, jika diisi dengan sampah maka keluarnya pun jadi sampah. Namun jika kita perlakukan sebagai lebah, maka kita isi dengan kebaikan nektar bunga hasilnya pun semanis madu. Telitilah dalam mengambil informasi, lakukan kroscek dengan informasi dari sumber-sumber lain dan bijaksanalah dalam mengambil keputusan. Semoga kita bisa ikut andil dalam membentuk paradigma positif pada bangsa ini demi masa depan yang lebih baik, bagiku, bagimu, dan bagi mereka.

Jakarta, November 2010
Referensi: mmfaozi.com

04/11/10

Jakarta, dibenci dan dicintai


Sungguh tak adil melihat suatu hal hanya dari satu sisi, karena beberapa sisi yang dimilikinya menyebabkan utuhnya hal tersebut. Ketika kita melihat sekeping uang logam Lima Ratus Rupiah misalnya. Kita hanya melihat Burung Garuda di satu sisi, kita bisa saja menyimpulkan koin itu tiada artinya, tak ada manfaatnya. Namun ketika kita melihat di sisi lainnya, ternyata kita tahu bahwa koin itu bernilai Rp 500,00. Kita bisa membelanjakannya, menginfaqkannya atau hanya memenuhi celengan Semar kita. Diharapkan dengan melihat dua sisi atau sudut pandang yang berbeda, kita bisa lebih bijaksana dalam mengambil keputusan. Begitupun dalam melihat DKI Jakarta, Ibukota kita.
Dengan umur yang sudah mencapai 483 tahun di 2010 ini, Jakarta memang sudah begitu berkembang. Gedung-gedung tinggi menjulang, membuat orang mendongakkan badan sekedar untuk mencermati tingginya. Jalan-jalan bersimpangan di mana-mana, membuat orang sering tersesat jika melewatinya (termasuk saya). Taman-taman dan jalur hijau dibangun sedemikian cantiknya, meski masih sedikit tetapi mampu melengkapi keindahan kota ini. Dilihat dari segi sosialnya, perkembangan Jakarta sangat signifikan. Urbanisasi yang gila-gilaan terjadi pada kota ini. Kaum pendatang dari Jawa dan pulau-pulau lain, ikut membuat penuhnya kota ini. Apakah hanya sekedar untuk mencari ilmu, kerja, atau tak mencari apa-apa karena hanya ikut-ikutan saja. Mereka datang tak mengenal waktu, meski musim arus balik lebaran lebih mereka sukai. Rumah-rumah banyak didirikan, baik yang menurut saya cukup layak ditinggali oleh makhluk bernama homo sapiens atau hanya layak ditinggali oleh spesies lain, baik yang berada di tanah bernilai ratusan juta rupiah atau hanya di tanah tak berpenghuni bersertifikat ‘milik negara’. Mobil dan motor berseliweran di mana-mana, baik yang tercanggih sekalipun dengan standar pembuangan euro 4 yang ramah lingkungan ataupun yang sudah berumur hingga kentut-kentut terus yang membuat semakin banyak orang menutup hidungnya. Perkembangan-perkembangan dari waktu ke waktu menurut saya kadang terlalu menindas kota ini.


Jakarta dibenci dan dicintai. Begitu banyak alasan yang membuat kota ini layak dibenci. Akhir-akhir ini, entah mengapa saya pun turut membencinya, mungkin karena saya harus berkutat dengan jalanan Jakarta lebih sering setelah sebelumnya mengenyam nyamannya daerah Bintaro, Tangerang Selatan. Yap.. Alasan pertama membenci Jakarta adalah jalanannya. Menurut saya, jika jalanan Jakarta disambung memanjang seluruhnya, bisa mencapai panjang pulau Sumatera dan Jawa. Berlebihankah? Mungkin iya karena saya hanya mengira-ira. Namun, tak ada yang menyangkal bahwa jalan-jalan di Jakarta memang banyak dan rumit sekali, orang Jakarta asli pun mengamininya. Entah hanya saya saja yang sering khawatir tersesat jika menunggangi motor di Jakarta atau mungkin juga yang lainnya. Akan tetapi, silakan tanya pada para pedagang atau tukang ojek ditepi jalan-jalan dekat persimpangan, berapa banyak orang yang bertanya arah jalan pada mereka. Kemudian penyebab bencinya banyak orang pada Jakarta adalah kemacetan yang sering terjadi, jumlah jalan yang banyak tidak berbanding lurus dengan lebar jalan sedangkan kendaraan yang melaju di atasnya begitu banyaknya. Menurut salah satu sumber yang pernah saya baca, setiap harinya ada sekitar 200 sepeda motor yang terjual di Jakarta. Mobil-mobil pun juga bertambah banyak, tak bisa dipungkiri jika Indonesia masih menjadi pasar yang menjanjikan bagi produsen-produsen kendaraan bangsa Barat dan Asia Timur. Apapun merk, kualitas, maupun harganya, semuanya pasti terjual. Hartawan-hartawan yang mereguk penghasilan lebih dari rata-rata secara umum segera menentukan pilihan untuk membeli mobil pribadi, tak memandang apa efek sampingnya. Bahkan yang tidak habis pikir, mobil2 bergenre sporty, mewah, dan super cepat sekelas Ferrari, Mercy, dll juga sering saya temui. Ibarat ikan hiu ditaruh sungai, tak lagi buas tapi malah berhenti bernafas. Saya cukup salut pada Pak Sutiyoso pencetus Bus Transjakarta (baca: Busway), meski ditengah cercaan kala itu, ia konsisten untuk membangun transportasi massal yang murah meriah, sebenarnya ini solusi jika mau dimengerti, tapi mereka yang bergaji tinggi masih menutup telinga dan mata sendiri.

