25/07/11

Sebulan Pertama Bertugas di Wamena

Wamena, ada yang tak kenal? Cowok penggemar dan pengamat sepakbola pasti tahu deh.. Kota yang merupakan Ibukota Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua ini memang lebih mudah dikenal masyarakat tanah air dari persepakbolaannya, yakni dari sebuah klub Persiwa Wamena, salah satu peserta Djarum Indonesian Super League (ISL) dari tanah Cenderawasih. Sebagai salah satu PNS di sebuah Kementerian, sebulan yang lalu saya harus mengemban tugas di kota ini, yang tentu saja masih asing bagi saya. Mungkin untuk beberapa tahun ke depan.

Saat pertama membaca Surat Keputusan Mutasi, saya langsung bertanya-tanya, apakah tempat ini aman dan nyaman bagi saya yang 20 tahun lebih besar dan hidup di Jawa? Pun mendengar kabar-kabar bahwa di masyarakat lokal Papua sangat kental dengan adatnya, hanya mengenakan koteka, potong jari, tinggal di rumah semipermanen bernama Honai, nada bicara yang keras, dan aneka ketakutan lain juga sempat hinggap di kepala ini. Namun, karena sudah menjadi konsekuensi di dunia Pegawai Negeri, maka saya pun bertekad terjun ke medan juang. Yakin, bahwa selalu ada hikmah di balik semua peristiwa.

19 Juni 2010, kaki panjang ini menjejakkan kaki di bumi Papua. Beberapa menit sebelum itu, saya takjub akan keindahan Danau Sentani, hutan, dan bukit-bukit di Jayapura, sampai-sampai masih heran kenapa pesawat mulai mendarat tapi dari kaca saya lihat belum tampak tanda-tanda keramaian. Setelah keluar dari pesawat, barulah saya sadar bahwa pulau di ujung timur Indonesia ini benar-benar masih virgin alias belum terjamah peradaban. Di sekeliling bandara Sentani, Jayapura, tampak bukit-bukit nan hijau, ditambah langit yang benar-benar cerah pukul 07.15 WIT, lengkap dengan angin sepoi-sepoi nampak begitu menenangkan. Saya dan dua teman pun bergantian mengambil gambar beberapa meter di samping pesawat. Dari kejauhan sudah tampak penduduk setempat, yang berkulit gelap dan berrambut keriting ramai di sekitar gedung utama bandara. Alhamdulillah, mereka memakai pakaian, dalam hati saya berujar.

Agak lama mendaftar dan menunggu pesawat ke Wamena, kami baru mulai berangkat sekitar pukul 10.15 WIT. Yang saya tahu, karena wilayahnya yang tidak landai, dari kota ke kota di Papua harus ditempuh lewat jalur udara. Pesawatnya tidak sebesar Garuda, Batavia, Lion, ataupun Sriwijaya, tetapi hanya Pesawat Perintis yang lebih kecil dan sempit. Sebagai makhluk berkaki panjang, saya pun duduk dengan cukup kesakitan di lutut, tetapi cukup terhibur melihat pemandangan dari kaca pesawat. Tampak Sungai Baliem yang besar berkelok-kelok, rumah-rumah kecil beratap seng, honai yang keliatan bulat dan coklat, dan bukit-bukit hijau luas membentang. Subhanallah.. Semakin penasaran bagaimana kisah hidup saya di sana nanti. Alhamdulillah pukul 11.30 si panjang ini sudah menapak di Bandara Wamena. Hati berdesir sembilu, hari-hariku ke depan akan dilalui di kota ini.

Sudah sebulan aku berada di sini, bercanda tawa dengan dua sobat senasibku, Imam dan Ali. Bertiga kami sama-sama menata rumah dinas yang belum siap huni, mulai dari memasang listrik, memasang pompa air dan tandon drumnya, membersihkan dan mengepel lantai, mengisi rumah dengan perabot-perabot sangat mahal, hingga menata taman dan pekarangan. Bertiga pula kami harus mulai belajar memasak, membeli belanja di pasar, mengiris bawang dan cabai, sampai harus menikmati sayur lodeh berasa aneh. Haha.. namanya juga cowok bujang. Meski berlidah sama yang tak pernah bohong, tapi dimakan bertiga tentu lebih nikmat. Haha. Alhamdulillah bantuan demi bantuan datang dari para pegawai kantor yang sudah lama di sini. Mulai dijemput pertama kali, ditraktir makan, berangkat kantor bersama, masak bersama, diajarin main tenis, nonton TV, melayani satuan kerja di kantor, main pingpong dan karaoke dikala senggang, hingga diberi beberapa perabot rumah tangga penting. Semoga keluarga baru ini bisa mengobati kesepian hati seorang jomblo bermutu, dan mengobati kerinduan pada kampung halaman dan ortu.


