19/03/12

Dimarahi Bos :(


Memang sih bos gak marah beneran, gak sampai membentak-bentak atau menuding-nuding dengan telunjuk jarinya. Namun, dari raut wajahnya yang kulihat sepertinya begitu masam. Sampai-sampai aku dan teman yang bersangkutan dengan kasus ‘surat bunuh diri’ ini disidang langsung di ruangannya, ditanya-tanyai sebab dan alasan penerbitan surat itu.

Aku tahu aku memang salah. Perlu diketahui, amanah yang kuemban di kantor salah satunya adalah sebagai Supervisor, aku bertanggungjawab pada kelancaran operasional kantor dari sisi teknologi dan informasinya, aku harus memastikan semua aplikasi, database, dan hardware berjalan baik dan menunjang pencairan dana APBN, yang menjadi kegiatan sehari-hari kantorku. Nah, kasus yang sebenarnya sepele ini menjadi tanggungjawabku sepenuhnya.

Masalah bermula sejak akhir Desember 2011.Maaf kalau memakai istilah teknis. Selamat ber-Googling ria kalau penasaran. :). Pembayaran gaji PNS memang pada awal bulan. Namun, permintaan dananya harus sudah diajukan paling lambat pada tanggal 10 bulan sebelumnya. Gaji Januari untuk PNS yang bekerja di Kantor RRI Wamena dan RRI se-Indonesia saat itu masih terkatung-katung karena mereka masih belum mendapatkan DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) 2012. Maka diterbitkanlah DIPA (baca: Pagu Dana) Sementara yang hanya digunakan untuk mencairkan gaji Januari 2012. DIPA Sementara ini hanya berupa softkopi dilengkapi dengan surat pengantar resmi. Sofkopi itu aku transfer ke aplikasi agar bisa digunakan untuk mencairkan dana. Maka, PNS RRI Wamena bisa gajian deh..

Selanjutnya, pada tanggal 1 Februari terbitlah DIPA 2012 yang sudah disahkan oleh pejabat yang berwenang. Soalnya tanpa DIPA, kantor gakbisa ngapa-ngapain, yang DIPA Sementara tadi kan cuma untuk Belanja Pegawai (Gaji) doang.. Nah, DIPA baru ada, maka kutransfer lagi deh di aplikasi. Kali ini agak ada masalah, soalnya RRI pindah ‘Bapak’. Sebelumnya satker yang merupakan eks-bagian dari Kementerian Penerangan ini dimasukkan di Bagian Anggaran 999 (Bendahara Umum Negara), tetapi kali ini sudah didirikan lembaga baru untuk dia, biar bisa berdiri sejajar dengan yang lain, yaitu memakai BA 116 (Lembaga Penyiaran Publik RRI). Di aplikasi belum ada tuh, makanya kurekam dulu BA 116 ini, lalu kutransfer softkopi DIPA-nya. Selanjutnya rekaman realisasi Gaji Januari di aplikasi harus dilimpahkan ke DIPA yang baru ini, sedangkan yang lama harus dihapus. 

Pada akhir Februari, ternyata terbit lagi nih, DIPA Revisi ke-1, alias yang menjadi dasar pencairan dana selanjutnya menggantikan DIPA 1 Februari tadi. Sementara yang DIPA 1 Februari nya tadi kan sudah ada Pencairan Belanja Pegawai juga, eh sekarang di Revisi, semua Belanja Pegawainya pindah ‘rumah’, yaitu pindah program. Nah, kali ini juga harus memindahkan semua Realisasi melalui mekanisme Koreksi SPM.
Karena sudah cukup lama belum dikoreksi, aku malah kelupaan. Aku dan temanku di Front Office malah mengira bahwa pada DIPA Sementara Desember lalu, satker RRI Wamena masih memakai kode (baca: ID) satker lama, yaitu 999948. Setahu kami, koreksi SPM yang beda kode satker tidak bisa dilakukan. Hal ini seiring keterangan pada DIPA 1 Februari bahwa kode satker RRI sekarang adalah 700171. Nah, tanpa melihat SP2D yang sudah diterbitkan aku malah langsung membuat surat dengan tujuan Kantor Wilayah, Direktorat Sistem Perbendaharaan, Direktorat Pelaksanaan Anggaran, dan ke Satker RRI Wamenanya juga. Isi surat tertanggal 14 Maret 2012 itu menyatakan bahwa KPPN Wamena mengalami kendala dalam hal melakukan Koreksi SPM, artinya rekaman data transaksi Pembayaran Gaji Januari, Februari, dan Maret tidak bisa dilakukan di kantorku. Meski sudah diberi tahu oleh teman-teman Supervisor di KPPN lain, aku dan teman front office ku masih ngeyel dan keras kepala bahwa kode satker masih yang lama 999948, yang artinya Koreksi SPM tidak bisa dilakukan.

