25/07/11

Sebulan Pertama Bertugas di Wamena

Wamena, ada yang tak kenal? Cowok penggemar dan pengamat sepakbola pasti tahu deh.. Kota yang merupakan Ibukota Kabupaten Jayawijaya Provinsi Papua ini memang lebih mudah dikenal masyarakat tanah air dari persepakbolaannya, yakni dari sebuah klub Persiwa Wamena, salah satu peserta Djarum Indonesian Super League (ISL) dari tanah Cenderawasih. Sebagai salah satu PNS di sebuah Kementerian, sebulan yang lalu saya harus mengemban tugas di kota ini, yang tentu saja masih asing bagi saya. Mungkin untuk beberapa tahun ke depan.

Saat pertama membaca Surat Keputusan Mutasi, saya langsung bertanya-tanya, apakah tempat ini aman dan nyaman bagi saya yang 20 tahun lebih besar dan hidup di Jawa? Pun mendengar kabar-kabar bahwa di masyarakat lokal Papua sangat kental dengan adatnya, hanya mengenakan koteka, potong jari, tinggal di rumah semipermanen bernama Honai, nada bicara yang keras, dan aneka ketakutan lain juga sempat hinggap di kepala ini. Namun, karena sudah menjadi konsekuensi di dunia Pegawai Negeri, maka saya pun bertekad terjun ke medan juang. Yakin, bahwa selalu ada hikmah di balik semua peristiwa.

19 Juni 2010, kaki panjang ini menjejakkan kaki di bumi Papua. Beberapa menit sebelum itu, saya takjub akan keindahan Danau Sentani, hutan, dan bukit-bukit di Jayapura, sampai-sampai masih heran kenapa pesawat mulai mendarat tapi dari kaca saya lihat belum tampak tanda-tanda keramaian. Setelah keluar dari pesawat, barulah saya sadar bahwa pulau di ujung timur Indonesia ini benar-benar masih virgin alias belum terjamah peradaban. Di sekeliling bandara Sentani, Jayapura, tampak bukit-bukit nan hijau, ditambah langit yang benar-benar cerah pukul 07.15 WIT, lengkap dengan angin sepoi-sepoi nampak begitu menenangkan. Saya dan dua teman pun bergantian mengambil gambar beberapa meter di samping pesawat. Dari kejauhan sudah tampak penduduk setempat, yang berkulit gelap dan berrambut keriting ramai di sekitar gedung utama bandara. Alhamdulillah, mereka memakai pakaian, dalam hati saya berujar.

Agak lama mendaftar dan menunggu pesawat ke Wamena, kami baru mulai berangkat sekitar pukul 10.15 WIT. Yang saya tahu, karena wilayahnya yang tidak landai, dari kota ke kota di Papua harus ditempuh lewat jalur udara. Pesawatnya tidak sebesar Garuda, Batavia, Lion, ataupun Sriwijaya, tetapi hanya Pesawat Perintis yang lebih kecil dan sempit. Sebagai makhluk berkaki panjang, saya pun duduk dengan cukup kesakitan di lutut, tetapi cukup terhibur melihat pemandangan dari kaca pesawat. Tampak Sungai Baliem yang besar berkelok-kelok, rumah-rumah kecil beratap seng, honai yang keliatan bulat dan coklat, dan bukit-bukit hijau luas membentang. Subhanallah.. Semakin penasaran bagaimana kisah hidup saya di sana nanti. Alhamdulillah pukul 11.30 si panjang ini sudah menapak di Bandara Wamena. Hati berdesir sembilu, hari-hariku ke depan akan dilalui di kota ini.

Sudah sebulan aku berada di sini, bercanda tawa dengan dua sobat senasibku, Imam dan Ali. Bertiga kami sama-sama menata rumah dinas yang belum siap huni, mulai dari memasang listrik, memasang pompa air dan tandon drumnya, membersihkan dan mengepel lantai, mengisi rumah dengan perabot-perabot sangat mahal, hingga menata taman dan pekarangan. Bertiga pula kami harus mulai belajar memasak, membeli belanja di pasar, mengiris bawang dan cabai, sampai harus menikmati sayur lodeh berasa aneh. Haha.. namanya juga cowok bujang. Meski berlidah sama yang tak pernah bohong, tapi dimakan bertiga tentu lebih nikmat. Haha. Alhamdulillah bantuan demi bantuan datang dari para pegawai kantor yang sudah lama di sini. Mulai dijemput pertama kali, ditraktir makan, berangkat kantor bersama, masak bersama, diajarin main tenis, nonton TV, melayani satuan kerja di kantor, main pingpong dan karaoke dikala senggang, hingga diberi beberapa perabot rumah tangga penting. Semoga keluarga baru ini bisa mengobati kesepian hati seorang jomblo bermutu, dan mengobati kerinduan pada kampung halaman dan ortu.


Mungkin cukup sampai di sini bercakap-cakapnya. Selama sebulan ada hal-hal yang menarik dari kota ini yang ingin ku ceritakan. Wamena adalah Papua sebenarnya. Belum ke Papua kalau belum ke Wamena. Lets check it out.

The Highlander
Kabupaten Jayawijaya berada di tengah-tengah pulau Papua, yang kalau kita lihat di peta Indonesia, maka kelihatan berwarna orange. Yap, saya akan jadi wong gunung (the highlander). Ketika berada di dalam kota anda akan menyadari bahwa di semua penjuru anda bisa melihat bukit-bukit baik yang hijau maupun yang hanya berupa batuan. Di dekat kantor bupati, bukit akan kelihatan jelas teksturnya ketika cuaca cerah, sungguh memukau. Tak kalah eksotis ketika cuaca mendung, yang tampak hanyalah siluet-siluetnya. Inilah kota lembah di antara bukit. Ketika liburan, kami bertiga diajak jalan-jalan mengitari bukit-bukit itu menuju Kabupaten tetangga. Subhanallah.. sungguh tak jemu mata memandang nikmat Tuhan ini. Kamipun sempat sarapan dan mengabadikan gambar di beberapa spot. Malah pas lagi sarapan, diganggu babi dan anak-anaknya.. Whaa..

Brrrrrr..rasa dinginnya
Sampai tulisan ini ditulis, saya belum pernah sehari tanpa mengenakan jaket. Kalau ada yang sudah pernah ke Bogor, Malang, atau Bandung, jangan mengklaim di sana itu dingin. Saya juga sudah pernah ke kota-kota itu dan ternyata di sini sungguh sangat amat dingin sekali. Tiap malam menjelang tidur, kami bertiga selalu mengenakan jaket tertebal yang kami punya, menyelimuti diri dari badan sampai kaki, bahkan jika perlu memakai tutup kepala, sarung tangan, dan kaos kaki. Karena belum punya kaos kaki, saya sering bangun malam karena kaki serasa membeku. Hingga selalu malas untuk mandi pagi. Meski kami juga sering memasak air ketika mandi, tetapi sehabis mandi badan justru makin menggigil. Siang hari yang paling cerah pun, angin dan suhu udara masih terasa dinginnya. Keringat jadi jarang mengucur meski sudah berolahraga, hingga kami pun jarang mandi sore. Ups... buka kartu nih. Seperti di luar negeri, ketika masih pagi, ketika berbicara maka mulut kami akan mengeluarkan asap, keren ya.. 


Dollar Wamena
Namanya saja kota terpencil, kemana-mana paling mudah pakai transportasi udara, meski tentu saja dengan biaya mahal. Otomatis, hampir semua barang yang dijual di sini mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. Inflasi lokal gitu deh. Hingga kami dan para pagawai menganggap mata uang yang berlaku di sini adalah Dollar Wamena, 1 Rupiah = 2 atau 3 Dollarwamena, tergantung dari berat barang dan dari mana barang diperoleh. Saya kasih contohnya deh.. Harga minuman ringan seperti Mi**** atau Fr***** aja Rp.10.000,-. Nasi padang ataupun ayam goreng Rp 25.000,-. Nasi uduk tanpa lauk Rp 15.000. Aduuh... Pakaian, perabot rumah, jasa fotokopi, percetakan, dll juga sama. Sepeda cewek yang berkeranjang depan dihargai 1,5 jutaan di sini. Apalagi bahan-bahan bangunan yang berat-berat. Makanya rumah penduduk asli di kota ini kebanyakan beratap seng dan berdinding kayu. Karena harga makan di warung berkali-kali lipat daripada di Jawa, sedangkan penghasilan tidak bertambah signifikan, kami terpaksa memasak sendiri untuk makan. Sehari cukup empat puluh sampai lima puluh ribu untuk dimakan bertiga. Membeli sesuatu pun berpikir berulang-ulang. Menahan diri sampai ketika ada acara di Jawa, dan membeli dengan rupiah standar. Hehe


Disini ada Mall?
Perkembangan suatu kota sering kita lihat dari adanya fasilitas-fasilitas umum seperti mini market, mall, plaza, taman, kafe, fasilitas olahraga, tempat ibadah, sekolah dll. Wamena ternyata tidak seburuk dugaan awal saya. Di sini ada Cikal Mall, alias Mall yang belum jadi. Haha.. kata pegawai sudah delapan tahun belum selesai. Duuh.. Ada sekitar empat gereja dan empat masjid besar, dua taman kanak-kanak, satu SD, satu SMP, dan satu kampus swasta berstatus TERDAFTAR. Alat transportasinya ada angkot untuk keluar kota, di dalam kota ada ojek dan becak yang kebanyakan dikayuh oleh penduduk setempat. Mau belanja? Bisa.. Wamena adalah kota dengan banyak ruko, uniknya, bangunan ruko harus dibuat serupa, yakni berwarna hijau dan di atasnya dibikin berbentuk honai. Sudah ada Peraturan Daerahnya lho.. kebanyakan menjual pakaian, makanan, dan alat rumah tangga. Toko laptop ada juga lho.. In**maret ataupun Al**mart belum ada, adanya Wamena Mart. Pasar tradisionalnya pun berkembang pesat. Warga lokal kebanyakan jualan sayur, sedangkan pendatang jualan rempah-rempah, beras, minyak, dan lainnya. Mau olahraga, ada lapangan tenis milik kantor saya –yang dipakai bersama dengan pegawai dari instansi lain- pun bisa dipakai untuk voli. Lalu, tentu saja ada Stadion Kebanggaan Wamena, Stadion Pendidikan, kandangnya Persiwa. Hehe
 

Ada ‘darah’ di jalanan
Bicara Papua, tak lengkap jika tidak menceritakan tentang warga lokalnya. NO RACISME ya.. mereka kan juga saudara kita sebangsa dan setanah air. Ada beberapa kebiasaan warga yang unik. Anda pernah lihat film DENIAS. Ingat dengan tas yang ia pakai? Itulah Nokan, tas khas Papua. Beberapa warga di jalanan sering mengenakan Nokan di kepala mereka bukan di pundak seperti orang biasanya. Rambut yang keras dan keriting ketika lebat dan diikat bisa menjadi pengganjal nokan agar tidak jatuh. Tas itu bergelantung di punggung dan bisa diisi apa aja tergantung daya melarnya.
“DILARANG MAKAN PINANG”, peringatan itu pertama saya temui di bandara Sentani. Ternyata, artinya dilarang makan pinang, karena jika anda makan pinang pasti anda akan meludah. Maka jangan heran jika di sepanjang jalan, sering saya temukan bercak merah-merah yang semula saya kira darah. Ngeri.. haha. Kebanyakan warga di kota ini berpakaian dan berrumah dari kayu dengan atap seng. Lain halnya ketika sudah keluar kota. Namun, beberapa dari mereka masih nyeker alias tidak beralas kaki. Saya belum tahu alasannya. Kebiasaan mabuk warga setempat –seperti info yang saya dapat sebelumnya- sejauh ini belum saya temui. Konon, pemda sudah menerbitkan peraturan dilarang mabuk. Kalau mabuk, maka siap-siap dijeburkan ke dalam kolam “sadar ingatan”. Sebuah kolam di dekat kantor bupati yang berair cethek untuk menghukum para pemabuk.
 

Masalah yang menurut saya masih menjadi penyakit adalah kebiasaan mencuri. Kasus pencurian di sini sangat tinggi. Sandal jepit di luar rumah saja bisa dicuri lho.. Ketika siang hari, jendela pun gak sungkan-sungkan akan dicongkel. Maka, yang kami lakukan pertama kali di rumah dinas adalah memagari jendela dengan kayu layaknya jeruji besi di sel, dan memaku mati jendela itu. Pintu kami tambahi gembok pula. Pokoknya keamanan paling penting, keindahan nomor tiga puluh dah..
Adat-istiadat suku pedalaman Papua, sampai saat ini belum saya lihat dengan mata kepala. Mungkin karena lokasinya di kota dan sudah mengenal peradaban modern. Menurut informasi dari berbagai sumber, suku asli Papua mempunyai adat istiadat yang masih dipegang teguh sampai saat ini, diantaranya mandi lumpur, potong jari dan bakar batu ketika ada keluarga yang meninggal, perkawinan, dll. Bahkan konflik-konflik antar kampung atau suku sering diselesaikan dengan perang demi menjaga adat. Pakaian ala kadarnya bagi perempuan, dan koteka bagi laki-laki juga masih dilestarikan oleh penduduk pedalaman Papua.
 

Namun, tak perlu takut dengan mereka, sekeras-keras apapun, mereka juga punya nurani. Suatu hari ketika ke pedalaman mengendarai Kijang, saya baru tahu bahwa ternyata anak-anak kecil di sana sangat menantikan para pendatang yang berkunjung melintasi jalanan, ketika pegawai senior di kursi depan menawari dan kemudian melempar permen –lebih dikenal dengan gula-gula- mereka langsung berlarian dan berebutan satu sama lain. Orang tua mereka pun langsung melemparkan senyum ke arah kami.

Mainan kami sehari-hari
Makan masakan istri sendiri tentu lebih nikmat, karena dimasak dengan cinta. Lalu bagaimana jika yang masak teman sendiri? Cowok pula.. Dimasak pake cinta pun tetep gak enak. Haha. Agar lebih efektif, kami membagi jadwal memasak untuk tiga orang. Belajar dari nol ceritanya. Resep kami dapat dari istri pegawai, dari internet, dan dari ibu. Sayur Bening, Sop, Tumis Kangkung, Tumis Teri, Tumis Labu Siam, Tumis Kacang, Lodeh, dan Kolak Pisang sudah kami buat, jangan tanya rasanya ya.. Lauknya gak bervariasi.. paling-paling telur dadar, ceplok, tempe, tahu, dan sarden. Kalau mau makan ayam paling ke rumah makan, lebih praktis meski kantong menipis. Haha. Inilah mainan kami sehari-hari. Kalau berhasil syukur, gagal ya tetap dimakan toh.. wong perut juga gak bisa dikompromi. Kalau gagal, senjata terakhir adalah kecap atau kerupuk, keduanya bisa mengaburkan rasa yang kurang cocok di lidah. Haha.. Kalau punya resep masakan, bagi-bagi ya.. plis..
 

Berlama-lama di kantor
Masyarakat tentu senang ketika PNS begitu disiplin, apalagi ditambah kinerja yang oke punya. Nah, di Kementerian tempat saya bernaung, kedisiplinan adalah yang nomor 1. Kita sudah diharuskan absen Finger Print (sidik jari) tiap mulai kerja (08.30) dan selesai kerja (17.00). Itu juga yang kami lakukan di Wamena ini. Alhamdulillah suasana kantor benar-benar kondusif. Atasan dan bawahan benar-benar bisa membaur tanpa mengurangi sikap saling menghormati. Salah satu atasan pun sering menjadi bahan bercanda kami-kami disini. Sedangkan satu-satunya atasan yang wanita sudah kami anggap sebagai ibu/nenek sendiri –biasa dipanggil Oma- yang sering memberi nasehat-nasehatnya. Suasana kantor ini benar-benar membuat kami betah di kantor. Apalagi kalau dihitung-hitung waktu di kantor memang lebih lama daripada waktu di rumah jika dikurangi waktu tidur. Plus di kantor ada televisi berlayar besar dan akses internet yang lebih baik.