Mungkin cukup sampai di sini bercakap-cakapnya. Selama sebulan ada hal-hal yang menarik dari kota ini yang ingin ku ceritakan. Wamena adalah Papua sebenarnya. Belum ke Papua kalau belum ke Wamena. Lets check it out.

The Highlander
Kabupaten Jayawijaya berada di tengah-tengah pulau Papua, yang kalau kita lihat di peta Indonesia, maka kelihatan berwarna orange. Yap, saya akan jadi wong gunung (the highlander). Ketika berada di dalam kota anda akan menyadari bahwa di semua penjuru anda bisa melihat bukit-bukit baik yang hijau maupun yang hanya berupa batuan. Di dekat kantor bupati, bukit akan kelihatan jelas teksturnya ketika cuaca cerah, sungguh memukau. Tak kalah eksotis ketika cuaca mendung, yang tampak hanyalah siluet-siluetnya. Inilah kota lembah di antara bukit. Ketika liburan, kami bertiga diajak jalan-jalan mengitari bukit-bukit itu menuju Kabupaten tetangga. Subhanallah.. sungguh tak jemu mata memandang nikmat Tuhan ini. Kamipun sempat sarapan dan mengabadikan gambar di beberapa spot. Malah pas lagi sarapan, diganggu babi dan anak-anaknya.. Whaa..

Brrrrrr..rasa dinginnya
Sampai tulisan ini ditulis, saya belum pernah sehari tanpa mengenakan jaket. Kalau ada yang sudah pernah ke Bogor, Malang, atau Bandung, jangan mengklaim di sana itu dingin. Saya juga sudah pernah ke kota-kota itu dan ternyata di sini sungguh sangat amat dingin sekali. Tiap malam menjelang tidur, kami bertiga selalu mengenakan jaket tertebal yang kami punya, menyelimuti diri dari badan sampai kaki, bahkan jika perlu memakai tutup kepala, sarung tangan, dan kaos kaki. Karena belum punya kaos kaki, saya sering bangun malam karena kaki serasa membeku. Hingga selalu malas untuk mandi pagi. Meski kami juga sering memasak air ketika mandi, tetapi sehabis mandi badan justru makin menggigil. Siang hari yang paling cerah pun, angin dan suhu udara masih terasa dinginnya. Keringat jadi jarang mengucur meski sudah berolahraga, hingga kami pun jarang mandi sore. Ups... buka kartu nih. Seperti di luar negeri, ketika masih pagi, ketika berbicara maka mulut kami akan mengeluarkan asap, keren ya.. 


Dollar Wamena
Namanya saja kota terpencil, kemana-mana paling mudah pakai transportasi udara, meski tentu saja dengan biaya mahal. Otomatis, hampir semua barang yang dijual di sini mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Inflasi lokal gitu deh. Hingga kami dan para pagawai menganggap mata uang yang berlaku di sini adalah Dollar Wamena, 1 Rupiah = 2 atau 3 Dollarwamena, tergantung dari berat barang dan dari mana barang diperoleh. Saya kasih contohnya deh.. Harga minuman ringan seperti Mi**** atau Fr***** aja Rp.10.000,-. Nasi padang ataupun ayam goreng Rp 25.000,-. Nasi uduk tanpa lauk Rp 15.000. Aduuh... Pakaian, perabot rumah, jasa fotokopi, percetakan, dll juga sama. Sepeda cewek yang berkeranjang depan dihargai 1,5 jutaan di sini. Apalagi bahan-bahan bangunan yang berat-berat. Makanya rumah penduduk asli di kota ini kebanyakan beratap seng dan berdinding kayu. Karena harga makan di warung berkali-kali lipat daripada di Jawa, sedangkan penghasilan tidak bertambah signifikan, kami terpaksa memasak sendiri untuk makan. Sehari cukup empat puluh sampai lima puluh ribu untuk dimakan bertiga. Membeli sesuatu pun berpikir berulang-ulang. Menahan diri sampai ketika ada acara di Jawa, dan membeli dengan rupiah standar. Hehe


