27/01/14

Aku dan Sepakbola


Il Diavolo Rosso | t2.gstatic.com
Mengenali sepakbola, apalagi cukup fanatik pada sebuah klub tentu tak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku mengenal serba-serbi tentang olahraga ini baru sejak musim 2003-2004. Saat itu umurku baru 13 tahun, baru mengenyam pendidikan di kelas dua SMA. Semua berawal dari cerita kakakku. Berbeda denganku, dia sekolah bukan di Demak, melainkan di Cirebon. Pada suatu momen dia pulang mudik ke Demak, dia bercerita banyak tentang bola. Apalagi kami masih tidur seranjang, dia selalu bercerita tentang kehebatan dari para pemain yang berlaga di piala dunia 2002 dan klubnya masing-masing. Hal itu ia lakukan hampir setiap kali mau tidur. Saat itulah secara sengaja dia juga bercerita tentang AC Milan.
Cerita berlanjut ketika aku menyaksikan langsung pertandingan bola Liga Italia pertama kali. Aku lupa lawan Milan waktu itu, yang jelas Milan mampu mendominasi pertandingan dan bermain sangat baik. Mulai dari situlah, selera kakak sudah mempengaruhiku. Ternyata Milan layak didukung. Hehe. Bukan hanya Milan, dia juga mengenalkan MU yang saat itu begitu tenar dengan Beckhamnya. Jadilah aku secara tidak langsung menjadi seorang fans Milan dan MU.

Juara Champion League musim 2002/2003 | http://stat.ks.kidsklik.com
Mendukung Milan menjadi sangat menyenangkan pada musim itu. Di kelas, ternyata bola bisa jadi bahan perbincangan. Klise memang, membicarakan sesuatu yang sudah terjadi, mendiskusikannya, bahkan sampai-sampai ada yang bertaruh karenanya. Namun, mungkin inilah letak kehebatan sepakbola. Ia mampu ‘menyatukan’ orang-orang di seluruh dunia. Temen sebangkuku juga ternyata fans Milan pula, namanya Aris. Sedangkan yang menjadi teman beradu mulut kami adalah Wahyudi dan Nizar yang merupakan Juventini. Hebatnya, Milan dan Juve bertemu dalam Final Liga Champion musim itu, dan Milan akhirnya menjadi juara setelah mengalahkan Juve melalui adu pinalti. Beberapa hari sebelumnya, Milan juga berhasil menggondol Piala Copa Italia setelah mengalahkan AS Roma di Final. Prestasi Milan berlanjut di musim selanjutnya. Il Rossoneri melakukan pembelian hebat dengan mendatangkan Kaka dari Sao Paolo. Milan akhirnya mampu merengkuh gelar Serie-A. Tiga gelar di dua musim awal aku mengenal Milan, dan membuat aku semakin bangga menjadi Milanisti.

Il Tsar She7a | t3.gstatic.com
Saat itu aku kenal Milan sebagai tim raksasa Italia. Ball possession menjadi ciri khasnya, lewat kombinasi bola-bola panjang dan pendek. Era itu dibangun oleh pelatih berkebangsaan Italia, Carlo Ancelotti. Pemain inti saat itu dari belakang ke depan aku ingat betul, mereka adalah Dida, Nesta, Maldini, Cafu, Serginho, Pirlo, Gattuso, Seedorf, Kaka, Shevcenko (Sheva), dan Inzaghi. Sedangkan untuk para pemain cadangan yang aku ingat adalah Ambrossini, Abbiati, Helveg, Costacurta, Boriello, Tomasson, Kaladze, Rui Costa, Rivaldo, dan Brocchi. Aku mengidolakan Sheva waktu itu. Ia striker dari Ukraina, dribblingnya bagus, mau merebut bola, badannya atletis, insting mencetak golnya tinggi, sepakannya keras terukur, sundulannya juga menggelegar. Pantas jika ia dijuluki I Tsar (Sang Kaisar) waktu itu. Bersama Inzaghi mereka bahu membahu membobol gawang lawan, hingga menjadi duet striker paling ditakuti masa itu.

Inzaghi berbeda dengan Sheva, dia pemain yang kurus dan suka diving. Selain terkenal dari tingkahnya berpura-pura jatuh di kotak penalti, Inzaghi juga terkenal sebagai raja offside. Sepertinya dia selalu ingin mengalahkan jebakan offside dari bek lawan. Yang paling membuatku sulit melupakannya adalah penempatan posisinya yang sungguh cemerlang. Tahu-tahu ada peluang, dia berada di posisi yang tepat. Enggak ada kontribusi sepanjang pertandingan, tahu-tahu membobol gawang. Sebagian besar gol Pippo (sapaan akrabnya) sepertinya bukan dikategorikan sebagai gol cantik, kalau gol beruntung mungkin. Haha. Yang aku herankan, faktor luck­-nya sepertinya besar. Dapat peluang sekali atau dua kali, tetapi langsung bisa dikonversi jadi gol. Apalagi ia sering menjadi penyelamat di pertandingan-pertandingan krusial. Seperti saat mengalahkan Ajax di second­-leg perempat final Liga Champion juga saat mempecundangi Juventus lewat sebuah gol yang masuk melalui kolong kaki Buffon di Liga Italia. Ia pemain yang selebrasi golnya meledak-ledak. Kadang dia memeluk pelatih, tetapi lebih sering berlari-larian menuju tribun penonton sambil berteriak-teriak. Haha. You’re so special Pippo