Ternyata eh ternyata, kecerobohanku untuk mengirim surat yang tentunya ditandatangani oleh Bos (baca: Kepala Kantor) berujung malapetaka. Dua hari setelahnya, aku diberi tahu teman Supervisor Nabire bahwa seharusnya sejak DIPA Sementara, RRI sudah memakai kode satker baru. Aku jadi ragu-ragu kala itu, nah... pas kucoba ngecek ke hardkopi SP2D yang sudah diterbitkan, ternyata Gaji Januari dan Februari sudah memakai kode Satker 700171, meski dengan BA 999. Artinya surat yang berisi informasi salah itu tidak seharusnya aku kirim. Karena ternyata surat itu menimbulkan polemik di Direktorat PA, yang kata bosku, sudah mau dirapatkan untuk mencari solusi. 

Bosku memang jago debat. Karena beliau sudah terlalu yakin pada kami, ketika ditelpon Dir.PA sebelumnya, beliau bersikukuh bahwa di KPPN Wamena, RRI nya beda kode satker. Maka ketika ternyata suratku salah karena kurang cermat, wajar saja beliau marah dan jengkel. Sampai-sampai beliau bilang “Ah.. kalau sudah begini, saya harus ngomong apa ke PA-nya!”

Akhirnya aku disuruh membuat Surat Ralat yang menyatakan kekeliruan dari ‘surat bunuh diri’ itu. Niatku ingin mencari solusi, tetapi malah menimbulkan masalah, padahal sebenarnya tidak ada masalah di awalnya. Aku memang merasa bersalah, aku juga sudah meminta maaf pada bos. Namun, aku harus mengambil hikmahnya, bahwa sehebat apapun manusia pasti pernah salah, jadikan itu semua sebagai pengalaman berharga sebagai bekal menapaki masa depan yang lebih baik. Akhirul Kalam “hati-hati bikin surat!”

15/03/12

Lex specialis derogat legi generali



Mengutip dari Wikipedia.com, Lex specialis derogat legi generali adalah asas penafsiran hukum yang menyatakan bahwa hukum yang bersifat khusus (lex specialis) mengesampingkan hukum yang bersifat umum (lex generalis). Contohnya, dalam pasal 18 UUD 1945, gubernur, bupati, dan wali kota harus dipilih secara demokratis. Aturan ini bersifat umum (lex generalis). Pasal yang sama juga menghormati pemerintahan daerah yang bersifat khusus (lex specialis), sehingga keistimewaan daerah yang gubernurnya tidak dipilih secara demokratis seperti Daerah Istimewa Yogyakarta tetap dipertahankan.

Kaidah yang menggunakan bahasa Belanda itu menurutku tidak hanya berlaku pada ranah hukum. Ternyata di di dunia kerja pun, orang yang mempunyai keahlian lebih spesial itu ternyata lebih diutamakan daripada yang biasa-biasa saja. Pengutamaan itu kemudian berimbas pada hasil yang ia peroleh. Contohnya, dokter bedah tentu gajinya lebih fantastis daripada dokter umum.  Dosen, yang notabenenya mengajar pendidikan tertentu penghasilannya berkali-kali lipat dari gaji seorang guru SD yang mengajar semua pendidikan dasar. Bahkan dalam hal sederhana macam pedagang kaki lima, siapa yang lebih jago dan mahir dalam memasak dan menyajikan, pasti makin banyak orang yang beli, dan penghasilan hariannya pun yang paling besar. Menurutku, semua ini menunjukkan bahwa satu ilmu saja jika kita geluti dan kembangkan akan lebih menjanjikan daripada banyak ilmu yang kita serap tetapi hanya setengah-setengah kita amalkan.