Disini ada Mall?
Perkembangan suatu kota sering kita lihat dari adanya fasilitas-fasilitas umum seperti mini market, mall, plaza, taman, kafe, fasilitas olahraga, tempat ibadah, sekolah dll. Wamena ternyata tidak seburuk dugaan awal saya. Di sini ada Cikal Mall, alias Mall yang belum jadi. Haha.. kata pegawai sudah delapan tahun belum selesai. Duuh.. Ada sekitar empat gereja dan empat masjid besar, dua taman kanak-kanak, satu SD, satu SMP, dan satu kampus swasta berstatus TERDAFTAR. Alat transportasinya ada angkot untuk keluar kota, di dalam kota ada ojek dan becak yang kebanyakan dikayuh oleh penduduk setempat. Mau belanja? Bisa.. Wamena adalah kota dengan banyak ruko, uniknya, bangunan ruko harus dibuat serupa, yakni berwarna hijau dan di atasnya dibikin berbentuk honai. Sudah ada Peraturan Daerahnya lho.. kebanyakan menjual pakaian, makanan, dan alat rumah tangga. Toko laptop ada juga lho.. In**maret ataupun Al**mart belum ada, adanya Wamena Mart. Pasar tradisionalnya pun berkembang pesat. Warga lokal kebanyakan jualan sayur, sedangkan pendatang jualan rempah-rempah, beras, minyak, dan lainnya. Mau olahraga, ada lapangan tenis milik kantor saya –yang dipakai bersama dengan pegawai dari instansi lain- pun bisa dipakai untuk voli. Lalu, tentu saja ada Stadion Kebanggaan Wamena, Stadion Pendidikan, kandangnya Persiwa. Hehe
 

Ada ‘darah’ di jalanan
Bicara Papua, tak lengkap jika tidak menceritakan tentang warga lokalnya. NO RACISME ya.. mereka kan juga saudara kita sebangsa dan setanah air. Ada beberapa kebiasaan warga yang unik. Anda pernah lihat film DENIAS. Ingat dengan tas yang ia pakai? Itulah Nokan, tas khas Papua. Beberapa warga di jalanan sering mengenakan Nokan di kepala mereka bukan di pundak seperti orang biasanya. Rambut yang keras dan keriting ketika lebat dan diikat bisa menjadi pengganjal nokan agar tidak jatuh. Tas itu bergelantung di punggung dan bisa diisi apa aja tergantung daya melarnya.
“DILARANG MAKAN PINANG”, peringatan itu pertama saya temui di bandara Sentani. Ternyata, artinya dilarang makan pinang, karena jika anda makan pinang pasti anda akan meludah. Maka jangan heran jika di sepanjang jalan, sering saya temukan bercak merah-merah yang semula saya kira darah. Ngeri.. haha. Kebanyakan warga di kota ini berpakaian dan berrumah dari kayu dengan atap seng. Lain halnya ketika sudah keluar kota. Namun, beberapa dari mereka masih nyeker alias tidak beralas kaki. Saya belum tahu alasannya. Kebiasaan mabuk warga setempat –seperti info yang saya dapat sebelumnya- sejauh ini belum saya temui. Konon, pemda sudah menerbitkan peraturan dilarang mabuk. Kalau mabuk, maka siap-siap dijeburkan ke dalam kolam “sadar ingatan”. Sebuah kolam di dekat kantor bupati yang berair cethek untuk menghukum para pemabuk.
 

Masalah yang menurut saya masih menjadi penyakit adalah kebiasaan mencuri. Kasus pencurian di sini sangat tinggi. Sandal jepit di luar rumah saja bisa dicuri lho.. Ketika siang hari, jendela pun gak sungkan-sungkan akan dicongkel. Maka, yang kami lakukan pertama kali di rumah dinas adalah memagari jendela dengan kayu layaknya jeruji besi di sel, dan memaku mati jendela itu. Pintu kami tambahi gembok pula. Pokoknya keamanan paling penting, keindahan nomor tiga puluh dah..
Adat-istiadat suku pedalaman Papua, sampai saat ini belum saya lihat dengan mata kepala. Mungkin karena lokasinya di kota dan sudah mengenal peradaban modern. Menurut informasi dari berbagai sumber, suku asli Papua mempunyai adat istiadat yang masih dipegang teguh sampai saat ini, diantaranya mandi lumpur, potong jari dan bakar batu ketika ada keluarga yang meninggal, perkawinan, dll. Bahkan konflik-konflik antar kampung atau suku sering diselesaikan dengan perang demi menjaga adat. Pakaian ala kadarnya bagi perempuan, dan koteka bagi laki-laki juga masih dilestarikan oleh penduduk pedalaman Papua.
 