Yah, seperti itulah gambaran singkat Wamena, andai anda mau tahu, Wamena cukup terkenal di Eropa. Banyak turis asing khususnya yang berkulit putih mengunjungi Wamena, menginap di kotanya atau langsung ke hotel bintang lima di pedalaman. Hotel? Jangan heran dulu. Pemandangan pegunungan yang eksotis di lembah Baliem, Distrik Kurulu, mengilhami seorang warga Jerman untuk mendirikan hotel di sana. Gak tanggung-tanggung, berlevel bintang lima, Baliem Valley. Kata pegawai, cost menginap di sana mencapai 900 ribuan per malam. Ada yang kelupaan, setiap Agustus dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia, rutin diselenggarakan Festival Lembah Baliem selama 3 – 4 hari. Bisa ditebak, yang menonton adalah penduduk Wamena sendiri dan turis-turis mancanegara. Memang betul, belum ke Papua kalau belum ke Wamena. Belum ke Wamena kalau belum ke Kurulu.
Satu lagi, anda tahu Organisasi Papua Merdeka (OPM)? Dengar-dengar di Wamena banyak markas-markasnya, meski tidak terang-terangan. OPM hanya berani berkeliaran dan meneror di daerah-daerah pegunungan Papua, seperti Yahukimo, Yalimo, Puncak Jaya, Tolikara, dan tentu saja Wamena. Namun, sampai saat ini di Wamena lah yang paling aman. Menurut saya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus ditangani oleh para pemimpin negeri ini, termasuk memperhatikan kesejahteraan masyarakat Papua.


Sekian yang bisa saya ceritakan. Lalu.. kapan anda main ke sini? Kalau anda dari Jawa cukup sediakan 10 juta ya.. hehe ^^

30/04/11

STAN pancen oye!!


Mungkin ini adalah tulisan ke sekian mengenai STAN, tetapi tampaknya masih menarik untuk diperbincangkan, apalagi ini adalah momen yang tepat untuk membicarakannya ketika siswa-siswi SMA/SMK kelas 3 sebentar lagi akan merampungkan masa belajarnya dan bersiap mencari tempat studi baru. Memang, tidak dipungkiri, kampus ini mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak, terkait beberapa tingkah polah salah satu lulusannya yang menjadi popular di berita nasional akibat menerima suap (korupsi) dengan segala kehebohannya. Pun akibat dari diyakininya opini bahwa masih ada praktik-praktik kotor di segala lini Kementerian Keuangan. Tapi percayalah, bak sekeping logam, segala sesuatu memiliki dua sisi, ada kebaikan dan keburukan. Generalisasi bukan lagi cara yang bijak untuk mengambil kesimpulan, jika seorang siswi sekolah “X” hamil di luar nikah, apakah anda langsung berasumsi semua siswi “X” juga mempunyai aib yang sama?

Bagaikan pepatah terkenal “anjing menggonggong kafilah tetap berlalu” juga sesuai dengan lagu mars STAN “tak mampu badai tak jua halilintar goyahkan citra kampus kita”, semua sorotan negatif bahkan terkadang fitnah itu dihempaskan begitu saja oleh angin keprofesionalan yang dilaksanakan alumni-alumninya. Dengan gagah perkasa mereka melanglang buana, ke seluruh pelosok Indonesia, Aceh sampai Papua, mengisi pulau-pulau dan kota-kota yang tak hadir di peta, bahkan rela meninggalkan keluarga tercinta. Bagi pembaca yang merasa ini adalah hal yang biasa, sebenarnya tidak. Mereka bisa saja bekerja sedemikian hingga pundi-pundi uangnya cukup untuk membuka usaha. Konon katanya, alumni STAN juga sebagian ada yang keluar dari PNS, mereka memilih ‘mengabdi’ di tempat lain meski tentu saja tetap menghargai almamater dan kantor asalnya. Lalu mengapa masih penuh curiga?

Apa itu STAN

Mungkin cukup pengantarnya. Baiklah, sebelumnya saya ingin memperkenalkan bahwa saya juga alumnus Perguruan Tinggi Kedinasan ini. Saat ini saya bekerja di Direktorat Jenderal Perbendaharaan, salah satu bagian dari Kementerian Keuangan. Sebagai alumnus, saya merasakan kebahagiaan dan kebanggaan pernah bergabung dengan lingkungan belajar yang menyenangkan, atmosfer yang membangkitkan harapan, dan teman-teman yang begitu luar biasa. Seperti halnya Kampus Kedinasan yang lain, STAN memiliki keistimewaan. “GRATIS, LANGSUNG KERJA!!”, jargon itulah yang sering muncul di pamflet-pamflet bimbingan belajar masuk STAN, dan juga seperti itulah kalimat propaganda yang dituliskan pada buku-buku latihan soal masuk STAN. Tidak salah, jika saya dan sebagian kecil orang Indonesia ingin dan bersedia masuk STAN. Mengapa di samping “ingin” juga ada “bersedia”? Tentu saja karena kami harus siap dengan segala resiko masuk STAN, yaitu di larang menikah selama kuliah dan bersedia ditempatkan di mana saja ketika lulus. Dua resiko ini dengan sadar kami abaikan ketika kami bersedia menandatangani Lembaran Surat Pernyataan bermaterai saat pendaftaran ulang.

STAN adalah nama terkini dari Institut Ilmu Keuangan (IIK). IIK berdirinya berdasarkan Keppres Nomor:45 Tahun 1974 jo Keppres Nomor : 12 Tahun 1967. Pada tanggal 17 Maret 1975 melalui Surat Keputusan No.13495/MPK/1975 diperoleh izin penyelenggaraan pendidikan akuntan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Program Diploma Keuangan yang semula diselenggarakan terpisah dari STAN, kini dilimpahkan pengelolaannya kepada Direktur STAN sesuai dengan Surat Tugas Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan Nomor: ST-098/BP/1997 tanggal 31 Oktober 1997 dan Surat Edaran Kepala Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan Nomor: SE-048/BP/1998 tanggal 29 Oktober 1998.

STAN menyelenggarakan pendidikan Program Diploma (1 dan 3) bidang Keuangan Negara. Secara hirarki STAN merupakan bagian dari Kemenkeu, tepatnya berada di bawah Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK). Saat ini berlokasi di Kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Tujuannya tidak lain adalah mendidik mahasiswa supaya mempunyai pengetahuan dan keahlian di bidang akuntansi dan keuangan sektor publik dan mempersiapkan mahasiswa agar kelak menjadi Pegawai Negeri Sipil yang berdisiplin kuat, berakhlaq tinggi dan penuh dedikasi.

Kurikulum, Pendidikan, dan Aturan

Sebagai kampus kedinasan, kurikulum dan pendidikan mempunyai keunikan yang tentu saja berbeda dengan kampus lain. Lebih mudahnya mari kita lihat jurusan-jurusannya (di STAN dikenal dengan ‘spesialisasi’), yaitu Akuntansi Pemerintah, Administrasi Perpajakan, Kepabean dan Cukai, Penilai PBB, Pengurusan Piutang dan Lelang Negara, dan Kebendaharaan Negara. Konon kabarnya (fakta), jumlah mahasiswa di tiap jurusan adalah proyeksi dari kebutuhan tiap Direktorat Jenderal di Kementerian Keuangan dalam tiga tahun mendatang. Dari keenam spesialisasi itu, Akuntansi Pemerintah memimpin jauh dalam hal jumlah mahasiswanya. Ilmu yang diajarkan di sini lebih umum daripada di spesialisasi lainnya. Hampir mirip dengan jurusan Akuntansi di kampus lain, hanya mata kuliah yang terkait pemerintahan lebih banyak porsinya. Sedangkan kurikulum di spesialisasi lain bisa ditebak dari namanya, misalnya Administrasi Perpajakan, di sini diajarkan tarif-tarif pajak dan perhitungannya, dsb. Jika ada yang berminat ikut Ujian Saringan Masuk STAN, tidak perlu bingung memlilih spesialisasi, karena semuanya baik kok. Karena ada biasanya disediakan tiga pilihan, kita tak pernah tahu di spesialisasi mana kita diterima. “Yang penting masuk STAN, apapun jurusannya”, demikianlah komentar-komentar yang sering muncul dari pendaftar.

Pendidikan di STAN menurut saya patut dicontoh oleh semua kampus. Di sini aturan-aturan dijalankan dengan ketat, tetapi sebagai mahasiswa kita masih bisa bernafas. Pakaian harus sopan, bawahan celana/rok panjang, atasan kemeja warna putih/biru/abu-abu/krem. Rambut pun harus dicukur rapi, pria tidak memakai gelang, dsb. Tentu saja untuk mendidik mahasiswa agar bermental disiplin ala PNS. SKS di STAN sudah paketan, artinya kita tidak perlu mendaftar karena tiap semester sudah ada jadwal mata kuliah yang harus kita ikuti tiap minggunya. Mau membolos? Berpikirlah ulang, karena tiap mahasiswa harus ikut kuliah minimal 80% untuk tiap mata kuliah, atau rata-rata bisa bolos maksimal 3 kali per semester (dari 8 pertemuan). Diperbolehkan ijinpun hanya jika ada sakit atau orangtua meninggal, pun harus menyerahkan surat-surat buktinya pada sekretariat. Jika aturan kehadiran tidak dipenuhi, mahasiswa tidak bisa ikut UTS atau UAS, dan tentu saja bernilai E dan otomatis di Drop Out (DO). Selain gara-gara kehadiran, DO juga bisa dikenakan bagi mereka yang tidak patuh pada aturan (menyalahi kode-kode disiplin) seperti mencontek/bertanya dan member jawaban saat ujian, menyuap pengawas, dll. Sekali melakukan tindakan demikian, pengawas tidak segan-segan mengeluarkan kita, dan langsung melaporkannya dalam Berita Acara. Ketika saya tingkat tiga, agar lebih kerasa disiplinnya, STAN pun bekerjasama dengan Markas TNI terdekat, mereka menjadi pengawas kami saat itu. DO yang berfungsi pemicu mahasiswa giat belajar juga berlaku terhadap mereka yang gagal memenuhi batasan IP dan IPK minimal lulus tiap semester. Untuk saat ini IP (semester ganjil) minimal adalah 2,40, sedangkan IPK (semester genap) adalah 2,75. Namun tidak perlu khawatir, sebenarnya IP dan IPK segitu hanya bisa terjadi pada mahasiswa sudah super duper keterlaluan malasnya. Banyak kok yang dapat IPK 3,5 ke atas. Jadi tak perlu takut deh mendaftar STAN.

Serba-serbi STAN

Sebagai mahasiswa kampus kedinasan, ternyata suasananya seperti di kampus lain. Kita bisa ngapain aja sak karepe udele dewe, asalkan tidak melanggar aturan dan mendapat restu dari Kepala STAN. Organisasi Kemahasiswaan begitu laris dibanjiri anggota laksana kolak pisang setiap mau berbuka, Papan-papan pengumuman penuh dengan pamflet-pemflet acara dan terkadang bikin mata capek untuk membaca semuanya. Koran kampus, buklet organisasi, dan bulletin-buletin kerohanian tampak selalu dalam genggaman mahasiswa. Lapangan “Stantiago Berdebu” tak pernah sepi dari aksi tiruan Messi dan aneka kompetisi. Hingga kantin pun disulap sebagai tempat diskusi dan bercanda ria ketika malam.

Di STAN ada BEM yang jadi pemegang mahkota eksekutifnya, BLM sebagai legislatifnya. Bukan hanya ditingkat atas, di tiap spesialisasi fungsi eksekutif dan yudikatif juga ada organisasinya. Yang keagamaan pun tak mau kalah. Tempat ibadah penuh dengan acara-acara menyejukkan. Buat yang punya hobi spesifik juga banyak UKM yang bisa diikuti (ada sekitar 40an), music, fotografi, diskusi ilmiah, futsal, tentu saja ada. Bahkan yang sangat unik macam Permainan Rubik, Toy camera, Sulap, pun ada lho.. Berbagai perhelatan acara baik tingkat kampus, regional, maupun nasional sudah diselenggarakan oleh berbagai organisasi tersebut. Ada juga SPEAK (spesialisasi anti korupsi), sebagai organisasi penggerak semangat anti korupsi yang bekerja sama dengan KPK dan ICW. Saya pun mengaku sempat mengecap dan menelan suka duka di beberapa organisasi karena saya yakin hal ini mampu meningkatkan soft skill saya sebagai bekal di dunia kerja.

Lulus STAN, terus?

Bicara tentang STAN memang tak ada habisnya tapi rasanya cukup sampai di atas. Lalu bagaimana setelah lulus? Jika ada orang yang bilang STAN bukan lagi kedinasan, acuhkan saja, karena sampai sekarang tidak ada keinginan dari pejabat Kemenkeu untuk menghilangkan sifat kedinasan di STAN. Bahkan posisinya semakin diperkuat dengan status Badan Layanan Umum (BLU) di mana STAN diperkenankan memberikan layanan-layanan sebagai tambahan pemasukan, maksud saya layanan lain seperti sewa gedung, diklat, dll. Kalau untuk mahasiswa (saya mengalami sendiri) semuanya GRATIS alias Rp 0,-. Saya hanya membayar pas daftar ulang dan wisuda (jika ingin ikut), itupun dibayarkan kepada otoritas kemahasiswaan bukan kepada sekreterias STAN dan sifatnya ‘tidak’ wajib. Penempatan lulusan STAN untuk angkatan saya masih acak, jadi ada beberapa mahasiswa yang penempatannya tidak sesuai dengan spesialisasinya waktu kuliah (kecuali Akuntansi Pemerintah yang memang bisa kemana saja). Status ketika mulai magang adalah tenaga kerja honorer dengan honor ‘lumayan’ per bulannya, dan menjadi CPNS ketika SKnya telah diterbitkan. Saya pun harus siap melanglang buana tahun ini, karena Ditjen Perbendaharaan mempunyai kantor yang tersebar di pelosok negeri (177 unit). Doakan saya..

Jadi gimana.. mau masuk STAN? Yang perlu diperhatikan: 1) Pelajari soal-soal tahun lalu, karena tipe soal hampir sama dari tahun ke tahun, kuasai semuanya, ini yang paling penting!! 2) Jangan jadikan STAN pilihan satu-satunya, dulu saya juga sudah kuliah di PTN di Semarang, 3) Kondisi saat mengerjakan harus fit, 4) boleh ikut bimbel tapi percayalah anda yang menentukan semuanya, 4) Jangan bertindak curang, sudah banyak kasus yang berhasil diungkap, 5) Jangan merasa aman karena anaknya pejabat Kemenkeu, karena USM STAN sangat fair, 6) Minta doa dan restu orang tua, 7) Pahami sistemnya, nilai akan diperingkat nasional, tidak ada kuota-kuota per daerah / tempat daftar, mendaftar di manapun peluangnya sama, 8) Berdoalah pada Tuhan, jika anda ingin masuk STAN karena ingin merugikan negara, saya doakan agar anda GAGAL TOTAL dalam USM tersebut!

Biasanya pendaftaran STAN dibuka antara bulan Mei-Juni-Juli, jadi aktiflah untuk mencari informasi dari kakak kelas yang kuliah di STAN, atau lebih efektifnya langsung buka situs resminya www.stan.ac.id.

Saya berharap info ini dapat bermanfaat bagi siswa-siswi SMA, terutama mereka yang punya potensi tetapi ragu-ragu untuk kuliah karena terbentur biaya. Asal niat kalian bersih, jangan ragu untuk memilih STAN, apapun omongan orang. OK!

