13/05/12

Calon Mahasiswa STAN biasanya tak punya cita-cita?


illustrasi | berita.bdkmks.web.id
 Yang kualami sih memang seperti itu. Namun untuk memastikan kebenarannya secara massal, dibutuhkan sebuah survey dan penelitian. 

Sejak kecil, aku sudah punya cita-cita, mau jadi apa aku ketika dewasa. Pernah kuingin menjadi astronot, saat ayah bercerita tentang manusia bisa melayang di sana. Aku juga pernah berkeinginan menjadi dokter, yang bisa menolong orang lain, apalagi ketika aku menyukai sepakbola, inginku menjadi tim dokter sebuah klub besar di Eropa. Namun, yang lebih sering dipikiranku justru cita-cita yang tidak jelas dan sangat pasaran, yakni ingin berguna bagi nusa dan bangsa atau ingin masuk Surga. Maka, wajar saja ketika aku sudah berada di kelas pamungkas SMA, aku benar-benar bingung memutuskan masa depan. Melanjutkan ke perguruan tinggi sih hampir pasti terlaksana, mengingat kondisi perekonomian keluarga saat itu masih bisa diharapkan. Tapi, mau kuliah di mana? kampus mana? jurusan apa? kalau lulus entar bisa jadi apa? Berbagai pertanyaan itu membuatku yakin bahwa sebenarnya aku memilih STAN bukan karena cita-cita. 

Melanjutkan cerita di atas. Yang kulakukan kemudian adalah mendaftar PMDK, saat itu informasi yang kuterima cukup sedikit. Awal-awal di kelas tiga, ada informasi tentang TRY OUT STAN. Aku masih ingat betul, saat itu aku masuk ke kelas, ternyata di tiap meja sudah ada di atasnya sebuah brosur TRYOUT STAN yang akan diselenggarakan di Semarang. Saat itulah aku baru mengenal STAN, kubaca perlahan brosurnya dengan saksama. Langsung tergiur juga dengan keistimewaannya, biaya gratis dan langsung kerja, Wow!! Maka, kuputuskan untuk ikut TRYOUT itu. Bukan hanya aku yang tertarik, banyak temen SMA-ku yang juga penasaran. Maka kami pun mendaftar di sebuah tempat pendaftaran di kota Demak. Berapa ya harganya? sepertinya 20 atau 25 ribu rupiah. Nah, ketika sudah hari pelaksanaan, pagi harinya aku dan beberapa teman berangkat bersama di mobil ayah. Yang kubawa cuma pensil 2B dan penghapus. Kupikir panitia akan menyediakan meja di sana. Ternyata tidak. Jumlah peserta yang daftar benar-benar membludak. Tidak mungkin di sebuah GOR disediakan meja, maka akhirnya kubeli papan tatakan pada para penjual dadakan. Di dalam GOR suasananya bener-bener nggak nyaman. Masuknya saja sudah berdesak-desakan. Kondisi semakin parah saat mengerjakan. Kami cuma duduk di sebuah kursi lipat yang sering dipakai saat walimahan, tidak ada kursi bermeja seperti di kampus-kampus. Maka mengerjakannya pun aku dibuat kerepotan, harus nunduk-nunduk mengisikan jawaban. Apalagi saat itu suhu ruangan panas, hingga tetesan keringat pun membuat kertas jawaban kotor dan lecek. Eh, dua orang dibelakangku malah asyik-asyikan ngomong dan bekerja sama. Untung aku cinta damai, kalau enggak udah aku gampar!! (padahal takut berantem, ^^)

Setelah merasakan susahnya mengerjakan soal-soal di TRYOUT ecek-ecek itu, aku jadi tak yakin bisa masuk STAN. Maka kujalani tingkat tiga bagaikan air mengalir. Sampai tiba-tiba ada tawaran PMDK D3 Teknik di UNDIP, aku putuskan coba-coba daftar D3 Teknik Sipil. Namun beberapa bulan kemudian, kutahu bahwa coba-cobaku gagal. Iri juga waktu itu ngeliat temen-temen lain ada yang lolos juga. Kemudian, ketika UNES (Univ, Negeri Semarang) yang kualitas jurusan kependidikannya tidak diragukan sedang buka pendaftaran, rame-rame temen se-SMA mendaftar, bahkan sekelasku 50% lebih yang mendaftar. Busyet dah!! Aku tak punya kepikiran jadi guru, maka aku tak jadi orang latah waktu itu. Namun di dalam hati aku masih cemas, mau kemana nanti setelah lulus. Kemudian, ada juga brosur Ujian Masuk UGM diedarkan. Beberapa teman juga ikut, padahal tesnya di Jogja dan butuh modal mendaftar yang nggak main-main. Aku saat itu sungguh minder dan kuper. Nggak berani ambil keputusan ikut tes ini. Mahal men!! ke Jogja pula!! 

