27/03/11

Kita masih egois

Di perempatan jalan kadang terjadi kemacetan
biasanya karena para pengendara tak menaati aturan
lampu merah pun tak dihiraukan
pandangan tetap ke depan seolah lampu itu hanya mainan
Lalu apakah dia mau disalahkan?
jika gara-gara macet itu satu jiwa di ambulans tak terselamatkan



Di persimpangan kereta pun sering terjadi
bukan sekali dua kali, tapi berkali kali, bahkan tiap hari
gara-garanya pas kereta lewat semua tidak langsung berhenti
tapi pada cari posisi, mendekat ke palang, meski tak lagi di jalur kiri
nah.. pas kereta jalan dan palang pun berdiri, kemacetan sesaat terjadi
dua jalur berhadapan persis kayak perang kerajaan Singosari lawan Kediri
Lalu adakah yang mau mengganti rugi?
jika gara-gara itu Peter Parker dipecat gara-gara telat mengantar roti?

Di jalan perumahan pun sama
beberapa rumah ada yang punya mobil dua
mobil yang baru diparkir di garasi, sedang yang tua diparkir di jalan begitu saja..
karena jarang dipakai, tiap hari si mobil tua jadi gundah gulana
gundah karena sering mendengar orang berkata
“ini mobil kok diparkir di sini, menuhin jalanan saja”
Sambil berharap bisa menyampaikan pesan itu pada si empunya

Ah..
Teryata kita masih egois
Tak pernah berpikir logis dan kritis
Agar menjadi sosok yang humanis

Ngomongin tentang kegiatan ngantri, kayaknya semua orang pada malas
Masih ingat kejadian di Pasuruan yang bikin beberapa orang tewas?
Itu lho.. pas pembagian zakat tapi gak ada yang jadi pengawas
Semua berebutan gak liat kalau ada orang lain yang sudah terlindas
Apa memang karena mereka sudah akrab dengan kata “TINDAS”?

Yang ini tambah bikin heran
Di suatu sore di halte busway Bundaran Senayan
Saat itu semua orang masih antri kepanasan
Ya… hampir sudah berdiri dua puluh menitan
Menunggu bus transjakarta abu-abu sampai di hadapan
Tak lama kemudian, datanglah sosok perempuan
Tak ikut antri, malah bikin barisan tambahan
Ingin menegur, tapi busnya kok udah keliatan
Otomatis, pas bus tiba.. kita masuknya jadi uyel-uyelan
Aduh!!! Capek deh!!! Ini bener perempuan bukan?

Ngomongin busway jadi ingat cerita dosen di suatu hari
Katanya saat di naik busway ada ibu hamil yang berdiri
Nah, sang petugas pun melihat kanan-kiri
Mencari-cari laki-laki yang duduk untuk menggantikannya berdiri
Tapi apa jawaban seorang laki2, “ah tidak bisa!, saya kan udah ngantri!”
Meski akhirnya mau berdiri, tapi hatinya kayaknya masih tertusuk duri
Tentu ibu yang hamil tadi berpikir “wah lelaki ini gak sesuai kategori!!”
Hihi..

Dari busway sekarang ke metromini
Sering kita amati
Beberapa orang menutup hidung tanda bereaksi
Saat mencium bau asap dari tempat tersembunyi
Rupa-rupanya ada seorang ahli hisap yang sedang bunuh diri
“Pokoknya kalo gue mati, elo semua juga harus mati!!”
Mungkin gitu kali ya.. suaranya dalam hati
Ah, kalo masalah silinder kecil ini, ulama pun belum BERANI

Sudah begitu lunturnyakah kepedulian kita?
Hingga selalu ingin berfoya-foya
Gak urusan kalo ada orang lain yang menderita
Tidak juga berpikir bahwa ia memakan hak sesama
Hingga persaudaraan bangsa pun hanya utopia belaka

Lalu kenapa kita sering menggerutu menyalahkan bangsa?
Yang katanya selalu ketinggalan dari negara-negara tetangga?
Sedangkan diri tak pernah member solusi
Hanya bisa membawa masalah-masalah baru tak kunjung henti
Tak sadarkah bahwa negara-negara maju itu, mengubah semuanya lewat PERILAKU?

Karena egois, koruptor melakukan korupsi
Karena egois, seorang mantan napi tak mau turun dari kursi PSSI
Karena egois, mantan ketua pemberantasan korupsi pun masuk bui
Karena egois, sipir dan pejabat LP membiarkan Gayus ke Bali

Juga karena egois, pemberitaan di media tak pernah berimbang
Karena egois pula, kerusuhan antar suporter terus berkembang
Karena egois, seorang paman tega mencabuli keponakan tersayang
Apa juga karena egois, diciptakan film Arwah Goyang Karawang?

Ah.. begitu banyak kata lima huruf itu tertulis
Mungkin saya hanya bisa melanjutkan lagi beberapa baris

Mari kita berbenah
Agar bangsa pun ikut berbenah
Hingga akhirnya cita-cita bangsa pun berujung indah
Lalu bagaimana caranya?? Terserah
Bagi saya.. cukup dengan mengamalkan nasehat Aa Gym, sang penceramah

Amalkan 3M
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari yang terkecil, dan
Mulai saat ini

Eh.. maaf ada yang ketinggalan belum tertulis
Sebenarnya apa sih arti egois?

(sudah persis gaya nulis Taufik Ismail belum??^^ - liat posting sebelumnya)

20/03/11

Tuhan Sembilan Senti

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.










Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
di lapangan hansip, bintara, perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya,
apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek orang yang berdiri, yang duduk, orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan bagi para dewa-dewa perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur,
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur, ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembang-biakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor
perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat kona 'ah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Julukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip
berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih
warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong
dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
Tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul
yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir
diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya
rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu
'alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman
Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi
belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya
jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil
yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi
lagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan
longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu
sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam
kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak
perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat
upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini

(Oleh: Taufik Ismail)

Ketika kantuk menyerang di saat tidak tepat

Fenomena ngantuk di kelas, saat rapat, saat khutbah Jumat (bagi yang muslim), ketika ada sambutan di suatu acara, dll adalah hal yang biasa kita temui. Pernahkah kita mengalaminya? Kalau saya cukup sering, hehe..

