07/02/13

Bekerja juga Belajar

Akhirnya, setelah sekian lama, aku kembali ke blog ini. Sudah terlalu banyak jamur, rumah laba-laba, serangga-serangga, dan kuman bakteri tampaknya. Persis seperti rumah dinasku yang sudah seminggu kutinggalkan. ^__^ Tantangan menulis muncul dari sohib berinisial ADC nun jauh di Jakarta. Ok lah bro, demi harga diriku, dan demi menjaga silaturahim denganmu, aku isi lagi blog ini. Hehe.. Yang ingin kutulis adalah mengenai pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik setelah dua tahun lebih masuk di dunia karir. Tapi, kali ini tidak menyinggung kota Wamena ya.. kamu bisa liat itu di tulisanku yang lalu. Kali ini, seluruhnya seputar kantor, Yuk mari...
  1. Membawa Diri dan Memahami Orang Lain
Di dunia kuliah dulu, aku begitu mudah berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Toh, kita hanya bersama dia saat di kampus, toh paling-paling cuma setahun saja trus waktu naik kelas/tingkat kemungkinan untuk bertemu lagi juga sulit, toh yang dibicarakan hanya seputar keseharian kita, tentang bola, politik, budaya, acara-acara kampus, agama, dsb. Menghargai mereka begitu mudah saat itu. Kondisi berbeda kualami ketika sudah menginjak dunia kerja. Di sini ada tuntutan, ada tanggungjawab, ada kerjasama, ada komunikasi yang lebih sering, dan tentunya kita akan bersama dengan waktu yang lebih panjang. 

Sebagai pegawai -bukan entrepreneur- kita mempunyai atasan, atasan kita punya atasan, trus atasannya atasan punya atasan lagi, dst. Kita juga punya rekan bekerja, baik dalam satu bagian/seksi, maupun seksi lain, tetapi dalam satu gedung. Everybody is unique. Semua punya karakter berbeda, punya motivasi berbeda dalam bekerja, punya sense of humor berbeda, hobi yang berbeda, dan keahlian yang berbeda. Lalu, bagaimana caranya agar bisa bersatu?

Selain itu, background masing-masing orang juga berbeda, ada yang Diploma, S1. Ada yang Islam, Kristen,  Hindu, dll. Ada yang orang Jawa, Sunda, Batak, Toraja, Dani, dll. Ada yang patuh beragama, ada pula yang hidupnya hanya untuk hidup. Ada teman yang rajin, suka senyum, ramah, suka membantu, perhatian, dan enak kuajak ngobrol. Namun, ada juga yang egois, jarang keliatan di kantor (suka nglayap), bikin emosi kalau diajak bicara, gak sopan, seenaknya sendiri, dll. Lalu, apakah orang aku harus menjauh tiap bertemu orang ini?

Penyesuaian dan adaptasi itu perlu. Yang kupelajari selama ini, kita tak pernah bisa memuaskan semua orang. Bergaul dengan seseorang itu mempunyai gaya tarik menarik. Jika kita banyak mempunyai kesamaan dengannya, biasanya kita akan lebih nyaman bersamanya. Bagaimana dengan yang tidak suka? Pasti ada juga, tapi yang kita lakukan hanya bergaul seperlunya tanpa memutus silaturahim. Jikalau dia benci, bukan kewajiban kita mengubahnya menjadi senang. Minimal jika hubungan kerja kita sungguh dekat (misalnya teman seseksi atau atasan langsung), kita masih bisa ngobrol dengannya dalam urusan pekerjaan.

Setahuku juga, orang cenderung respek dengan kita ketika kita bertindak benar dalam bekerja. Apalagi jika kita punya keahlian lain yang dibutuhkan kantor. Aku menaruh simpati pada orang yang mau serius dalam bekerja, menjalankan tanggungjawabnya dengan baik, bahkan memacu diri untuk berprestasi. Salah satunya adalah rekan kerjaku saat ini. Tidak salah, ia menjadi Penyuluh Perbendaharaan.

2. Melayani Orang Lain

Dia tidak sekeyakinan denganku (dan kutahu dia aktif di gereja), tapi dia menghargaiku bahkan mengingatkanku saat datang waktu untuk beribadah (sholat-pen). Dia orang timur, tetapi cara dia berkata dan bertindak sama halus dengan wong dalem keraton Jawa. Dia bukan pelawak, tetapi tiap hari ada saja cara dia bikin orang ketawa -meski kadang garing juga, hehe- Dia berkumis, tetapi tampangnya begitu bersahabat bagi para pegawai, pun mitra kerja. Dia adalah atasanku pertama kali. Semua orang mengenalnya sebagai orang baik. Tak pernah marah dan begitu sering mengucapkan MAAF. Bahkan sebelum memerintah atau bertanya kepadaku jika aku sedang sibuk, dia juga tak lupa mengucap maaf.

Yang kupelajari dari pribadinya adalah menjadi orang yang melayani orang lain. Bekerja di Subbagian Umum, yang kita layani bukan mitra kerja (satker), tetapi teman sendiri. Kadang juga tamu dari Kanwil atau Pusat. Perilakunya yang selalu kuingat adalah jika aku sedang lembur dan pullang malam sedangkan diluar hujan, ia rela antar pulang (via mobil), aku kadang sampai menolak-nolak kalau tidak hujan mau dia antar. Namun yang paling terkesan adalah ceritaku berikut:

Suatu siang, kami menjamu rombongan Kanwil. Karena aku belum bisa menyetir, beliau langsung pasang badan ambil posisi kemudi, satu mobil menuju rumah makan. Di TKP, aku kebetulan duduk di depan pejabat Kanwil. Saat mau menyantap hidangan, pejabat itu menoleh-noleh mencari kecap. Atasanku langsung merespon dengan mengambilkan kecap di meja belakangnya. Barangkali kita berpikir, dia akan langsung menyerahkan botol kecapnya, TIDAK! dia melakukan lebih 'ekstrim'. Dengan sopan menuangkan kecap pada mangkuk pejabat itu. Pejabat yang notabene bukan atasan beliau. Sampai pejabat itu tersenyum dan mengatakan "Wah baru sekarang saya dilayani oleh seorang Kasubbag umum". memang joss!! bosku ini. Nasehat terakhir sebelum ia pindah adalah "Tidak pernah rugi menjadi orang baik" dan "Tuhan tidak tidur, pasti Dia akan memberi jalan". Makasih banyak ya pak.. sudah mengajariku suatu nilai hidup.