19/06/13

Su dua tahun jadi..


Satu-satunya cara untuk menghilangkan fikiran-fikiran negatif adalah dengan menggantinya dengan fikiran-fikiran positif – Mario Teguh – 

Alhamdulillah, tiba juga tanggal 19 Juni 2013. Tepat dua tahun sudah saya, Imam, dan Ali bermukim di Wamena. Tak penting seberapa lama kita di suatu tempat, begitu pula tak begitu penting seberapa umur kita di dunia. Yang paling penting adalah, hal baik (baca: amalan) apa yang sudah saya lakukan di sini?
Namun, mungkin kamu dan orang lain tidak setuju dengan saya, bisa jadi pertanyaan yang muncul adalah: “Kau sudah betah di Wamena Bams?”. Aha… ini tuh pertanyaan jebakan tahu nggak, pasti kalau saya jawab “Iya” kamu akan berpikir saya berniat menetap di sini. Hehehe.. Yang jelas, sejujurnya saya sudah menemukan hal-hal positif di Wamena khususnya setahun ini. Setidaknya ini bisa memberi makna tersendiri agar bisa terbiasa (baca : betah) di sini.

1.       Jualan kaos
Berawal dari fesbuk, saya berkenalan dengan seorang santri dari Kediri. Kebetulan dia yang punya saudara nyablon kaos mbaca blog saya dan mau tak mau ia tahu saya suka desain grafis. Ngobrol-ngobrol lewat chatting, akhirnya kami sepakat untuk joinan bikin kaos. Saya yang ngedesain, trus file desainnya saya email, dia terima dan dia produksi langsung dia kirim ke Wamena. Pertama kali saya cuma bikin tiga desain, masing-masingnya selusin saja. Alhamdulillah, respon target konsumen (teman-teman kantor dan satker) positif. Untungnya sih mepet, yang penting obsesi saya sejak di Jakarta tercapai (bikin kaos desain sendiri).
Namun, beberapa bulan kemudian teman santri ini ternyata makin sibuk. Dia diamanahi mengelola media cetak pesantren. Padahal saya ingin tetap eksis bikin kaos. Alhamdulillah, silaturahim emang penting. Saya pun dapat partner bisnis baru di Bandung berkat mengontak seorang teman yang dinas di sana. Jadilah kaos-kaos yang saya kasih merk NAYAKO ini mulai ngeksis di Wamena, desain makin banyak, bahan makin bagus. Satu kekurangannya adalah, dalam hal penjualan masih belum maksimal. Dua alasan klasik, waktu yang terbatas dan sewa ruko yang mahal. Mau dijual online, kayaknya orang-orang di sini belum melek cara jual beli beginian deh..

2.       Punya Twitter
Sejak Oktober 2012, sinyal internet mulai bisa muncul tandanya di hape. Sejak awal tahun 2012 saya punya android, baru pada bulan itu bisa menikmati internet di genggaman bukan di dini hari saja. Ngerasa FB terlalu lama loading, saya akhirnya coba-coba bikin twitter dan memahami cara menggunakannya. Telat banget kali ya… Hehe. Twitter yang tampilannya sederhana cocok banget untuk diakses dengan sinyal yang hanya Edge. Miris…
Twitter tuh enaknya bisa ngikutin status-status orang-orang sukses, terkenal, maupun yang bisa memberi pengaruh positif ke kita. Kalau dibilang twitter lebih privasi dari FB, kok saya pikir sebaliknya ya. Tweet kita mudah disebar (RT) oleh siapa saja. Baik itu teman, temannya teman, temannya temannya temen, dst. Eh follow me ya: @bambangisme

10/06/13

Kejutan Besar Hari Ini

Baru dua tahun saya bermukim di Wamena, tetapi baru kali ini saya rasakan 'pukulan' yang luar biasa dahsyatnya.