Kebiasaan mengantuk yang tidak pada tempatnya ini seharusnya dapat kita hindari, karena tentu saja ada resiko-resiko yang harus kita tanggung. Resiko minimalnya adalah kita tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh seorang narasumber di forum/kelas tersebut, padahal bisa jadi hal-hal yang disampaikan adalah hal yang seharusnya kita ketahui dan hanya di momen itu kita dapatkan, sedangkan resiko maksimalnya adalah ketika kita dipergoki mengantuk hingga terusir dari ruangan itu atau nama kita akan di blacklist oleh beliau dan mempengaruhi nilai rapor kita (jika pembicaranya adalah dosen/guru). Iwan Fals aja bisa terinspirasi dengan fenomena ini lewat lirik “wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat”, dan Presiden SBY pun pernah menegur dengan keras pada pimpinan daerah yang mengantuk saat ia berpidato, kasihan mereka yang kesorot kamera pas lagi teler hingga masuk di berita TV hari itu.. hihi..

Jika kita bertanya pada diri sendiri, mungkin ada banyak alasan yang bisa kita kemukakan sebagai alibi atau pembenaran akan kebiasaan ini, misalnya waktu istirahat yang tidak cukup karena semalam banyak nyamuk (kok gak disemprot ya…), tubuh yang kelelahan karena pagi-pagi harus olahraga keliling monas 10 kali (gempor juga nih…), makan-makanan pemicu ngantuk misalnya nasi goreng (kata temen, ini alasan dia tabu makan nasi goreng ketika pagi, haha..), suhu udara ruangan yang sejuk sepoi-sepoi (jangan-jangan emang sengaja duduk di deket AC, wahh..), gak begitu interest sama apa yang disampaikan (padahal sukanya ngegame DOTA, hmm.. sampai lupa tidur ya mas..), hingga yang terakhir dan paling sering dijadikan kambing hitam adalah pengajarnya yang kurang mampu menyampaikan dengan baik (duduk di depan, pandangan ke bawah atau ke langit, suara ngebass, gak ada interaksi, ngomong cuma sama diri sendiri, sudah merasa cukup dengan slide, dll. Yang kesindir introspeksi ya… hihi.. ^^). Namun, di balik itu semua, tetap saja kembali ke kita, apakah benar-benar bertekad untuk mengikuti kelas dengan penuh antusias, atau tidak ada usaha sama sekali ketika mata sudah benar-benar tertarik antar kelopaknya alias mengantuk. Tentu dengan konsekuensi seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf sebelumnya.

Berikut ini saya sampaikan tips untuk mengurangi atau menghilangkan kantuk di kelas, anda bisa mencoba satu per satu karena bisa jadi hanya satu cara yang paling efektif bagi anda. Lets check it out:

Mengalihkan ngantuk pada hal-hal yang anda gemari
Jika anda gemar menggambar sketsa, maka ambillah pulpen, gambarlah sesuatu pada buku catatan. Jika anda gemar bernyanyi maka bersenandunglah pelan-pelan atau jika tidak memungkinkan gerakkan kaki-kaki dan tangan anda mengikuti irama lagu itu (seperti seorang drummer), jika suka membaca maka bawalah sebuah buku favorit anda lalu bacalah secara sembunyi-sembunyi, tapi ingat jangan keterusan… setelah kantuk hilang fokus lagi ke pelajaran ya..

Minta bantuan teman
Tips yang ini hanya berlaku ketika teman di samping anda tidak ikut mengantuk, makanya cari teman sebangku yang selalu antusias ketika di kelas. Ada beberapa hal yang bisa anda minta pada dia, di antaranya:
Cubitlah aku!
Ya… suruh dia mencubit lengan anda keras-keras,, waduh… Saya sering melakukannya, rasa sakit akibat cubitan itu bisa membuyarkan kantuk kok.

Kageti aku!
Yang ini juga lumayan ngeffek. Sampaikan padanya untuk mengagetkan anda yaitu ketika anda sampai tertidur, dia harus membangunkan anda dengan menepuk bahu atau menyenggol keras-keras. Namun, hati-hati buat yang punya penyakit jantung atau sering latah.. bisa-bisa bikin geger satu kelas.

Plintir aku!
Kok plintir sih?? Aneh??. Sebenarnya maksud saya yang diplintir adalah kulit tangan kita. Caranya adalah dengan memlintir kulit tangan kita seperti ketika memeras cucian basah. Memang sih.. kayaknya tidak baik untuk kulit, tapi cocok untuk di saat-saat genting seperti ini. Namun, tidak berlaku untuk si gemuk..

Pijit aku!
Waduh… ngajarin yang jelek nih… Eits jangan sentimen dulu. Hal ini hanya boleh anda tawarkan pada teman di samping anda yang kebetulan ia adalah sohib atau teman akrab anda. Kalau pada orang yang tidak dikenal bisa berabe, bahkan malah digampar kalo anda adalah cowok dan disamping anda adalah cewek^^. Pijit pada bagian yang umum saja, misalnya bahu dan leher.

Pikirkan hal yang anda sukai atau yang memang harus dipikirkan saat itu.
Yang ini sifatnya pengalihan perhatian sementara. Misalnya anda sedang terlilit hutang, maka bisa saja anda memikirkan darimana berhutang lagi (gali lobang tutup lobang donk.. ^^), atau jika sebentar lagi anda akan menemui orang yang anda sayangi, pikirkan apa yang harus anda lakukan saat itu. Ketika kondisinya anda di dekat jendela dan bisa melihat keluar, maka sekali-kali hiruplah nafas dalam-dalam dan lihatlah objek menarik di luar sana. Ingat, setelah cukup terjaga, kembali pada laptop ya..^^

Ajukan pertanyaan pada pengajar/penceramah di depan
Sebenarnya ngantuk itu muncul karena anda hanya mendengarkan dan tidak melakukan apa-apa. Cobalah, ketika anda bertanya maka otomatis kantuk akan berkurang. Kok bisa? Menurut saya hal itu karena bertanya membutuhkan keberanian/nyali yang tentu memacu adrenalin bahkan kadang terbata-bata saat bertanya (untuk beberapa orang). Nyali itu bisa mengikis timbunan kantuk lho.. Dan tentu saja setelah bertanya kita akan memaksakan diri untuk melek saat narasumber memberi jawaban.. Lalu, kalau dari tadi ngantuk, apa yang ditanyakan?? Bisa bertanya pada teman, atau ketika di awal belum ngantuk, anda sudah siap dengan pertanyaan. Oke!. Eits hampir lupa, tips ini tidak berlaku saat khutbah lho ya…

Cuci muka atau berwudhu (bagi yang muslim)
Tak bisa disangkal lagi, ini cara yang cukup efektif untuk mengusir kantuk. Keluarlah untuk mencuci muka, kalau bisa memakai produk pencuci muka juga lebih bagus. Semakin dingin/sejuk airnya semakin terasa segarnya. Kata seorang ulama nih.. (nasehat buat yang muslim), yang bikin ngantuk saat khutbah menurut hadits adalah para syetan menaburi mata kita dengan semacam bubuk (gaib). Kita tahu syetan terbuat dari api, maka cara membunuh api adalah dengan air… maka jika memungkinkan untuk berwudhu ya berwudhulah..