Banjir adalah efek samping dari banyaknya pembangunan di Jakarta. Makin banyak bangunan yang dibangun, maka makin sedikit area serapan dan makin sempitnya drainase ibukota. Contoh gampangnya adalah area di kampus. Warga Kalimongso di dekat STAN beramai-ramai membangun kost-kost baru sebagai sumber penghasilan mereka, tapi menurut saya terlalu berlebihan, ada lahan sedikit saja langsung dibuat kost, tanpa memperdulikan efek jangka panjangnya, suasana yang semakin kumuh dan banjir jadi sering menggenangi area dekat kampus STAN ini. Itu di sekitar STAN yang masih di Tangerang Selatan, bagaimana halnya di Jakarta? Sulit sekali ditemui lahan-lahan kosong yang sebenarnya bisa jadi tempat bermain bola anak-anak mereka. Sebuah efek domino, setiap terjadi banjir kemacetan akan bertambah parah, penyakit pun semakin mewabah, dan roda ekonomi pun menghadapi sinyal merah. Ya, macet dan banjir menyebabkan aktifitas perekonomian bisa lumpuh, SDMnya bisa jadi tidak lagi seproduktif dulu karena banyaknya waktu dan energi yang dihabiskan di jalan. Memang seperti inilah wajah Ibukota kita.

Masalah lain yang juga merupakan dampak dari masalah-masalah di atas adalah kebersihan dan keamanan. Di lingkungan yang padat penduduk seperti Jakarta, rumah-rumah didirikan tanpa memperhatikan standar kebersihan, setiap fajar saya sering menemui tikus-tikus besar berkeliaran menyeberang jalan kecil di perkampungan warga Jakarta dan sekitarnya, suatu yang tidak pernah saya temui di kampung saya. Air got Jakarta sudah benar-benar menghitam dan berbau busuk jika tertiup angin. Sampah-sampah pun menumpuk di mana-mana, bahkan di dekat area-area umum seperti pasar, stasiun, terminal, dan sekolah. Debu-debu dan asap-asap jalanan pun sering membuat mata memerah. Namun hal itu tampaknya diabaikan oleh kita semua yang sudah sibuk dengan urusan kita. Salah satu indikatornya adalah banyaknya para pedagang kaki lima seperti bakso, gorengan, nasi goreng, dan ayam goreng sering sekali mendirikan tempat jualan di tepi jalan, terutama pada malam hari. Meski menurut saya kurang higienis, tapi ternyata banyak juga kok yang beli. Berarti kebersihan bukan jadi prioritas lagi di sini atau standarnya memang telah terkurangi karena tak ada pilihan lagi. Saya pernah makan di warung ayam dan lele goreng dekat jalan. Awalnya biasa saja, karena perut memang sudah lapar jadi saya pesan satu porsi pecel lele. Ketika menunggu masakan disajikan, barulah saya heran luar biasa, semilirnya angin malam hari membawa partikel-partikel berbau busuk. Astaga, ternyata warung beralaskan kayu ini berdiri di atas sebuah got dimana di sisi sebelah kanan warung, got nya tidak ditutup sama sekali. Karena sudah terlanjur dibuatkan akhirnya saya tetap memakannya sambil menahan bau air got yang sudah menghitam. Pengalaman berharga tampaknya. 

Keamanan di Jakarta juga semakin mengkhawatirkan. Ketika saya dan teman-teman mencari kost pasti kami bertanya “Aman gak di sini?”, seolah mempertegas bahwa memang maling, copet, dan perampok berada di mana-mana. Di tempat-tempat umum selalu tertulis “hati-hati dengan barang bawaan anda” dan ada juga tempat penitipannya. Dari ilmu yang saya pelajari di SMA, para pelaku kejahatan itu adalah para pendatang yang belum mempunyai keahlian tetapi nekat ke Jakarta (dampak urbanisasi). 