Ini bukan pertama kalinya saya kehilangan barang. Malam idul qurban yang lalu saya sudah kehilangan sepeda. Sepeda yang dipinjam teman lupa ia kunci kembali dan posisinya di samping kantor sehingga memudahkan pencuri mengakuisisi. Saya sudah membeli gantinya, sepeda yang jauh lebih baik -lebih mahal pula- tentunya.

Saya sebenarnya tak rutin ke masjid saat Subuh, kadang bangun terlambat, kadang tidak jadi berangkat karena hujan. Namun, dua hari ini saya berhasil bangun dan berangkat ke masjid. Waktu subuh, Senin, 10 Juni 2013 itu tak ada firasat apapun saat saya hendak pergi ke masjid. Bersama teman yang sekaligus tetangga saya, kami berdua naik motor ke masjid. Biasanya saya naik sepeda, tetapi kemarin malam sepeda bernama Margaret itu saya parkir di markas BSMI Wamena, sebagai gantinya seorang teman meminjami sepeda motor. Setelah memastikan semua pintu terkunci, motor kami gas menuju rumah Allah.

Kebetulan pula, setelah sholat Subuh, ada seorang Ustadz dari Makassar yang memberikan tausiah, kami berdua pun menyimak kajian bertemakan Faraidh (Waris) itu sampai pukul 06.00 WIT. Sampai saat itupun saya tak mendapat firasat apapun. Kemudian saya pulang dengan Margaret, setelah tukeran dengan teman saya waktu di masjid tadi.

Kejutan besar itu saya dapatkan saat saya pulang dari masjid. Melihat pintu rumah sudah menganga dan lampu depan sudah padam adalah pemandangan yang bermakna buruk. Apalagi gagang pintu tampak dijebol dengan paksa. Besinya lepas dan jatuh di lantai. Saya dorong pintu agar bisa masuk, tampak TV LED merk Samsung yang ada di ruang tamu sudah tidak ada di tempatnya. Sementara beberapa sepatupun sudah ada di dalam tas hijau di depan pintu. Saya mencoba tenang, sambil berjalan menuju kamar. Sadis.... pintu kamarpun dijebol sama persis dengan cara menjebol pintu depan. Pikiran saya lalu tertuju pada HP Samsung Galaxy Gio yang sedang di cas, Laptop ASUS Putih Intel i5 dan Netbook Acer Aspire d250 di meja, dan dompet cokelat berisi uang sekitar 500 ribu lengkap dengan dua SIM, KTP, NPWP, dua ATM, dan kartu ASKES. Semuanya trada (tidak ada). Ya Allah....

Semua harta sejatinya adalah milik-Nya, jika Ia minta suatu saat kita harus siap. Hanya bisa bersabar menjalani takdir-Nya. Beginilah Wamena, pencurian tak main-main, baik saat orangnya tidur maupun saat pergi. Baik malam maupun siang. Ini bukan pertama kali terjadi untuk pegawai KPPN, di kompleks rumah dinas. Sudah beberapa kali. Tahun ini, kami mengajukan SKPA ke Kantor Pusat agar bisa membangun pagar permanen mengelilingi rumah dinas, karena memang pagar yang ada sekarang masih belum permanen, hanya kawat berduri dan gerbang pendek yang bisa dilompati. Agar kejadian yang menimpa saya subuh tadi adalah yang terakhir kalinya menimpa kami, para pegawai KPPN Wamena.

01/06/13

Fokus di Tujuan Bukan Impian

moham11.deviantart.com
 Saat kau rasa hidup stagnan atau mundur..
tunggu dulu..
Barangkali kau tak lihat dirimu saat bercermin, tetapi orang lain.
Perhatikan baik-baik tujuan hidupmu, ukur kemajuan dari situ bukan yang lain
Sejauh mana kau mengupayakannya.
Impian itu boleh, makin besar juga bagus, tidak ada yang melarang.
Tapi jika impian itu digantikan (karena satu dan lain hal) dengan sesuatu yang lain tetapi untuk tujuan yang sama, mengapa tidak?
La haula wala quwwata illa billah..