Dan akhirnya saya hanya bisa mengucapkan Alhamdulillah atas kehendakNya saya diijinkan merasakan kuliah di kampus yang benar-benar hebat. Segala nama baiknya semoga tak akan pernah terkikis dengan kelakuan oknum, isu-isu miring, bahkan fitnah tak berdasar. Lihatlah anak-anak yang mampu membahagiakan ibu kandungnya (STAN) dan bangsanya macam Helmy Yahya, Edwin Manansang, Amin Sunaryadi (mantan wakil KPK), dan Haryono Umar (salah satu Ketua KPK sekarang) bukan anak-anak cacatnya. Jayalah terus almamaterku!!

Di bawah ini saya sertakan daftar kampus-kampus kedinasan dan situsnya, semoga bermanfaat..

1. STIS (www.stis.ac.id) Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, di bawah Badan Pusat Statistik

2. AKAMIGAS-STEM (www.akamigas-stem.esdm.go.id) Akademi Minyak dan Gas Bumi, di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI.

3. MMTC (www.mmtc.ac.id) Sekolah Tinggi Multi Media Training Center di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo)

4. STSN (www.stsn-nci.ac.id) Sekolah Tinggi Sandi Negara, di bawah Lembaga sandi Negara

5. STKS (www.stks.ac.id) Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial, di bawah Kementerian Sosial RI

6. STPN (www.stpn.ac.id) Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, di bawah Badan Pertanahan Nasional RI.

7. IPDN Institut Pemerintahan Dalam Negeri, di bawah Kementerian Dalam Negeri RI.

8. AKIP (www.depkumham.go.id atau www.ecpns-kemenkumham.go.id) Akademi Ilmu Permasyarakatan di bawah Kementerian Hukum dan HAM.

9. STTT (www.stttekstil.ac.id) Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, di bawah Kementerian Perindustrian RI bekerja sama dengan Pemerintah Jerman.

10. AMG (www.amg.ac.id ) Akademi Meteorologi dan Geofisika, di bawah Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

11. ATK (www.atk.ac.id) Akademi Teknologi Kulit, di bawah Departemen Perindustrian RI.

12. STTD (www.sttdbekasi.ac.id) Sekolah Tinggi Transportasi Darat, di bawah Kementerian Perhubungan RI.

13. PTKI Medan- Pendidikan Teknologi Kimia Industri Medan.

14. STAN (www.stan.ac.id) Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, di bawah Kementerian Keuangan RI.

Referensi: http://www.facebook.com/profile.php?id=1508386399&ref=ts#!/notes/maftuh-prihantono/info-perguruan-tinggi-kedinasan/181739421877294, dan http://www.edukasi.kompasiana.com/2010/03/26/mengenal-kampus-stan-almamater-gayus-tambunan/

I'm so guilty,,


Judul di atas adalah bunyi status facebookku pada suatu malam setelah Isya, tepatnya pada hari Minggu, 24 April 2011. Usut punya usut ternyata pada hari itu aku mengalami banyak hal, tentu saja komplit dengan hikmah yang bisa aku petik.

Berawal dari habisnya tiket bus malam jurusan Jakarta. Ini baru pengalaman pertamaku membeli tiket tetapi sudah habis. Memang liburan akhir pekan yang ditambah libur nasional (Meninggalnya Yesus Kristus) membuat banyak orang yang bekerja di Jakarta memiliih pulang ke kampung halaman. Waktu aku berangkat mudik pada hari Kamis malam, kereta pun penuh, hampir saja aku gakbisa pulang karena kehabisan tiket, dan lagi-lagi saat kembali saat aku ingin kembali ke Jakarta, aku kalah cepet dengan para perantau dalam membeli tiket. “Masih ada satu mas, jurusan Lebak Bulus, mau?”, seorang penjual tiket bis bilang padaku. Kuurungkan membelinya karena jurusanku Rawamangun, kalau harus ke Lebak Bulus, keyakinanku 90% bahwa aku akan terlambat ngantor besok. Tanpa pikir panjang, aku mencari di phonebook hapeku nama seorang kawan yang tinggal di Semarang, lalu kutekan keypad bergambar telepon hijau, di adalah kawan sekostku di STAN. Kumohon agar dia mau membelikanku tiket kereta api Tawang Jaya di Semarang pagi itu, saat itu masih pukul 10.00 WIB. Domisiliku yang jauh dari stasiun Poncol Semarang membuatku tidak bisa mengantri tiket pagi itu.

Sejam kemudian, kuhubungi dia lagi, katanya antrian sudah mengular. Hati kecilku jadi tidak enak karena ngerepotin seseorang, tapi mungkin inilah arti pertemanan, suatu saat aku harus bisa membalas budinya. Akhirnya dia sms kalau sudah dapat tiket ‘berdiri’. Kereta ekonomi memang menyediakan tiket berdiri bagi penumpang ketika tiket duduknya sudah habis. Tiket berdiri yang dijual 50% dari yang duduk. Namun, biasanya ada ‘tangan-tangan licik’ yang membuat kapasitas kereta jadi overload. Karena ini adalah pilihan satu-satunya akupun bersyukur pada Allah.

Setelah packing, tidur 2 jam siang itu, lalu makan siang dan sore, mandi dan sholat, akhirnya aku harus meninggalkan keluarga tercinta, waktu tiga hari memang sebentar, tetapi cukup mengikis kerinduanku pada mereka. Kucium tangan ibuku waktu itu. Ke Semarang aku diantar oleh tetangga yang masih satu buyut denganku via motor. Sore itu cuaca agak hujan, sehingga terpaksa memakai jas hujan. Perjalanan mulus hingga sampailah kami di stasiun tepat sebelum Maghrib.


“Aku dah nyampai stasiun, kutunggu di depan loket 2”, ku sms temanku saat itu juga. 20 menit ia belum juga datang, perasaanku kurang nyaman. Sekitar pukul 06.15 dia akhirnya nampak, dengan wajah yang kurang bersemangat dan langkah tergopoh-gopoh pria berjaket biru itu bilang “Mbang, dompetku jatuh!”. Glek..glek.. rupanya Allah menguji kami. Kubantu dia mencari dompet yang jatuh di sekitar lokasi parker yang kurang penerangan, berulang kali dia bergumam sendiri, “ada senter gak ya?”. Aku pun hanya bisa membisu meski kadang ikut menenangkannya mencari dompet itu. Dia menjelaskan bahwa di dalamnya ada tiketku, pun isi kartu-kartunya lengkap, ada SIM, ATM, STNK, KTP, uang, dll. Semakin aku merasa bersalah atas keputusanku meminta tolong padanya membelikan tiket tadi pagi. Perasaan cemas mulai menggelayut, apakah aku bisa pulang malam ini. Lima belas menit kami mencari bolak-balik tapi belum ada tanda-tanda. Bertanya pada petugas dan orang-orang di dekat parkiran, gak ada yang mengaku tahu atau melihatnya. Hingga ia putus asa dan mengikhlaskannya.

Aku memberanikan diri pamitan padanya dan pada tetanggaku dengan perasaan bersalah
luar biasa. Kuminta maaf padanya atas semua ini. Juga mendoakan agar dia bisa mendapat ganti yang lebih baik. Aku langsung menuju pintu masuk, dengan niat membeli peron agar bisa masuk kereta tanpa tiket, ternyata hal itu dilarang. Bagi sebagian orang (oknum), ketika tidak ada tiket maka masuk saja ke kereta, kemudian pas ada sidak tiket, kita bayar petugas di dalam kereta. Aku kali ini terpaksa jadi oknum, tetapi Allah ternyata tidak menghendaki. Astaghfirullah.

Saat itu, di stasiun sedang ramai, banyak orang mengantri tiket, yaitu untuk KA. Brantas dan KA. Kertajaya, dua-duanya kelas ekonomi. Setelah bertanya-tanya, kuputuskan untuk naik salah satu di antara kereta itu, mana yang paling cepet berangkatnya. Saat itu aku masih tidak bisa sholat maghrib, mushola stasiun ada di dalam, dan aku tidak bisa masuk, padahal Isya sudah dekat. Kondisi dan situasi saat itu benar-benar membuatku kurang nyaman. Aku berniat untuk menjamaknya nanti ketika sudah di dalam stasiun. 25 menit kemudian, tiket KA. Brantas jurusan Jakarta Tanah Abang sudah di tangan, dengan langkah pasti aku masuk ke dalam stasiun, dan menjamak sholat Isya dan Maghrib.

Pukul 20.30, Tak biasanya aku di Poncol sampai jam segini, kereta Tawang Jaya yang rencananya kunaiki sudah berangkat sejam yang lalu, aku duduk menunggu KA. Brantas yang seharusnya sudah muncul setengah jam yang lalu. Sejurus kemudian, kereta itu datang juga. Aku memilih gerbong pertama dengan pertimbangan ketika berdiri di dalam kereta tidak dilewati para pedagang yang biasa menjajakan dagangan selama perjalanan. Namun, aku harus membakar semangatku lagi ketika kulihat kereta itu sudah penuh dengan penumpang, bahkan untuk masuk ke gerbong membutuhkan keberanian untuk menerobos kumpulan manusia di dekat pintu.

Dalam beberapa menit, apa yang kupandang hanyalah wajah dan tubuh manusia-manusia yang duduk, berdiri, jongkok, dan berjalan di dalam kerata. Semua kursi pastinya telah diduduki, dan semua tempat kosong, baik yang di lorong antar kursi (dimana orang biasa jalan), di deket pintu, di bawah kursi, bahkan di toilet sudah diisi oleh penumpang. Pemandangan ini sebenarnya biasa kualami ketika naik kereta ekonomi, tetapi kali ini lebih padat dari biasanya. Alhamdulillah masih ada tempat untuk aku berdiri, pun meletakkan tasku. Ku sms temanku tadi “Iki wis ning nduwur Brantas. Matur Sorry banget bro (Ini aku dah di atas KA Brantas. Sorry banget bro). Nyesel aku wis nyusahke wong.. Semoga Allah membalas dengan lebih baik, mendapat ganti rizki yang lebih baik”. Dan dia membalas “Amin, gakpopo mbot, jenenge musibah kan gak ono sing ngerti. “Aku yo sori mbot, tiketmu ilang sisan. Malah mbok ganti juga. Ati2 yo mbot (Aku juga minta maaf mbang, tiketmu hilang. Malah tadi kau ganti juga. Hati-hati yam bang)”. Kujawab “Oke” dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.


Perjalanan semakin lama semakin berat, pergelangan kaki dan lututku sudah hampir rubuh menahan berat tubuh. Aku sudah gak kuat lagi. Tiga jam sudah aku berdiri di kereta, sambil sesekali berusaha duduk ketika ada kesempatan, tetapi seringkali gagal. “Ya Allah beri hamba kekuatan”, doaku waktu itu. Dugaanku bahwa aku bisa duduk di lorong itu salah, orang-orang di dekatku lebih berani dan gak punya malu daripada aku. Kebanyakan pada berani menyerobot/minta tempat duduk pada orang-orang yang duduk –harusnya sebangku berdua jadi bertiga-. Sebagai orang yang sering dapat tiket duduk dan mengalami rasanya sesak ketika ada yang menyerobot, aku sangat segan bertindak demikian, karena perbuatan itu tentu saja merugikan orang yang duduk. Karena memang tak tahan lagi, akhirnya aku beranikan diri untuk duduk, dengan memasukkan kaki di bawah kursi ketika jam digital hapeku menunjukkan sekitar pukul 12 malam.

Sambil sesekali tertidur, dan lebih sering terjaga, akhirnya pukul 06.00 aku sampai di Stasiun Tanah Abang Jakarta. Stamina tubuh sepertinya tinggal 30%, mata pun sudah 2,5watt. Aku sadar belum sholat subuh, karena ku pikir masih ada waktu sholat di stasiun. Meski matahari tampak sudah memancarkan sinar emasnya, mau tak mau aku harus tetap sholat, aku tak mau berdosa besar, kata seorang ulama Ibnu Qayyim Al Jauziyah, tidak sholat dengan sengaja berarti berdosa seberat membunuh seseorang, berzina, dll. Namun, karena kebelet buang air, akhirnya aku ke toilet dulu. Banyak yang antri. Sesaat sebelum tiba giliran masuk di salah satu ruang toilet, aku letakkan mushaf di depan pintu, di tempat yang cukup aman dan bersih. Itu kulakukan sebagai adab memuliakan nama Allah. Ada orang tua yang bilang “Mas, itu ketinggalan ya?”, sambil menunjuk mushafku. “nggak pak, itu punya saya kok”, jawabku. Setelah kencing dan sholat (semoga Allah menerima sholatku), aku menuju kost di Cempaka Baru via Bajaj.

Singkat cerita, ketika sampai di kost aku baru ingat, kalau mushafku tertinggal. “Aduh, kata-kata bapak tua tadi menjadi kenyataan deh”, gumamku dalam hati. Meski aku berharap mushafku dibaca oleh orang lain alias aku ikhlaskan, tapi dalam hati rasanya enakan aku bisa memilikinya lagi, agak malas kalau harus beli lagi.

Sampai di kantor, aku bersyukur pada Allah, hari itu tidak terlambat, meski tadi berangkat harus tergesa-gesa. Banyaknya oleh-oleh yang dibawa teman magang sekantor hari itu, cukup membuatku ceria kembali. Ada bakpia, lanting, dan lapis legit. Hmm..
Keesokan harinya aku semakin bersyukur pada Allah ketika bertanya pada Ketua kelompok magang yang kemarin tidak masuk. Dia bilang kalau dia sampai kost pukul 12.00 WIB, bus yang ditumpanginya dan katanya juga sebagian besar bus malam yang lain terjebak macet di Subang selama 5 jam. Alhamdulillah.. ternyata Allah memberikan rahmatnya. Meski harus mengalami pengalaman yang serba force meijure, ternyata kehabisan tiket bus merupakan berkah bagiku.

Alhamdulillah juga, sore hari aku mencoba ke Stasiun Tanah Abang sepulang kantor bersama temanku. Oleh penjaga toilet mushafku telah diamankan di mushola. Ujung-ujungnya kembali ke tanganku. I love you full my God.. Hamba benar-benar tak tahu sesuatu adalah berkah atau musibah, karena engkau selalu memberi yang terbaik.

27/03/11

Kita masih egois

Di perempatan jalan kadang terjadi kemacetan
biasanya karena para pengendara tak menaati aturan
lampu merah pun tak dihiraukan
pandangan tetap ke depan seolah lampu itu hanya mainan
Lalu apakah dia mau disalahkan?
jika gara-gara macet itu satu jiwa di ambulans tak terselamatkan



Di persimpangan kereta pun sering terjadi
bukan sekali dua kali, tapi berkali kali, bahkan tiap hari
gara-garanya pas kereta lewat semua tidak langsung berhenti
tapi pada cari posisi, mendekat ke palang, meski tak lagi di jalur kiri
nah.. pas kereta jalan dan palang pun berdiri, kemacetan sesaat terjadi
dua jalur berhadapan persis kayak perang kerajaan Singosari lawan Kediri
Lalu adakah yang mau mengganti rugi?
jika gara-gara itu Peter Parker dipecat gara-gara telat mengantar roti?

Di jalan perumahan pun sama
beberapa rumah ada yang punya mobil dua
mobil yang baru diparkir di garasi, sedang yang tua diparkir di jalan begitu saja..
karena jarang dipakai, tiap hari si mobil tua jadi gundah gulana
gundah karena sering mendengar orang berkata
“ini mobil kok diparkir di sini, menuhin jalanan saja”
Sambil berharap bisa menyampaikan pesan itu pada si empunya

Ah..
Teryata kita masih egois
Tak pernah berpikir logis dan kritis
Agar menjadi sosok yang humanis

Ngomongin tentang kegiatan ngantri, kayaknya semua orang pada malas
Masih ingat kejadian di Pasuruan yang bikin beberapa orang tewas?
Itu lho.. pas pembagian zakat tapi gak ada yang jadi pengawas
Semua berebutan gak liat kalau ada orang lain yang sudah terlindas
Apa memang karena mereka sudah akrab dengan kata “TINDAS”?