Makanlah permen
Rasanya yang manis tidak dipungkiri bisa merangsang otak untuk aktif lagi. Sebenarnya saya agak heran, kenapa dulu ketika di SD, dilarang makan permen di kelas ya?? Mungkin kesannya tidak sopan ya.. Tapi saya yakin, ketika SMA dan kuliah kebanyakan pengajar memperbolehkan. Biasanya agar lebih ngeffek saya makan permen kopi atau yang mint. Tapi ya jangan berlebihan ya.. sayangi gigi anda

Cara ekstrem (jika kemungkinan besar akan mengantuk) adalah dengan Tidak Sarapan.
Dari beberapa sumber yang saya simak, setelah mengkonsumsi sesuatu tentu saja tubuh perlu upaya untuk mengolahnya. Nah.. kebiasaan kita sebagai warga Indonesia, bukan namanya sarapan/makan kalau tidak pakai nasi, “buat apa makan kalau tidak kenyang??”. Ketika kita mengkonsumsi makanan berat tubuh diharuskan menyuplai darah ke sistem pencernaan, sistem saraf pun juga terpaksa menyumbangkan stok darahnya yang menyebabkan untuk sementara otak akan kekurangan oksigen. Apalagi nasi mempunyai kadar glicemic yang tinggi, bisa menyebabkan pankreas memproduksi hormon insulin yang banyak, dan itu membutuhkan energi yang tinggi, hingga akhirnya sel-sel tubuh kita kelelahan. Namun, tak dapat dipungkiri sarapan juga perlu sebagai cadangan energi awal untuk beraktivitas. Maka jika anda ingin sarapan, sebaiknya tidak makan dengan porsi besar dan usahakan agar unsur-unsurnya seimbang (tidak berlebih hanya pada karbohidratnya).

Oke cukup sekian tips dari saya.. semoga bermanfaat, selamat mencoba!!




09/03/11

Super Saturday II (Anak itu seperti balon)

Allahlah sang pemberi hidayah, Ia lah penuntut kedua kakiku melangkah. Atas kehendak-Nya aku dipertemukan dengan Mas Emil, atas kuasa-Nya aku berada di ruangan itu. Sungguh indah hidup ini ketika aku merasakan kehadiran-Nya. Sungguh bahagia hati ini, ketika segala ujian dan nikmat selalu kuingat nama-Nya. Ya Allah, terima kasih atas segala rahmat yang engkau berikan selama ini.

Kisahku hari Sabtu itu berlanjut ketika aku MC mulai menyeru, tidak dengan ba-bi-bu melainkan dengan suara yang merdu, mengundang perhatian dari segala penjuru. Acara Islamic Parenting itu dimulai dengan tilawah Qur’an, ayat yang dibaca adalah Surat Al-Luqman dan Ad-Dhuha. Seketika mas Emil menyeloroh, “Cara membacanya mirip .……..” (aku agak lupa dia menyebut siapa). Namun, hal itu sudah menunjukkan bahwa ia adalah pria yang selalu mengingatnya dengan mendengarkan murottal Qur’an. Betapa aku terhentak bahwa aku sudah cukup lama tidak mendengarkan murottal Qur’an lagi untuk menghapal, meski aku sering membaca Firman-firman Allah itu.

Setelah Qur’an dilantunkan dengan sangat fasih, berikutnya sang narasumberpun memasuki ruangan. Semula aku tidak mengenal narasumber, karena ia masuk dari belakang secara rombongan. Ada sepuluh orang ibu-ibu berjilbab yang membawa buku di depan tubuhnya. Mereka tidak berwarna sama, meski begitu tetap menunjukkan keanggunan mereka. Eits, bukannya aku terpesona, jika anda sadari setiap perempuan yang mengenakan jilbab akan lebih anggun daripada tidak berjilbab. Setiap melihat mereka, bagi orang yang beriman akan mengingatkan dirinya pada Allah. Ia lah yang memerintahkan itu semua, dan Ia yang tahu segala hikmah di balik instruksi tersebut. Mereka berdiri di atas panggung, membentuk formasi sejajar, dan mulai menyanyi lagu anak-anak diiringi oleh sebuah organ nan bersemangat. Kami pun diajak untuk ikut berdendang. Lagu diulang-ulang beberapa kali. Setelah selesai, salah satu dari mereka, yang berada di tengah, berbicara. Ia mengenalkan dengan singkat akan keindahan dunia anak-anak, dan bagaimana hebatnya ibu-ibu di samping kanan dan kirinya yang bisa membimbing anaknya menjadi hebat. Selanjutnya ibu-ibu itu berbicara dan menceritakan kondisi anaknya sepatah dua patah kata. Aku terkagum-kagum dengan anak-anak mereka, “Anakku usia … tahun, ketika ia ditakuti oleh teman-temannya, eh di situ ada hantu, maka ia menjawab, “ngapain takut, kan ada Allah”, kata salah seorang ibu tersebut. Subhanallah. Ternyata mereka memperkenalkan buku-buku untuk anak terbitan Sygma. Buku itu bertema Islamic Parenting, mengajak orang tua memperkenalkan Allah dan Rasulullah sejak dini, ditambah para nabi dan sahabat, serta keindahan alam semesta. Dengan begitu anak-anak akan lebih mengenal nilai-nilai luhur dalam Islam, daripada nilai-nilai dari tokoh Spongebob, Penguin Madagascar, Power Rangers, dll. Untuk saat ini aku belum begitu berminat, hehe