31/05/13

10 Tahun Lebih, PNS Pusat di Pegunungan Tengah Papua Terabaikan



Pernahkah anda membayangkan jika harga premium tiba-tiba menjadi Rp 20.000 per liter? atau ketika harga beras kualitas bagus Rp 18.000 per kilo? atau barangkali pernahkah anda membeli satu zak semen saja seharga Rp 475.000? saya tawarkan anda untuk berkunjung ke Pegunungan Tengah Papua, karena di sana anda tak perlu lagi membayangkannya. Ini nyata, di daerah yang masih memakai mata uang rupiah.

Di Pegunungan Tengah Papua masih ada denyut kehidupan. Kawasan yang topografinya berupa bukit-bukit berlapis ini terdiri dari beberapa kabupaten/kota, di antaranya adalah Kabupaten Jayawijaya. Jayawijaya yang beribukota di Wamena ini merupakan pintu gerbang masuknya barang dari Jayapura sebelum didistribusikan ke Kabupaten-kabupaten sebelah. Harga-harga yang telah penulis sampaikan pada paragraf sebelumnya merupakan harga terkini di Wamena, bisa kita bayangkan untuk di pintu masuk saja sudah sedemikian tingginya, bisa 2 s.d. 4 kali lipat harga di Jawa. Lalu bagaimana lagi dengan harga di kabupaten-kabupaten lainnya?

Masalah biaya hidup yang tinggi secara tidak langsung juga mempengaruhi psikologis penduduk Wamena. Ketika mereka sedang pergi –berlibur atau mudik- ke Jayapura, Makassar, atau bahkan Surabaya rasa-rasanya uang di dompet makin membesar, tak habis-habis. Kondisi yang sangat berbeda yang mereka alami selama di Wamena. Meski demikian, dari tahun ke tahun pendatang tak pernah habis. Mereka mencoba mengadu nasib dengan berbagai keahlian yang mereka miliki. Ada yang menjadi penjual bakso, jajanan anak, jam tangan, atau bahkan jasa perbaikan sol sepatu. Karena memperoleh penghasilan di Wamena dengan standar harga barang atau jasa yang sudah mahal, mereka mampu terus eksis bekerja. Lho, kan biaya produksinya juga pasti mahal kan? Betul. Namun, margin keuntungan yang bisa mereka dapatkan masih lebih tinggi daripada di tempat lain.

Lain pedagang lain PNS. Profesi yang biasa dikiaskan dengan pelayan publik ini juga banyak digeluti oleh penduduk di Wamena. PNS di Pegunungan dapat dikelompokkan menjadi PNS Pusat, yaitu yang bekerja di satker vertikal kementerian/lembaga dan PNS Daerah yang bekerja di SKPD. Gaji Induk yang diterima tiap bulan oleh kedua jenis PNS ini sama, sesuai PP tentang Gaji PNS yang ditetapkan Presiden. Beberapa PNS Pusat mendapat tunjangan tambahan karena bekerja di Kementerian/Lembaga yang telah mendapatkan remunerasi. Namun, seperti yang umum diketahui, remunerasi ini bukan bersifat lokal, tetapi merata diberikan kepada seluruh PNS dalam kementerian tersebut. PNS Daerah berbeda, meski tidak mendapatkan remunerasi, tetapi mereka mendapatkan tunjangan yang sifatnya lokal yang sering disebut dengan insentif. Insentif yang ditetapkan oleh Bupati ini tentunya sudah memperhitungkan indeks harga barang dan biaya hidup yang harus ditanggung oleh PNS tiap bulan. Yang penulis ketahui, untuk PNS Pemda Jayawijaya, golongan II dapat mengantongi insentif sebesar Rp 5.000.000,- per tiga bulan. Nilai yang sangat cukup menyejahterakan. Nilai ini bisa lebih tinggi lagi di Kabupaten lain yang lebih terpencil.