26/01/14

Ku tak sendiri lagi


Minggu pagi, 3 November 2013 atau 28 Dzulhijjah 1423H, di sebuah masjid kecil bernama Al Huda, kalimat ‘sakral’ itu akhirnya kuucapkan. Disaksikan oleh orang tua, kakak, adik, dan seluruh kerabatku, serta tidak kurang dari 70 pasang mata di tempat yang mulia itu, tanganku dengan mantap menggenggam tangan calon mertuaku, dan mengucapkan lafal qabul dengan tegas sebagai penanda ikatan suci pernikahan diriku dan anaknya. “Saya terima nikah dan kawinnya Galih Lukito Sari binti Paiman, dengan maskawin uang sebesar tiga juta seratus sebelas ribu tiga ratus rupiah dan emas tiga koma sebelas gram dibayar tunai”. Beberapa saat kemudian, kedua saksi berujar “SAH” dan disambut dengan doa dari penghulu. Hufh… Lega. Alhamdulillah ya Allah. Perasaan yang terus berkecamuk selama beberapa hari lengkap dengan kondisi fisik yang sudah letih karena perjalanan jauh dan kurang tidur, akhirnya berakhir dengan kebahagiaan. Penantian selama 24 tahun menunggu seorang teman pendamping hidup tempat melabuhkan cinta di dunia dan akhirat usai sudah. Sebuah babak baru dalam hidupku. Ya, aku tak sendiri lagi. Sejurus kemudian, bidadariku muncul dari belakang, dan dengan khidmat mencium tangan dinginku, sekilas aku sadari kekhusyukan hatinya saat air bening keluar dari matanya. Tak cukup lama momen itu terjadi, kami berdua sudah disalami para hadirin dan mendapat ucapan selamat dan doa barakah. Jadilah, kami raja dan ratu seharian.

Mundur sebulan sebelumnya, saat aku pampang undangan di social media, sebuah kehebohan muncul. Pertanyaan demi pertanyaan seperti, dia teman sekolah atau teman kuliah? Pernah ketemu di mana? Kok bisa dia tinggal di Jawa dan kamu di Wamena bisa bertemu? Dia anak STAN juga? dsb. Alhamdulillah, cinta pertamaku Galih Lukito Sari bukanlah siapa-siapaku sebelumnya, yang jelas kami berdua menjaga diri dari hubungan tanpa ikatan dan tidak sesuai syariat (baca: pacaran), terus memperbaiki diri sendiri, dan bermunajat pada Allah agar saling dipertemukan dengan jodoh kami. Dan, jodoh benar-benar tak dapat disangka-sangka, meski aku di Wamena dan dia di Jawa akhirnya kita dipertemukan oleh-Nya Pertama kali di Jogjakarta (taaruf), kedua kali di rumahnya (khitbah), dan ketiga kalinya di masjid Al Huda (menikah). Demikianlah jawaban sebenarnya yang ingin kusampaikan atas pertanyaan-pertanyaan itu, biasanya aku hanya menjawab dengan bercanda “Dia bukan siapa-siapaku kok, aku hanya nemu”. Pacaran setelah pernikahan, begitulah cita-cita kami selama ini. Selamat pacaran!! 

Senin pagi, 4 November 2013, 29 Dzulhijjah 1423H, kami melangsungkan walimatul ursy pernikahan. Berlangsung sederhana dan tradisional yang dibalut dengan nuansa Islam, walimahan dilaksanakan di rumahnya yaitu di Dukuh Panisihan, Desa Kretek, Kec. Paguyangan, dan Kab. Brebes. Tiga kali kami harus berganti kostum untuk menyambut hadirin para undangan. Entah berapa ratus jepretan kamera yang mengabadikan ekspresi kebahagiaan kami baik di ruang khusus yang disediakan untuk fotografi atau saat di atas pelaminan bersama kerabat dan undangan. Saatnya pasang tampang ganteng dan senyuman manis :-)

Walimahan berlangsung dari sekitar pukul 10.00 dan berakhir pukul 13.30 WIB serta sempat diselingi hujan rintik-rintik. Beberapa kerabat dari Galih dan dariku yang sudah menunggu beberapa hari dan menemani kami langsung pamitan siang itu. Sementara Bapak dan Ibuku pulang pada sore harinya. Agak aneh dan risih juga waktu itu, aku ditinggal pergi keluarga dan akan tinggal di rumah mertua. Desa ini benar-benar telah menjadi kampung halaman keduaku.