Setelah tes UAS dan UAN selesai, aku masih terkatung-katung. Sepertinya harus ikut UMPTN ini. Memang sih saingannya banyak. Tapi, dengan bekal sebuah buku soal, kupelajari soal-soal UMPTN jauh-jauh hari. Kemudian akhirnya pendaftaran di buka. Kubeli formulir di Ruang Bimbingan dan Konseling (BK), kutanyakan dengan jelas persyaratannya dan akhirnya ku minta dukungan orang tua. Kegalauan muncul lagi saat harus mengisi jurusan dan kampus yang ingin kutuju. Karena dari jurusan IPA, aku punya kesempatan memilih yang campuran, yaitu dua jurusan IPA dan satu jurusan IPS. Inilah keuntungan yang  dimiliki jurusan IPA. Waktu itu aku berdiskusi dengan ayah, mau ambil apa. Kelihatan butanya aku atas masa depanku sendiri. Saat itu aku tertarik ke DKV (Desain Komunikasi Visual), tapi ayah berpendapat bahwa DKV kurang berprospek. Maka dipilihkannya aku Teknik Sipil UNDIP sebagai pilihan pertama, kemudian Teknik Geologi UNDIP, dan yang IPS-nya Akuntansi UNS. Teknik Sipil menjadi pilihan karena ayahku juga seorang Sarjana Teknik Sipil dan bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, jadi minimal aku dah tahu kerjanya kayak apa. Dia bisa jadi tentorku nantinya. Kemudian Teknik Geologi karena ilmunya beda-beda tipis dengan Sipil. Kemudian Akuntansi UNS, karena kakakku sudah di sana. Kelihatan banget aku gak punya preferensi sendiri.

Mengerjakan soal UMPTN gak mudah. Aku dibekali semangat dan tips trik oleh seorang guruku SMA, namanya Waluyo Sudarmo. Pak Wal mengajari untuk mengisi yang mudah terlebih dahulu, ia juga membekali aku dengan ilmu gambling. Misalnya ketika ada soal yang pilihan jawabannya -1, 0, 1, 2, dan 3 maka jawabannya kemunginan besar adalah 1, karena angka itu dua kali muncul, dan merupakan satu dari tiga angka positif yang muncul. Gambling bisa dipakai ketika mengalami kebuntuan dalam mengisi jawaban. Malam hari sebelum tes, aku tidak bisa tidur. Baru bisa tidur sejak pukul 02.00. Bukan karena belajar, tetapi karena cemas dan gelisah. 

Hari-H akhirnya datang juga. Jam setengah lima aku sudah dibangunkan Ibu. Meski masih ngantuk-ngantuk kupaksakan untuk tetap berkonsentrasi dan terjaga. Tes diadakan di kampus Undip bawah (Pleburan). Kukerjakan Soal Bahasa Indonesia, Inggris, dan Matematika dengan susah payah, meski begitu aku masih yakin bisa benar 60%. Hari ke dua, soalnya susah banget. Banyak gambling yang kupraktikkan disini. Mungkin aku cuma dapet 30-40% saja. Udah bikin pesimis aja. Hari kedua siangnya, aku juga kesusahan menjawab IPS. Sama sekali nggak yakin. Namun, yang penting ini semua dah selesai. Aku tinggal berdoa dan tawakkal pada Allah.

Selain UMPTN, aku juga disarankan ayah daftar di Kedokteran UNISSULA. Maka kudatangi UNISSULA beberapa hari kemudian. Kutanya dan kuminta brosurnya dari seorang humasnya. Meski demikian aku nggak jadi daftar, masih ragu dengan kemampuan finansial orangtua, karena kedokteran itu luar biasa mahalnya apalagi kampus swasta. 

Pengumuman UMPTN sudah tiba. Pagi-pagi sekali aku membeli koran Kedaulatan Rakyat di kecamatan sebelah. Kutelusuri nama-nama di pengumuman yang ada di koran itu. Alhamdulillah wallahu akbar! BAMBANG SUHARTO, tertulis di situ, di sebelah nama ada kode jurusan yang lulus. Kucari referensi kode-kode itu dan ternyata adalah.... TEKNIK SIPIL UNDIP. Sujud syukur seketika kulakukan. Lalu kusampaikan kabar gembira itu pada ayah, ibu, dan kakakku. Hatiku benar-benar berbunga. Akhirnya aku tahu kemana aku akan berlabuh.

Akhirnya tibalah aku pada seminggu sebelum USM STAN. Aku hanya berbekal buku soal fotokopian. Kupelajari selembar demi selembar, lalu kurumuskan jurus-jurus dari tiap tipe soal. Hanya saja karena aku sudah lulus ke UNDIP aku tak begitu semangat. Aku hanya melaksanakan tes untuk melampiaskan seluruh potensiku. Soal-soal STAN sungguh membuatku penasaran. 