Tinggalkan kenyamanan Sumatera ‘tuk mengabdi di Papua


Bahagia itu sederhana, yaitu ketika kita bisa membantu orang yang membutuhkan dan ketika kita bisa memberi harapan kepada orang yang putus asa.

“Adek.. yang pinter ya biar besok gede jadi dok..ter!”, itulah doa sekaligus penyemangat para ibu pada anaknya agar rajin belajar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa profesi Dokter memiliki gengsi dan martabat yang tinggi di masyarakat kita. Banyak alasan dibalik itu, mulai dari biaya kuliah yang selangit, setelan jas putih yang rapi lengkap dengan stetoskopnya, tempat bekerja yang terhormat dan status mereka sebagai figur penyelamat. Selain itu, dokter juga selama ini dikenal berpenghasilan besar dan menjadi magnet bagi mereka yang baru lulus SMA. Sebagian besar dari kita juga dengan mudah mengambil kesimpulan bahwa mahalnya biaya saat berobat di rumah sakit tak lepas dari mahalnya jasa pengobatan dari sang dokter. “Kuliahnya saja mahal dan berat, ya wajarlah kalau dibayar mahal”, itulah argumen tanpa penelitian yang sering kita gunakan untuk hipotesa itu. Namun, benarkah demikian faktanya? pun apakah dokter melayani hanya demi memperkaya diri? Patutnya kita belajar lebih dulu dari seorang bermarga Nasution, sebut saja Tio (bukan nama sebenarnya), salah satu dokter muda yang sudah setahun lebih mengabdi di Wamena, Papua. Kisah hidupnya seakan mampu menjungkirbalikkan mindset kita selama ini.

Dokter Tio merupakan jebolan Universitas Andalas tahun 2004. Dari kehidupannya yang selama ini nyaman di Padang dan Sumatera Utara, Ia dengan sadar memilih sendiri datang ke Pegunungan Tengah Papua untuk menjadi PTT (Pegawai Tidak Tetap) di salah satu Puskesmas di Kabupaten Yahukimo. Menariknya lagi, mengabdi di daerah terpencil Papua sudah menjadi keinginannya sejak dulu. Bersama teman seangkatannya, mereka bukan semata ingin menjadi dokter di daerah terpencil, tetapi juga ingin memberi ‘sesuatu’ yang lebih bagi masyarakat bila perlu termasuk mengajar anak-anak. Pilihan ini mungkin tidak masuk akal bagi kita, karena para dokter tidak lagi berkewajiban menjalani ‘magang’ sebagai PTT, apalagi sampai harus meninggalkan kampung halaman dan memilih Papua.

Pria gempal yang sebelumnya pernah berkeinginan kuliah di Teknik Nuklir UGM ini bersama kedua orang temannya dr. Rizka dan dr. Nina menjadi tenaga kesehatan di Puskesmas Distrik Kurima, Yahukimo selama satu tahun sejak Maret 2012. Tidak adanya listrik, sinyal seluler, dan susahnya mendapatkan air selama di tempat tugas menjadi pengalaman yang tidak terlupakan bagi mereka bertiga. Tempat tugas pun sederhana, hanya terbuat dari papan kayu bukan dinding tebal ber-AC ataupun berlantaikan keramik. Mereka bertiga tinggal di rumah dinas di dekat puskesmas dengan bekal makanan seadanya. Pada Jumat pagi mereka bertiga pergi ke Wamena, tinggal di rumah seorang petinggi Dinas Kesehatan Yahukimo, kemudian membeli bekal bahan makanan. Senin pagi mereka ke Kurima dan bertahan dengan bekal yang mereka bawa itu sampai Kamis.