Pendidikan di Indonesia memang belum sempurna. Sejak kecil, beberapa orangtua memaksakan anaknya harus bisa menguasai semua mata pelajaran, agar ketika pembagian buku rapor, ia mendapatkan rangking satu. Dan ketika ada nilai merah di salah satu mata pelajaran, mati-matian orangtua mengkursuskannya di lembaga kursus dan mengurangi waktu bermain anak. Menurutku ini sudah salah. Setiap manusia dilahirkan di dunia tentu sudah dianugerahi kelebihan tertentu (baca: bakat) dari Sang Khalik. Kelebihan itu akan semakin terekspos dalam bentuk minatnya akan sesuatu. Logis memang, ketika sang anak sudah mengenal sesuatu dan ternyata ia sadari ia mampu melakukan lebih daripada teman-teman sebayanya, maka ia akan semakin tertarik pada yang satu itu. Bakat dan minat inilah yang harus dicari dan digali oleh sang orangtua sejak anaknya masih batita, dengan memberi dan menyediakan sarana dan prasarana penunjangnya. Hingga ketika anak sudah beranjak dewasa, orangtua pun tak perlu risau jika anak lebih tertarik pada satu ilmu daripada ilmu yang lain. Kita harus percaya, bahwa Allah yang mempunyai skenario kehidupan, sudah memberikan kita naskah untuk menjalani peran tertentu yang Ia mau. Suatu saat, anak itu akan menjadi besar dan menjadi orang hebat dalam bidang tertentu. Percayalah..

***

Tulisan ini kurang lebih terinspirasi dari diriku sendiri, bahwa ketika aku menjadi orang-orang biasa-biasa saja (medioker) ternyata aku menjadi kurang berarti. Ketika aku mau kuliah aku tak punya daya ledak yang besar untuk meminta orangtua menyetujui pilihanku ke Desain Komunikasi Visual. Ujung-ujungnya aku beralih ke STAN. Alhamdulillah disitulah aku menemukan minat dan bakatku sesungguhnya, dunia desain grafis. Ya, aku mempelajari sendiri seni ini dan semakin terasah ketika aku sudah di kampus Bintaro, melalui beragam aktifitas keorganisasian yang aku geluti di sana, satu seksi langganan, Publikasi dan Dokumentasi. Sampai sekarang, aku belum menjadi orang besar dengan minat ku ini, aku berharap bisa menggelutinya di suatu masa, Semoga...

05/03/12

Mencari kembali hakikat Kesuksesan


Kelak setelah proses kiamat tuntas, Allah memanggil orang-orang yang telah dianugerahi ilmu-Nya. Kepada mereka Allah mengajukan pertanyaan, “Apa yang sudah engkau perbuat dengan ilmu itu?”
“Saya  bangun di tengah malam untuk qiyam dan kami berjaga di waktu siang menyebarkan ilmu kepada orang-orang,” jawab golongan berilmu.

Tapi Allah berkata, “Kamu dusta!”

Kemudian para malaikat mengiyakan, “Kamu memang dusta. Kamu melakukannya hanya karena ingin disebut sebagai orang alim. Ya Allah, memang begitulah manusia menyebutnya.”

Kemudian Allah memanggil golongan yang kedua, orang-orang kaya yang menyedahkan hartanya. “Kamu telah aku beri nikmat. Apa yan telah engkau perbuat dengan segala nikmat-Ku?”
“Harta benda itu telah kami sedekahkan siang dan malam, wahai Tuhan seru sekalian alam,” jawab orang-orang kaya.

Tapi Allah berkata, “Kamu dusta!”

Kemudian para malaikat mengiyakan, “Kamu memang dusta. Kmau melakukannya hanya karena ingin pujian manusia dan dianggap dermawan oleh mereka. Ya Allah, memang begitulah manusia menyebutnya.”

Kemduian Allah memanggil manusia-manusia yang konon terbunuh saat membela dan mempertahankan agama-Nya. “Apa yang telah kamu kerjakan semasa di dunia?” tanya Allah kepada mereka.
“Hamba berjihad di jalan-Mu. Hamba pergi ke medan perang dan mati terbunuh,”kata orang-orang dari golongan ini.

Tapi Allah berkata, “Kamu dusta!”

Kemudian para malaikat mengiyakan. “Kamu memang dusta. Kamu melakukannya hanya karena ingin dipuji berani dan dianggap gagah oleh manusia. Ya Allah, memang begitulah manusia menyebutnya.”
“Wahai Abu Hurairah, mereka itulah yang mula-mula merasakan api neraka Jahanam di hari pembalasan.” tutur Rasulullah SAW.