Hari USM sudah datang dan aku harus berangkat pagi-pagi, masih diantarkan oleh ayah. Sampai di gedung AKPERISSA UNISSULA sesaat sebelum waktu tes dimulai. Aku duduk dua baris dari belakang, di belakangku ada teman se-SMA, namanya Azmi. Aku kerjakan sesuai dengan kemampuanku, nothing to lose. Saat berdoa kemarin saja, aku justru mendoakan temanku yang tidak mampu. Untuk diriku sendiri aku hanya meminta yang terbaik dari-Nya. Kuasa Allah benar-benar kurasakan, setengah sampai satu jam sebelum waktu tes berakhir, kubuka lagi nomor-nomor soal yang  belum kuisi. Namun, anehnya, setiap kali kubaca, aku malah bisa mengisinya. Maka aku bisa mengisi banyak sekali soal di akhir-akhir waktu itu. Aku keluar dengan perasaan lega. TKU dan Bahasa Indonesia aku yakin bisa dapat nilai besar, hanya Bahasa Inggris yang kurang yakin. 

Singkat cerita, aku lulus USM STAN. Alhamdulillah. Sementara temenku yang kudoakan tadi tidak lulus. Meski begitu aku sudah beberapa hari kuliah di Teknik Sipil Undip. Di sinilah aku dan keluarga mulai bingung. Aku bermimpi mendapatkan undian berhadiah. Mungkin mimpi ini jawaban dari sholat istikharahku bahwa STAN adalah pilihan yang tepat. Aku sudah mengambil jatah temenku untuk lulus, maka sungguh dzolim apabila aku tidak mengambil kesempatan ini. Apalagi aku ingin mencoba merantau, jauh dari keluarga. Ibu menyetujui, tetapi Ayah tidak. Sebagai orang Sipil, tentu Ayah sangat ingin agar aku menjadi penerusnya. Namun, pendirian Ayah akhirnya luluh juga setelah beliau bertanya dan konsultasi dengan saudara-saudaranya dan teman-temannya. Selamat tinggal UNDIP, salam kenal STAN!!

Terbukti aku tidak punya cita-cita saat menjadi calon mahasiswa STAN. Tak pernah kupikirkan aku akan jadi PNS nantinya. Aku ke STAN hanya dengan pertimbangan saat itu juga. Namun, ternyata aku tidak sendirian. Banyak juga sesama Calon Mahasiswa STAN yang saat daftar ulang mengaku sudah diterima di Kedokteran UGM. Luar biasanya, dia sudah dua tahun kuliah di UGM. Agak nggak masuk di akal, melepas kesempatan dokter dan biaya yang tidak tanggung-tanggung untuk masuk ke STAN. Apa ini untuk cita-cita? kurasa tidak. Namun, meskipun aku ke STAN bukan karena cita-cita, tetapi saat ini kubersyukur atas keputusanku melepas UNDIP untuk menuju STAN waktu itu. Karena hidup memang pilihan dan apa yang kita rencanakan belum tentu menjadi kenyataan.
Kalimat terkenal di kampus dulu : "STAN bukan segalanya, tetapi segalanya bisa berawal dari STAN",
Kalimatku : "begitu juga kampus dan jurusan lain^^"

Untitled


deviantart.com

Terkadang
Aku berpikir tentang keadilan
Apakah ini adil bagiku?
Menanggung semua resiko yang tidak aku lakukan
Namun, yang kuyakini Dia Maha Adil

Terkadang
Aku berpikir tentang yang seharusnya
Apakah aku tak boleh mewujudkan impian?
Ternyata rencana-rencana harus disusun ulang
Karena kuyakin rencana-Nya yang terbaik

Terkadang
Aku berpikir tentang kasih sayang
Apakah ini yang disebut membalas budi?
Sedangkan yang kutanggung bukan kemelaratan tapi kekayaan
Namun, Allah berjanji tak menyia-nyiakan kebaikan hamba-Nya

Kemudian
Aku bingung dan termenung spontan
Dulu masih optimis melihat masa depan
Tersusun pula rencana-rencana kehidupan
Namun kini semuanya harus disesuaikan
Mengingat amanah besar yang harus diemban

Kemudian
Aku melihat jauh ke depan
Kurasakan datangnya angin perubahan
Begitu harum dan menenangkan
Kuseka kesedihan lalu berjalan tanpa beban
Menuju kesana, ke alam impian
Menjalani takdir sekarang dengan sepenuh-penuhnya iman
Meski masih juga menjaga keinginan
Karena Tuhan punya kekuasaan

Akhirnya
Hanya pada-Nya Yang Maha Rahman
Kumohon segenap pertolongan
Dalam khusyuknya doa yang kupanjatkan
Agar aku mendapat kekuatan menghadapi ujian
Agar terhindar dari iri dan kedengkian
Dan agar tetap menatap ke depan
Dengan iman dan keikhlasan