Yang ini tambah bikin heran
Di suatu sore di halte busway Bundaran Senayan
Saat itu semua orang masih antri kepanasan
Ya… hampir sudah berdiri dua puluh menitan
Menunggu bus transjakarta abu-abu sampai di hadapan
Tak lama kemudian, datanglah sosok perempuan
Tak ikut antri, malah bikin barisan tambahan
Ingin menegur, tapi busnya kok udah keliatan
Otomatis, pas bus tiba.. kita masuknya jadi uyel-uyelan
Aduh!!! Capek deh!!! Ini bener perempuan bukan?

Ngomongin busway jadi ingat cerita dosen di suatu hari
Katanya saat di naik busway ada ibu hamil yang berdiri
Nah, sang petugas pun melihat kanan-kiri
Mencari-cari laki-laki yang duduk untuk menggantikannya berdiri
Tapi apa jawaban seorang laki2, “ah tidak bisa!, saya kan udah ngantri!”
Meski akhirnya mau berdiri, tapi hatinya kayaknya masih tertusuk duri
Tentu ibu yang hamil tadi berpikir “wah lelaki ini gak sesuai kategori!!”
Hihi..

Dari busway sekarang ke metromini
Sering kita amati
Beberapa orang menutup hidung tanda bereaksi
Saat mencium bau asap dari tempat tersembunyi
Rupa-rupanya ada seorang ahli hisap yang sedang bunuh diri
“Pokoknya kalo gue mati, elo semua juga harus mati!!”
Mungkin gitu kali ya.. suaranya dalam hati
Ah, kalo masalah silinder kecil ini, ulama pun belum BERANI

Sudah begitu lunturnyakah kepedulian kita?
Hingga selalu ingin berfoya-foya
Gak urusan kalo ada orang lain yang menderita
Tidak juga berpikir bahwa ia memakan hak sesama
Hingga persaudaraan bangsa pun hanya utopia belaka

Lalu kenapa kita sering menggerutu menyalahkan bangsa?
Yang katanya selalu ketinggalan dari negara-negara tetangga?
Sedangkan diri tak pernah member solusi
Hanya bisa membawa masalah-masalah baru tak kunjung henti
Tak sadarkah bahwa negara-negara maju itu, mengubah semuanya lewat PERILAKU?

Karena egois, koruptor melakukan korupsi
Karena egois, seorang mantan napi tak mau turun dari kursi PSSI
Karena egois, mantan ketua pemberantasan korupsi pun masuk bui
Karena egois, sipir dan pejabat LP membiarkan Gayus ke Bali

Juga karena egois, pemberitaan di media tak pernah berimbang
Karena egois pula, kerusuhan antar suporter terus berkembang
Karena egois, seorang paman tega mencabuli keponakan tersayang
Apa juga karena egois, diciptakan film Arwah Goyang Karawang?

Ah.. begitu banyak kata lima huruf itu tertulis
Mungkin saya hanya bisa melanjutkan lagi beberapa baris

Mari kita berbenah
Agar bangsa pun ikut berbenah
Hingga akhirnya cita-cita bangsa pun berujung indah
Lalu bagaimana caranya?? Terserah
Bagi saya.. cukup dengan mengamalkan nasehat Aa Gym, sang penceramah

Amalkan 3M
Mulai dari diri sendiri
Mulai dari yang terkecil, dan
Mulai saat ini

Eh.. maaf ada yang ketinggalan belum tertulis
Sebenarnya apa sih arti egois?

(sudah persis gaya nulis Taufik Ismail belum??^^ - liat posting sebelumnya)

20/03/11

Tuhan Sembilan Senti

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.










Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
di lapangan hansip, bintara, perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya,
apakah ada buku tuntunan cara merokok.

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek orang yang berdiri, yang duduk, orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan bagi para dewa-dewa perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur,
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.
Duduk kita di tepi tempat tidur, ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.

Indonesia adalah sorga kultur pengembang-biakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor
perusahaan rokok.

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat kona 'ah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning
dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Julukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok.

Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip
berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih
warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong
dengan kalung tasbih 99 butirnya.

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
Tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.

Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul
yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.

Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.

25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir
diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya
rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu
'alayhimul khabaaith.

Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman
Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi
belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya
jadi dimakruh-makruhkan, jangan.
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.

Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil
yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.

Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk.

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi
lagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.

Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan
longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu
sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam
kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya.

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak
perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat
upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini

(Oleh: Taufik Ismail)

Ketika kantuk menyerang di saat tidak tepat

Fenomena ngantuk di kelas, saat rapat, saat khutbah Jumat (bagi yang muslim), ketika ada sambutan di suatu acara, dll adalah hal yang biasa kita temui. Pernahkah kita mengalaminya? Kalau saya cukup sering, hehe..

Kebiasaan mengantuk yang tidak pada tempatnya ini seharusnya dapat kita hindari, karena tentu saja ada resiko-resiko yang harus kita tanggung. Resiko minimalnya adalah kita tidak mengetahui apa yang dibicarakan oleh seorang narasumber di forum/kelas tersebut, padahal bisa jadi hal-hal yang disampaikan adalah hal yang seharusnya kita ketahui dan hanya di momen itu kita dapatkan, sedangkan resiko maksimalnya adalah ketika kita dipergoki mengantuk hingga terusir dari ruangan itu atau nama kita akan di blacklist oleh beliau dan mempengaruhi nilai rapor kita (jika pembicaranya adalah dosen/guru). Iwan Fals aja bisa terinspirasi dengan fenomena ini lewat lirik “wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat”, dan Presiden SBY pun pernah menegur dengan keras pada pimpinan daerah yang mengantuk saat ia berpidato, kasihan mereka yang kesorot kamera pas lagi teler hingga masuk di berita TV hari itu.. hihi..

Jika kita bertanya pada diri sendiri, mungkin ada banyak alasan yang bisa kita kemukakan sebagai alibi atau pembenaran akan kebiasaan ini, misalnya waktu istirahat yang tidak cukup karena semalam banyak nyamuk (kok gak disemprot ya…), tubuh yang kelelahan karena pagi-pagi harus olahraga keliling monas 10 kali (gempor juga nih…), makan-makanan pemicu ngantuk misalnya nasi goreng (kata temen, ini alasan dia tabu makan nasi goreng ketika pagi, haha..), suhu udara ruangan yang sejuk sepoi-sepoi (jangan-jangan emang sengaja duduk di deket AC, wahh..), gak begitu interest sama apa yang disampaikan (padahal sukanya ngegame DOTA, hmm.. sampai lupa tidur ya mas..), hingga yang terakhir dan paling sering dijadikan kambing hitam adalah pengajarnya yang kurang mampu menyampaikan dengan baik (duduk di depan, pandangan ke bawah atau ke langit, suara ngebass, gak ada interaksi, ngomong cuma sama diri sendiri, sudah merasa cukup dengan slide, dll. Yang kesindir introspeksi ya… hihi.. ^^). Namun, di balik itu semua, tetap saja kembali ke kita, apakah benar-benar bertekad untuk mengikuti kelas dengan penuh antusias, atau tidak ada usaha sama sekali ketika mata sudah benar-benar tertarik antar kelopaknya alias mengantuk. Tentu dengan konsekuensi seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf sebelumnya.

Berikut ini saya sampaikan tips untuk mengurangi atau menghilangkan kantuk di kelas, anda bisa mencoba satu per satu karena bisa jadi hanya satu cara yang paling efektif bagi anda. Lets check it out:

Mengalihkan ngantuk pada hal-hal yang anda gemari
Jika anda gemar menggambar sketsa, maka ambillah pulpen, gambarlah sesuatu pada buku catatan. Jika anda gemar bernyanyi maka bersenandunglah pelan-pelan atau jika tidak memungkinkan gerakkan kaki-kaki dan tangan anda mengikuti irama lagu itu (seperti seorang drummer), jika suka membaca maka bawalah sebuah buku favorit anda lalu bacalah secara sembunyi-sembunyi, tapi ingat jangan keterusan… setelah kantuk hilang fokus lagi ke pelajaran ya..

Minta bantuan teman
Tips yang ini hanya berlaku ketika teman di samping anda tidak ikut mengantuk, makanya cari teman sebangku yang selalu antusias ketika di kelas. Ada beberapa hal yang bisa anda minta pada dia, di antaranya:
Cubitlah aku!
Ya… suruh dia mencubit lengan anda keras-keras,, waduh… Saya sering melakukannya, rasa sakit akibat cubitan itu bisa membuyarkan kantuk kok.

Kageti aku!
Yang ini juga lumayan ngeffek. Sampaikan padanya untuk mengagetkan anda yaitu ketika anda sampai tertidur, dia harus membangunkan anda dengan menepuk bahu atau menyenggol keras-keras. Namun, hati-hati buat yang punya penyakit jantung atau sering latah.. bisa-bisa bikin geger satu kelas.

Plintir aku!
Kok plintir sih?? Aneh??. Sebenarnya maksud saya yang diplintir adalah kulit tangan kita. Caranya adalah dengan memlintir kulit tangan kita seperti ketika memeras cucian basah. Memang sih.. kayaknya tidak baik untuk kulit, tapi cocok untuk di saat-saat genting seperti ini. Namun, tidak berlaku untuk si gemuk..

Pijit aku!
Waduh… ngajarin yang jelek nih… Eits jangan sentimen dulu. Hal ini hanya boleh anda tawarkan pada teman di samping anda yang kebetulan ia adalah sohib atau teman akrab anda. Kalau pada orang yang tidak dikenal bisa berabe, bahkan malah digampar kalo anda adalah cowok dan disamping anda adalah cewek^^. Pijit pada bagian yang umum saja, misalnya bahu dan leher.

Pikirkan hal yang anda sukai atau yang memang harus dipikirkan saat itu.
Yang ini sifatnya pengalihan perhatian sementara. Misalnya anda sedang terlilit hutang, maka bisa saja anda memikirkan darimana berhutang lagi (gali lobang tutup lobang donk.. ^^), atau jika sebentar lagi anda akan menemui orang yang anda sayangi, pikirkan apa yang harus anda lakukan saat itu. Ketika kondisinya anda di dekat jendela dan bisa melihat keluar, maka sekali-kali hiruplah nafas dalam-dalam dan lihatlah objek menarik di luar sana. Ingat, setelah cukup terjaga, kembali pada laptop ya..^^

Ajukan pertanyaan pada pengajar/penceramah di depan
Sebenarnya ngantuk itu muncul karena anda hanya mendengarkan dan tidak melakukan apa-apa. Cobalah, ketika anda bertanya maka otomatis kantuk akan berkurang. Kok bisa? Menurut saya hal itu karena bertanya membutuhkan keberanian/nyali yang tentu memacu adrenalin bahkan kadang terbata-bata saat bertanya (untuk beberapa orang). Nyali itu bisa mengikis timbunan kantuk lho.. Dan tentu saja setelah bertanya kita akan memaksakan diri untuk melek saat narasumber memberi jawaban.. Lalu, kalau dari tadi ngantuk, apa yang ditanyakan?? Bisa bertanya pada teman, atau ketika di awal belum ngantuk, anda sudah siap dengan pertanyaan. Oke!. Eits hampir lupa, tips ini tidak berlaku saat khutbah lho ya…

Cuci muka atau berwudhu (bagi yang muslim)
Tak bisa disangkal lagi, ini cara yang cukup efektif untuk mengusir kantuk. Keluarlah untuk mencuci muka, kalau bisa memakai produk pencuci muka juga lebih bagus. Semakin dingin/sejuk airnya semakin terasa segarnya. Kata seorang ulama nih.. (nasehat buat yang muslim), yang bikin ngantuk saat khutbah menurut hadits adalah para syetan menaburi mata kita dengan semacam bubuk (gaib). Kita tahu syetan terbuat dari api, maka cara membunuh api adalah dengan air… maka jika memungkinkan untuk berwudhu ya berwudhulah..

Makanlah permen
Rasanya yang manis tidak dipungkiri bisa merangsang otak untuk aktif lagi. Sebenarnya saya agak heran, kenapa dulu ketika di SD, dilarang makan permen di kelas ya?? Mungkin kesannya tidak sopan ya.. Tapi saya yakin, ketika SMA dan kuliah kebanyakan pengajar memperbolehkan. Biasanya agar lebih ngeffek saya makan permen kopi atau yang mint. Tapi ya jangan berlebihan ya.. sayangi gigi anda

Cara ekstrem (jika kemungkinan besar akan mengantuk) adalah dengan Tidak Sarapan.
Dari beberapa sumber yang saya simak, setelah mengkonsumsi sesuatu tentu saja tubuh perlu upaya untuk mengolahnya. Nah.. kebiasaan kita sebagai warga Indonesia, bukan namanya sarapan/makan kalau tidak pakai nasi, “buat apa makan kalau tidak kenyang??”. Ketika kita mengkonsumsi makanan berat tubuh diharuskan menyuplai darah ke sistem pencernaan, sistem saraf pun juga terpaksa menyumbangkan stok darahnya yang menyebabkan untuk sementara otak akan kekurangan oksigen. Apalagi nasi mempunyai kadar glicemic yang tinggi, bisa menyebabkan pankreas memproduksi hormon insulin yang banyak, dan itu membutuhkan energi yang tinggi, hingga akhirnya sel-sel tubuh kita kelelahan. Namun, tak dapat dipungkiri sarapan juga perlu sebagai cadangan energi awal untuk beraktivitas. Maka jika anda ingin sarapan, sebaiknya tidak makan dengan porsi besar dan usahakan agar unsur-unsurnya seimbang (tidak berlebih hanya pada karbohidratnya).

Oke cukup sekian tips dari saya.. semoga bermanfaat, selamat mencoba!!




09/03/11

Super Saturday II (Anak itu seperti balon)

Allahlah sang pemberi hidayah, Ia lah penuntut kedua kakiku melangkah. Atas kehendak-Nya aku dipertemukan dengan Mas Emil, atas kuasa-Nya aku berada di ruangan itu. Sungguh indah hidup ini ketika aku merasakan kehadiran-Nya. Sungguh bahagia hati ini, ketika segala ujian dan nikmat selalu kuingat nama-Nya. Ya Allah, terima kasih atas segala rahmat yang engkau berikan selama ini.

Kisahku hari Sabtu itu berlanjut ketika aku MC mulai menyeru, tidak dengan ba-bi-bu melainkan dengan suara yang merdu, mengundang perhatian dari segala penjuru. Acara Islamic Parenting itu dimulai dengan tilawah Qur’an, ayat yang dibaca adalah Surat Al-Luqman dan Ad-Dhuha. Seketika mas Emil menyeloroh, “Cara membacanya mirip .……..” (aku agak lupa dia menyebut siapa). Namun, hal itu sudah menunjukkan bahwa ia adalah pria yang selalu mengingatnya dengan mendengarkan murottal Qur’an. Betapa aku terhentak bahwa aku sudah cukup lama tidak mendengarkan murottal Qur’an lagi untuk menghapal, meski aku sering membaca Firman-firman Allah itu.