*****

Baik-buruk, benar-salah, pantas-tidak pantas, yang menjadi ukuran perilaku manusia adalah relatif, tergantung dari standar tertentu, tapi tidak di’mata’ Allah. Dalam menjalani kehidupan singkat di dunia, manusia telah disediakan oleh-Nya aturan-aturan sekaligus pedoman untuk melangkah, untuk menentukan ukuran-ukuran perilakunya. Tak tanggung-tanggung, aturan itu disediakan Allah lengkap dengan konsekuensinya, yang sampai sekarang masih diinginkan dan ditakuti oleh manusia beriman, Surga dan Neraka.

Sama halnya dengan ukuran tersebut, sukses juga relatif bagi kita. Sebagian besar orang menganggap materi-lah yang menentukan predikat sukses disandangkan pada seseorang.  Mereka berkata bahwa sukses itu adalah ketika rumah mewah, mobil banyak, istri cantik, kerjaan oke, dandanan trendi, dan sebagainya dapat dimiliki. Sementara itu, ada juga yang beranggapan sukses itu ketika keberadaan kita di dunia diabadikan dalam layar kaca, liputan media, ataupun radio swasta. Popularitas menjadi impian mereka. Sementara itu ada yang berargumen lagi, bahwa sukses adalah proses, bukan suatu titik tertentu. Karena kualitas seseorang (humanity) dilihat dari proses ia berbuat, bukan pada ujung perbuatan itu sendiri. Maka, ketika manusia itu telah berusaha mewujudkan impiannya, sesungguhnya ia telah sukses.

Ayat-ayat dalam Al Qur’an maupun Sunnah Rasulullah mengajarkan lain. Kesuksesan manusia seharusnya dihubungkan dengan tujuan manusia diciptakan. Hanya dua tujuan dan saling berkaitan, yaitu beribadah dan menjadi khalifah, sesuai Firman-Nya “Tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” dan “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Sebagai khalifah (baca: wakil Allah), manusia ditugaskan untuk mengelola bumi sebaik-baiknya tentu sesuai dengan peran yang mampu ia jalani. Jika ia dikaruniai kecerdasan dalam berpikir matematis, mungkin ia dapat menjalani perannya sebagai khalifah dalam profesi ilmuwan, dosen ilmu eksak, perumus teknologi, dsb. Jika ia lebih dikaruniai kecerdasan hafalan, menjadi ustad, guru, hakim, menjadi pilihan yang logis. Jika ia dilahirkan dengan bakat seni yang tinggi, ia bisa menyalurkan bakatnya sebagai seorang penulis, musisi, aktor, desainer, dsb. Semua itu jika dilakukan dengan niat karena-Nya dan sesuai dengan aturan-Nya adalah sekaligus merupakan bentuk ibadah dia kepada-Nya selain ibadah-ibadah ritual setiap harinya. Maka, suatu hal yang wajar apabila segala karunia yang didapat oleh khalifah dan juga hasil yang telah diperoleh dari kesungguhan dalam menjalani perannya diakui sebagai titipan Dzat yang ia wakili, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hari pertemuan dengan-Nya. Maka, bukanlah materi ataupun popularitas yang menjadi ukuran kesuksesan, melainkan keberhasilan manusia dalam menjalankan tugas Tuhan. Dengan kata lain, keberhasilan itu baru bisa diketahui di alam akhirat, yang artinya kesuksesan hanya bisa diraih di sana, bukan di dunia.

Cita-cita “masuk surga” menjadi pilihan para remaja labil yang belum memiliki gambaran masa depan. Tidak salah memang, karena memang itulah kesuksesan sebenarnya. Bahagia bisa di dunia dan akhirat, tetapi sukses menurut saya hanya di akhirat. Hadits yang saya sampaikan di atas telah menjadi penerang bagi saya secara pribadi, bahwa keberhasilannya dalam menjalankan peran di dunia bisa jadi meledak, hilang tak berbekas, ketika yang diharapkan bukan ridha-Nya. Betapa kekayaan yang halal dan disampaikan kepada yang berhak, ilmu yang bermanfaat, maupu jiwa yang syahid belum cukup untuk meraih kesuksesan. Apalagi jika semua itu hanya untuk memuaskan syahwat? Naudzubillah. Satu hal yang ditegaskan oleh-Nya, yaitu “niat”. Maka tak ayal jika hadits “Sesungguhnya diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, .....” menjadi hadits pertama yang disusun oleh Imam Nawawi dalam kumpulan hadits Arba’in-nya. Maka tak bisa dihindari bahwa hadits inilah yang menjadi salah satu dari tiga poros Islam, mendampingi “Siapa melakukan amalan yang tak diperintahkan maka tertolak” dan “Yang halal itu jelas, dan yang haram itu pun jelas”. Subhanallah..