Pengalaman berkesan? tentu ada. Dokter Tio sering melayani pasien yang datang tanpa memakai baju dan hanya berkoteka (penutup kemaluan pria khas pedalaman Papua), terpapar aroma kurang sedap, dan melayani pasien yang hanya mampu berbahasa lokal. Kesabaran dan sikap bersahabat menjadi senjata mereka selama di medan juang. Ketika pendatang bisa menerima keadaan orang-orang Papua itu apa adanya, Tio merasa sebaliknya pula mereka akan menerima pendatang sebagai bagian dari keluarga mereka. Menumbuhkan rasa saling percaya antara pasien dan dokter menjadi perhatian bagi Tio dkk, agar kata-kata mereka didengar oleh pasien yang notabenenya belum sadar hidup sehat. Seringpula, saat tiba waktunya melaksanakan Posyandu di pos-pos yang lebih terpencil lagi, Tio dkk harus berjalan kaki selama tiga atau lima jam dengan medan bukit. Ini sudah pilihan Tio dkk, mereka menjalaninya dengan ikhlas dan ceria.

Agar tujuannya ke Papua -memberi ‘sesuatu’- tercapai, Tio juga memutuskan untuk mendirikan Bulan Sabit Merah Indonesia cabang Wamena bersama teman-temannya. Baginya, melalui lembaga kemanusiaan, akan lebih banyak kebaikan yang bisa dilakukan untuk Papua. Apalagi sebagai orang muslim, dia merasa saudara-saudara seimannya yang asli Papua masih sangat terabaikan, keadaannya sangat jauh berbeda dengan muslim pendatang. Belum lagi stigma yang sudah populer di lingkungan muslim kota Wamena - sebagian besar adalah suku pendatang- bahwa muslim pedalaman Papua itu sulit diarahkan, sulit berkembang. Stigma penuh keputusasaan itu ingin dia kikis melalui BSMI. Bantuan-bantuan sosial, pengobatan gratis, maupun penyaluran qurban dari BSMI cabang Wamena setidaknya dapat meringankan kesulitan hidup masyarakat Papua termasuk yang muslim. Pengalaman menjadi sekretaris BSMI cabang Padang saat masih kuliah membuatnya didapuk oleh musyawarah pengurus menjadi Ketua.

Setelah menikah dan masa PTT nya habis, Tio sempat kembali ke kampung halamannya di Medan. Namun, cintanya pada Wamena dan Papua membuatnya kembali terbang ke ujung timur Indonesia itu, mengabdikan diri untuk kedua kalinya dan mengembangkan BSMI Wamena yang masih seumur jagung. Sebuah keputusan yang dilematis dan penuh pengorbanan, termasuk harus berjauhan dengan istri -yang juga dokter- yang masih memiliki kontrak di sebuah RS di Padang. Tawaran bekerja di RS di Jawa dan Sumatera pun akhirnya tak dipilihnya demi tekadnya mengabdi di Papua. Pernah suatu hari ada orang bertanya tentang gajinya, percakapan berakhir dengan kalimat “Wah kalau gaji segitu mah gak perlu ke Papua, mending di Sumatera aja!”. Visi hidupnya sebagai muslim tampaknya turut berperan pula dalam pengambilan keputusan Tio ini. Sebagai orang yang besar di dunia dakwah Islam, Tio merasa perannya lebih dibutuhkan di Wamena daripada di Jawa atau Sumatera. Membantu muslim Papua berkembang dan memberikan manfaat seluas-luasnya. 

Sungguh tak mudah memutuskan lari dari keindahan duniawi sementara di saat yang sama kita masih butuh dengan dunia. Dokter juga manusia biasa yang tentu ingin periuk nasinya tetap mengepul. Tio pun demikian. Sebagai anak keenam dari delapan bersaudara, ia masih harus menanggung biaya kuliah kedua adiknya, mengirim uang setiap bulan bagi ayahnya, dan menafkahi istrinya -meski ia dokter juga. Namun, Tio sepertinya sudah merasa cukup dengan penghasilan yang sudah dan akan diperolehnya lagi di sini. Saat ini, ia bersama seorang temannya telah berhasil lolos tes penerimaan sebagai PNS Pemda Jayawijaya.