ilustrasi
Setelah itu hanya tinggal satu orang ibu yang berdiri di atas panggung, dan beliaulah Ibu Kurnia Widhiastuti, sang narasumber. Beliau menggantikan Bunda Neno Warisman yang seharusnya menjadi pengisi acara, Bunda Neno berhalangan karena sedang mengikuti acara mendadak. Beliau ceramah seperti sebuah deklamasi puisi, setiap kata-katanya penuh makna, diksinya indah, dan tiada pernah terbata-bata, terkadang beliau mengajak interaksi dari peserta, makin mampu menyentuh hati karena diiringi dengan denting-denting melodi organ. Jika anda berpikir ini membosankan, sungguh tidak. Ayah-ayah dan bunda-bunda yang hadir disitu kebanyakan juga mengajak anak-anak mereka. Sedangkan yang lajang termasuk aku, juga mengajak anak-anak, anaknya orang lain, tetapi sudah dewasa. (jayus, hehe). Puluhan anak-anak berusia antara 3 s.d. 9 tahun tumpah ruah di situ, mereka berlari-larian di sekeliling kami. Bermain balon, jungkir balik, bahkan menyentuh-nyentuh LCD Proyektor dan layarnya, sungguh ceria. Aku jadi ingin kembali kecil lagi, hehe. Kadang juga mereka berteriak, ada juga yang menangis, tapi suasananya tetap terjaga, K.O.N.D.U.S.I.F. Ada anak kecil yang sungguh lucu, membawa kerudung putih tetapi berasesoris layaknya peri, lengkap dengan sayap pinknya. Bagi aku yang tiada membawa anak, aku bisa lebih fokus pada kata-kata narasumber, mungkin tidak bagi ayah dan bunda yang membawa anak. Namun, sungguh indah suasana waktu itu.
Tidak lengkap rasanya jika saya tidak menceritakan apa-apa yang disampaikan waktu itu. Baiklah, semoga ilmu ini berguna bagi ayah atau bunda yang kebetulan membaca postingan ini. Mari kita simak bersama-sama:

Bunda Kurnia mengajarkan agar kita berhati-hati ketika berbicara pada anak-anak. Sering kita marah ketika kita jengkel pada mereka. Beliau mencontohkan sebuah kisah nyata dari seorang Ibu di Yogya suatu masa. Ibu itu memiliki seorang anak yang sangat menjengkelkan. “Mbok’e ono tembelek ning telapakku (Ibu, ada tahi ayam di kakiku)” Bunda Kurnia mendiskripsikan sifat anak yang menjengkelkan itu. Sang ibu pun langsung menghampiri anaknya, dibersihkannya kotoran ayam itu di kaki anaknya. Kemudian ia kembali ke dapur. Anak itu merengek lagi, sekarang ia malah ingin kotoran ayam itu dikembalikan ke kakinya. Sampai disini mungkin kita sudah jengkel, tapi ibu itu tetap menuruti permintaan anaknya, ditempelkannyalah kotoran itu lagi pada kakinya. Kemudian, beberapa saat kemudian, anak itu mulai merengek lagi, “Kok, tembeleke benyek? (kok kotorannya lembek?)”. Ternyata ia ingin kotoran yang tadi bukan yang lembek seperti sekarang. Jika kita menjadi ibu itu mungkin kita sudah memarahinya habis-habisan, tapi luar biasanya ternyata ibu itu justru berdoa, “Kowe kok ngono to le.. mugo2 besuk iso dadi jenderal sing sukses”. Ibu itu berdoa agar anaknya menjadi orang sukses. Sekarang, anak itu sudah benar-benar menjadi jenderal, ternyata doa ibu tersebut telah dikabulkan oleh Allah. Jadi, berhati-hatilah dengan kata-kata anda ketika memarahi anak, jika anda melakukannya terus menerus, padahal anda tidak tahu kapan Allah mengabulkan doa tersebut, maka bisa jadi kata-kata buruk anda akan menjadi kenyataan. Jika Allah sudah menyetujui kata-kata itu, maka KUN FAYAKUN, semua akan terjadi. Bunda Kurnia berujar, “Salah satu psikolog pernah berujar bahwa penyebab KD bercerai dengan Anang adalah.. karena KD sering menyanyikan lagu Menghitung Hari.. lagu itu berbicara mengenai perpisahan kan.. apalagi KD juga menyanyi I’m Sorry Goodbye”. Wah.. tampaknya kita harus membiasakan berbicara positif nih..

Pelajaran kedua, Rasulullah sering mengelus anak-anak kecil yang ditemuinya. Beliau mengelus mulai dari tengkuk (leher belakang) sampai ke punggung anak tersebut. Hikmahnya menurut ilmu kedokteran adalah terjadinya 1,8 juta sambungan pada neuron otak anak tersebut. Otak bayi terus berkembang cepat sampai umur 10 tahun, jika terus disentuh maka efeknya akan memperbanyak jumlah neuron pada otak itu dan akan menyebabkan kemampuan otak bisa maksimal. Ingatan yang baik pada anak harus dimanfaatkan dengan baik oleh orang tuanya. Ayah dan bunda harus terus mengingatkan ketika waktu sholat datang, bukan hanya sekali, tetapi harus berkali-kali.
Kemudian, beliau menjelaskan bahwa “Anak kecil itu seperti balon”. Sedangkan orang tuanya adalah sebagai peniup. Ada orang yang ingin punya balon, tetapi tidak diijinkan Allah mempunyai balon, ada yang sudah diberi balon, tetapi tidak mampu meniupnya. Mengenai tiup meniup ini, Bunda Kurnia menjelaskan bahwa ada beberapa karakteristik dari balon yang ditiup, yaitu:

1. Dia bisa ditiup, tetapi bocor
Sampai umur enam tahun, anak ini terus dibimbing dengan baik, diajari mengenai berbagai macam hal sejak usia dini. Hal itu menyebabkan dia menjadi anak yang hebat. Namun, ternyata ilmu yang diajarkannya hanya seputar ilmu dunia bukan ilmu akhirat (agama). Akhirnya anak itu dianalogikan sebagai balon yang bocor. Jadi orang hebat di dunia tetapi jauh dari Tuhannya. Bisa saja hal itu menyebabkannya kepintarannya membuatnya terjerumus pada kemaksiatan.

2. Dia bisa ditiup, tetapi meledak
Orang tua dari sang anak sangat berambisi agar anak tersebut menjadi seseorang yang dia inginkan, diajarinya berbagai macam hal baik itu ilmu dunia ataupun akhirat. Namun, ia tidak mengetahui pola asuh yang benar. Anak yang terlalu tertekan menyebabkannya justru mencari hal-hal lain sebagai bentuk pelampiasan. Hal-hal berbau pornografi diumbar di berbagai media, kondisi anak yang masih jauh dari orangtua menjadikannya terjerumus pada hal haram ini. Seperti yang saya ketahui dari hasil penelitian, bahwa porno menyebabkan seseorang mengeluarkan hormon endorphin secara kontinyu, hormon inilah yang menyebabkan kesenangan-kesenangan semu dan membuatnya ingin yang lebih dan lebih dari yang ia lihat sekarang. Jangan heran jika akhirnya banyak anak melakukan pencabulan, pemerkosaan, dan pelecehan seksual. Namun, karena terlalu banyak produksi yang disalurkan ke otak, akhirnya hormon ini menyebabkan kematian sel otaknya.