Masalah sosial lainnya adalah banyaknya preman, gelandangan, pengemis, dan peminta sumbangan di Jakarta. Ironisnya, mereka menjadikan perbuatan rendahan itu sebagai profesi. Padahal Nabi yang membawa ajaran yang saya yakini pernah berujar bahwa harta yang didapatkan dari meminta-minta adalah haram jika sebenarnya mereka masih mampu bekerja, apapun pekerjaannya. Anak-anak mereka pun terenggut masa depannya karena sejak kecil mereka paksa untuk membantu mereka. Memang pekerjaan meminta-minta menghasilkan uang yang cukup untuk mencukupi kebutuhan mereka sehari-hari. Dari info yang pernah saya dapat, tiap hari minimal Rp 50.000 mereka dapat, bahkan jika lagi mujur misallnya hari Jumat bisa nyampe 100 ribu lebih. Bukankah jika dihemat uang sebanyak itu dalam sehari bisa untuk modal kerja kecil-kecilan misal jual sayur, etc? Ah, saya tidak punya kapabilitas jika harus menghakimi apakah mereka bersalah atau tidak berdasar norma-norma yang ada, yang jelas terkadang mereka sebenarnya tidak semiskin penampilannya di jalanan. Preman pun menjadi masalah kota ini. Mereka meminta pungutan2 dari pedangang2 kaki lima di pasar2 tradisional, ternyata pungutan liar ada di mana-mana kan, bukan hanya di birokrasi !??!?!?. Peminta sumbangan mungkin menjadi salah satu modus penipuan masa kini. Meskipun sebenarnya masih ada juga peminta sumbangan yang benar-benar sebagai duta dari masjid kampungnya untuk mencari dana, tapi jika hal semacam ini ada di Jakarta, saya sudah mulai bingung membedakan mana yang jujur mana yang hanya bohongan. Lha wong minta sumbangan kok tiap hari? Masjid atau panti asuhannya mau dibangun semegah apa sih? Jujur saja, menurut saya penipuan macam ini cukup merendahkan martabat agama saya.



Hal-hal di atas adalah beberapa hal terkait minusnya kota Jakarta yang membuat orang berpikir banyak untuk terus menetap di kota ini. Bagi anda yang melihat kota ini hanya dari televisi saya sarankan anda sekali-kali mampir di Jakarta, berkelilinglah dengan Bus Transjakarta disaat musim penghujan untuk melihat Jakarta sebenarnya. Namun, Jakarta ternyata masih menjanjikan bagi sebagian besar orang, berarti masih ada juga sisi positif yang mereka rasakan saat berada di sini. Apa saja itu?



Yang pertama, Jakarta sebagai kota metropolitan masih menjadi lahan subur bagi mereka yang ingin bekerja. Pekerjaan apapun bisa anda temui di Jakarta, baik yang bertempat di gedung-gedung mewah nan menjulang maupun di emperan-emperan jalan dan di tumpukan sampah. Tak heran jika tiap tahunnya banyak sekali kaum pendatang khususnya dari Jawa yang mengadu nasib di Jakarta. Yang bisa dipelajari dari ini mereka adalah semangat untuk bekerja sangatlah tinggi dan sikap keramahan antar mereka. Perempuan cantik bersepatu hak tinggi, laki-laki gagah berdasi nan wangi ternyata mereka hanyalah kaum pendatang yang tinggalnya di kontrakan kumuh bersatu dengan orang-orang yang tiap harinya hanya bekerja serabutan dan menjual es keliling. Mereka melakukan itu semua demi anak-anak mereka di kampung halaman. Mereka merasakan kebersamaan berjuang di tengah sulitnya hidup di ibukota. Memang beberapa di antara mereka sudah tinggal di apartemen atau rumah bernilai 1 milyar, saya pastikan bahwa itu hanyalah potret kecil dari kota metropolitan ini. Jangan ukur Jakarta hanya dari sisi itu. Keramahan juga terlihat ketika mereka bercengkerama dalam bahasa Jawa, saya menyarankan anda pulang dari Jakarta ke kampung halaman naik kereta ekonomi. Di sanalah kebersamaan muncul karena kesamaan nasib. Itulah alasan saya memilih transportasi ekonomis ini jika pulang kampung (selain karena harganya murah, hehe). Anda tidak akan merasa bosan di dalamnya jika anda mau bertutur sapa dengan orang di sekitar anda. Mungkin perasaan mereka ketika menuju kampung halaman penuh berbuncah kangen yang luar biasa, teringat anak dan keluarga mereka yang menjadi sumber motivasi utama mereka ada di sini.