10/05/12

Nabung, tapi nggak sadar



 Alhamdulillah.. akhirnya hari ini kekurangan gaji ku cair. Kekurangan gaji? Apaan tuh? Jadi begini, aku kan udah jadi CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) terhitung mulai tanggal (TMT) 1 Desember 2010. Maka aku sudah setahun menjadi CPNS pada 2012 ini. Akupun sudah lulus Diklat Prajabatan pada September lalu. Maka, pada akhir Februari kantorku mengusulkan aku menjadi PNS ke Kantor Wilayah di Jayapura, tentunya dengan melengkapi syarat-syarat seperti surat sehat dan DP3 (Daftar Penilaian Pegawai). Oleh kepegawaian di sana, usulanku itu akan diteruskan pada Badan Kepegawaian Nasional Regional Papua di Jayapura sana. Yang akhirnya setelah diproses di sana, surat keputusan pengangkatan menjadi PNS itu bisa kuterima pada pertengahan April. Di surat tersebut aku terdaftar sebagai PNS TMT 1 Maret 2011, artinya seharusnya aku sudah mendapatkan gaji 100% (selama menjadi CPNS hanya 80%) sejak bulan Maret. Padahal, SPM (Surat Perintah Membayar) Gaji bulan Mei sudah diajukan ke KPPN yang di dalam daftar gajinya aku masih CPNS. Maka, 20% gaji ku bulan Maret, April, dan Mei belum dibayarkan oleh negara. Nah, setelah gaji Juni diajukan SPMnya di awal Mei ini (gaji pegawai negeri diajukan SPMnya paling lambat tanggal 10 bulan sebelumnya), maka kekurangan gajiku juga sudah bisa diajukan SPMnya. Akhirnya, telah dikeluarkan SP2D (Surat Perintah Pencairan Dana) atas SPM kekurangan gaji tadi, sehingga aku mendapatkan uang kas yang cukup lumayan 60% dari gajiku selama ini.

Betapa senangnya mendapat kekurangan gaji. Padahal, aku tahu bahwa itu adalah hakku selama tiga bulan lalu. Namun, rasanya seperti mendapat gaji tambahan gitu deh. Mungkin karena aku nggak terlalu nyadar bahwa secara tidak langsung aku juga menabung selama tiga bulan. Perasaan ini juga muncul ketika dulu aku mendapat rapelan gaji dan tunjangan selama lima bulan ketika masih magang di kantor pusat Jakarta. Bayangkan saja, itu adalah uang pertama yang kudapat, juga penghasilan resmi pertama sebagai pegawai negeri. Aku langsung menghubungi ayah dan ibu bahwa mereka tak perlu menanggung biaya hidupku lagi, aku sudah mandiri, dan akan balik membiayai mereka. Padahal, sebenarnya seandainya saja gaji dan tunjangan itu telah dibayarkan tiap bulan, aku tidak akan sekaget itu. Inilah namanya menabung tanpa sadar.
Aku jadi teringat sebuah hadits nabi. Ada amalan-amalan yang bisa kita lakukan di dunia yang tanpa sadar akan terus mengalir pada kita sampai hari kiamat nanti meskipun kita sudah tiada. Di akhirat nanti, ketika kita disidang di hadapan Allah Azza wa Jalla kita akan terheran-heran betapa luar biasanya amalan kita. Sampai-sampai kita terperanjat dan bertanya dari mana asalnya itu semua? Inilah keistimewaan umat Muhammad, meskipun umurnya pendek-pendek, sebenarnya amalnya yang ia lakukan dulu sewaktu hidup bisa terus mengalir sampai hari kiamat nanti. Hadits ini begitu populer, mungkin temen-temen udah tahu apa aja itu. Mari sebutkan bersama, 1) Amal jariyah, 2) Ilmu yang bermanfaat, dan 3) Doa anak yang sholeh.

Sekedar sharing yang aku pahami aja (kalau salah mohon diluruskan), bahwa amal jariyah artinya ketika kita melakukan sesuatu yang manfaatnya akan terus dirasakan oleh orang-orang sepeninggal kita. Bisa saja berupa wakaf, infaq, property bisnis, dll. Misalnya kita mewakafkan sebidang tanah untuk dibangun masjid atau madrasah, dan ketika bangunan masjid dan madrasah itu sudah berdiri dan digunakan dengan baik, maka selama masih ada orang yang bersujud di masjid itu atau membaca dan mempelajari Qur’an dan Sunnah di situ selama itu pula pahala amal masih mengalir pada kita. Meskipun kita sudah meninggal sesaat setelah peresmian masjid atau madrasah itu. Luar biasa bukan?

Yang kedua adalah ilmu yang bermanfaat. Ketika seorang kiai, alim ulama, ustad, guru, atau kita-kita orang biasa menyampaikan ilmu yang kita punya pada orang lain, maka bisa jadi ada pahala yang mengalir ke kita. Syaratnya adalah, apabila ilmu tersebut diamalkan oleh murid atau orang yang kita ajari tadi. Sama aja dengan bisnis MLM (Multi Level Marketing), ketika kita menyampaikan ilmu bahwa sholat ke masjid itu banyak keistimewaannya dan orang yang kita ajak pun akhirnya mau ke masjid, maka InsyaAllah pahala amal orang tersebut juga akan mengalir ke kita tanpa mengurangi pahalanya dia sendiri. Luar biasa bukan?
Yang terakhir, adalah doa anak yang sholeh. Setiap dari kita pasti punya orang tua. Entah dia masih hidup maupun sudah wafat. Sebagai anak yang berbakti, sikap kita adalah selalu mendoakan mereka. Karena doa kita inilah yang akan menjadi penolong bagi orangtua di hari kiamat nanti. Terlebih lagi, jika kita menjadi hafidz Qur’an, bukan hanya penolong, tetapi kita akan memberikan mahkota bagi mereka di sana nanti. Terus doakan mereka. InsyaAllah jika kita berbakti padanya, maka anak kita pun akan berbakti dan mendoakan kita. Luar biasa bukan?