3. Dia ditiup oleh orang lain
Ketika Bunda Kurnia menampilkan slide tentang ini, saya berkata pada mas Emil, “ini nih mas..”. Beliau sambil tersenyum menjawab, “Iya…”. Maksud saya adalah memancing perhatian mas Emil agar lebih fokus karena bahasan ini sesuai dengan yang dialaminya, harus mengasuh anak kakaknya yang sibuk bekerja. Tentu pembaca sudah banyak mengetahui kasusnya. Banyak orangtua yang hebat di kantornya, mencapai karir bagus, menjadi orang andalan, dsb. Namun, kesibukan itu menyebabkannya jauh dari keluarganya. Adalah hal yang wajar jika sang ayah bekerja sedangkan ibu mendidik anaknya di rumah. Namun, dengan adanya kesempatan luas bekerja bagi kaum perempuan, makin banyak ibu-ibu yang ikut bekerja, mencari penghasilan tambahan untuk keluarga. Jika ia mampu profesional baik di kantor maupun di rumah, tentu tidak ada masalah. Namun, kenyataannya hal ini memang sulit, harus ada yang menjadi prioritas. Bunda Kurnia menceritakan sebuah kisah nyata. Ada seorang ibu muda yang hebat di tempat kerjanya, tiap berangkat ke kantor, anaknya yang masih balita dititipkannya pada seorang pengasuh. Pada suatu pagi, anaknya ini ingin dimandikan oleh bundanya, bukan oleh si mbak pengasuh. Namun, karena ibu karir tersebut harus segera berangkat ke kantor karena ada meeting penting ia menolak permintaan anaknya itu. “Mbak, tolong mandikan anak ini ya.. saya harus segera berangkat”. Anak itupun akhirnya dimandikan oleh pengasuhnya. Namun, ketika ibu karir tersebut sedang berada di kantor ada bunyi hape berdering, diangkatnya hape yang sudah sering ia pegang. Tubuhnya mendadak tersontak setelah mendengar pesan yang disampaikan oleh seseorang via hape tersebut bahkan hampir membuatnya pingsan. Sang anak yang tadi pagi meminta dimandikan ternyata masuk rumah sakit dan dalam kondisi yang kritis, tetapi semua sudah terlambat, maut memang tak pernah bisa ditunda atau dipercepat, semuanya yang bernyawa pasti kembali kepada-Nya. Anak itupun telah meninggalkan dunia ini. Saat memandikan jenazah anaknya, sang ibu hanya bisa menangis sejadi-jadinya, dalam hatinya ia hanya bisa berkata, “Bangun nak… bangun anakku… ibu mau memandikanmu nak, tapi bukan yang seperti ini.. bangunlah nak.. ibu akan selalu menemanimu..”. Semua telah terjadi, rasa penyesalan memang datang setelah nasi menjadi bubur, semoga Ibu itu bisa mengambil hikmahnya, begitupun dengan kita.

4. Inilah yang paling dianjurkan, balon ditiup sampai terbang
Ayah dan bundanya telah mengetahui metode yang benar-benar brilian dalam mengasuh anak. Itulah metode Islamic Parenting, di mana anak-anak dikenalkan kepada Allah dan Rasulullah sejak dini sehingga mencintai Allah dan menjadikan Rasulullah sebagai panutannya, juga dengan mengenalkan para nabi dan sahabat yang mengajarkan keagungan akhlak, dan mengajarkan alam semesta sebagai makhluk dengan segala keindahannya, semua itu tentunya dengan mengenalkannya pada aktivitas membaca. Satu atau dua cerita setiap hari bagi mereka adalah lebih baik daripada menonton televisi. Ayah dan Bunda harus mendidik mereka dengan keteladanan. Bunda Kurnia memberikan simulasi, bahwa indera mata lebih mudah ditangkap daripada telinga. Ketika ia mengajak peserta memegang dahi, ternyata banyak peserta yang memegang dagu karena Bunda Kurnia juga memegang dagunya. Ya.. kami para peserta pun jadi sadar bahwa mengajak orang lain, termasuk juga anak sama saja dengan kebohongan tanpa kita mampu memulai terlebih dahulu mengerjakan apa yang kita inginkan mereka lakukan.

Sambil membawakan ceramahnya itu, terkadang beliau juga menghampiri peserta. Dengan setelan jubah merah tua dan jilbab kuningnya beliau juga bercerita dengan pengalaman pribadinya. Suatu hari ketika sedang mengisi acara di Bandung, anaknya yang SD mengirim sms berkali-kali padanya. Isinya seperti “Mom, I love you”. “I love you full”, dsb. Bunda Kurnia pun menjawab pesan-pesan cinta sang buah hati tersebut dengan kata-kata sama. Namun, beliau terkejut ketika akhirnya sang anak mengirim pesan yang menyebutkan nilai-nilai ujiannya.. Nilainya ada yang 4,3; 5; 6; dan tertinggi Agama bernilai 8. Bagi kita mungkin bisa-bisa jengkel akan hal ini, tapi padahal sebenarnya anak itu sudah cerdas sudah menyajikan nilai rapotnya dari yang paling kecil sampai yang besar, sang Bunda pun akhirnya menjawab kurang lebih seperti ini, “Lho kok bisa begitu?? Gakpapa sayang.. yang penting terus berusaha ya. I love you”. Luar biasa..

Dan akhirnya sampai juga di penghujung tausiah beliau. Bunda Kurnia mengajak kami semua berintrospeksi. “Apa yang akan anda lakukan, ketika pintu rumah anda diketuk.. dan ketika anda membukanya, ternyata ada Rasulullah Muhammad SAW lah orang yang berkunjung?”. Dengan menggerakkan jarinya pada tuts-tuts organ, sang pengiring musik memainkan melodi lagu “Rindu Kami Padamu”. Bunda Kurniapun mulai menyampaikan kata-kata renungannya, “Duhai Rasul, jangan kau marahi kami, karena belum ada ruangan jamaah dalam rumah kami”. Sejurus kemudian, beliau menghampiri seorang peserta yang di depan, menanyakan apa yang akan dilakukannya, dan perempuan yang persis di depan saya itupun menangis, hanyut pada gelombang muhasabah yang narasumber bawakan. Sedangkan seorang pria peserta lain ketika ditanya, ia menjawab akan menanyakan segala hal pada Rasul, termasuk cara mendidik anak. Muhasabah ini pun diakhiri dengan kesimpulan oleh Bunda yang bijak tersebut.