Setelah Qur’an dilantunkan dengan sangat fasih, berikutnya sang narasumberpun memasuki ruangan. Semula aku tidak mengenal narasumber, karena ia masuk dari belakang secara rombongan. Ada sepuluh orang ibu-ibu berjilbab yang membawa buku di depan tubuhnya. Mereka tidak berwarna sama, meski begitu tetap menunjukkan keanggunan mereka. Eits, bukannya aku terpesona, jika anda sadari setiap perempuan yang mengenakan jilbab akan lebih anggun daripada tidak berjilbab. Setiap melihat mereka, bagi orang yang beriman akan mengingatkan dirinya pada Allah. Ia lah yang memerintahkan itu semua, dan Ia yang tahu segala hikmah di balik instruksi tersebut. Mereka berdiri di atas panggung, membentuk formasi sejajar, dan mulai menyanyi lagu anak-anak diiringi oleh sebuah organ nan bersemangat. Kami pun diajak untuk ikut berdendang. Lagu diulang-ulang beberapa kali. Setelah selesai, salah satu dari mereka, yang berada di tengah, berbicara. Ia mengenalkan dengan singkat akan keindahan dunia anak-anak, dan bagaimana hebatnya ibu-ibu di samping kanan dan kirinya yang bisa membimbing anaknya menjadi hebat. Selanjutnya ibu-ibu itu berbicara dan menceritakan kondisi anaknya sepatah dua patah kata. Aku terkagum-kagum dengan anak-anak mereka, “Anakku usia … tahun, ketika ia ditakuti oleh teman-temannya, eh di situ ada hantu, maka ia menjawab, “ngapain takut, kan ada Allah”, kata salah seorang ibu tersebut. Subhanallah. Ternyata mereka memperkenalkan buku-buku untuk anak terbitan Sygma. Buku itu bertema Islamic Parenting, mengajak orang tua memperkenalkan Allah dan Rasulullah sejak dini, ditambah para nabi dan sahabat, serta keindahan alam semesta. Dengan begitu anak-anak akan lebih mengenal nilai-nilai luhur dalam Islam, daripada nilai-nilai dari tokoh Spongebob, Penguin Madagascar, Power Rangers, dll. Untuk saat ini aku belum begitu berminat, hehe


ilustrasi
Setelah itu hanya tinggal satu orang ibu yang berdiri di atas panggung, dan beliaulah Ibu Kurnia Widhiastuti, sang narasumber. Beliau menggantikan Bunda Neno Warisman yang seharusnya menjadi pengisi acara, Bunda Neno berhalangan karena sedang mengikuti acara mendadak. Beliau ceramah seperti sebuah deklamasi puisi, setiap kata-katanya penuh makna, diksinya indah, dan tiada pernah terbata-bata, terkadang beliau mengajak interaksi dari peserta, makin mampu menyentuh hati karena diiringi dengan denting-denting melodi organ. Jika anda berpikir ini membosankan, sungguh tidak. Ayah-ayah dan bunda-bunda yang hadir disitu kebanyakan juga mengajak anak-anak mereka. Sedangkan yang lajang termasuk aku, juga mengajak anak-anak, anaknya orang lain, tetapi sudah dewasa. (jayus, hehe). Puluhan anak-anak berusia antara 3 s.d. 9 tahun tumpah ruah di situ, mereka berlari-larian di sekeliling kami. Bermain balon, jungkir balik, bahkan menyentuh-nyentuh LCD Proyektor dan layarnya, sungguh ceria. Aku jadi ingin kembali kecil lagi, hehe. Kadang juga mereka berteriak, ada juga yang menangis, tapi suasananya tetap terjaga, K.O.N.D.U.S.I.F. Ada anak kecil yang sungguh lucu, membawa kerudung putih tetapi berasesoris layaknya peri, lengkap dengan sayap pinknya. Bagi aku yang tiada membawa anak, aku bisa lebih fokus pada kata-kata narasumber, mungkin tidak bagi ayah dan bunda yang membawa anak. Namun, sungguh indah suasana waktu itu.
Tidak lengkap rasanya jika saya tidak menceritakan apa-apa yang disampaikan waktu itu. Baiklah, semoga ilmu ini berguna bagi ayah atau bunda yang kebetulan membaca postingan ini. Mari kita simak bersama-sama:

Bunda Kurnia mengajarkan agar kita berhati-hati ketika berbicara pada anak-anak. Sering kita marah ketika kita jengkel pada mereka. Beliau mencontohkan sebuah kisah nyata dari seorang Ibu di Yogya suatu masa. Ibu itu memiliki seorang anak yang sangat menjengkelkan. “Mbok’e ono tembelek ning telapakku (Ibu, ada tahi ayam di kakiku)” Bunda Kurnia mendiskripsikan sifat anak yang menjengkelkan itu. Sang ibu pun langsung menghampiri anaknya, dibersihkannya kotoran ayam itu di kaki anaknya. Kemudian ia kembali ke dapur. Anak itu merengek lagi, sekarang ia malah ingin kotoran ayam itu dikembalikan ke kakinya. Sampai disini mungkin kita sudah jengkel, tapi ibu itu tetap menuruti permintaan anaknya, ditempelkannyalah kotoran itu lagi pada kakinya. Kemudian, beberapa saat kemudian, anak itu mulai merengek lagi, “Kok, tembeleke benyek? (kok kotorannya lembek?)”. Ternyata ia ingin kotoran yang tadi bukan yang lembek seperti sekarang. Jika kita menjadi ibu itu mungkin kita sudah memarahinya habis-habisan, tapi luar biasanya ternyata ibu itu justru berdoa, “Kowe kok ngono to le.. mugo2 besuk iso dadi jenderal sing sukses”. Ibu itu berdoa agar anaknya menjadi orang sukses. Sekarang, anak itu sudah benar-benar menjadi jenderal, ternyata doa ibu tersebut telah dikabulkan oleh Allah. Jadi, berhati-hatilah dengan kata-kata anda ketika memarahi anak, jika anda melakukannya terus menerus, padahal anda tidak tahu kapan Allah mengabulkan doa tersebut, maka bisa jadi kata-kata buruk anda akan menjadi kenyataan. Jika Allah sudah menyetujui kata-kata itu, maka KUN FAYAKUN, semua akan terjadi. Bunda Kurnia berujar, “Salah satu psikolog pernah berujar bahwa penyebab KD bercerai dengan Anang adalah.. karena KD sering menyanyikan lagu Menghitung Hari.. lagu itu berbicara mengenai perpisahan kan.. apalagi KD juga menyanyi I’m Sorry Goodbye”. Wah.. tampaknya kita harus membiasakan berbicara positif nih..

Pelajaran kedua, Rasulullah sering mengelus anak-anak kecil yang ditemuinya. Beliau mengelus mulai dari tengkuk (leher belakang) sampai ke punggung anak tersebut. Hikmahnya menurut ilmu kedokteran adalah terjadinya 1,8 juta sambungan pada neuron otak anak tersebut. Otak bayi terus berkembang cepat sampai umur 10 tahun, jika terus disentuh maka efeknya akan memperbanyak jumlah neuron pada otak itu dan akan menyebabkan kemampuan otak bisa maksimal. Ingatan yang baik pada anak harus dimanfaatkan dengan baik oleh orang tuanya. Ayah dan bunda harus terus mengingatkan ketika waktu sholat datang, bukan hanya sekali, tetapi harus berkali-kali.
Kemudian, beliau menjelaskan bahwa “Anak kecil itu seperti balon”. Sedangkan orang tuanya adalah sebagai peniup. Ada orang yang ingin punya balon, tetapi tidak diijinkan Allah mempunyai balon, ada yang sudah diberi balon, tetapi tidak mampu meniupnya. Mengenai tiup meniup ini, Bunda Kurnia menjelaskan bahwa ada beberapa karakteristik dari balon yang ditiup, yaitu:

1. Dia bisa ditiup, tetapi bocor
Sampai umur enam tahun, anak ini terus dibimbing dengan baik, diajari mengenai berbagai macam hal sejak usia dini. Hal itu menyebabkan dia menjadi anak yang hebat. Namun, ternyata ilmu yang diajarkannya hanya seputar ilmu dunia bukan ilmu akhirat (agama). Akhirnya anak itu dianalogikan sebagai balon yang bocor. Jadi orang hebat di dunia tetapi jauh dari Tuhannya. Bisa saja hal itu menyebabkannya kepintarannya membuatnya terjerumus pada kemaksiatan.

2. Dia bisa ditiup, tetapi meledak
Orang tua dari sang anak sangat berambisi agar anak tersebut menjadi seseorang yang dia inginkan, diajarinya berbagai macam hal baik itu ilmu dunia ataupun akhirat. Namun, ia tidak mengetahui pola asuh yang benar. Anak yang terlalu tertekan menyebabkannya justru mencari hal-hal lain sebagai bentuk pelampiasan. Hal-hal berbau pornografi diumbar di berbagai media, kondisi anak yang masih jauh dari orangtua menjadikannya terjerumus pada hal haram ini. Seperti yang saya ketahui dari hasil penelitian, bahwa porno menyebabkan seseorang mengeluarkan hormon endorphin secara kontinyu, hormon inilah yang menyebabkan kesenangan-kesenangan semu dan membuatnya ingin yang lebih dan lebih dari yang ia lihat sekarang. Jangan heran jika akhirnya banyak anak melakukan pencabulan, pemerkosaan, dan pelecehan seksual. Namun, karena terlalu banyak produksi yang disalurkan ke otak, akhirnya hormon ini menyebabkan kematian sel otaknya.

3. Dia ditiup oleh orang lain
Ketika Bunda Kurnia menampilkan slide tentang ini, saya berkata pada mas Emil, “ini nih mas..”. Beliau sambil tersenyum menjawab, “Iya…”. Maksud saya adalah memancing perhatian mas Emil agar lebih fokus karena bahasan ini sesuai dengan yang dialaminya, harus mengasuh anak kakaknya yang sibuk bekerja. Tentu pembaca sudah banyak mengetahui kasusnya. Banyak orangtua yang hebat di kantornya, mencapai karir bagus, menjadi orang andalan, dsb. Namun, kesibukan itu menyebabkannya jauh dari keluarganya. Adalah hal yang wajar jika sang ayah bekerja sedangkan ibu mendidik anaknya di rumah. Namun, dengan adanya kesempatan luas bekerja bagi kaum perempuan, makin banyak ibu-ibu yang ikut bekerja, mencari penghasilan tambahan untuk keluarga. Jika ia mampu profesional baik di kantor maupun di rumah, tentu tidak ada masalah. Namun, kenyataannya hal ini memang sulit, harus ada yang menjadi prioritas. Bunda Kurnia menceritakan sebuah kisah nyata. Ada seorang ibu muda yang hebat di tempat kerjanya, tiap berangkat ke kantor, anaknya yang masih balita dititipkannya pada seorang pengasuh. Pada suatu pagi, anaknya ini ingin dimandikan oleh bundanya, bukan oleh si mbak pengasuh. Namun, karena ibu karir tersebut harus segera berangkat ke kantor karena ada meeting penting ia menolak permintaan anaknya itu. “Mbak, tolong mandikan anak ini ya.. saya harus segera berangkat”. Anak itupun akhirnya dimandikan oleh pengasuhnya. Namun, ketika ibu karir tersebut sedang berada di kantor ada bunyi hape berdering, diangkatnya hape yang sudah sering ia pegang. Tubuhnya mendadak tersontak setelah mendengar pesan yang disampaikan oleh seseorang via hape tersebut bahkan hampir membuatnya pingsan. Sang anak yang tadi pagi meminta dimandikan ternyata masuk rumah sakit dan dalam kondisi yang kritis, tetapi semua sudah terlambat, maut memang tak pernah bisa ditunda atau dipercepat, semuanya yang bernyawa pasti kembali kepada-Nya. Anak itupun telah meninggalkan dunia ini. Saat memandikan jenazah anaknya, sang ibu hanya bisa menangis sejadi-jadinya, dalam hatinya ia hanya bisa berkata, “Bangun nak… bangun anakku… ibu mau memandikanmu nak, tapi bukan yang seperti ini.. bangunlah nak.. ibu akan selalu menemanimu..”. Semua telah terjadi, rasa penyesalan memang datang setelah nasi menjadi bubur, semoga Ibu itu bisa mengambil hikmahnya, begitupun dengan kita.

4. Inilah yang paling dianjurkan, balon ditiup sampai terbang
Ayah dan bundanya telah mengetahui metode yang benar-benar brilian dalam mengasuh anak. Itulah metode Islamic Parenting, di mana anak-anak dikenalkan kepada Allah dan Rasulullah sejak dini sehingga mencintai Allah dan menjadikan Rasulullah sebagai panutannya, juga dengan mengenalkan para nabi dan sahabat yang mengajarkan keagungan akhlak, dan mengajarkan alam semesta sebagai makhluk dengan segala keindahannya, semua itu tentunya dengan mengenalkannya pada aktivitas membaca. Satu atau dua cerita setiap hari bagi mereka adalah lebih baik daripada menonton televisi. Ayah dan Bunda harus mendidik mereka dengan keteladanan. Bunda Kurnia memberikan simulasi, bahwa indera mata lebih mudah ditangkap daripada telinga. Ketika ia mengajak peserta memegang dahi, ternyata banyak peserta yang memegang dagu karena Bunda Kurnia juga memegang dagunya. Ya.. kami para peserta pun jadi sadar bahwa mengajak orang lain, termasuk juga anak sama saja dengan kebohongan tanpa kita mampu memulai terlebih dahulu mengerjakan apa yang kita inginkan mereka lakukan.

Sambil membawakan ceramahnya itu, terkadang beliau juga menghampiri peserta. Dengan setelan jubah merah tua dan jilbab kuningnya beliau juga bercerita dengan pengalaman pribadinya. Suatu hari ketika sedang mengisi acara di Bandung, anaknya yang SD mengirim sms berkali-kali padanya. Isinya seperti “Mom, I love you”. “I love you full”, dsb. Bunda Kurnia pun menjawab pesan-pesan cinta sang buah hati tersebut dengan kata-kata sama. Namun, beliau terkejut ketika akhirnya sang anak mengirim pesan yang menyebutkan nilai-nilai ujiannya.. Nilainya ada yang 4,3; 5; 6; dan tertinggi Agama bernilai 8. Bagi kita mungkin bisa-bisa jengkel akan hal ini, tapi padahal sebenarnya anak itu sudah cerdas sudah menyajikan nilai rapotnya dari yang paling kecil sampai yang besar, sang Bunda pun akhirnya menjawab kurang lebih seperti ini, “Lho kok bisa begitu?? Gakpapa sayang.. yang penting terus berusaha ya. I love you”. Luar biasa..

Dan akhirnya sampai juga di penghujung tausiah beliau. Bunda Kurnia mengajak kami semua berintrospeksi. “Apa yang akan anda lakukan, ketika pintu rumah anda diketuk.. dan ketika anda membukanya, ternyata ada Rasulullah Muhammad SAW lah orang yang berkunjung?”. Dengan menggerakkan jarinya pada tuts-tuts organ, sang pengiring musik memainkan melodi lagu “Rindu Kami Padamu”. Bunda Kurniapun mulai menyampaikan kata-kata renungannya, “Duhai Rasul, jangan kau marahi kami, karena belum ada ruangan jamaah dalam rumah kami”. Sejurus kemudian, beliau menghampiri seorang peserta yang di depan, menanyakan apa yang akan dilakukannya, dan perempuan yang persis di depan saya itupun menangis, hanyut pada gelombang muhasabah yang narasumber bawakan. Sedangkan seorang pria peserta lain ketika ditanya, ia menjawab akan menanyakan segala hal pada Rasul, termasuk cara mendidik anak. Muhasabah ini pun diakhiri dengan kesimpulan oleh Bunda yang bijak tersebut.