Nah, seperti itulah yang ingin aku share kali ini. Intinya, menabung tanpa sadar itu bener-bener memikat. Tahu-tahu dapet durian runtuh aja, tahu-tahu selamat dari api neraka. Amin.

07/05/12

Yang Selalu Terulang tiap Jumat


Tahu nggak, ada beberapa hal yang selalu terulang tiap Jumat. Kita kan tahu sendiri, bahwa Jumat itu hari yang paling bagus dalam seminggu buat umat muslim. Banyak keutamaan-keutamaan dari mulai terbenamnya matahari (malam Jumat) sampai terbenam lagi (malam Sabtu). Kalian bisa searching kalo lupa. ^^. Namun, selama ini pola hidup kita kok nggak cucok dengan Sunnah Rasul ya.. ada beberapa hal yang kurang tepat, tetapi selalu kita ulangi tiap hari Jumat. Apa aja? cekidot!

1)    Lupa motong kuku
Nah, kan udah pada tahu tuh bahwa memotong kuku di hari Jumat itu Sunnah, tetapi kebanyakan dari kita malah kelupaan motong kuku. Pas hari yang lain mungkin kita nyadar bahwa kuku kita dah panjang, tapi kemudian pikir-pikir lagi, biar motongnya hari Jumat aja. Kan dapet pahala Sunnah.. Tapi, pas hari Jumatnya, eh.. malah kelupaan deh. Yang ini mungkin cuma saya aja sih, hehe..

2)    Nggak make baju putih
Kebijakan instansi gue tuh ya, kalau hari Jumat tuh pake kemeja batik dan bawahan gelap. Malah hari Senin nya yang dulunya harus make’ baju putih –sekarang udah ganti seragam-. Makanya, hampir jarang banget gue make’ baju putih pas Jumatan. Dulu pas magang di kantor pusat, aku liat ada beberapa temen yang serius mengamalkan sunnah, ia bawa baju putih dari rumah yang akan ia kenakan ketika waktu istirahat tiba. Tapi lama kelamaan, sepertinya nggak banyak lagi yang kayak gitu. Apa mungkin kebijakannya yang perlu diubah kali ye? lagian, masak batik cuma dipake hari Jumat sih, itu kan hari pendek. Kalo ingin membanggakan batik sebagai warisan budaya, kenapa nggak hari Senin sampai Kamis aja ya? Gimana pak Menteri?

3)    Terlalu menyibukkan diri dengan dunia pada hari Jumat
Pertama kali dicanangkan olahraga bersama tiap hari Jumat, sebenarnya aku agak kurang setuju. Dengan alasan untuk menjaga kebugaran pegawai dan untuk mengurangi biaya kesehatan, maka dilaksanakanlah kegiatan tersebut setiap Jumat selama satu jam. Yakin bisa satu jam? Olahraga itu ya voli, tenis meja, senam, futsal, badminton, dll. Praktiknya, ini bisa memakan waktu lebih dari sejam. Taruhlah, dua jam. Artinya kegiatan di luar tupoksi ini bisa berakhir jam 09.30. Nah, setelah itu ngapain? Pasti ada kegiatan terusannya, antara lain mandi dan sarapan. Jadi gampangnya, seharusnya udah siap kerja jam 10.30. Eits.. sejam lagi kan jam istirahat, nanggung banget ya? Emang!! Jumat itu kan Friday (baca: Freeday)^^

Namun, aktifitas itu secara tidak langsung juga menambah aktifitas di hari Jumat. Saya yang tinggal di Wamena aja nih ya.. tiap hari Ahad/Minggu hampir seluruh toko dan ruko tutup pagi hari, entah ada autran tertulis atau tidak, yang jelas dilarang buka oleh Pemda. Alasannya apa? tidak lain dan tidak bukan adalah karena hari tersebut, umat Nasrani melaksanakan ibadahnya. Lha kok, tiap hari Jumat kita malah sibuk sendiri ya? Emang sih, kita boleh beraktifitas, tapi mbok jangan terlalu banyak gitu lho.. Entar efeknya, jadi berangkat sholatnya mepet, dan tidur deh pas khutbah karena kecapekan. Hari Jumat pun gak jadi istimewa lagi deh..