Sekian dulu ya cerita saya. Akhirnya saya pun berpamitan dengan mas Emil sambil mendoakannya agar segera menemukan pasangan hidupnya. Setelah sholat Ashar dan satu jam berkeliling lagi, saya pun memutuskan pulang pada jam 16.50an. Betapa berharganya pengalaman hari ini. Alhamdulillah

07/03/11

Super Saturday I (taaruf 10 kali, belum berhasil)

Bukan kebiasaan saya berbagi pengalaman dengan tulisan pada khalayak umum, karena saya kurang pandai narasi, pun tak begitu tertarik membagi kisah hidup yang mungkin bagus di mata saya, tetapi buruk dimata pembaca. Namun, entah mengapa kali ini saya begitu bersemangat untuk menyampaikan pengalaman hidup saya, tepatnya yang terjadi di sebuah pusat keramaian tahunan di Jakarta. Bukan hanya ramai oleh orang tetapi juga oleh buku dan bermacam barang. Ialah Islamic Bookfair 2011.

Hari itu, Sabtu 5 Maret 2011, saya datang bersama teman, sebut saja AL. Kami baru saja melakukan perjalanan pagi dari kost masing-masing menuju kantor tempat kami diklat besok Senin. Awalnya berempat, tetapi setelah pulang dari kantor tersebut, dua orang selain kami mempunyai keperluan di Mangga Dua, sehingga kami pun hanya berdua. Saya berniat untuk melihat-lihat terlebih dahulu. AL pun sama. Mengapa tidak langsung berniat membeli? Hmm.. sekedar membuka jawaban, ini adalah keempat kalinya edisi IBF yang saya ikuti atau tak pernah absen sejak tahun 2008 (tahun kedua saya di Jakarta), belajar dari tahun-tahun sebelumnya, belanja di IBF sarat dengan emosi berlebih. Wajar saja, selain menawarkan diskon hingga 70% pada harga buku dan kitab-kitabnya, di sini juga dijual beraneka barang-barang islam. Sebagai orang yang hobi membaca dan ingin lebih tahu tentang Islam saya pun ingin membeli beberapa buku yang ada. Namun, tindakan membeli tersebut sering saya lakukan tanpa pertimbangan masak-masak, padahal anggaran yang ada tak mungkin mencukupi semua keinginan saya. Jadi dengan melihat-lihat terlebih dahulu, saya bisa mengetahui harga beberapa buku incaran, termasuk mencari harga yang termurah dari berbagai stand, sehingga saya bisa menetapkan skala prioritas, mana saja buku yang harus saya beli saat ini. Kebetulan, karena saya akan sering pulang pergi melewati Senayan, InsyaAllah masih bisa berkunjung lagi untuk membuang uang di jalan kebaikan.

Tiba di Istora sekitar pukul 09.45, dua pintu yang ada belum terbuka, tetapi puluhan orang sudah berjubel di luar, tua-muda, pria-wanita, anak kecil-dewasa, semuanya ada. Ada yang duduk-duduk di emperan tempat tanaman dan di lantai, ada yang menggandeng dan menggendong anaknya, ada juga asyik mengobrol dengan temannya. Saya menghampiri sesosok perempuan berjilbab yang duduk di dekat pintu, berniat ingin mendapatkan brosur kegiatan IBF ini. Ah, kali ini saya salah tebak, ternyata beliau adalah personel dari sebuah bank syariah pendukung acara. Baru saya tahu setelah mendapatkan brosur promosi bank darinya. “Bukanya jam berapa ya mbak?”, ada orang lain bertanya padanya. “jam sepuluh pak, bentar lagi kok”, jawabnya. Sambil aktif berdiri membagikan brosur pada orang-orang di sekitar tempatku berada. Suasana ini mau tak mau meluapkan perasaan bahagia di hatiku, melihat para saudara-saudara seiman berwajah ceria sungguh membahagiakan, memang keringat tampak bercucuran di kening dan pipi mereka, tapi kerinduan pada acara ini mungkin menafikan semua derita. Bagi kami, Islamic Bookfair merupakan salah satu momen yang kami rindukan, dimana ratusan hingga ribuan saudara seiman bisa bertemu dalam sehari, beribadah bersama, dan menuntut ilmu bersama. Melakukan transaksi jual beli yang InsyaAllah di ridhoi olehNya, dan ajang memperkaya keakraban antar teman atau anggota keluarga.


Pukul 10.00 tampak muslimah berkalungkan nametag muncul dan langsung menuju balik booth panitia. “Akhirnya datang juga”, pikirku. Bukan dia yang kunanti, tapi brosurnya lah yang kutunggu. Kali ini brosurnya lebih besar dari biasanya, karena jadwal-jadwalnya terpampang besar. Alhamdulillah… Akhirnya lima menit kemudian, dua pintu depan terbuka, saya dan AL masuk ke sebelah kanan. Stand pertama yang tampak dari luar pintu adalah Sygma Publishing. Hebat! sambil berjalan merayap di sebelah kanan sudah ada wahana mengetes kemampuan anak. Sygma adalah salah satu penerbit yang produktif dalam menerbitkan buku-buku khusus anak. Saya pun lurus saja, dan langsung tertarik melihat buku/kitab luar biasa indah. Biasa dikenal dengan Al Qur’an. Eits.. ini bukan mushaf sembarangan, kitab yang dicetak setebal 1000an halaman ini diberi nomenklatur Al Qur’an The Miracle Reference. Kitab yang di memiliki sampul bertekstur dengan pilihan warna merah dan hitam ini (hihi.. my lovely colour) mempunyai 22 macam keunggulan. Diantaranya tafsir per kata, azbabun nuzul, tafsir ath-tabari, tafsir ibnu katsir, hadits yang berhubungan, dan sirah nabawiyah. Dengan baluran aneka warna di dalamnya, rasanya ingin saya memilikinya. “Miracle ini berapa mbak?”, tanyaku pada juruniaganya. “Harganya 299ribu tapi dapat bonus satu Al Qur’an Hijaz atau Syamil”, katanya. “Oh.. gak ada diskon mbak?”. “Maaf mas, tidak ada tapi promonya memang gitu, beli satu langsung dapat bonus hijaz atau syamil, seperti itu”, jawabnya sambil menunjuk pada mushaf yang juga tidak kalah bagusnya, tapi standar isinya. Saya pun berlalu saja, hehe.. Maklum, masih lihat-lihat dulu. Namun, tak lupa nanya harganya juga pastinya. Mengenai nomenklaturnya, rasanya cukup provokatif, tapi meskipun didesain biasa saja, Qur’an emang sudah merupakan miracle di dunia ini.