Pengorbanan dan kerja keras itu akhirnya melahirkan keikhlasan dan kesederhanaan luar biasa. Pernahkah anda membayangkan anda sebagai supir atau kernet bis metromini yang melintasi jalanan protokol ibukota? Coba anda tanya apakah mereka pernah mengunjungi tempat-tempat mewah lambang hedonisme semacam mall, bioskop, plaza, taman mini, dll yang mereka lewati? Pasti sebagian besar jawabannya adalah tidak. Apakah mereka iri dengan para penumpang yang berpakaian casual keren untuk mejeng di sana? Kurasa tidak juga, pasti akan sangat makan hati jika mereka harus iri. Saya belajar banyak dari orang-orang semacam mereka.



Jakarta juga menawarkan tempat-tempat yang patut dikunjungi. TMII dengan ke-Indonesiaannya, Ragunan dengan hewan2nya, Senayan dengan Plaza Senayan dan SUGBKnya, Arena PRJ dengan diskon2nya dan lengkapnya barang yang dijual, Monas dengan pemandangan keren di bawahnya, Ancol dan Dufan dengan arena bermainnya, Pulau Seribu dengan kedamaian pantainya, dan masih banyak lagi. Bagi pencari ilmu, ada UI, UIN, Prasetia Mulya, BSM, dll yang menjanjikan gelar baik sarjana sampai doktoral yang pasti diminati banyak perusahaan (STAN di Tangerang Selatan juga menjanjikan lho..), dan bagi pencari pekerjaan berkerah putih dan biru, banyak sekali pabrik-pabrik dan kantor-kantor berjejal memenuhi Jakarta. 



Kelebihan lain dari kota ini bisa diilhat dari lengkapnya produk-produk impor dengan harga yang secara umum lebih murah dari daerah lain, hal ini terjadi karena kota ini masih menjadi pintu masuk pertama bagi para eksportir. Contoh sederhana adalah harga gadget (HP, laptop, kamera, dll). Anda bisa mendapat harga yang relatif lebih murah dari kota-kota lain di Indonesia (bisa jadi anda hanya perlu membayar 40-50%nya). Meskipun demikian jika anda membelinya bukan pada tempatnya, misalnya beli laptop, pakaian, jam tangan di plaza-plaza mewah tetap saja anda akan membeli dengan harga selangit, tapi entah kenapa ada juga orang yang melakukannya. Salah satu contoh murahnya barang di Jakarta, netbook yang saya gunakan untuk menulis artikel ini berlabel 5250K, ayah membelinya di Semarang. Dua minggu kemudian saya ke Mangga Dua, Jakarta Utara, ternyata dengan spesifikasi yang sama hanya berharga 4900K. Anda juga bisa menjumpai produk hape berbagai tipe di ITC Roxymas dari yang jadul-jadul sampai yang paling termutakhir sekalipun. Hal yang sama juga berlaku pada barang-barang yang lain, pokoknya lengkap dan murah. Pas sekali dengan slogan Jakarta yang berbunyi “Apa aja ada". Anda tak perlu khawatir ketinggalan trend, berita, atau info-info terupdate di Jakarta, jika anda mau dan mampu, semua bisa anda dapatkan.


Merasakan segala fenomena plus dan minus di Jakarta bagiku adalah suatu keharusan dan keniscayaan. Saat ini aku harus magang di Jakarta, sebagai lulusan STAN yang harus mengabdi di Kementerian Keuangan mau tidak mau aku harus menuruti organisasi kediamanku ini. Entah sampai kapan waktu magang, aku pun tak tahu. Setelah itu aku harus siap bertugas di manapun, bisa di dekat rumah, kota-kota ‘asing’ di luar Jawa, atau tetap di Jakarta. Meskipun demikian, jikalau aku harus di luar Jakarta, bagiku sebuah keniscayaan aku akan kembali ke sini. Dimanapun berada semua orang harus mengembangkan diri, jika memang aku berbuat lebih di posisiku ditempatkan nanti, niscaya aku akan dipanggil lagi ke Jakarta. Yang bisa kulakukan saat ini adalah terus mensyukuri keadaanku, apapun yang akan terjadi aku yakin bisa melewatinya dengan baik, dengan kegigihan dan semangat tempur tiada banding. Berpikir positif sedang kulatih hari demi hari, energi ini terlalu berharga untuk sekedar mengeluh dan mengumpat pada hal-hal yang tidak mungkin kita ubah. Jakarta memang layak dibenci, tapi aku memilih yang sebaliknya. Duhai Jakarta, bagaimana caranya agar aku bisa mencintaimu?

22/02/10

Kontak

Sudah baca postingan-postinganku? Sudah mengirim komentar? Hmmmm….. Thanks.
Jika ada pesan khusus yang ingin disampaikan padaku, silakan ngisi box di bawah. Sekali lagi terima kasih atas kunjungannya. Let’s get the passion!!