4)    Molor pas khutbah
Ini nih yang paling sering-ring-ring! udah gue singgung dikit di atas, hehe. Sebenarnya sih, gue akuin, yang ini nih paling susah dicegah. Mungkin, karena kita kurang tidur malam Jumatnya, entah beribadah atau karena nonton tipi. Mungkin juga karena kecapekan beraktifitas seperti pada poin ke-3 tadi. Sepertinya emang kerjaannya syetan yang kayak gini nih. Padahal suhu udara nggak sejuk, angin juga nggak berhembus, tapi begitu banyak jamaah yang ketiduran sambil duduk. Jarang banget kan, kita ketiduran sambil duduk! Tragisnya, pas kita pulang dari Jumatan, mata dipejamkan buat tidur kok ya susah amat. Kenapa bisa gini ya? Ada yang nyalahin khotib, “Habisnya, khotibnya suaranya terlalu lembek sih, yang kenceng dong kayak sunnah Nabi”. Namun, kadang khotibnya udah berusaha artikulasinya kenceng pun, tetep aja masih molor. Haha.. Dulu semasa kuliah, salah satu temen gue tiap habis kuliah pagi, langsung buru-buru pulang. Buat ke masjid? bukan, tapi buat tidur. Dia nggak pengen pas momen khutbah, dia malah ketiduran. Katanya ini jurus ampuh biar melek pas ndengerin khutbah. Formula itu udah gue coba pas hari Jumat bertepatan dengan tanggal merah kemarin. Ampuh juga lho ternyata, nggak ngantuk sedikitpun. Haha. Selama ini gue udah keukeuh banget menjaga mata biar nggak tidur. Pake cara apa aja, bisa menggoyang-goyangkan jari-jari kaki, mengubah posisi duduk, dsb. Namun sering merem-melek juga. Ngerasa memperhatikan khutbah, tetapi maksud khutbah nggak bisa nangkep karena kesadaran putus nyambung gitu. Mungkin rahasianya sih, tidur pas malam Jumatnya harus lebih panjang kali ya.. Entah deh, ada resep lain?

5)   Khutbah yang bertele-tele
Kata Nabi, khutbah Jumat tuh nggak usah lama-lama, justru sholat Jumatnya yang harus diperlama. Sepertinya yang lebih ditekankan tuh isinya bisa dipahami jamaah dan menjadi pengingat seminggu ke depan. Khutbah juga harus dengan suara lantang dan berapi-api. Bahkan ini yang paing ditunggu sahabat kala itu. Namun, sekarang kita jarang menemukan khotib yang memegang sunnah ini. Yang lebih banyak adalah khotib-khotib yang menyampaikan khutbah seperti membaca undang-undang, kata-katanya persis kayak buku bacaan, dll. Apalagi, kadang bahasan khutbah bisa melebar kemana-mana, hingga malah bikin jamaah nggak tertarik. Memang khotib juga manusia, gue sadar itu. Namun, justru itu, seharusnya ada pendidikan menjadi khotib, baik formal maupun informal. Menurut gue sih gitu, kalo elo? 

6)   Memilih shaf paling belakang atau berada di luar masjid
Ini mau pada sholat apa ngincer sandal yak? Atau justru njagain sandal sendiri? Atau pengen liat-liat pemandangan sekitar? Heran dah.. Perasaan di dalem masih banyak yang longgar, kok milih di luar. Bukannya di luar tuh nggak bisa ndenger khutbah dengan jelas ya? Apalagi kalau ada angin, bisa lebih gampang merem. Yang di depan mimbar aja bisa tidur, apalagi yang diluar ya? Apa emang itu yang dicari? Ah, nggak masuk di akal ini mah! -___-“ 

7)   Sajadah gede-gede dibawa
Setahu gue, biasanya yang bawa sajadah pas hari Jumat adalah orang yang jarang sholat wajib berjamaah di masjid, bener nggak? Kalau yang sering ke masjid, pasti males kalo lima waktu harus bawa sajadah terus, palagi di masjid-masjid sekarang dah ada tikar selayaknya sajadah. Maka, pas gue liat, ternyata emang yang bawa sajadah pas Jumatan itu jarang atau nggak pernah terlihat di sholat lima waktunya. Trus kenapa sih bawa sajadah yang gedhe? Menurut gue sih yang kayak gitu pantesnya dipake  di rumah aja, pas ngelakuin sholat-sholat sunnah macam tahajud, hajat, istikharah, atau dhuha, biar lebih khusyuk gitu. Kalau dibawa pas Jumatan, malah jadi ngerusak barisan shaf deh. Bikin renggang gitu deh. Bagi yang punya perasaan, kadang sajadahnya diletakkan melintang biar temen sebelahnya juga bisa kebagian. Tapi yang nggak punya perasaan ya dipake sendiri deh, kanan kirinya juga males nginjek sajadahnya yang gedhe, takut disemprot! Hehe, sory kalo ada kata-kata gue yang nylekit ya.. *peace men!!

Mungkin cukup tujuh dulu deh ya, kalau ada waktu dan ide lain, mungkin bisa gue tambah. Atau ada temen yang mau nambahin. Monggo, dipersilakan.. Hehe. Kalimat penutup, semoga ibadah Jumat kita makin baik dari minggu ke minggu ya..