Setelah sekitar 10 menit berkeliling, saya dan teman saya mulai kurang mood lagi. Akhirnya kami memutuskan ke panggung utama untuk mengikuti acara Talkshow. Bagi anda yang belum pernah ke IBF, saya sarankan anda meniatkan diri ke sana. Apalagi jika berdomisili di Jabodetabek, jangan sampai kelewatan deh. Jikalau kantong masih rata, ikuti saja acaranya. Ada bedah buku, talkshow, konser, dan seabrek acara lain yang tentunya menghibur dan menambah wawasan keislaman. Jadwal acara bisa dilihat di www.islamic-bookfair.com. Kembali ke cerita, ternyata saat itu bukanlah Talkshow, lebih tepatnya Bedah Buku. Untung masih sepi, kursi yang tersedia pun masih ada yang kosong. Kami pun langsung menempatinya. Buku yang dioperasi cesar adalah buku berjudul “Jam hijriyah, menguak konsepsi waktu dalam Islam” oleh sang penulis E. Darmawan Abdullah dan Prof. Dr. Satori Ismail. Selama dua jam bedah buku berlangsung, tampak peserta yang hadir memasang wajah serius. Jarang yang tertawa atau ngobrol sendiri, kecuali ketika Pak Darmawan mengeluarkan kelakar atau mengajak berinteraksi. Yang dapat saya tangkap adalah: 1) Beliau melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk membuat jam ini, ia lakukan ini untuk mengajak umat muslim mengamalkan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh). “Untuk syaum dan zakat kita menggunakan penanggalan hijriah tetapi mengapa untuk shalat kita menggunakan waktu dan penanggalan masehi,” ujar Pak Darmawan mengusik logika hadirin. 2) Jam hijriyah ini berlandaskan pada Surat Al-Ashr dan Surat An Naba ayat 9-11. Al-Ashr mengajarkan agar kita senantiasa mengoptimalkan waktu yang diberi oleh Allah, dan selalu bermuhasabah atas apa yang sudah terlewati. Begitupun pada jam hijriyah ini. Pak Darmawan mengenalkan penyebutan “Ashr” bukan “jam”. Sedangkan ayat dalam Surat An Naba menjelaskan bahwa Allah mencipatakan siang untuk bekerja/mencari penghidupan dan malam untuk beristirahat (pakaian). Pada jam hijriyah itu, tidak lagi ada 12 jam, melainkan 24 jam. 12 jam (6.00 – 18.00 pada jam masehi) adalah waktu kerja (work time), dan 12 jam berikutnya (19.00 – 05.00 hari berikutnya) sebagai waktu istirahat (rest time). Jika digabung, maka ketika pada jam masehi adalah pukul 10.00, jika menggunakan jam hijriyah adalah Ashr IV, artinya sudah empat jam waktu kerja sudah kita lewati, lalu pertanyaannya apakah kebaikan yang sudah kita lakukan? 3) Ini bukan lagi hal yang baru, kata Pak Darmawan, dahulu orang-orang masehi yang mencontoh pada dunia Islam pada zaman kekhalifahan, yang jamnya berbentuk gajah. 4) Menggunakan standar waktu Mecca Mean Time (MMT) bukan GMT. Alasannya Nabi Adam sebagai makhluk pertama diturunkan ke dunia di bumi Mekkah, berarti permulaan waktu dan pergantian hari dalam kehidupan manusia, seharusnya adalah dari Mekkah bukan Samudera Pasifik. Indonesia terletak pada MMT+20, atau terlambat 20 jam setelah Mekkah. 5) Pergantian hari sama seperti dalam konsep Islam, yaitu Ashr 12 atau pukul 18.00 jam masehi bukan pada tengah malam. 6) Arah putaran jam hijriyah adalah ke dari atas ke kiri (berlawanan dengan arah jarum jam), karena arah putaran ini sesuai dengan saat muslim melaksanakan thowaf. Angka 12 sebagai penunjuk pergantian menit akhirnya terletak di bawah, dengan analogi, semua dimulai dari bawah ke atas, 7) Dibutuhkan semangat yang luar biasa untuk menerapkan sistem jam Hijriyah ini, dan seharusnya dimulai dari kita sendiri. Jika ada pengguna jam masehi bertanya pada kita, tinggal menambahkan 6 jam pada jam hijriyah, jika siang hari (work time). Dan mengurangkan dengan 6 jam pada malam hari (rest time). Lihat selengkapnya di sini.

Setelah penjelasan dari kedua narasumber selesai, dimulailah sesi tanya jawab. Ada pertanyaan yang bikin kami tersenyum-senyum. Seorang Ibu, bertanya mengenai sah atau tidaknya sholat ia selama ini, karena selama ini menggunakan jam masehi. Beliau bertanya demikian, karena mengganggap serius candaan Pak Darmawan yang mengatakan malaikat akan bingung ketika mencatat sholat kita, misalnya hari Sabtu, Subuh sampai Maghrib kita sholat tepat waktu, tetapi sholat Isyanya pada jam 1 dini hari. Apakah Isya tersebut dicatat sebagai hari Sabtu atau Minggu? Padahal pada jam masehi sudah berganti hari menjadi Minggu. Namun, jika dicatat Minggu padahal hari Minggu kita sholat jam 19.00, maka akan ada dua Isya pada hari itu, jadi bingung malaikatnya.. hehe.. Pak Darmawan pun menjelaskan maksud yang sebenarnya pada ibu itu.

Jam digital pada hapeku menunjukkan 11.55, kami pun langsung meninggalkan acara (tanpa ijin) untuk mengambil air wudhu untuk menghindari antrian ketika waktu sholat tiba. Ternyata kali ini tempat sholat yang disediakan bukanlah di teras atas (keramik), melainkan di sekitar tempat parkir Istora. Meskipun agak becek2 meletakkan sandal, tapi cukup nyaman digunakan untuk sholat.
Setelah sholat saya melanjutkan petualangan menjelajahi ratusan buku dan puluhan stand di IBF2011. Capek sih.. tapi niat untuk survey habis-habisan kali ini harus terlaksana, agar dikemudian hari saya bisa langsung membeli. Kali ini AL pamit meninggalkan saya, karena ingin mencuci pakaiannya.. (Alhamdulillah saya sudah mencuci Jumat malam jam 22.30 s.d. 23.30). Kemana kaki melangkah? Saya membiarkan mereka menjadi liar. Kemana otak berpikir? Saya memikirkan buku apa dan barang apa yang harus dibeli nantinya. Bingung bukan kepalang, ketika berjalan di selasar (teras) atas yang bernama-nama tempat haji seperti Arafah, Marwah, dsb. banyak barang yang menarik hati saya. Ada tas ransel, kaos distro muslim, cd anak-anak (sebagai oleh-oleh untuk adik di rumah), gantungan kunci, poster-poster, dvd murottal, dll. Duh.. mana honor bulan ini belum cair lagi.. Yang penting tanya harga dulu deh.. hehe. DI IBF kali ini, wahana untuk anak-anak sungguh beragam, ada yang hanya untuk bermain seperti rumah karet (atau apalah namanya) atau yang juga baik untuk belajar seperti tempat peragaan fisika, mengetes kemampuan, dsb. Ajaklah anak-anak anda kemari. Kasihan di rumah sendirian.. hehe.