Maka pertanyaannya, sudah siapkah kita untuk sukses? sudahkah kita berniat tulus dalam menjalankan peran? dan yang tak kalah penting, sudahkah kita mengaplikasikan aturan-aturannya di dalamnya juga menggunakan karunia dan hasilnya agar bermanfaat bagi sesama?

Wallahualam bishshowab.

01/03/12

Desain pemerintah ala swasta

Pertama kali aku berkunjung ke situs Kementerian Desain RI yang diarsiteki oleh Wahyu Aditya (menyebut diri sebagai Mas Gembol), aku langseung demen banget. Dia mengejawantahkan arti dari keindahan dan dikaitkan dengan karakter si empunya desain. Dia juga bilang lewat situs, acara Talkshow di TV,  bahwa salah satu keinginannya adalah ia ingin mempercantik Indonesia dengan konsep-konsep desain yang segar dan cantik, merubah desain-desain yang selama ini terkesan kaku dan tidak modern. "Masak logo HUT Kemerdekaan tiap tahun kok sama terus, cuma ada angka dan ditambah bendera, nanti kalau makin tua makin ramai dong benderanya", begitulah kurang lebih yang sering ia utarakan. "Sepakat mas Gembol!!"


Sebagai desainer amatiran, aku juga ngerasa kok spanduk, banner, baliho, poster, dan segala macam atribut pemerintahan sepertinya terlalu kaku dan bikin eneg. Coba deh lihat sendiri media-media informasi itu di sekitar kamu. Monoton banget kan ya?? Gak cuma di instansi pemerintah, di BUMN pun hal ini terjadi. Spanduk-spanduk yang dipasang mereka cuma berisi tulisan, itupun kecil-kecil, dan sama sekali tidak menarik dilihat. Bukan hanya pada atribut atau media-nya, pada beberapa logo instansi pemerintah pun sepertinya dibuat tanpa perhitungan ataupun pertimbangan matang tentang nilai artistik dan filosofisnya. Padahal saat ini sudah cukup banyak desainer logo profesional yang siap membantu mereka, pun dengan harga yang sebenarnya masih terjangkau untuk sebuah logo yang bertahan sampai bertahun-tahun. Toh, dengan logo yang indah dan modern, media-media informasi yang menarik dan atraktif, tentunya akan mampu mencitrakan image positif pada instansi itu sendiri. Kesan kaku dan tidak ramah sudah saatnya ditinggalkan oleh para birokrat, karena saat ini yang dipercaya masyarakat adalah instansi publik yang ramah, transparan, cepat, dan merakyat.


Entah kenapa naluriku meledak-ledak kayak gini ya...
Aku sadar, sepertinya aku belum bisa berbuat banyak untuk mengaplikasikan keresahanku layaknya Mas Gembol yang sudah sangat mumpuni dengan lukisan-lukisannya di layar digital. Namun, kucoba menghapus geregetanku dengan menciptakan aneka karya desain di KPPN Wamena, seperti buku profil, spanduk, kaos, paperbag, backdrop, banner, dll. Mungkin ada orang yang suka dan juga yang tidak, karena selera orang memang tak bisa dipaksa. Namun, sejauh ini aku masih dipercaya memegang peran ini di sini, karena mayoritas pegawai  menyukainya. Coba lihat gambar di bawah ini, dalam buku profil KPPN Wamena yang telah selesai kubuat, aku berani membuat gambar para pegawai layaknya gambar-gambar cover film. Agak lucu memang... tapi mungkin karena ini baru awal-awal, dan kebetulan aku belum mahir photoshop. Setidaknya aku sudah berusaha. Hehe.. Juga ada cover depan dan belakang buku profil serta satu dari contoh backdrop yang kubuat. Semoga bisa membuat desain pemerintah menjadi seperti swasta dengan menampilkan kesan profesional, modern, ramah, dan merakyat. Cekidot


Foto para pejabat














Foto para pegawai Seksi PD

Foto para pegawai seksi Bank/Giro Pos
Foto para pegawai Seksi VERA



Foto para pegawai Subbag Umum

Foto beckdrop Penyerahan DIPA 2012
Cover depan buku Profil

Cover belakang buku Profil