Dokter berkacamata ini memang hebat. Selain melaksanakan profesinya dan menggerakkan lembaga kemanusiaan, ia juga rajin menulis di blog pribadinya, rutin ngetwit, BBM-an dan sering upload gambar di laman fesbuknya. Tak heran jika dia juga up to date dengan informasi-informasi kekinian. Ia juga menyimak kabar saat ada teman-teman seprofesinya turun ke jalan dan berorasi di Bundaran HI dan Istana Negara Jakarta tanggal 20 Mei 2013 lalu. Ia memaklumi dan mendukung aksi itu, keadaan psikologis dan fisik dokter khususnya di Jakarta memang sedang tidak baik karena program KJS yang bagus tetapi tidak dipersiapkan dengan baik. 

Seperti yang telah diberitakan oleh media, yang mereka perjuangan bukanlah dicabutnya KJS, tetapi adalah agar kesehatan bukan lagi menjadi alat politik, saat kampanye semua kandidat ramai-ramai menjanjikan program jaminan kesehatan bagi mereka yang tidak mampu tetapi mereka lupa –atau memang tidak tahu- dengan keadaan dunia kesehatan sekarang dan konsekuensi atas implementasi program. Saat pasien membludak –yang kurang mampu juga sudah bisa ke RS- dokter, tenaga medis, seluruh karyawan, dan manajemen RS mendapat tuntutan yang lebih banyak. Hal ini belum disiapkan sebelumnya, misalkan menambah RS yang ada, menambah fasilitas atau ruangan rawat yang cukup, dsb. Namun, ketika pasien dirujuk ke rumah sakit lain –bukan ditolak- karena fasilitas di RS tidak memadai, yang disalahkan adalah dokter. Pun ketika pasien memang sudah tidak memungkinkan untuk diobati karena sudah teramat parah, dokter juga yang jadi kambing hitam. Belum lagi ketika ada beberapa kasus gagal sembuh, tudingan malpraktik dan kasus hukum menjerat mereka. Hal-hal ini juga membuat pilu hati Tio.

Ironis memang, bagaimana mungkin dokter yang biasanya hanya menerima 30-40 orang sehari bisa maksimal jika kali ini bisa mencapai 100 orang perhari. Padahal, dokter butuh berkomunikasi dua arah, butuh waktu untuk mendiagnosis penyakit pasien, dan menentukan resep yang tepat. Padahal jika dilihat dari kesejahteraan, para dokter yang sebagian besar adalah PNS mendapat penghasilan yang tidak berbeda jauh dengan mereka yang bukan dokter. Padahal, kita bisa saksikan, seringkali dokter harus menjalani piket malam hari sementara PNS lain bisa nyenyak tidur. Dokter pun memiliki resiko tinggi terpapar penyakit-penyakit menular seperti TBC, Demam Berdarah, bahkan HIV/AIDS.

Tio sangat berharap nantinya tuntutan teman-temannya yang saat itu menamai diri sebagai DIB (Dokter Indonesia Bersatu) dapat dikabulkan oleh pemerintah pusat maupun daerah, termasuk dinaikkannya anggaran kesehatan menjadi 5% dari APBN bukan 2% seperti sekarang ini. Misalnya saja di Papua, sudah ada ahli bedah, tapi peralatan dan ruangannya pun belum ada. Ada pula kisah seorang dokter gigi yang terpaksa belajar mendadak tentang kedokteran umum karena tidak adanya fasilitas penunjang di tempat ia bertugas. Menurut Presidium DIB, Agung Sapta Adi dalam tuntutannya kemarin, idealnya anggaran kesehatan adalah sebesar 5 persen dari APBN dan 10 persen dari APBD sesuai UU Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009. Pendapatan dari cukai rokok juga seharusnya dimasukkan seluruhnya dalam anggaran tersebut sebagai kompensasi dampak rokok bagi kesehatan masyarakat. Kepada masyarakat luas, Tio berpesan agar tetap mempercayai dokter. Ia mengklaim kualitas dokter kita sebenarnya tidak kalah dengan yang di luar negeri, hanya fasilitas kesehatannya saja yang memang belum mendukung.