03/05/12

Banjir Kejutan



Senin malam, aku mendapat kejutan dari Tuhanku. Akhir-akhir ini aku memang jarang bangun malam untuk berkhalwat dengan-Nya. Alarm  hape dan jam weker yang kupasang memang masih normal, tetapi tekad dan semangat melawan kantuk dan dinginnya cuaca ternyata belum begitu kuat. Hingga ketika dua alat pembangun tersebut berbunyi, secara setengah sadar aku matikan mereka dan melanjutkan petualangan di alam mimpi. Karena ada kewajiban sholat Subuh tepat waktu berjamaah, maka belakangan ini akhirnya aku nyerah tahajud dan kuatur jam agar berbunyi tepat ketika azan Subuh berkumandang. Cara ini cukup efektif, karena ketika jam berbunyi bersamaan dengan azan, aku langsung mendengar panggilan-Nya, dan membuatku bergegas bangun saat itu juga.

Malam itu, sekitar pukul 22.00, mataku sudah terasa berat, maka kuputuskan untuk membaringkan tubuh dan memejamkan mata. Lain dari biasanya, entah mengapa ada keinginan untuk tidak mengenakan selimut, padahal hujan yang terdengar saat itu masih menandakan bahwa suhu akan semakin dingin. Setelah memastikan semua pintu terkunci, aku mengistirahatkan badanku di selembar kasur busa jumbo.
Pukul 03.00 dini hari, aku dibangunkan-Nya. Normal terjadi, ketika bangun tidur pasti langsung ingin ke belakang untuk mengeluarkan air seni yang telah ditampung semalaman. Ketika aku menginjakkan kaki di lantai, aku langsung tersentak. Basah dan dingin terasa di telapak kaki. Astaghfirullahaladzim, ternyata sebelum aku tidur, aku lupa mematikan pompa air. Beberapa saat sebelum tidur aku memang sempat menyalakan pompa dengan sebab habisnya air di bak mandi. Namun saat mau tidur itu, aku terlupa. Ini juga berkat andil suara hujan yang mampu menyaingi berisiknya suara pompa menyala.

Saluran air di kamar mandi ku memang tidak terlalu lancar. Masalah ini bahkan sudah dialami oleh penghuni rumah dinas ini sebelum aku. Meskipun demikian, sebenarnya tidak menjadi masalah berarti bagiku. Malam itu memang di luar dugaan. Karena bak sudah penuh maka airpun meluap. Mungkin karena debit air yang masuk saluran terlalu besar, jadinya air pun meluap. Terjadilah banjir lokal, yaitu di dekat pintu kamarku dan di ruang tamu. Dua ruangan ini memang lebih beberapa mili lebih rendah dari kamar mandi. Mataku sudah terjaga, pikiranpun sudah tersadar, bahkan menjadi bingung dan salah tingkah. Apa yang harus kulakukan? Setelah mematikan pompa, akhirnya kuputuskan kembali ke atas tempat tidur untuk menunggu air kamar mandi surut kembali. Lima belas menit kemudian, aku menengok kamar mandi. Menahan kencing terlalu lama tentunya tidak baik. Alhamdulillah, kulihat air di lantai kamar mandi sudah tidak menggenang lagi. 

Kamar satu lagi yang kupakai untuk menempatkan pakaian dan melaksanakan sholat munfarid memiliki posisi yang lebih tinggi dari kamar mandi. Artinya, alhamdulillah tidak ada air sedikitpun yang membasahi lantai. Maka, kuputuskan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melaksanakan ibadah malam di tempat tersebut. Masalah lantai kamar tidur dan ruang tamu basah beberapa mili meter, itu urusan ke dua puluh sembilan. Yang jelas, aku harus memanjatkan syukur terlebih dulu pada Tuhanku. Bersyukur dimudahkan untuk qiyamul lail, dan bersyukur bisa bangun pada jam 03.00 untuk mematikan pompa air. Tentunya banjirnya akan semakin parah jika aku bangun satu setengah jam kemudian. Alhamdulillah..

Disiplin Sholat, InsyaAllah Disiplin Semuanya


Sholat berjamaah melatih kedisiplinan | semuasayangislam.wordpress.com


Kebiasaan sholat berjamaah pada kelima-limanya waktu sholat memang baru kurintis saat sudah kuliah. Banyaknya teman yang bersemangat dan pemahamanku atas ilmu yang kuperoleh dari beberapa sumber kali itu membuatku tersadar untuk menjadikan sholat berjamaah di masjid menjadi kebiasaan positif. Saat memulai pertama memang beratnya bukan main. Wajar, sebelum aku di kampus, aku hanya melaksanakan sholat di masjid ketika Maghrib, sholat Jumat, dan sholat Id. Maka, godaannya waktu itu sungguh besar. Wah kalau aku ke masjid karena banyak teman entar riya. Wah kalau aku ke masjid udah makan waktu dua puluh menit, padahal kalau sendiri cuma lima menit. Begitulah bujukan-bujukan syetan yang membuat galau alias was-was. Namun, seiring berjalannya waktu, hal yang berat itu akhirnya menjadi gampang. Justru sekarang, ketika sudah terdengar panggilan adzan, rasa-rasanya ada yang mengganjal di hati jika aku tidak menggerakkan tubuhku pergi ke masjid. Itulah namanya kebiasaan. Kegiatan apapun akan terasa gampang jika kita telah terbiasa, bahkan rasanya ada yang kurang jika kebiasaan itu tidak dilaksanakan.