Atas kehendak Allah, kakiku berjalan menuju tempat sempit, sedangkan mata melihat sebuah petunjuk bertuliskan “Ruang Anggrek =>”. Alhamdulillah, beberapa kali berkunjung ke IBF belum pernah saya mampir ke ruang ini. Tanpa melihat sekitar pintu, saya pun langsung nyelonong masuk. Ada sekitar 80-100 kursi di ruang itu, barisan kanan untuk akhwat (perempuan), yang kiri untuk ikhwan (laki-laki). Saya langsung duduk di baris kedua ikhwan dan tanpa memiliki teman mengobrol.. I’m lonely.. mana belum makan lagi..

Alhamdulillah, sesuai firmanNya, rejeki memang bisa datang dari hal yang tidak terduga. Di belakang saya ada seorang pria yang rasanya lebih tua jauh di atas saya, berkulit cokelat, dan berwajah ceria. “Kali ini acaranya apa ya mas?”, tanyaku padanya karena memang aku datang kesitu tanpa rencana (lupa membuka jadwal). “tentang parenting.. “, jawabnya sambil menunjuk spanduk di samping kami. “Oh..”, tukasku sambil melihat poster besar tergantung di sampingku persis (kok tidak sadar ya..), disitu tertulis nama acaranya, saya lupa, tetapi intinya seputar Islamic Parenting (mengasuh anak dengan cara Islam), narasumbernya yang dikenal dengan Bunda Kurnia Widhiastuti, tempat dan waktu, serta penyelenggaranya yaitu Sygma Daya Insani. Jadi teringat sudah lama tidak membuat poster lagi.. hehe..
Saya tanya lagi pada orang tersebut setelah berkenalan sebelumnya, “Kesini sendirian mas?”. Lelaki bernama Emil ini menjawab, “Iya, saya masih jomblo kok”. “Lho emang umurnya berapa mas?”, kali ini pertanyaanku memang agak lancang kukira, tapi benar-benar spontan. “saya tiga puluh dua, sudah ta’aruf 10 kali belum ada yang dapat juga”, jawabnya kecut. “Wah, kayaknya obrolannya bisa berlanjut nih”, pikirku dalam hati mencoba menjadi pendengar yang baik bagi beliau. Akhirnya memang ngobrol kami berlanjut agak lama. Beliau begitu ramah, bahkan langsung memberi saya air mineral, kue arem2, dan permen. Sesaat sebelum masuk, beliau sempat membayar 25 ribu, sedangkan saya tidak. Hehe.. Sambil menunggu peserta memenuhi ruangan dan pengisi acara memulai acaranya, Saudara Emil ini menyampaikan banyak hal yang ia alami, seolah menganggap saya ini saudaranya, yang sepaham dengannya, padahal kami baru saja bertemu.

Dia mulai bercerita bahwa dia adalah seorang tukang ojek di Cikarang, Bekasi. Sebenarnya dia ingin segera menikah, tetapi sudah 10 kali ta’arufnya belum menemukan hasil. Namun, kata dia ada seorang akhwat yang sudah pernah setuju menikah dengannya, sudah di khitbah pula. Empat hari sebelum ia resmi melamar bersama orang tua ke rumah sang calon, ternyata duka menghampirinya. Sang perempuan dengan teganya memutuskan khitbah secara sepihak dengan alasan, “Maaf akhy, ana tertarik dengan ikhwan ******”. Saya cukup merinding mendengarnya, ternyata hatinya begitu besar menerima ini semua, ia masih kokoh untuk tidak lari dari syariah. Namun, ia juga butuh klarifikasi, ditanyanya sang ikhwan lain tersebut, dan ikhwan tersebut berkata, “ana sudah mengkhitbah duluan sebelum antum akhy, kalau tidak percaya mari kita tanyakan”. Setelah bertanya pada sang akhwat dan adik kandung akhwat tersebut, akhirnya ikhwan lain itupun mencabut khitbahnya. Saya agak lupa dan kurang paham dengan penjelasan dari Saudara Emil terkait perkara ini, tetapi beliau berkata “Apa ini balasan dari Allah atas perbuatannya ya..”, saya hanya bisa mengangguk dan berkata “mungkin”.

Saya juga menjelaskan tentang diri saya yang masih berusia 21 tahun, ia bilang “Malah bagus kalau masih muda”, lalu saya bilang “iya mas, ya pengennya sih tahun _________”. Beliau kemudian mengutarakan bahwa fitnah sekarang makin banyak, nenek-nenek saja memakai celana pendek, seperti tak punya malu. Sebagai tukang ojek, tentu beliau sering berpapasan dengan orang-orang semacam itu, itu nenek-nenek, apalagi yang masih remaja. “itu di Cikarang lho, yang katanya religius”, gerutunya.

Kemudian, beliau bercerita mengenai alasannya ikut acara ini, meski jauh-jauh dari Bekasi. Ia tinggal bersama keluarga kakaknya. Lagi-lagi saya agak begitu gak jelas mengenai apa yang ia sampaikan, yang mampu saya tangkap adalah, kakaknya memiliki empat anak yang paling besar adalah SMP dan paling kecil masih bayi. Sang kakak sibuk dengan pekerjaannya, hingga ia pun yang membantu mengasuh anak-anaknya. Saat itu aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, tanpa berusaha bertanya banyak padanya. Namun, dalam hati saya benar-benar berempati padanya. Subhanallah.. seorang pria yang profesinya dianggap rendahan dan rawan masih menjaga diri dari hal-hal duniawi, ia masih kukuh untuk menemui pasangan dengan cara Islam, beliau juga pernah curhat pada Hidayat Nur Wahid, dan beliau dianjurkan untuk tetap sabar dan berusaha. Terlebih lagi Saudara yang keturunan Jawa tetapi sejak kecil besar di Bekasi ini telah membuat saya malu.. ia tidak segan-segan memberikan sesuatu pada orang lain, dan kali ini saya yang mendapat rejekinya, padahal saya bisa saja ikut membayar 25 ribu, tetapi urung saya lakukan. Lagi-lagi karena alasan H.E.M.A.T. Bagi saya, anda adalah orang hebat mas..

Pembicaraan dengannya pun terputus setelah MC datang dan memulai acara..