Kisah ini seharusnya sudah cukup mengubah mindset kita, bahwa profesi dokter tidak selalu indah. Dengan segala keahlian mereka yang didapat sejak di bangku kuliah, koass, dan PTT, para dokter juga mempunyai pilihan untuk mengabdi dalam arti yang sebenarnya pada masyarakat. Pilihan ini tidak mudah, mengingat konsekuensi yang harus ditanggung. Ketika mereka sudah memutuskan untuk memilihnya, giliran pemerintah dan masyarakat yang untuk melakukan kewajibannya. Pelajaran terakhir nan berharga dari seorang Tio dapat kita ambil dari status BBM-nya, “Bahagia itu sederhana, yaitu ketika kita bisa membantu orang yang membutuhkan dan ketika kita bisa memberi harapan kepada orang yang putus asa”.

07/02/13

Bekerja juga Belajar

Akhirnya, setelah sekian lama, aku kembali ke blog ini. Sudah terlalu banyak jamur, rumah laba-laba, serangga-serangga, dan kuman bakteri tampaknya. Persis seperti rumah dinasku yang sudah seminggu kutinggalkan. ^__^ Tantangan menulis muncul dari sohib berinisial ADC nun jauh di Jakarta. Ok lah bro, demi harga diriku, dan demi menjaga silaturahim denganmu, aku isi lagi blog ini. Hehe.. Yang ingin kutulis adalah mengenai pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik setelah dua tahun lebih masuk di dunia karir. Tapi, kali ini tidak menyinggung kota Wamena ya.. kamu bisa liat itu di tulisanku yang lalu. Kali ini, seluruhnya seputar kantor, Yuk mari...
  1. Membawa Diri dan Memahami Orang Lain
Di dunia kuliah dulu, aku begitu mudah berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Toh, kita hanya bersama dia saat di kampus, toh paling-paling cuma setahun saja trus waktu naik kelas/tingkat kemungkinan untuk bertemu lagi juga sulit, toh yang dibicarakan hanya seputar keseharian kita, tentang bola, politik, budaya, acara-acara kampus, agama, dsb. Menghargai mereka begitu mudah saat itu. Kondisi berbeda kualami ketika sudah menginjak dunia kerja. Di sini ada tuntutan, ada tanggungjawab, ada kerjasama, ada komunikasi yang lebih sering, dan tentunya kita akan bersama dengan waktu yang lebih panjang. 

Sebagai pegawai -bukan entrepreneur- kita mempunyai atasan, atasan kita punya atasan, trus atasannya atasan punya atasan lagi, dst. Kita juga punya rekan bekerja, baik dalam satu bagian/seksi, maupun seksi lain, tetapi dalam satu gedung. Everybody is unique. Semua punya karakter berbeda, punya motivasi berbeda dalam bekerja, punya sense of humor berbeda, hobi yang berbeda, dan keahlian yang berbeda. Lalu, bagaimana caranya agar bisa bersatu?

Selain itu, background masing-masing orang juga berbeda, ada yang Diploma, S1. Ada yang Islam, Kristen,  Hindu, dll. Ada yang orang Jawa, Sunda, Batak, Toraja, Dani, dll. Ada yang patuh beragama, ada pula yang hidupnya hanya untuk hidup. Ada teman yang rajin, suka senyum, ramah, suka membantu, perhatian, dan enak kuajak ngobrol. Namun, ada juga yang egois, jarang keliatan di kantor (suka nglayap), bikin emosi kalau diajak bicara, gak sopan, seenaknya sendiri, dll. Lalu, apakah orang aku harus menjauh tiap bertemu orang ini?