Masalah belum berhenti sampai disitu. Sholat berjamaah sih sholat berjamaah, di awal waktu sih di awal waktu, sholat di masjid sih memang sholat di masjid. Akan tetapi, sering masbuk tidak? sering dapat sholat Qabliyah tidak? Nah, inilah masalahnya. Terkadang aku masih kurang disiplin untuk datang tepat atau sebelum waktunya. Resikonya, sering ketinggalan beberapa rekaat dan gagal menempati shaf pertama. Padahal, aku pernah membaca bahwa makmum yang sering ketinggalan alias masbuk, banyak ruginya. Tentunya tidak sama balasan yang diberikan Allah, ketika kita tepat waktu dengan ketika kita masbuk. Ini yang masih harus aku tingkatkan. Kedisiplinan dalam beribadah.

Ngomong-ngomong tentang disiplin, kita hampir selalu ingin disiplin pada urusan-urusan dunia. Coba ingat-ingat, bagi kita yang sering nonton konser ataupun bioskop, pasti rasa-rasanya ingin selalu datang tepat waktu, begitu khawatir jika ada adegan ataupun aksi panggung yang terlewat. Bercampur malu, karena harus melewati orang-orang yang sudah dulu datang di bioskop atau konser. Sama halnya dengan ketika kita sudah ada janjian dengan teman untuk bermain futsal. Rasa-rasanya lima menit saja terlambat, bikin hati nggak enak. Lalu Bams, apa hubungannya dengan kedisiplinan sholat di atas? teman-teman pasti sudah tahu kemana alur cerita yang saya susun berakhir. Hehe

Ngomong-ngomong tentang kedisiplinan sholat berjamaah lagi yuk. Beberapa hari yang lalu aku sempat gondok oleh tingkah seorang imam. Kronologisnya begini, aku datang ke masjid untuk melaksanakan sholat zuhur beberapa menit sebelum waktu sholat dimulai. Jarak waktu antara azan dan iqamah sudah ditentukan dan ditempel pada dinding masjid. Penunjuk waktu sholat hari ini dan jam dinding pun ada. Karena tinggal dua menit lagi, maka setelah berwudhu aku urungkan niat untuk melaksanakan sunnah Qabliyah. Saat itu sudah ada orang yang sedang menjalankan sholat sunnah. Sepertinya mereka akan sudah selesai ketika waktu jeda 15 menit sudah tercapai. Namun, tiba-tiba. Sang imam datang dan tanpa merasa ditunggu langsung melaksanakan sholat sunnah juga, padahal waktunya iqamah telah tiba. Ah, tahu begini, aku sholat sunnah juga dari tadi. Imam kan pemimpin, kok nggak disiplin gitu ya..

Hikmah dari peristiwa tersebut harus kuambil. Ternyata, disiplin itu memang tidak mudah. Baik saat mendatangi acara, menunaikan kewajiban, terlebih lagi saat melaksanakan ibadah. Pemimpin pun belum tentu mampu menegakkannya dengan istiqamah. Namun, anehnya pada hal-hal dunia yang ‘asyik-asyik’ kita begitu termotivasi tepat waktu. Untuk nonton bioskop, konser, sepakbola, bermain futsal, dll. Maka, menurutku yang harus kita ubah adalah cara pandang kita dalam menyimpulkan keuntungan dan kerugian dari suatu kegiatan. Semakin benar kita memandang untung dan rugi tersebut, semakin mudahlah kita tergerak untuk disiplin. Seandainya saja kita tahu bahwa sholat berjamaah di masjid, pada awal waktu, shaf pertama, dan terutama saat sholat Shubuh itu lebih berharga dari bumi dan seisinya, lalu kita sadari betapa ruginya kita jika menyia-nyiakan pahala sebesar itu, maka seharusnya kita sangat tergerak untuk melakukannya. Namun, kita selama ini seolah menganggap hadits-hadits dibalik fiqih itu seakan-akan omong kosong dan bualan. Hingga meremehkan itu semua dan tidak merasa rugi sedikitpun ketika tidak berhasil meraihnya. Bahkan, ketika peluang itu di depan mata, misalnya setelah sebelumnya kita nonton pertandingan bola liga eropa -yang kebanyakan dimulai sejak dini hari, kita malah dengan santainya terbuai kembali dalam lelap. Innalillahi.

Semoga Allah membukakan hati-hati kita untuk menemukan ruh kita sebenarnya, untuk kembali bersemangat dalam beribadah, untuk selalu berlomba-lomba mengisi shaf terdepan dan membersamai jamaah sejak takbiratul ihram dilaksanakan, dan untuk membawa kebiasaan disiplin itu semua menjadi kesuksesan. Amin..