Sekian dulu ya cerita saya. Akhirnya saya pun berpamitan dengan mas Emil sambil mendoakannya agar segera menemukan pasangan hidupnya. Setelah sholat Ashar dan satu jam berkeliling lagi, saya pun memutuskan pulang pada jam 16.50an. Betapa berharganya pengalaman hari ini. Alhamdulillah

07/03/11

Super Saturday I (taaruf 10 kali, belum berhasil)

Bukan kebiasaan saya berbagi pengalaman dengan tulisan pada khalayak umum, karena saya kurang pandai narasi, pun tak begitu tertarik membagi kisah hidup yang mungkin bagus di mata saya, tetapi buruk dimata pembaca. Namun, entah mengapa kali ini saya begitu bersemangat untuk menyampaikan pengalaman hidup saya, tepatnya yang terjadi di sebuah pusat keramaian tahunan di Jakarta. Bukan hanya ramai oleh orang tetapi juga oleh buku dan bermacam barang. Ialah Islamic Bookfair 2011.

Hari itu, Sabtu 5 Maret 2011, saya datang bersama teman, sebut saja AL. Kami baru saja melakukan perjalanan pagi dari kost masing-masing menuju kantor tempat kami diklat besok Senin. Awalnya berempat, tetapi setelah pulang dari kantor tersebut, dua orang selain kami mempunyai keperluan di Mangga Dua, sehingga kami pun hanya berdua. Saya berniat untuk melihat-lihat terlebih dahulu. AL pun sama. Mengapa tidak langsung berniat membeli? Hmm.. sekedar membuka jawaban, ini adalah keempat kalinya edisi IBF yang saya ikuti atau tak pernah absen sejak tahun 2008 (tahun kedua saya di Jakarta), belajar dari tahun-tahun sebelumnya, belanja di IBF sarat dengan emosi berlebih. Wajar saja, selain menawarkan diskon hingga 70% pada harga buku dan kitab-kitabnya, di sini juga dijual beraneka barang-barang islam. Sebagai orang yang hobi membaca dan ingin lebih tahu tentang Islam saya pun ingin membeli beberapa buku yang ada. Namun, tindakan membeli tersebut sering saya lakukan tanpa pertimbangan masak-masak, padahal anggaran yang ada tak mungkin mencukupi semua keinginan saya. Jadi dengan melihat-lihat terlebih dahulu, saya bisa mengetahui harga beberapa buku incaran, termasuk mencari harga yang termurah dari berbagai stand, sehingga saya bisa menetapkan skala prioritas, mana saja buku yang harus saya beli saat ini. Kebetulan, karena saya akan sering pulang pergi melewati Senayan, InsyaAllah masih bisa berkunjung lagi untuk membuang uang di jalan kebaikan.

Tiba di Istora sekitar pukul 09.45, dua pintu yang ada belum terbuka, tetapi puluhan orang sudah berjubel di luar, tua-muda, pria-wanita, anak kecil-dewasa, semuanya ada. Ada yang duduk-duduk di emperan tempat tanaman dan di lantai, ada yang menggandeng dan menggendong anaknya, ada juga asyik mengobrol dengan temannya. Saya menghampiri sesosok perempuan berjilbab yang duduk di dekat pintu, berniat ingin mendapatkan brosur kegiatan IBF ini. Ah, kali ini saya salah tebak, ternyata beliau adalah personel dari sebuah bank syariah pendukung acara. Baru saya tahu setelah mendapatkan brosur promosi bank darinya. “Bukanya jam berapa ya mbak?”, ada orang lain bertanya padanya. “jam sepuluh pak, bentar lagi kok”, jawabnya. Sambil aktif berdiri membagikan brosur pada orang-orang di sekitar tempatku berada. Suasana ini mau tak mau meluapkan perasaan bahagia di hatiku, melihat para saudara-saudara seiman berwajah ceria sungguh membahagiakan, memang keringat tampak bercucuran di kening dan pipi mereka, tapi kerinduan pada acara ini mungkin menafikan semua derita. Bagi kami, Islamic Bookfair merupakan salah satu momen yang kami rindukan, dimana ratusan hingga ribuan saudara seiman bisa bertemu dalam sehari, beribadah bersama, dan menuntut ilmu bersama. Melakukan transaksi jual beli yang InsyaAllah di ridhoi olehNya, dan ajang memperkaya keakraban antar teman atau anggota keluarga.


Pukul 10.00 tampak muslimah berkalungkan nametag muncul dan langsung menuju balik booth panitia. “Akhirnya datang juga”, pikirku. Bukan dia yang kunanti, tapi brosurnya lah yang kutunggu. Kali ini brosurnya lebih besar dari biasanya, karena jadwal-jadwalnya terpampang besar. Alhamdulillah… Akhirnya lima menit kemudian, dua pintu depan terbuka, saya dan AL masuk ke sebelah kanan. Stand pertama yang tampak dari luar pintu adalah Sygma Publishing. Hebat! sambil berjalan merayap di sebelah kanan sudah ada wahana mengetes kemampuan anak. Sygma adalah salah satu penerbit yang produktif dalam menerbitkan buku-buku khusus anak. Saya pun lurus saja, dan langsung tertarik melihat buku/kitab luar biasa indah. Biasa dikenal dengan Al Qur’an. Eits.. ini bukan mushaf sembarangan, kitab yang dicetak setebal 1000an halaman ini diberi nomenklatur Al Qur’an The Miracle Reference. Kitab yang di memiliki sampul bertekstur dengan pilihan warna merah dan hitam ini (hihi.. my lovely colour) mempunyai 22 macam keunggulan. Diantaranya tafsir per kata, azbabun nuzul, tafsir ath-tabari, tafsir ibnu katsir, hadits yang berhubungan, dan sirah nabawiyah. Dengan baluran aneka warna di dalamnya, rasanya ingin saya memilikinya. “Miracle ini berapa mbak?”, tanyaku pada juruniaganya. “Harganya 299ribu tapi dapat bonus satu Al Qur’an Hijaz atau Syamil”, katanya. “Oh.. gak ada diskon mbak?”. “Maaf mas, tidak ada tapi promonya memang gitu, beli satu langsung dapat bonus hijaz atau syamil, seperti itu”, jawabnya sambil menunjuk pada mushaf yang juga tidak kalah bagusnya, tapi standar isinya. Saya pun berlalu saja, hehe.. Maklum, masih lihat-lihat dulu. Namun, tak lupa nanya harganya juga pastinya. Mengenai nomenklaturnya, rasanya cukup provokatif, tapi meskipun didesain biasa saja, Qur’an emang sudah merupakan miracle di dunia ini.

Setelah sekitar 10 menit berkeliling, saya dan teman saya mulai kurang mood lagi. Akhirnya kami memutuskan ke panggung utama untuk mengikuti acara Talkshow. Bagi anda yang belum pernah ke IBF, saya sarankan anda meniatkan diri ke sana. Apalagi jika berdomisili di Jabodetabek, jangan sampai kelewatan deh. Jikalau kantong masih rata, ikuti saja acaranya. Ada bedah buku, talkshow, konser, dan seabrek acara lain yang tentunya menghibur dan menambah wawasan keislaman. Jadwal acara bisa dilihat di www.islamic-bookfair.com. Kembali ke cerita, ternyata saat itu bukanlah Talkshow, lebih tepatnya Bedah Buku. Untung masih sepi, kursi yang tersedia pun masih ada yang kosong. Kami pun langsung menempatinya. Buku yang dioperasi cesar adalah buku berjudul “Jam hijriyah, menguak konsepsi waktu dalam Islam” oleh sang penulis E. Darmawan Abdullah dan Prof. Dr. Satori Ismail. Selama dua jam bedah buku berlangsung, tampak peserta yang hadir memasang wajah serius. Jarang yang tertawa atau ngobrol sendiri, kecuali ketika Pak Darmawan mengeluarkan kelakar atau mengajak berinteraksi. Yang dapat saya tangkap adalah: 1) Beliau melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk membuat jam ini, ia lakukan ini untuk mengajak umat muslim mengamalkan ajaran Islam secara kaffah (menyeluruh). “Untuk syaum dan zakat kita menggunakan penanggalan hijriah tetapi mengapa untuk shalat kita menggunakan waktu dan penanggalan masehi,” ujar Pak Darmawan mengusik logika hadirin. 2) Jam hijriyah ini berlandaskan pada Surat Al-Ashr dan Surat An Naba ayat 9-11. Al-Ashr mengajarkan agar kita senantiasa mengoptimalkan waktu yang diberi oleh Allah, dan selalu bermuhasabah atas apa yang sudah terlewati. Begitupun pada jam hijriyah ini. Pak Darmawan mengenalkan penyebutan “Ashr” bukan “jam”. Sedangkan ayat dalam Surat An Naba menjelaskan bahwa Allah mencipatakan siang untuk bekerja/mencari penghidupan dan malam untuk beristirahat (pakaian). Pada jam hijriyah itu, tidak lagi ada 12 jam, melainkan 24 jam. 12 jam (6.00 – 18.00 pada jam masehi) adalah waktu kerja (work time), dan 12 jam berikutnya (19.00 – 05.00 hari berikutnya) sebagai waktu istirahat (rest time). Jika digabung, maka ketika pada jam masehi adalah pukul 10.00, jika menggunakan jam hijriyah adalah Ashr IV, artinya sudah empat jam waktu kerja sudah kita lewati, lalu pertanyaannya apakah kebaikan yang sudah kita lakukan? 3) Ini bukan lagi hal yang baru, kata Pak Darmawan, dahulu orang-orang masehi yang mencontoh pada dunia Islam pada zaman kekhalifahan, yang jamnya berbentuk gajah. 4) Menggunakan standar waktu Mecca Mean Time (MMT) bukan GMT. Alasannya Nabi Adam sebagai makhluk pertama diturunkan ke dunia di bumi Mekkah, berarti permulaan waktu dan pergantian hari dalam kehidupan manusia, seharusnya adalah dari Mekkah bukan Samudera Pasifik. Indonesia terletak pada MMT+20, atau terlambat 20 jam setelah Mekkah. 5) Pergantian hari sama seperti dalam konsep Islam, yaitu Ashr 12 atau pukul 18.00 jam masehi bukan pada tengah malam. 6) Arah putaran jam hijriyah adalah ke dari atas ke kiri (berlawanan dengan arah jarum jam), karena arah putaran ini sesuai dengan saat muslim melaksanakan thowaf. Angka 12 sebagai penunjuk pergantian menit akhirnya terletak di bawah, dengan analogi, semua dimulai dari bawah ke atas, 7) Dibutuhkan semangat yang luar biasa untuk menerapkan sistem jam Hijriyah ini, dan seharusnya dimulai dari kita sendiri. Jika ada pengguna jam masehi bertanya pada kita, tinggal menambahkan 6 jam pada jam hijriyah, jika siang hari (work time). Dan mengurangkan dengan 6 jam pada malam hari (rest time). Lihat selengkapnya di sini.

Setelah penjelasan dari kedua narasumber selesai, dimulailah sesi tanya jawab. Ada pertanyaan yang bikin kami tersenyum-senyum. Seorang Ibu, bertanya mengenai sah atau tidaknya sholat ia selama ini, karena selama ini menggunakan jam masehi. Beliau bertanya demikian, karena mengganggap serius candaan Pak Darmawan yang mengatakan malaikat akan bingung ketika mencatat sholat kita, misalnya hari Sabtu, Subuh sampai Maghrib kita sholat tepat waktu, tetapi sholat Isyanya pada jam 1 dini hari. Apakah Isya tersebut dicatat sebagai hari Sabtu atau Minggu? Padahal pada jam masehi sudah berganti hari menjadi Minggu. Namun, jika dicatat Minggu padahal hari Minggu kita sholat jam 19.00, maka akan ada dua Isya pada hari itu, jadi bingung malaikatnya.. hehe.. Pak Darmawan pun menjelaskan maksud yang sebenarnya pada ibu itu.

Jam digital pada hapeku menunjukkan 11.55, kami pun langsung meninggalkan acara (tanpa ijin) untuk mengambil air wudhu untuk menghindari antrian ketika waktu sholat tiba. Ternyata kali ini tempat sholat yang disediakan bukanlah di teras atas (keramik), melainkan di sekitar tempat parkir Istora. Meskipun agak becek2 meletakkan sandal, tapi cukup nyaman digunakan untuk sholat.
Setelah sholat saya melanjutkan petualangan menjelajahi ratusan buku dan puluhan stand di IBF2011. Capek sih.. tapi niat untuk survey habis-habisan kali ini harus terlaksana, agar dikemudian hari saya bisa langsung membeli. Kali ini AL pamit meninggalkan saya, karena ingin mencuci pakaiannya.. (Alhamdulillah saya sudah mencuci Jumat malam jam 22.30 s.d. 23.30). Kemana kaki melangkah? Saya membiarkan mereka menjadi liar. Kemana otak berpikir? Saya memikirkan buku apa dan barang apa yang harus dibeli nantinya. Bingung bukan kepalang, ketika berjalan di selasar (teras) atas yang bernama-nama tempat haji seperti Arafah, Marwah, dsb. banyak barang yang menarik hati saya. Ada tas ransel, kaos distro muslim, cd anak-anak (sebagai oleh-oleh untuk adik di rumah), gantungan kunci, poster-poster, dvd murottal, dll. Duh.. mana honor bulan ini belum cair lagi.. Yang penting tanya harga dulu deh.. hehe. DI IBF kali ini, wahana untuk anak-anak sungguh beragam, ada yang hanya untuk bermain seperti rumah karet (atau apalah namanya) atau yang juga baik untuk belajar seperti tempat peragaan fisika, mengetes kemampuan, dsb. Ajaklah anak-anak anda kemari. Kasihan di rumah sendirian.. hehe.

Atas kehendak Allah, kakiku berjalan menuju tempat sempit, sedangkan mata melihat sebuah petunjuk bertuliskan “Ruang Anggrek =>”. Alhamdulillah, beberapa kali berkunjung ke IBF belum pernah saya mampir ke ruang ini. Tanpa melihat sekitar pintu, saya pun langsung nyelonong masuk. Ada sekitar 80-100 kursi di ruang itu, barisan kanan untuk akhwat (perempuan), yang kiri untuk ikhwan (laki-laki). Saya langsung duduk di baris kedua ikhwan dan tanpa memiliki teman mengobrol.. I’m lonely.. mana belum makan lagi..

Alhamdulillah, sesuai firmanNya, rejeki memang bisa datang dari hal yang tidak terduga. Di belakang saya ada seorang pria yang rasanya lebih tua jauh di atas saya, berkulit cokelat, dan berwajah ceria. “Kali ini acaranya apa ya mas?”, tanyaku padanya karena memang aku datang kesitu tanpa rencana (lupa membuka jadwal). “tentang parenting.. “, jawabnya sambil menunjuk spanduk di samping kami. “Oh..”, tukasku sambil melihat poster besar tergantung di sampingku persis (kok tidak sadar ya..), disitu tertulis nama acaranya, saya lupa, tetapi intinya seputar Islamic Parenting (mengasuh anak dengan cara Islam), narasumbernya yang dikenal dengan Bunda Kurnia Widhiastuti, tempat dan waktu, serta penyelenggaranya yaitu Sygma Daya Insani. Jadi teringat sudah lama tidak membuat poster lagi.. hehe..
Saya tanya lagi pada orang tersebut setelah berkenalan sebelumnya, “Kesini sendirian mas?”. Lelaki bernama Emil ini menjawab, “Iya, saya masih jomblo kok”. “Lho emang umurnya berapa mas?”, kali ini pertanyaanku memang agak lancang kukira, tapi benar-benar spontan. “saya tiga puluh dua, sudah ta’aruf 10 kali belum ada yang dapat juga”, jawabnya kecut. “Wah, kayaknya obrolannya bisa berlanjut nih”, pikirku dalam hati mencoba menjadi pendengar yang baik bagi beliau. Akhirnya memang ngobrol kami berlanjut agak lama. Beliau begitu ramah, bahkan langsung memberi saya air mineral, kue arem2, dan permen. Sesaat sebelum masuk, beliau sempat membayar 25 ribu, sedangkan saya tidak. Hehe.. Sambil menunggu peserta memenuhi ruangan dan pengisi acara memulai acaranya, Saudara Emil ini menyampaikan banyak hal yang ia alami, seolah menganggap saya ini saudaranya, yang sepaham dengannya, padahal kami baru saja bertemu.