Namun, tak perlu takut dengan mereka, sekeras-keras apapun, mereka juga punya nurani. Suatu hari ketika ke pedalaman mengendarai Kijang, saya baru tahu bahwa ternyata anak-anak kecil di sana sangat menantikan para pendatang yang berkunjung melintasi jalanan, ketika pegawai senior di kursi depan menawari dan kemudian melempar permen –lebih dikenal dengan gula-gula- mereka langsung berlarian dan berebutan satu sama lain. Orang tua mereka pun langsung melemparkan senyum ke arah kami.

Mainan kami sehari-hari
Makan masakan istri sendiri tentu lebih nikmat, karena dimasak dengan cinta. Lalu bagaimana jika yang masak teman sendiri? Cowok pula.. Dimasak pake cinta pun tetep gak enak. Haha. Agar lebih efektif, kami membagi jadwal memasak untuk tiga orang. Belajar dari nol ceritanya. Resep kami dapat dari istri pegawai, dari internet, dan dari ibu. Sayur Bening, Sop, Tumis Kangkung, Tumis Teri, Tumis Labu Siam, Tumis Kacang, Lodeh, dan Kolak Pisang sudah kami buat, jangan tanya rasanya ya.. Lauknya gak bervariasi.. paling-paling telur dadar, ceplok, tempe, tahu, dan sarden. Kalau mau makan ayam paling ke rumah makan, lebih praktis meski kantong menipis. Haha. Inilah mainan kami sehari-hari. Kalau berhasil syukur, gagal ya tetap dimakan toh.. wong perut juga gak bisa dikompromi. Kalau gagal, senjata terakhir adalah kecap atau kerupuk, keduanya bisa mengaburkan rasa yang kurang cocok di lidah. Haha.. Kalau punya resep masakan, bagi-bagi ya.. plis..
 

Berlama-lama di kantor
Masyarakat tentu senang ketika PNS begitu disiplin, apalagi ditambah kinerja yang oke punya. Nah, di Kementerian tempat saya bernaung, kedisiplinan adalah yang nomor 1. Kita sudah diharuskan absen Finger Print (sidik jari) tiap mulai kerja (08.30) dan selesai kerja (17.00). Itu juga yang kami lakukan di Wamena ini. Alhamdulillah suasana kantor benar-benar kondusif. Atasan dan bawahan benar-benar bisa membaur tanpa mengurangi sikap saling menghormati. Salah satu atasan pun sering menjadi bahan bercanda kami-kami disini. Sedangkan satu-satunya atasan yang wanita sudah kami anggap sebagai ibu/nenek sendiri –biasa dipanggil Oma- yang sering memberi nasehat-nasehatnya. Suasana kantor ini benar-benar membuat kami betah di kantor. Apalagi kalau dihitung-hitung waktu di kantor memang lebih lama daripada waktu di rumah jika dikurangi waktu tidur. Plus di kantor ada televisi berlayar besar dan akses internet yang lebih baik.

Yah, seperti itulah gambaran singkat Wamena, andai anda mau tahu, Wamena cukup terkenal di Eropa. Banyak turis asing khususnya yang berkulit putih mengunjungi Wamena, menginap di kotanya atau langsung ke hotel bintang lima di pedalaman. Hotel? Jangan heran dulu. Pemandangan pegunungan yang eksotis di lembah Baliem, Distrik Kurulu, mengilhami seorang warga Jerman untuk mendirikan hotel di sana. Gak tanggung-tanggung, berlevel bintang lima, Baliem Valley. Kata pegawai, cost menginap di sana mencapai 900 ribuan per malam. Ada yang kelupaan, setiap Agustus dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia, rutin diselenggarakan Festival Lembah Baliem selama 3 – 4 hari. Bisa ditebak, yang menonton adalah penduduk Wamena sendiri dan turis-turis mancanegara. Memang betul, belum ke Papua kalau belum ke Wamena. Belum ke Wamena kalau belum ke Kurulu.
Satu lagi, anda tahu Organisasi Papua Merdeka (OPM)? Dengar-dengar di Wamena banyak markas-markasnya, meski tidak terang-terangan. OPM hanya berani berkeliaran dan meneror di daerah-daerah pegunungan Papua, seperti Yahukimo, Yalimo, Puncak Jaya, Tolikara, dan tentu saja Wamena. Namun, sampai saat ini di Wamena lah yang paling aman. Menurut saya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus ditangani oleh para pemimpin negeri ini, termasuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat Papua.


Sekian yang bisa saya ceritakan. Lalu.. kapan anda main ke sini? Kalau anda dari Jawa cukup sediakan 10 juta ya.. hehe ^^