Penyesuaian dan adaptasi itu perlu. Yang kupelajari selama ini, kita tak pernah bisa memuaskan semua orang. Bergaul dengan seseorang itu mempunyai gaya tarik menarik. Jika kita banyak mempunyai kesamaan dengannya, biasanya kita akan lebih nyaman bersamanya. Bagaimana dengan yang tidak suka? Pasti ada juga, tapi yang kita lakukan hanya bergaul seperlunya tanpa memutus silaturahim. Jikalau dia benci, bukan kewajiban kita mengubahnya menjadi senang. Minimal jika hubungan kerja kita sungguh dekat (misalnya teman seseksi atau atasan langsung), kita masih bisa ngobrol dengannya dalam urusan pekerjaan.

Setahuku juga, orang cenderung respek dengan kita ketika kita bertindak benar dalam bekerja. Apalagi jika kita punya keahlian lain yang dibutuhkan kantor. Aku menaruh simpati pada orang yang mau serius dalam bekerja, menjalankan tanggungjawabnya dengan baik, bahkan memacu diri untuk berprestasi. Salah satunya adalah rekan kerjaku saat ini. Tidak salah, ia menjadi Penyuluh Perbendaharaan.

2. Melayani Orang Lain

Dia tidak sekeyakinan denganku (dan kutahu dia aktif di gereja), tapi dia menghargaiku bahkan mengingatkanku saat datang waktu untuk beribadah (sholat-pen). Dia orang timur, tetapi cara dia berkata dan bertindak sama halus dengan wong dalem keraton Jawa. Dia bukan pelawak, tetapi tiap hari ada saja cara dia bikin orang ketawa -meski kadang garing juga, hehe- Dia berkumis, tetapi tampangnya begitu bersahabat bagi para pegawai, pun mitra kerja. Dia adalah atasanku pertama kali. Semua orang mengenalnya sebagai orang baik. Tak pernah marah dan begitu sering mengucapkan MAAF. Bahkan sebelum memerintah atau bertanya kepadaku jika aku sedang sibuk, dia juga tak lupa mengucap maaf.

Yang kupelajari dari pribadinya adalah menjadi orang yang melayani orang lain. Bekerja di Subbagian Umum, yang kita layani bukan mitra kerja (satker), tetapi teman sendiri. Kadang juga tamu dari Kanwil atau Pusat. Perilakunya yang selalu kuingat adalah jika aku sedang lembur dan pullang malam sedangkan diluar hujan, ia rela antar pulang (via mobil), aku kadang sampai menolak-nolak kalau tidak hujan mau dia antar. Namun yang paling terkesan adalah ceritaku berikut:

Suatu siang, kami menjamu rombongan Kanwil. Karena aku belum bisa menyetir, beliau langsung pasang badan ambil posisi kemudi, satu mobil menuju rumah makan. Di TKP, aku kebetulan duduk di depan pejabat Kanwil. Saat mau menyantap hidangan, pejabat itu menoleh-noleh mencari kecap. Atasanku langsung merespon dengan mengambilkan kecap di meja belakangnya. Barangkali kita berpikir, dia akan langsung menyerahkan botol kecapnya, TIDAK! dia melakukan lebih 'ekstrim'. Dengan sopan menuangkan kecap pada mangkuk pejabat itu. Pejabat yang notabene bukan atasan beliau. Sampai pejabat itu tersenyum dan mengatakan "Wah baru sekarang saya dilayani oleh seorang Kasubbag umum". memang joss!! bosku ini. Nasehat terakhir sebelum ia pindah adalah "Tidak pernah rugi menjadi orang baik" dan "Tuhan tidak tidur, pasti Dia akan memberi jalan". Makasih banyak ya pak.. sudah mengajariku suatu nilai hidup.