Dia mulai bercerita bahwa dia adalah seorang tukang ojek di Cikarang, Bekasi. Sebenarnya dia ingin segera menikah, tetapi sudah 10 kali ta’arufnya belum menemukan hasil. Namun, kata dia ada seorang akhwat yang sudah pernah setuju menikah dengannya, sudah di khitbah pula. Empat hari sebelum ia resmi melamar bersama orang tua ke rumah sang calon, ternyata duka menghampirinya. Sang perempuan dengan teganya memutuskan khitbah secara sepihak dengan alasan, “Maaf akhy, ana tertarik dengan ikhwan ******”. Saya cukup merinding mendengarnya, ternyata hatinya begitu besar menerima ini semua, ia masih kokoh untuk tidak lari dari syariah. Namun, ia juga butuh klarifikasi, ditanyanya sang ikhwan lain tersebut, dan ikhwan tersebut berkata, “ana sudah mengkhitbah duluan sebelum antum akhy, kalau tidak percaya mari kita tanyakan”. Setelah bertanya pada sang akhwat dan adik kandung akhwat tersebut, akhirnya ikhwan lain itupun mencabut khitbahnya. Saya agak lupa dan kurang paham dengan penjelasan dari Saudara Emil terkait perkara ini, tetapi beliau berkata “Apa ini balasan dari Allah atas perbuatannya ya..”, saya hanya bisa mengangguk dan berkata “mungkin”.

Saya juga menjelaskan tentang diri saya yang masih berusia 21 tahun, ia bilang “Malah bagus kalau masih muda”, lalu saya bilang “iya mas, ya pengennya sih tahun _________”. Beliau kemudian mengutarakan bahwa fitnah sekarang makin banyak, nenek-nenek saja memakai celana pendek, seperti tak punya malu. Sebagai tukang ojek, tentu beliau sering berpapasan dengan orang-orang semacam itu, itu nenek-nenek, apalagi yang masih remaja. “itu di Cikarang lho, yang katanya religius”, gerutunya.

Kemudian, beliau bercerita mengenai alasannya ikut acara ini, meski jauh-jauh dari Bekasi. Ia tinggal bersama keluarga kakaknya. Lagi-lagi saya agak begitu gak jelas mengenai apa yang ia sampaikan, yang mampu saya tangkap adalah, kakaknya memiliki empat anak yang paling besar adalah SMP dan paling kecil masih bayi. Sang kakak sibuk dengan pekerjaannya, hingga ia pun yang membantu mengasuh anak-anaknya. Saat itu aku hanya mencoba menjadi pendengar yang baik, tanpa berusaha bertanya banyak padanya. Namun, dalam hati saya benar-benar berempati padanya. Subhanallah.. seorang pria yang profesinya dianggap rendahan dan rawan masih menjaga diri dari hal-hal duniawi, ia masih kukuh untuk menemui pasangan dengan cara Islam, beliau juga pernah curhat pada Hidayat Nur Wahid, dan beliau dianjurkan untuk tetap sabar dan berusaha. Terlebih lagi Saudara yang keturunan Jawa tetapi sejak kecil besar di Bekasi ini telah membuat saya malu.. ia tidak segan-segan memberikan sesuatu pada orang lain, dan kali ini saya yang mendapat rejekinya, padahal saya bisa saja ikut membayar 25 ribu, tetapi urung saya lakukan. Lagi-lagi karena alasan H.E.M.A.T. Bagi saya, anda adalah orang hebat mas..

Pembicaraan dengannya pun terputus setelah MC datang dan memulai acara..

23/02/11

Munajatku

Dan gerimis itupun menyelimuti malam..

Dalam kesepian hati ku duduk di kursi karyaku, tanpa keluarga, istri dan anak yg jauh di di seberang sana, dan aku yg disini mengabdi demi ibu pertiwi..

Terang lampu neon menyinari bak cahaya bulan separuh., tak terasa tangan ini sedari tadi bekerja tak kenal lelah, walau matapun sudah mulai berat, tak sengaja kulihat jam dinding malam sudah larut..namun kuterus terus dan terus memeriksa tagihan negara yg seperti tak ada habisnya...

Sayup sayup suara lagu syahdu terdengar, menemani kami yg bertugas bela negara, bukan menjadi pahlawan, bukan menjadi prajurit di medan laga tapi menjadi penjaga benteng terakhir keuangan negara.. lelah..lelah..dan lelah raga ini namun tidak ada kata mundur, yang ada hanya ..........

Hanya kata dalam hati, ini garismu ya Robb kuserahkan diri ini....bukan demi uang, bukan demi keningratan, bukan demi sanjungan dan pujian..hanya demi ridhamu ya Robb.




*kopas dari forum DJPB, mungkin bermanfaat suatu saat*

22/02/11

IBF hadir lagi!!


Islamic Bookfair hadir lagi di episode ke-10. Seperti biasa acara ini akan diselenggarakan di Istora Senayan, jakarta. Dengan mengusung tema Khasanah Islam Untuk Peradaban Bangsa, IBF 2011 menjadi arena wisata rohani dan belanja umat muslim tanah air. Jika anda mempunyai waktu luang pada tanggal 4 s.d 13 Maret, sempatkanlah hadir ke sana. Tidak ada tiket alias gratis. Jika rejeki lagi mulus, belanjalah buku yang jadi kebutuhan anda, jangan hanya satu atau dua, karena diskonnya biasanya besar-besaran, bisa mencapai 70%off, apalagi jika hari terakhir pas mau penutupan, hehe. Namun, hati-hati, tetap jaga iman, jaga diri, jaga barang bawaan anda, dan jaga hati agar tidak asal beli. Bagi anda yang lagi krisis, gak usah malu.. datang saja! langsung duduk di tribun atau dekat panggung utama untuk menyaksikan beragam acara baik bedah buku, demo fashion, nasyid, tausiah, dll. dari pagi (10.00) sampai malam (21.00). Acara ini juga diikuti oleh ratusan penerbit dan distributor lho.. So tunggu apa lagi.. segera ajak teman, bapak, ibu, kakak, adik, suami/istri, ipar, atau warga se-RT juga boleh. Semoga ada manfaat yang kita peroleh di sana. Barakallah.

Kali ini aku tampilkan jadual acara, venue-nya dibagi dua, yaitu di panggung utama (biasanya tempat bermain bulutangkis alias di tengah-tengah tribun) dan di ruang anggrek (ruangan di bawah tribun -kalau gak salah, hehe). Jika kurang jelas bisa liat di situsnya langsung di sini



KPPN, Benteng Terakhir Keuangan Negara

KPPN Batam
KPPN adalah singkatan dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Kantor ini adalah unit vertikal terkecil dari Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI. KPPN berada di beberapa Kabupaten/Kotamadya di Indonesia, jumlahnya saat ini mencapai 177 unit. Masing-masing kantor ini menginduk pada Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan yang berada di tiap Ibukota Propinsi dimana KPPN berada. Namun sampai saat ini jumlah Kantor Wilayah (Kanwil) masih berjumlah 30 unit karena beberapa propinsi baru belum mempunyai Kanwil yaitu Papua Barat, Sulawesi Barat, dan Kep. Riau. Untuk itu beberapa KPPN di tiga propinsi tersebut menginduk pada Kanwil di Propinsi terdekat.

Agar pembaca yang berasal dari bukan Kementerian Keuangan mengerti beberapa hal tentang instansi ini maka berikut aku paparkan fungsi dari KPPN, diantaranya:

  1. Pengujian terhadap dokumen surat perintah pembayaran berdasarkan peraturan perundang-undangan.
  2. Penerbitan surat perintah pencairan dana (SP2D) dari Kas Negara atas nama Menteri Keuangan (Bendahara Umum Negara).
  3. Penyaluran pembiayaan atas beban APBN.
  4. Penilaian dan pengesahan terhadap penggunaan uang yang telah disalurkan
  5. Penatausahaan penerimaan dan pengeluaran negara melalui dan dari kas negara
  6. Pengiriman dan penerimaan kiriman uang.
Dari nomor 1 sampai 5 sebenarnya saling berkaitan. Jadi KPPN adalah palang pintu terakhir keuangan negara. KPPN-lah yang mengotorisasi duit keluar dari Rekening Kas Negara. Mengingat peran yang besar dan krusial ini, pegawai KPPN harus berhati-hati dalam memproses permintaan pencairan dana dari bendahara-bendahara satuan kerja (kantor-kantor pemerintah di daerah). Maka dilakukanlah proses no.1, semua dokumen yang menjadi syarat pencairan dana akan diteliti keabsahannya, jika sudah sesuai secara substansial (isi dokumen) dan formal (sah tidaknya dokumen) akhirnya dilakukanlah tugas ke-2. Jika SP2D sudah cair, maka bagian Bendahara Umum dan Gaji di KPPN akan melakukan proses ke-3 dengan menyampaikannya kepada Bank untuk mentransfer Kas Negara ke rekening pihak ketiga (penyedia barang dan jasa yang menjadi rekanan satuan kerja). Selanjutnya dilakukanlah proses ke-4, 5, dan 6

7. Penyusunan laporan pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja negara
8. Penyusunan laporan realisasi pembiayaan yang berasal dari pinjaman dan hibah luar negeri.
9. Penatausahaan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
10.Penyelenggaraan verifikasi transaksi keuangan dan akuntansi.
11.Pembuatan tanggapan dan penyelesaian temuan hasil pemeriksaan.
12.Pelaksanaan kehumasan.
13.Pelaksanaan administrasi KPPN.
Melengkapi tugas-tugas sebelumnya, maka tugas-tugas di atas ini juga sangat penting. KPPN nantinya akan menyusun Laporan-laporan Keuangan yang pada intinya menjelaskan berapa anggaran (APBN) yang sudah diserap oleh Satuan Kerja, menatausakan PNBP, melakukan verifikasi (pencocokan data dengan Satuan Kerja dan Database Pusat, membuat tanggapan atas temuan auditor, menjadi humas Ditjen Perbendaharaan di daerah, dan melaksanakan kegiatan administrasi lainnya..

Seperti judul yang aku tuliskan di atas, langsung saja kusampaikan daftar KPPN dan Kanwil Ditjen Perbendaharaan seluruh Indonesia, beserta alamatnya.

DAFTAR KPPN DAN KANWIL DJPBN DI INDONESIA:


PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM (NAD)
Kanwil I DJPBN Banda Aceh : Jln. Tgk. Cik Ditiro, Banda Aceh – 23241
1. KPPN Banda Aceh : Jln. Tgk Daud Beurueh No.39 Banda Aceh – 23241
2. KPPN Lhokseumawe : Jl. Pasar Inpres No.1, Lhokseumawe – 24241
3. KPPN Meulaboh : Jl. Sisingamangaraja No. 3 Meulaboh - 23617
4. KPPN Tapaktuan : Jl. T. Cut Ali No. 69, Tapaktuan – 23715
5. KPPN Langsa : Jl. Jend. A. Yani No. 2, Langsa – 24416
6. KPPN Kutacane : Jl. Blangkejeran Km 3 Kutacane - 24601
7. KPPN Takengon : Jl. Rumah Sakit Umum No. 96, Takengon – 24551

PROVINSI SUMATERA UTARA

Kanwil II DJPBN Medan : Jln. Diponegoro No. 30 A, Medan – 20152
1. KPPN Medan I : Jln. Diponegoro No. 30A, Medan - 20152
2. KPPN Medan II : Jln. Diponegoro No. 30A, Medan - 20152
3. KPPN Sidikalang : Jl. Sisingamangaraja No. 69A, Sidikalang
4. KPPN Sibolga : Jl. Dr. Sutomo No.7, Sibolga – 21520
5. KPPN Balige : Jl. Raya Balige – Laguboti, Balige
6. KPPN Tebingtinggi : Jl. Sutomo No.2 Tebing Tinggi - 20600
7. KPPN Pematang Siantar : Jl. Brigjen Rajamin Purba,SH, Pematang Siantar-21111
8. KPPN Padang Sidempuan : Jl. Kenangan No. 50, Padang Sidempuan - 22725
9. KPPN Gunung Sitoli : Jl. Panca Sila No. 13, Gunung Sitoli - 22814
10.KPPN Rantau Prapat : Jl. Sisingamangaraja No. 62, Rantau Prapat - 21415
11.KPPN Tanjung Balai : Jl. Pahlawan No. 22, Tanjung Balai – 21312

PROVINSI SUMATERA BARAT
Kanwil III DJPBN Padang : Jln. Khatib Sulaiman No. 3, Padang – 25138
1. KPPN Padang : Jln. Perintis Kemerdekaan No.79, Padang - 25129
2. KPPN Lubuk Sikaping : Jl. Jend. Sudirman No. 93, Lubuk Sikaping - 28116
3. KPPN Bukittinggi : Jl. Prof. Hazairin No. 1, Bukittinggi - 26116
4. KPPN Paninan : Jl. Diponegoro, Paninan
5. KPPN Solok : Jl. Raya Kotabaru, Solok – 27362
6. KPPN Sijunjung : Jl. Prof. M Yamin , SH No. 77, Muaro Sijunjung

PROVINSI RIAU dan KEPULAUAN RIAU
Kanwil IV DJPBN Pekanbaru : Jln. Jend. Sudirman No. 249 Pekanbaru – 28116
1. KPPN Pekanbaru : Jln. Jend. Sudirman No.249 Pekanbaru - 28116
2. KPPN Tanjung Pinang : Jln. Diponegoro No.5 Tanjung Pinang – 29111
3. KPPN Batam : Jl. Raja Haji, Sikupang - Batam (29422)
4. KPPN Rengat : Jl. Diponegoro No. 2, Rengat - 29112
5. KPPN Dumai : Jl. Jend. Sudirman No. 25, Dumai – 28812

PROVINSI JAMBI
Kanwil V DJPBN Jambi
: Jln. Mayjen Yusuf Singadikane No.45 Jambi–36122
1. KPPN Jambi : Jln. Jend. A. Yani No.7 Jambi - 36122
2. KPPN Buaro Bungo : Jl. Sultan Thaha No. 52 Muaro Bungo - 37211
3. KPPN Kuala Tungkal : Jl. Thomas Cup No.1 Kuala Tungkal - 36513
4. KPPN Sungai Penuh : Jl. H. Bakri No. 16, Sungai Penuh - 37112
5. KPPN Bangko : Jl. Diponegoro, Bangko

PROVINSI SUMATERA SELATAN
Kanwil VI DJPBN Palembang
: Jln. Kapten A. Rivai No. 2 Palembang – 30129
1. KPPN Palembang : Jln. Kapten A. Rivai No. 2 Palembang - 30129
2. KPPN Lubuk Linggau : Jl. Yos Sudarso Taba Pingin, Komp.Pemda Tk.II Musi Rawas - 31626
3. KPPN Lahat : Jl. RE Martadinata, Lahat - 31414
4. KPPN Sekayu : Jl. Wahid Udin, Sekayu
5. KPPN Baturaja : Jl. DI Panjaitan No. 471 Baturaja 32112

PROVINSI LAMPUNG
Kanwil VII DJPBN Bandar Lampung
: Jl.Cut Mutiah No. 23A Bandar Lampung - 35124
1. KPPN Bandar Lampung : Jl.Jend.Gatot Subroto No.91 Band.Lampung- 35128
2. KPPN Metro Lampung : Jl. Seminung No. 5 Metro Lampung - 34111
3. KPPN Kotabumi : Jl. Jend. Sudirman Km 3 Kotabumi - 31513
4. KPPN Liwa : Jl. Raden Inten Way Mengaku, Liwa

PROVINSI BENGKULU
Kanwil VIII DJPBN Bengkulu
: Jln. Adam Malik No.271 Km 8 Bengkulu
1. KPPN Bengkulu : Jln. Sukarno Hatta, Bengkulu
2. KPPN Manna : Jl. Affan Baksin No. 103 Manna
3. KPPN Curup : Jl. Sukowati No. 63 Curup - 39114
4. KPPN Muko-Muko : Jl. Jend. Sudirman Km. 5 Muko-Muko

PROVINSI BANGKA BELITUNG
Kanwil IX DJPBN Pangkal Pinang
: Jln. Sungai Selan No.91 Pangkal Pinang – 33135
1. KPPN Pangkal Pinang : Jln. Kejaksaan No.16 Pangkal Pinang - 33125
2. KPPN Tanjung Pandan : Jl. Sriwijaya Pal 1 Tanjung Pandan – 33416

PROVINSI BANTEN
Kanwil X DJPBN Serang
: Jln. KH Abdul Fatah Hasan No. 33 Serang – 42118
1. KPPN Serang : Jln. KH Abdul Fatah Hasan No. 33 Serang - 42118
2. KPPN Rangkas Bitung : Jl. Siliwangi No. 48 Pasir Ona, Rangkas Bitung
3. KPPN Tangerang : Jl. TMP Taruna No. 12 Tangerang – 42314

PROVINSI DKI JAKARTA
Kanwil XI DJPBN Jakarta
: Jl.Otto Iskandardinata No.53-55 Jakarta – 13330
1. KPPN Jakarta I : Jl. Ir. H. Juanda No. 19 Jakarta - 10120
2. KPPN Jakarta II : Jl. Dr Wahidin II No. 3 Jakarta Pusat
3. KPPN Jakarta III : Jl.Otto Iskandardinata No.53-55 Jakarta - 13330
4. KPPN Jakarta IV : Jl. Ir. H. Juanda No. 19 Jakarta - 10120
5. KPPN Jakarta V : Jl. TB Simatupang, Psr. Minggu, Jakarta Selatan
6. KPPN Jakarta VI (Khusus) : Jl. Ir. H. Juanda No. 19, Jakarta - 10120

PROVINSI JAWA BARAT
Kanwil XII DJPBN Bandung
: Jln. Diponegoro No.59 Bandung – 40123
1. KPPN Bandung I : Jln. Asia Afrika No.114 Bandung - 40261
2. KPPN Bandung II : Jl. PHH Mustofa No. 37 Bandung
3. KPPN Garut : Jl. Jend. A. Yani No. 24 Garut - 44117
4. KPPN Karawang : Jl. Kertabumi, Karawang - 41311
5. KPPN Bogor : Jl. Ir. H. Juanda No. 62 Bogor - 46122
6. KPPN Purwakarta : Jl. Ibrahim Singadilaga No. 65 Purwakarta
7. KPPN Sukabumi : Jl. Suryakencana No. 20 Sukabumi - 43111
8. KPPN Cirebon : Jl. Tuparev No.14 Cirebon
9. KPPN Kunngan : Jl. RE Martadinata No. 22 Kuningan
10.KPPN Tasikmalaya : Jl.Manonjaya No.50 Cibeureum,Tasikmalaya- 40101
11.KPPN Sumedang : Jl. Mayor Abdurahman No.221 Sumedang
12.KPPN Bekasi : Jl. Letjen sarbini No. 2 Bekasi

PROVINSI JAWA TENGAH
Kanwil XIII DJPBN Semarang
: Jln. Pemuda No.2 Semarang – 50138
1. KPPN Semarang I : Jln. Ki Mangunsarkoro No. 34 Semarang - 50241
2. KPPN Semarang II : Jln. Ki Mangunsarkoro No. 34 Semarang - 50241
3. KPPN Kudus : Jl. Raya Mejobo Kudus - 59319
4. KPPN Pekalongan : Jl. Bahagia No. 44 Pekalongan - 51117
5. KPPN Tegal : Jl. Dr. Sutomo No. 64 Tegal - 52113
6. KPPN Magelang : Jl. Veteran No. 3 Magelang - 56117
7. KPPN Banjarnegara : Jl. Letjen S. Parman Banjarnegara - 53412
8. KPPN Klaten : Jl. Sersan Sadikin No. 30 Klaten
9. KPPN Sragen : Komp. Gedung Kartini Jl. Sukowati No.15C Sragen
10.KPPN Surakarta : Jl. Slamet Riyadi No. 467 Surakarta - 57146
11.KPPN Pati : Jl. Diponegoro No. 102 Pati - 59111
12.KPPN Purwodadi : Jl. MH. Tahmrin Purwodadi
13.KPPN Purworejo : Jl. Urip Sumoharjo No. 83 Purworejo - 54111
14.KPPN Purwokerto : Jl. DI Panjaitan No. 62 Purwokerto
15.KPPN Cilacap : Jl. Dr. Wahidin No. 55 Cilacap – 53212

PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA (DIY)
Kanwil XIV DJPBN Yogyakarta
: Jln. Kusumanegara No. 9 Yogyakarta – 55166
1. KPPN Yogyakarta : Jln. Reksobayan No. 2 Yogyakarta - 55166
2. KPPN Wonosari : Jl. Veteran No. 28 Wonosari
3. KPPN Wates : JL. Adyaksa No. 2 Wates

PROVINSI JAWA TIMUR
Kanwil XV DJPBN Surabaya
: Jln. Indrapura No. 5 Surabaya – 60175
1. KPPN Surabaya I : Jln. Diyono No.111 Surabaya - 60265
2. KPPN Surabaya II : Jl. Diyono No.111 Surabaya - 60265
3. KPPN Mojokerto : Jl. Gajah Mada No. 147 Mojokerto - 61314
4. KPPN Madiun : Jl. Salak No. 52 Madiun - 63131
5. KPPN Sidoarjo : Jl. Monginsidi No. 69A Sidoarjo
6. KPPN Malang : Jl. Merdeka Selatan No. 2 Malang
7. KPPN Pamekasan : Jl. Joko Tole No. 141 Pamekasan
8. KPPN Banyuwangi : Jl. Jend A. Yani No. 120 Banyuwangi
9. KPPN Jember : Jl. Kalimantan No. 35 Jember - 68121
10.KPPN Bondowoso : Jl. Jend. A. Yani No. 86 Bondowoso - 68125
11.KPPN Kediri : Jl. Pahlawan Kusuma Bangsa No.95 Kediri - 64124
12.KPPN Blitar : Jl. Raya Garum Km 4 Blitar - 66182
13.KPPN Bojonegoro : Jl. Untung Suropati No. 63 Bojonegoro - 62115
14.KPPN Tuban : Jl. HOS Cokroaminoto Tuban
15.KPPN Pacitan : Jl. Letjen S. Parman No. 47 Pacitan

PROVINSI KALIMANTAN BARAT
Kanwil XVI DJPBN Pontianak
: Jln. Achmad Sood No. 3 Pontianak – 78121
1. KPPN Pontianak : Jln. K Sasuit Tubun No.36 Pontianak - 78121
2. KPPN Sanggau : Jl. Jend. Sudirman Sanggau - 78511
3. KPPN Singkawang : Jl. Firdaus H. Rais No. 66 Singkawang - 9123
4. KPPN Ketapang : Jl. Jend. Sudirman No. 55 Ketapang - 78812
5. KPPN Sintang : Jl. Adi Sucipto No. 1 Sintang - 78611
6. KPPN Putussibau : Jl. WR Supratman No. 50 Putussibau – 78711

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
Kanwil XVII DJPBN Palangkaraya
: Jln. Cilik Riwut Km1 No.10 Palangkaraya – 73111
1. KPPN Palangkaraya : Jln. Kapten P.Tendean No.4 Palangkaraya - 73112
2. KPPN Buntok : Jl. Pelita Raya No. 341 Buntok - 73711
3. KPPN Sampit : Jl. Jend. Sudirman Km 1.5 Sampit - 74322
4. KPPN Pangkalan Bun : Jl. Sutan Syahrir No. 9 Pangkalan Bun – 74101

PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Kanwil XVIII DJPBN Banjarmasin
: Jl.Mayjen DI Panjaitan No.24 Banjarmasin– 70114
1. KPPN Banjarmasin : Jl. Mayjen DI Panjaitan No.10 Banjarmasin-70114
2. KPPN Barabai : Jl. Ir. PHM Noor No. 28 Barabai - 71311
3. KPPN Tanjung : Jl.Jend.A.Yani Km.10No.20 Maburai,Tanjung-71571
4. KPPN Pelaihari : Jl. Datu Insad No. 79 Pelaihari - 70813
5. KPPN Kotabaru : Jl. Yakut No. 19 Kotabaru – 72116

PROVINSI KALIMANTAN TIMUR
Kanwil XIX DJPBN Samarinda
: Jln. Ir. H. Juanda No.19 Samarinda - 75124
1. KPPN Samarinda : Jln. Moh. Yamin SH No. 2 Samarinda - 75123
2. KPPN Balikpapan : Jl. Jend. A. Yani No. 28 Balikpapan - 76113
3. KPPN Tanjungredeb : Jl. Milono No. 2 Tanjungredeb - 77311
4. KPPN Tarakan : Jl. P. Diponegoro No. 46 Tarakan - 77114
5. KPPN Nunukan : Jl. Ujang Dewa Sedadap, Nunukan

PROVINSI BALI
Kanwil XX DJPBN Denpasar
: Jln. Dr. Kusumaatmaja Niti Mandala Denpasar
1. KPPN Denpasar : Jln. Dr. Kusumaatmaja Niti Mandala Denpasar
2. KPPN Amlapura : Jl. Cempaka Amlapura - 80812
3. KPPN Singaraja : Jl. Udayana No. 10 Singaraja - 81116

PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Kanwil XXI DJPBN Mataram
: Jln. Majapahit No. 10 Mataram – 83127
1. KPPN Mataram : Jln. Langko No. 40 Mataram - 83125
2. KPPN Sumbawa Besar : Jl. Garuda No. 107 Sumbawa Besar - 84312
3. KPPN Selong : Jl. Moh. Yamin No. 43 Selong - 83612
4. KPPN Bima : Jl. Pendidikan No. 16 Bima - 84116

PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR
Kanwil XXII DJPBN Kupang
: Jln. El Tari II Walikota Baru Kupang – 85000
1. KPPN Kupang : Jln. El Tari II Walikota Baru Kupang - 85000
2. KPPN Larantuka : Jl. Reinha Rosari No.1 Larantuka
3. KPPN Ende : Jl. Kelimutu No. 53 Ende- 86316
4. KPPN Ruteng : Jl. Adi Sucipto Ruteng - 86518
5. KPPN Atambua : Jl. Diponegoro Atambua - NTT
6. KPPN Waingapu : Jl. Ampera Waingapu - 87111

PROVINSI SULAWESI SELATAN dan SULAWESI BARAT
Kanwil XXIII DJPBN Makassar
: Jln. Jend. Urip Sumoharjo Km 4 Makassar
1. KPPN Makassar I : Jl. Slamet Riyadi No. 5 Makassar
2. KPPN Makassar II : GKN - Jl. Urip Sumoharjo Km. 4 Makassar
3. KPPN Mamuju : Jln. A. Yani No. 14 Mamuju
4. KPPN Watampone : Jl. Besse Kajuara No. 7 Watampone - 92732
5. KPPN Bantaeng : Jl. Teratai No. 4 Bantaeng - 92411
6. KPPN Benteng : Jl. DI Panjaitan, Selayar Benteng
7. KPPN Palopo : Jl. Opu Tossapile Palopo - 91927
8. KPPN Majene : Jl. Jend. Sudirman No. 96 Majene - 91412
9. KPPN Makale : Jl. Pontiku Poros Makale Rantepao Km 13 Tana Toraja
10.KPPN Pare-Pare : Jl. Karaeng Burane No.20 Pare-Pare (91111)
11.KPPN Sinjai : Jl. Persatuan Raya No. 104 Sinjai – 92611

PROVINSI SULAWESI TENGAH
Kanwil XXIV DJPBN Palu
: Jln. Tanjung Dako No.15 Palu - 94112
1. KPPN Palu : Jln. Tanjung Dako No. 15 Palu - 94112
2. KPPN Toli-Toli : Jl. Magamu No. 6-8 Toli-Toli (94515)
3. KPPN Poso : Jl. Kalimantan No. 16 Poso - 94619
4. KPPN Luwuk : Jl. Jend. A. Yani No. 134 Luwuk – 94711

PROVINSI SULAWESI TENGGARA
Kanwil XXV DJPBN Kendari
: Jln. Mayjen Sutoyo No. 34 Kendari - 93122
1. KPPN Kendari : Jln. Mayjen Sutoyo No. 5 Kendari - 93122
2. KPPN Raha : Jl. Kasuari No. 1 Raha
3. KPPN Bau-Bau : Jl. Anoa No. 1 Bau-Bau
4. KPPN Kolaka : Jl. Bendungan/Gelora Balandete Kolaka

PROVINSI GORONTALO
Kanwil XXVI DJPBN Gorontalo
: Jln. Raden Saleh Gorontalo
1. KPPN Gorontalo : Jln. Jend. Sudirman No. 58 Gorontalo – 96128
2. KPPN Marisa : Jl. Trans Sulawesi No. 290 Marisa – Gorontalo

PROVINSI SULAWESI UTARA
Kanwil XXVII DJPBN Manado
: Jln. 17 Agustus Manado - 95113
1. KPPN Manado : Jln. Bethesda No. 8 Manado
2. KPPN Tahuna : Jl. Malahasa No. 29 Tahuna - 95813
3. KPPN Kotamobagu : Jl. Paloko No. 7 Kotamobagu
4. KPPN Bitung : Jl. Woltermonginsidi No. 59 Bitung - 95541

PROVINSI MALUKU UTARA
Kanwil XXVIII DJPBN Ternate
: Jln. Jati Lurus No. 254 Ternate
1. KPPN Ternate : Jln. Jos Sudarso No. 6 Ternate - 97711
2. KPPN Tobelo : Jl. Kemakmuran Tobelo - Maluku Utara

PROVINSI MALUKU
Kanwil XXIX DJPBN Ambon
: Jln. Pitu Ina No.7 Karang Panjang Ambon – 97122
1. KPPN Ambon : Jln. Kapitan Ulupaha No. 1 Ambon - 97124
2. KPPN Tual : Jl. Batu Watdek/Ohijang Tual - Maluku
3. KPPN Saumlaki : Jl. Sifnama Saumlaki - 97664
4. KPPN Masohi : Jl. Patimura Masohi – 97511

PROVINSI PAPUA BARAT dan PAPUA
Kanwil XXX DJPBN Jayapura :
Jln. Jend. A. Yani No. 8 Jayapura - 99111
1. KPPN Jayapura : Jln. Jend. A. Yani No. 8 Jayapura - 99111
2. KPPN Manokwari : Jln. Jos Sudarso No. 1003 Manokwari
3. KPPN Biak : Jl. Majapahit Biak - 98117
4. KPPN Serui : Jl. Maluku Serui - 98211
5. KPPN Sorong : Jl. Basuki Rachmat Km 7 Sorong - 98416
6. KPPN Fak-Fak : Jl. Jend. A. Yani Fak-Fak ( 98611)
7. KPPN Merauke : Jl. Prajurit No. 1 Merauke - 99616
8. KPPN Wamena : Jl. Yos Sudarso Wamena - 99502
9. KPPN Nabire : Jl. Merdeka No. 46 Nabire - 98815
10.KPPN Timika : Jl. Cendrawasih No. (SP II) Timika -Papua